Senin, 31 Desember 2012

Year-End Note: My Top 10 Films of 2012

Sampailah kita pada penghujung tahun dan sampailah juga pada catatan akhir tahun 2012 bagian terakhir, yaitu 10 film terfavorit gw. Tahun 2012 juga kembali menjadi tahun yang apik bagi pecinta film, baik bagi film-film dunia maupun film Indonesia. Untuk film Indonesia udah gw bahas kemarin, sedangkan untuk perfilman dunia terutama Hollywood juga banyak yang untung besar...yet they are still whining about piracy. Nah, kesepuluh judul yang akan gw gelar berikut ini tentu saja tidak berdasarkan pendapat orang lain atau masyarakat, itulah fungsi kata "my" di depan judul postingan ini. 10 film ini adalah yang paling gw suka, yang menurut gw memang paling pantas diingat, paling membekas di hati dan pikiran, atau dengan kata lain paling mengesankan selama tahun 2012—ini juga tidak tergantung besarnya ponten yang gw telah berikan. Supaya tidak egois-egois amat, gw membatasi film-film yang bisa masuk dalam daftar ini adalah yang dirilis resmi di Indonesia dalam kurun waktu 1 Januari sampai 31 Desember 2012, entah itu film bioskop (tidak tergantung tahun rilis di negara aslinya) ataupun yang gagal masuk bioskop tapi udah premier di DVD. So, sudah siap lihat senarai-nya? Silahkan...




10. The Hunger Games
Gary Ross
Cara film ini memaparkan sebuah dunia baru dan segala aturannya serta pada permainan maut yang mempermainkan nyawa anak-anak remaja patut diacungi jempol, bahkan bisa beriringan dengan sindiran sosial yang cukup mengena. Tambahkan itu dengan penceritaan yang tak menjemukan, pemilihan pemeran yang sangat baik, serta semangat indie yang tetap terjaga dalam sebuah setting yang besar, The Hunger Games sepatutnya diingat sebagai salah satu "penanda" sinema 2012.





9. Life of Pi
Ang Lee
Ang Lee sudah terbukti sebagai penutur cerita yang baik dan cerdas, dan untuk kali ini ia melengkapinya keindahan visual dan kecanggihan teknologi 3-dimensi. Hasilnya adalah sebuah sajian sinematik yang indah dan pemakaian 3D yang tak percuma dalam menampilkan pengalaman-pengalaman spiritual yang mungkin terlalu elok untuk dapat benar-benar terjadi. Film dengan tema besar dalam skala besar pula, namun dapat disampaikan dengan tuturan yang mudah dicerna dan juga emosional.
Review




8. Hugo
Martin Scorsese
Film yang tak hanya berkesan karena kelengkapan teknis-nya yang luar biasa. Melalui kisah tentang anak sebatang kara yang berpetualang menyelidiki tentang benda-benda misterius yang ditemukannya, Hugo nyatanya adalah re-discovery tentang cinta mula-mula terhadap dunia sinema. Diceritakan secara "polos" dari sudut pandang anak-anak, film ini menyimpan keajaiban tersendiri tanpa harus memakai ilmu sihir. Keajaiban itu namanya "hati".
Review




7. The Ides of March
George Clooney
Film ini berkesan karena membuat gw lebih paham tentang sistem pemilihan presiden di Amerika yang agak ribet itu. Tapi film ini juga mengajarkan bahwa politik itu kotor, saking kotornya ia bisa mengubah jati diri seseorang. Ditulis dengan naskah yang lihai serta parade aktor-aktor berbakat, The Ides of March adalah film drama politik yang begitu mengikat perhatian dari awal hingga akhir.
Review





6. Mata Tertutup
Garin Nugroho
Tidak mungkin tidak menempatkan film ini di daftar akhir tahun. Efeknya begitu "menganggu", bagaimana bisa anak-anak muda terjerat masuk dalam organisasi makar, bahkan yang terbilang cerdas dan kritis sekalipun? Bagaimana bisa organisasi ini meyakinkan pengikutnya mengakui kaidah agama versi mereka yang jelas-jelas ekstrim bahkan out-of-context? Kenapa hal-hal ini bisa sampai terjadi di negeri kita? Garin Nugroho memaparkan itu secara gamblang dan jelas, minim simbol, tetapi semua itu tanpa meninggalkan gaya artistik khasnya, yang bisa indah, janggal, ataupun emosional.
Review





5. Prometheus
Ridley Scott
Film yang digerakkan oleh pertanyaan demi pertanyaan, tapi akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab dengan jelas, biasanya akan menjengkelkan. Tetapi rasanya apa yang ditanyakan dalam Prometheus memang pada dasarnya tidak bisa dijawab segera. Sekelompok manusia berusaha "menemui" makhluk-makhluk yang diperkirakan sebagai penciptanya lewat segala kemampuan yang dimiliki (ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi nyatanya alam semesta terlalu besar bagi kemampuan nalar manusia. Entah bagi penonton lain, tetapi bagi gw film sci-fi thriller futuristik dengan kisah yang katanya satu dimensi dengan seri Alien ini mengelola pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang jati dari manusia itu dengan baik, menantang, dan disajikan dalam penceritaan rapi serta visual keren.
Review





4. Wreck-It Ralph
Rich Moore
Tak cukup dengan konsep yang orisinil dan kualitas visual yang sangat baik, Wreck-It Ralph juga berhasil dengan pengisahannya yang seru, jenaka, dan manis. Penokohannya luar biasa dan mudah sekali untuk dicintai penonton, dan setiap mereka diberi dialog-dialog brilian. Ini adalah film petualangan yang mengandung nilai kasih sayang dan persahabatan yang kental layaknya film-film animasi Disney, namun kini dengan gaya yang lebih kekinian, tidak terjebak pada gaya-gaya klasik yang klise. Penggambaran dunia video game, dari yang lawas hingga termutakhirnya terkonsep dan tersampaikan dengan baik, dan pasti ada kegirangan setiap tokoh-tokoh video game terkenal numpang lewat.
Review





3. The Dark Knight Rises
Christopher Nolan
The Batman in full circle. Chris Nolan berhasil menyelesaikan apa yang telah ia mulai dengan sangat baik, bahkan sangat menggelegar, and I love it. Adegan-adegan aksinya tak kalah hebat dari dua film sebelumnya (Batman Begins dan The Dark Knight), tokoh-tokoh barunya dibangun dan tampil dengan sangat berkesan, rencana jahat sang musuh juga memberikan urgency dengan skala yang besar. Bahkan film ini jadi lebih menyenangkan karena (akhirnya) ada selipan humor yang cukup menceriakan. Tak mungkin tak puas dari penutup The Dark Knight Trilogy ini, 2 jam 45 menit dan gw tanpa komplain.
Review





2. The Artist
Michel Hazanavicius
Pengalaman menontonnya sebagai film bisu hitam putih tentu menimbulkan sensasi tersendiri. Akan tetapi yang lebih membuat film ini berkesan adalah kisahnya yang begitu manis dan menggugah. Ada kemerosotan, di sisi lain ada kejayaan. Dari dua sisi ini hadirlah respek dan juga cinta, meski harus terhalang oleh keangkuhan. Menyenangkan sekali menyaksikan film ini, cara bercerita dan juga akting setiap aktornya membuat film bergaya lama (banget) ini tetap mudah dipahami oleh penonton zaman sekarang. You just can't help smiling at the end...and long after the film ended.
Review











1. Rayya, Cahaya di Atas Cahaya
Viva Westi
Gw nggak pernah se-excited ini terhadap film Indonesia sejak Kala. Ini adalah film yang tak hanya cantik, namun juga memiliki apa yang gw cari dari sebuah film. Rayya punya naskah yang elok, akting meyakinkan, tata adegan yang efektif dan puitis tapi masuk akal, tata teknis yang sangat baik (sinematografi, editing, suara, musik), pengisahan yang asyik, serta tutupan yang memuaskan. Sebuah kisah perjalanan yang dewasa, yang tak menggebu-gebu tetapi berhasil masuk ke relung hati, disampaikan dengan dialog-dialog puitis tetapi diucapkan dengan keyakinan. Belum lagi peristiwa demi peristiwa yang ditemui dua tokoh utama kita selama perjalanan yang juga memperkaya kemanusiaan kita. Terlepas dari sepinya penonton saat diputar di bioskop, dan sepinya juga penghargaan yang diterimanya, Rayya jelas pantas dan layak dan semestinya mendapat perhatian lebih. Bagi gw, ini salah satu film terbaik Indonesia, dan tentu saja terfavorit tahun 2012 ini.
Review





Demikianlah rangkaian Year-End Note tahun 2012 gw. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa lagi, dan selamat tahun baru =).



Lihat juga:
My Top 10 Songs of 2012: International, Indonesia, Japan
My Top 10 Albums of 2012
[Special] 2012, A Good Year for Indonesian Films

2 komentar:

  1. Mostly film-film ini ada di daftar gua juga. Good choices, Reino! :)

    BalasHapus