Jumat, 08 November 2019

My Movie Picks of October 2019

Ternyata bulan paling ramai itu, dalam artian banyak banget film-film menarik dan layak dicatat, adalah Oktober 2019. Alhasil gw jadi banyak bahan dalam menyusun senarai favorit bulan ini, dan inilah mereka. Ada tujuh lho...






1. Joker
(2019 - Warner Bros.)
dir. Todd Phillips
Cast: Joaquin Phoenix, Robert DeNiro, Zazie Beetz, Frances Conroy, Brett Cullen, Brian Tyree Henry, Sharon Washington, Shea Wingham, Bill Camp, Glenn Fleshler, Leigh Hill


Menonton film Joker rasanya--mungkin--bagaikan bertemu sosok Joker langsung yang lagi ketawa-ketawa sendiri di hadapan gw: gw cuma bisa diam ngelihatin karena nggak tahu pasti bagaimana harus merespons. Mau mengabaikan kok ya jadi merasa bersalah, mau mencaci ya kasihan, tapi mau kasihan kok ya dianya nyusahin. Perasaan itu muncul utamanya karena sosok Joker di film ini punya kondisi dan tingkah laku sedemikian rupa sehingga gw nggak bisa nebak niat dan isi kepalanya yang sesungguhnya, bikin dilema antara mau bersikap membela atau mengecam, itulah yang bikin ngeri. Gw salut banget bahwa film ini nggak mencoba mem-'baik-baik'-kan si tokoh musuh bebuyutan Batman ini--beda dengan yang dilakukan di Venom (2018) atau Maleficent (2015) misalnya. Di sini Joker tetaplah penjahat, berasal dari dunia yang penuh kekerasan, bahkan lahir langsung dari kekerasan itu sendiri (lihat bahwa satu-satunya orang yang baik sama dia hanyalah literally and figuratively "orang kecil''), dan dia memutuskan untuk mengembalikan serta mengamplifikasi kekerasan kepada dunia. Awalnya mungkin film ini kayak cuma bertujuan ngeruk receh dari penggemar Batman berhubung film Batman terbaru tak kunjung tiba, namun hasilnya justru malah banyak sekali pemikiran dan topik mendalam yang bisa diekstrak dari sini. Nggak cuma riwayat asal muasal Joker sebelum ketemu Batman, tetap lebih kepada pembongkaran dan perumusan ulang the idea of the Joker, seorang musuh/villain yang begitu alot dan tiap iterasinya selalu memberi impresi yang meresahkan. Sebenarnya gw nggak bisa dibilang "enjoy" nonton ini, namun penggarapan dan penyajiannya yang begitu rupa--terutama dari performa Phoenix yang levelnya nggak masuk akal, bikin gw nggak sanggup mengalihkan perhatian, dan gagasan-gagasan yang ditaburkan sampai bikin kepikiran cukup lama setelah nonton. Se-powerful itu.
My score: 8/10






2. Hustlers
(2019 - STX)
dir. Lorene Scafaria
Cast: Constance Wu, Jennifer Lopez, Julia Stiles, Lili Reinhart, Keke Palmer, Wai Ching Ho, Mercedes Ruehl, Cardi B., Lizzo


Salah jika menganggap film ini hanya isi hura-hura dan glamor ceria condong mesum macam, sebut saja, Coyote Ugly (2000). Diangkat dari kisah nyata, film ini mengupas sebuah kasus "sederhana", yaitu beberapa penari bugil di New York memperdaya calon-calon klien, terutama dari para pialang Wall Street yang dianggap sebagai biang kerok krisis ekonomi, dengan cara-cara ilegal supaya bisnis klub tari bugil mereka (yang notabene memang legal di sono) tetap jalan. Menghindari kecenderungan pervert apabila topik yang sama digarap filmmaker pria, film ini jadi punya bobot lebih karena dituturkan langsung dari sudut pandang kaum perempuan, mulai dari hal juang bertahan hidup hingga masalah hati nurani. Ada lucu, ada haru, ada pula insight yang komprehensif tentang dunia yang mereka hidupi, hal-hal itu dibungkus dalam sajian yang enak sekali diikuti, namun tetap terasa riil dan emosional.
My score: 7,5/10






3. Bebas
(2019 - Miles Film/CJ Entertainment)
dir. Riri Riza
Cast: Marsha Timothy, Maizura, Susan Bachtiar, Sheryl Sheinafia, Baim Wong, Baskara Mahendra, Indy Barends, Agatha Pricilla, Widi Mulia, Zulfa Maharani, Lutesha, Kevin Ardilova, Giorgino Abraham, Amanda Rawles, Sarah Sechan, Irgi Fahrezi, Tika Panggabean, Syifa Hadju, Edward Suhadi


Tugas utama film ini bukan cuma meng-Indonesia-kan kisah dan karakter yang bersumber dari film Korea populer berjudul Sunny (2011), namun juga menuturkannya dengan mindset Indonesia. Beruntung bahwa inti kisah tentang kenangan dan reuni geng pertemanan SMA cukup bisa diterapkan di mana pun, dan buat gw Bebas berhasil membuatnya masuk dalam konteks Indonesia, khususnya dengan penentuan setting waktu pertengahan 1990-an untuk kisah masa SMA-nya, which was my favorite parts from the film. Keceriaan dan kegelisahan yang dimunculkan mengalir natural, dan referensi-referensi kultur pop 1990-an menjadi pugasan yang menggembirakan. Meskipun sesekali terlihat trait yang kurang konsisten antara pemeran karakter masa SMA dengan masa dewasanya, gw sendiri nggak kuasa membendung energi positif yang terpancar sepanjang film ini.
My score: 7,5/10






4. Perempuan Tanah Jahanam
(2019 - Base Entertainment/Ivanhoe Pictures/CJ Entertainment/Rapi Film/Logika Fantasi)
dir. Joko Anwar
Cast: Tara Basro, Marissa Anita, Ario Bayu, Christine Hakim, Asmara Abigail, Kiki Narendra, Abdurrahman Arif, Teuku Rifnu Wikana


Benak gw memang sudah menge-set bahwa label ''disutradarai Joko Anwar" bakal menawarkan pengalaman sinematis yang wahid sehingga musti gw tonton segera. Gw mungkin nggak memfavoritkan semua film doski, namun film terbarunya ini lagi-lagi membuktikan bahwa secara produksi dan craft, Joko masih salah satu andalan negeri ini. Pengadeganan yang mencekam, bangunan setting yang rapi nan misterius, cantik dipandang sekaligus bikin nggak nyaman, serta karakter-karakter yang dibangun kuat memuluskan gw mengikuti film ini hingga selesai. Walau sebenarnya gw sangat merasa mixed saat cerita masuk ke babak final (bulutangkis kali ah) dan revelation-nya dibeberkan, paling tidak kali ini gw kembali merasa disenangkan oleh adanya kisah dengan kreasi mitologi yang menarik dan cukup beda, dan lebih thorough, dibandingkan film-film sejenis.
My score: 7,5/10






5. Abominable
(2019 - Universal/DreamWorks Animation/Pearl)
dir. Jill Culton
Cast: Chloe Bennet, Albert Tsai, Tenzing Norgay Trainor, Sarah Paulson, Eddie Izzard, Tsai Chin, Michelle Wong


Keragu-raguan gw terhadap film ini, yang judulnya gw nggak paham artinya sebelum nyari di kamus, ternyata berhasil diruntuhkan. Masih menggunakan pola kisah persahabatan manusia dan sesosok makhluk yang ditakuti oleh manusia-manusia lain, tema dan strukturnya jelas sama sekali tidak baru (gw langsung keinget seri How to Train Your Dragon punyanya DreamWorks juga), demikian pula pesan-pesan tentang nilai persahabatan dan keluarga yang ingin diusung. Tetapi, film ini cukup disegarkan dengan latar negeri China kontemporer (tokoh protagonis utama ada tiga dan mereka semua anak tunggal =)), dan terutama desain gambar animasi yang bikin hati gembira. Sederhana tetapi indah, sejuk dan hangat sekaligus.
My score: 7,5/10






6. Love For Sale 2
(2019 - Visinema Pictures)
dir. Andibachtiar Yusuf
Cast: Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, Putri Ayudya, Yayu Unru, Egy Fedly, Abdurrahman Arif, Revaldo, Taskya Namya


Satu hal yang gw lega mengenai film ini adalah kisah dan situasinya dibuat sangat berbeda dengan Love for Sale pertama, yang notabene salah satu film favorit gw tahun 2018. Ketimbang lagi-lagi didorong oleh kesendirian, kisah yang sekarang justru dimulai dari, well, "kebersamaan". Kini aplikasi Love Inc. dipakai oleh protagonis kita untuk menghadirkan calon menantu palsu nan sempurna, dan lagi-lagi sosok Arini kena giliran (atau malah she's the only one in the company? *teori liar*), untuk melembutkan hati sang matriarch yang berisik perihal jodoh putra-putranya. Sama seperti film pertama, film ini mampu memotret keseharian otentik di satu sudut kota Jakarta yang biasanya enggan disorot di layar lebar kita (Jakarta Timur and mas-mas karyawan muka kusam berminyak represented, y'all), ditambah beberapa line dan kelakuan yang menggelitik, semenggelitik drama keluarga yang coba dihadirkan. Gw juga kayaknya lebih banyak ketawa nonton ini daripada pendahulunya. Namun, konsekuensi sebagai sekuel dari sebuah film yang arguably punya kisah dan penuturan yang unik, adalah menurunnya sisi kesegaran dan surprise-nya, belum lagi belokan menuju konklusinya yang terlalu tajam. Biar begitu, di film ini ada satu lagi hal yang dimainkan dengan lihai sama seperti film pertamanya, yaitu misteri tentang siapa, atau yang mana, sosok Arini yang sesungguhnya. Paling tidak itu masih bikin gw tetap ingin menantikan kelanjutan seri ini.
My score: 7/10






7. Susi Susanti: Love All
dir. Sim F.
Cast: Laura Basuki, Dion Wiyoko, Lukman Sardi, Iszur Muchtar, Dayu Wijanto, Moira Tabina Zayn, Farhan, Chew Kin Wah, Jenny Zhang, Kelly Tandiono, Delon Thamrin, Rafael Tan


Di antara film biografi tokoh terkenal Indonesia yang gw pernah tonton, film ini termasuk yang paling fokus. Iya, film ini memang menyorot perjuangan dan prestasi membanggakan dari ikon bulutangkis kita, Susi (or Susy) Susanti. Iya juga bahwa ada pembahasan hubungannya dengan Alan Budikusuma, sesama pebulutangkis nasional yang kemudian jadi suaminya. Yang mungkin tidak banyak di-expect, film ini ternyata juga memberi sorotan khusus mengenai polemik status kewarganegaraan Susi dan kawan-kawannya yang keturunan China, yang artinya film ini juga jadi eksaminasi terhadap sejarah bangsa ini--latar 80-90-an rupanya bukan cuma hiasan dan syarat belaka. Untuk hal itu, film ini patut mendapat apresiasi. Mengenai presentasinya di layar, it's another matter. Jujur gw agak bermasalah dengan peralihan mood yang bumpy, presentasi adegan pertandingan yang kurang imbang semangatnya, hingga sedikitnya waktu untuk mengupas topik kewarganegaraan tadi. Namun, gw akui juga gw menikmati kemasannya yang light, positif, mudah dicerna, dan family-oriented kayak film-film sport Disney gitu--yang bikin gw memaklumi beberapa part cerita yang terasa"film banget". Desain visual serta aktingnya juga sangat mendukung. So, bagaimanapun, gw tetap mau menanggap ini sebagai contoh film biografi tentang tokoh Indonesia yang memang penting, dengan isu yang sama pentingnya.
My score: 7/10







Senin, 07 Oktober 2019

My Movie Picks of September 2019

Kalau nyari film yang reramean, September 2019 mungkin bukan periode yang dinanti-nantikan. Dan, dilihat-lihat film-film yang dirilis yang benar-benar memuaskan gw jumlahnya juga terhitung sedikit banget, untung masih sempat nonton rilisan lama via media lain, hehe. Mana aja? Yuk dilihat di bawah ini



1. Ad Astra
(2019 - 20th Century Fox)
dir. James Gray
Cast: Brad Pitt, Tommy Lee Jones, Donald Sutherland, Liv Tyler, Ruth Negga


Hal striking pertama yang buat gw sangat mengesankan adalah gambaran tentang dunia masa depan yang "agak dekat". Film ini sci-fi, sains yang fiksi, tetapi beberapa aspek gambarannya nggak nghayal terlalu jauh--orang naik pesawat antariksa masih melayang-layang karena gravitasi nol, dan desain benda dan bangunannya yang kurang sleek, namun penyajiannya di layar sangat keren dan meyakinkan. Gw merasa semua itu dibangun supaya penonton nggak terlalu silau sama mimpi kecanggihan masa depan, dan langsung masuk pada hal striking yang kedua: plotnya berskala kecil, bahkan cenderung batiniah, tapi taruhannya besar. Seorang prajurit antariksa mencari sang ayah, yang sekian tahun pergi dan kemudian menghilang dalam misi eksplorasi ke sekitar planet Neptunus, serta disinyalir berkaitan dengan bencana gelombang perusak yang tengah menerpa bumi. Ini film tentang menyelamatkan dunia, itu betul, namun sekaligus mengeksplorasi hubungan seorang anak dengan sang ayah, peneliti yang dikagumi banyak orang di bumi, yang absen sekian lama. Di tengah kompleksitas world-building-nya, dibumbui intrik konspirasi, sepercik komentar sosial dan sejumput pemeriksaan moral--dan masih ada action dan thriller-nya, film ini rupanya juga sanggup mengedepankan sisi emosional karakternya--walau tetap dalam mode "astronot harus selalu kalem"--yang dimotori akting istimewa Brad Pitt. Dan, semua itu sanggup disajikan dalam sekali jalan dalam durasi yang pas.
My score: 8/10






2. The Beguiled
(2017 - Focus Features/Universal)
dir. Sofia Coppola
Cast: Nicole Kidman, Colin Firth, Kirsten Dunst, Elle Fanning, Oona Laurence, Angourie Rice, Addison Riecke, Emma Howard


Berdasarkan novel yang sering disebut dalam kategori gothic (kayak gw paham aje hihihi), kisah berlangsung di sebuah asrama putri yang terisolasi karena perang saudara Amerika Serikat di abad ke-19. Kelangsungan asrama tersebut terusik ketika seorang pria yang adalah prajurit dari kubu lawan ditemukan terluka dan mereka memutuskan untuk merawatnya. Keputusan yang tak hanya membahayakan di tengah perang, tetapi juga bagi ketentraman asrama, karena sang prajurit rupanya berhasil memesona para murid, guru, dan sang kepala sekolah di sana. Awalnya seperti drama lembut yang berkembang ke intrik romansa, film ini kemudian berbelok ke ranah suspense seiring pilihan dan keinginan yang dikejar oleh tiap karakternya. Yang pasti, tanpa harus menonjolkan seksualitas ataupun tiba-tiba berubah jadi film horor, film ini sukses menjaga atmosfer yang hendak ditimbulkan, dan dengan rapi memaparkan motivasi karakter yang nggak hitam-putih.
My score: 7,5/10






3. Twivortiare
(2019 - MD Pictures)
dir. Benni Setiawan
Cast: Reza Rahadian, Raihaanun, Arifin Putra, Denny Sumargo, Anggika Bolsterli, Boris Bokir, Dimas Aditya, Ferry Salim, Citra Kirana, Lydia Kandou, Dwi Yan, Roy Marten, Aida Nurmala, Ingrid Widjanarko


Drama rumah tangga perkotaan Jakarta biasanya langganan dasar cerita sinetron seri primetime di televisi nasional era 1990-an dan 2000-an awal, namun film ini ingin mencoba menggali lebih dalam, dan lebih fokus. Sepasang suami istri muda dengan karier masing-masing yang cemerlang memutuskan bercerai, namun berbagai upaya dan situasi justru membuat mereka kembali menjalin hubungan. Bagi gw, kekuatan utama film ini berada pada proses di setiap stage hubungan mereka yang ditunjukkan dalam adegan-adegannya, lewat berbagai argumen yang mereka saling lemparkan, dan terlebih lagi berkat penampilan paripurna dan natural dari kedua pemerannya, semua bersinergi menimbulkan kesan meyakinkan, nggak bisa begitu saja diarahkan pihak mana yang benar atau salah. Meski secara keseluruhan sajian visualnya nggak segitunya impresif, tapi ngelihat dinamika pasangan muda ini bertengkar dan bermesraan dan bertengkar lagi memang sungguh menarik.
My score: 7,5/10




Senin, 09 September 2019

My Movie Picks of August 2019

Agustus 2019 termasuk bulan yang ramai dengan film-film yang menggelitik para peminat film (not necessarily "peminat nonton"), tapi sepertinya kali ini gw hanya akan pilih empat saja yang paling melekat...walau itu juga ada faktor gwnya lagi belum sanggup nulis banyak-banyak =P. Marilah membangkitkan semangat menulis sesuatu lagi *note to self hehehe*, berikut empat film paling berkesan selama bulan kemaren.




1. Weathering With You
(2019 - Toho/CoMix Wave)
dir. Makoto Shinkai
Cast: Kotaro Daigo,  Nana Mori, Shun Oguri, Tsubasa Honda, Sakura Kiryu, Sei Hirazumi, Yuki Kaji


Kalau diperhadapkan pada karya Shinkai sebelumnya, Your Name (2016) yang bagi gw sangat high concept, Weathering With You terbilang sangat sederhana, paling nggak bagi yang sudah biasa sama kisah-kisah magical realism kayak orang-orang "ketimuran" macam kita ini. Inti utamanya adalah romansa dua remaja, tapi cakupan aspek ceritanya lumayan luas juga. Aspek yang gw paling suka adalah cara "kekinian" kedua tokoh utama kita me-monetize kemampuan si cewek untuk menghentikan hujan =), hingga pernyataan retoris tentang peradaban manusia yang meng-alter cara kerja alam. Jadi, Shinkai sekali lagi mampu menyandingkan tema-tema realistis dengan unsur mistis nan fantastis, yang mungkin memang paling works dalam format anime. Dan mustahil menyaksikan film ini tanpa berdecakkagum sama desain dan gambar-gambarnya.
My score: 8/10





2. Bumi Manusia
(2019 - Falcon)
dir. Hanung Bramantyo
Cast: Iqbaal Ramadhan, Mawar De Jongh, Sha Ine Febriyanti, Whani Darmawan, Jerome Kurnia, Bryan Domani, Giorgino Abraham, Donny Damara, Ayu Laksmi, Hans De Kraker, Chew Kin Wah, Kelly Tandiono, Dewi Irawan, Jeroen Lezer, Peter Sterk, Angelica Reitsma


Sebuah persektif: bila maksud dan tujuannya adalah menyajikan cerita dari sebuah novel panjang yang sempat dihalang-halangi penyebarannya di negeri ini karena pengarangnya dicap aliran kiri, menjadi 1 film untuk ditonton sebanyak mungkin orang Indonesia di tahun 2019, film ini berhasil. Dalam durasi 3 jam (!), garis tebalnya memang pada kisah cinta seorang pemuda dan pemudi dari dua dunia di zaman kolonial, namun kompleksitas orang-orang dan hal-hal sekitar mereka juga bisa gw tangkap--tentang identitas, budaya, kelas sosial, hukum, dst. Atau simpelnya, kisah ini tidak dituntaskan hanya pada dua orang tersebut jadian/nggak jadian. Nah, apakah semua kompleksitas itu sudah disajikan dengan matang atau paripurna atau porsinya fair, mungkin nggak, belum. Tapi, balik lagi ke kalimat awal gw, yang utama dilakukan film ini adalah menjadikan cerita nan panjang ini betah dinikmati oleh orang banyak (dan gw sih pingin memposisikan diri sebagai salah satu dari "orang banyak" itu =)), dengan ritme dan dinamika dramatisasi yang arguably terjaga. Nggak mudah, tapi buat gw, itu cukup.
My score: 7,5/10





3. Gundala
(2019 - Screenplay Films/Bumilangit/Legacy Pictures/Ideosource)
dir. Joko Anwar
Cast: Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Tara Basro, Ario Bayu, Pritt Timothy, Lukman Sardi, Arswendy Bening Swara, Donny Alamsyah, Tanta Ginting, Aqi Singgih, Muzakki Ramdhan, Marissa Anita, Rio Dewanto, Faris Fajar, Cecep Arif Rahman 


Sebagai pemerhati karya-karya Joko, gw senang doski berkesempatan bikin film dengan skup yang lebih besar sebagaimana pernah dibikin lewat Kala. Keyakinan gw dalam hal nilai produksinya kembali dibuktikan di Gundala. Sebagai bentuk pembaharuan dari tokoh komik superhero Indonesia klasik, film ini menurut gw cukup sukses membangun fondasi world-building-nya, gambaran kota Jakarta dan Indonesia dalam versi lebih suram, or maybe sama suramnya tapi lebih kamera-genik =). Pendekatan aksi superhero-nya juga mudah diterima, perpaduan kemampuan bela diri dengan tambahan kesaktian "supranatural", selera Nusantara-lah. Hanya, yang kemudian terasa cukup membebani adalah plot filmnya terlalu rumit untuk sebuah film perkenalan pertama, baik itu perkenalan universe-nya, maupun perkenalan sosok superheronya. Hal itu pula yang mungkin bikin bagian-bagian akhir film ini nggak se-intens awal dan pertengahannya. Namun, gw paling tidak masih mendapat nilai-nilai hiburannya, dan, ini penting, masih dibuat kagum pada penggarapan produksinya yang penuh perhitungan, and you know it's very rewarding jika pernah menyaksikan beberapa (upaya) film superhero Indonesia di tahun-tahun sebelumnya =P.
My score: 7/10





4. Once Upon A Time in...Hollywood
(2019 - Columbia)
dir. Quentin Tarantino
Cast: Leonardo DiCaprio, Brad Pitt, Margot Robbie, Al Pacino, Emile Hirsch, Margaret Qualley, Timothy Olyphant, Julia Butters, Dakota Fanning, Bruce Dern, Mike Moh, Damian Lewis, Lena Dunham, Kurt Russell


Tarantino mah bebas aja mau bikin apa juga. Bagi yang sering ngikutin karya-karya doi, pasti sudah tahu pada hobi dan kekagumannya pada film-film lawas dan yang obscure sekalipun, dan seringkali dia "contek" adegan-adegannya. Namun, kali ini sedikit beda, Tarantino meminjam kejadian dan tokoh-tokoh nyata dari Hollywood era 1960-an, dan menuangkannya dalam cerita(-cerita, iya jamak) yang dimainkan para bintang Hollywood zaman sekarang. Iya, gw lebih suka menganggap film ini kumpulan beberapa cerita (yang kemudian bersimpul di akhir), karena kayak nggak ada main plot yang benar-benar mempersatukan jalannya film ini, dan mungkin itu yang bikin gw merasa harus agak "berjuang'' melewati  2,5 jam durasinya. Untungnya, parade akting dan penataan adegan-adegan di film ini begitu precise dan sanggup untuk terus menarik perhatian, khususnya dalam hal penggambaran keseharian para pekerja industri film Hollywood kala itu. Ini bisa ditebak sebagai cara Tarantino memberi hormat kepada para tokoh industri Hollywood kesukaannya (baik TV maupun layar lebar), yang diwakili oleh tokoh-tokoh dan situasi rekaannya dalam filmnya ini.
My score: 7/10




Sabtu, 10 Agustus 2019

My Movie Picks of July 2019

Hello semwa. Karena satu dan lain hal (mostly kemalasan) gw agak menurun nih frekuensi nontonnya di bulan Juli kemarin. Dan berdampak pula pada jumlah film yang gw anggap sedemikian berkesan sehingga bisa gw catat di rekap akhir bulan. Tapi, bisa kok dapet 3 film, standarlah, ehehe.




1. Reservoir Dogs
(1992 - Miramax)
dir. Quentin Tarantino
Cast: Harvey Keitel, Steve Buscemi, Tim Roth, Michael Madsen, Chris Penn, Lawrence Tierney, Quentin Tarantino, Edward Bunker, Randy Brooks, Kirk Baltz


Memilih menonton film panjang perdana Tarantino ini supaya menuju khatam film-filmnya, dan makin menguatkan pandangan bahwa doski memang layak dianggap filmmaker istimewa. Film ini berkisah tentang aftermath dari sebuah perampokan yang berujung kegagalan, dan kecurigaan tentang adanya seorang mata-mata polisi di kawanan perampok itu. Tapi filmnya nggak ada adegan perampokan ^_^'. So, film ini digerakkan hanya lewat pengupasan karakter-karakternya dalam adu dialog yang 80 persennya berlangsung di satu gudang terbengkalai. Ya tapi kok tetap terasa seru dan bikin penasaran, dan ketika filmnya beres pun nggak ada rasa kekurangan. Satu hal yang gw juga suka dari film ini adalah seakan nggak ada niatan untuk bikin 'twists' yang meledakkan pikiran, simbol-simbol filosofikal, apalagi 'pesan moral', dan hal-hal centil lainnya. Instead, hanya ingin menunjukkan murni the craft of storytelling dalam bentuk agak berbeda dari biasanya. It worked really, really well.
My score: 8/10






2. Dua Garis Biru
(2019 - Starvision)
dir. Gina S. Noer
Cast: Angga Yunanda, Zara JKT48, Cut Mini, Arswendy Bening Swara, Lulu Tobing, Dwi Sasono, Maisha Kanna, Rachel Amanda


Tema klasik kehamilan remaja kini dipaparkan lagi dalam sajian cerita yang menurut gw cukup sensible. Terus terang sajalah ya, remaja yang menikah dan yang hamil bukanlah hal yang luar biasa bagi Indonesia, agak tabu tapi lumrah gitu (?)--dan toh dalam film ini digambarkan para pelakunya sudah masuk usia ber-KTP. Tapi, jadi masalah ketika semua tadi terjadi tanpa direncanakan. Chaos yang terjadi antara dua pihak dan dua keluarga, ditambah beban kelas sosial-ekonomi dan penjagaan citra, dan masih berpusat pada dinamika romansa dua remaja--yang bisa dibilang masuk kategori anak "baik-baik" dan masing-masing dibesarkan di keluarga KB, dikonstruksikan menjadi sebuah cerita yang solid dan dekat. Walau tak semua sektornya sempurna, film ini sukses memposisikan diri sebagai film yang digarap dengan bagus, juga sebagai mediasi tentang sebuah isu lintas generasi dengan angle yang cukup berimbang.
My score: 8/10 






3. Spider-Man: Far From Home
(2019 - Columbia/Marvel Studios)
dir. Jon Watts
Cast: Tom Holland, Jake Gyllenhaal, Zendaya, Samuel L. Jackson, Marisa Tomei, Jon Favreau, Jacob Batalon, Cobie Smulders, Tony Revolori, Remy Hii


Sudah ada delapan film tentang Spider-Man dengan empat inkarnasi berbeda (walau belum termasuk pelbagai versi karakternya di Into the Spider-Verse ya =)), dan menurut gw kayaknya nggak ada yang sampai benar-benar buruklah. Far From Home ini bagi gw di satu sisi bukanlah episode terbawahnya Spider-Man, thanks to serunya action, tapi di sisi lain gw juga nggak akan naruh dia di posisi-posisi terfavorit gw. Namun, satu elemen stand-out dari film ini adalah modus operandi si villain yang terkonsep keren dan tereksekusi dengan keren dan kekinian, dan sejalan dengan gambaran origin si tokoh tersebut dalam versi komik (atau in my case dari serial kartunnya). Not bad at all.
My score: 7/10




Minggu, 14 Juli 2019

My Movie Picks of June 2019

Bulan Juni. Summer. Musim liburan (anak sekolah doang tapi). Plus tahun ini ada Lebaran. Banyak film unggulan (oleh yang punya) dilemparkan ke pasaran. Namun, mana sajakah yang paling berkesan? Berikut versi gw.




1. Parasite
(2019 - CJ Entertainment)
dir. Bong Joon Ho
Cast: Song Kang-ho, Choi Woo-sik, Jang Hye-jin, Park So-dam, Cho Yeo-jeong, Lee Sun-kyun, Jung Ji-so, Lee Jung-eun, Jeong Hyun-jun, Park Seo-joon


Kabar terbesarnya adalah film ini meraih penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes 2019, Palm d'Or, dari unanimous decision semua jurinya. Tapi gw mungkin termasuk dalam kelompok penonton yang tidak menyangka film juara "festival serius" bisa se-enjoyable ini. Sebuah komedi hitam yang menyentuh topik stratifikasi sosial-ekonomi, jalan ceritanya diramu sedemikian rupa sehingga dugaan penonton akan arahnya kerap meleset, namun bisa tetap menjaga nilai hiburannya dengan permainan ritme serta karakterisasi yang antik dan hidup. Film yang kalau dilihat-lihat sebenarnya ganjil, dan kalau niat banget sih bisa di-breakdown makna-makna yang tersurat dan tersirat dari tiap adegan dan karakternya. Tetapi, dan ini keistimewaan yang jarang dimiliki pekarya film, film ini masih bisa disantap santai.
My score: 8/10






2. Toy Story 4
(2019 - Disney/Pixar)
dir. Josh Cooley
Cast: Tom Hanks, Tim Allen, Annie Potts, Tony Hale, Keegan-Michael Key, Jordan Peele, Christina Hendricks, Keanu Reeves, Joan Cusack


Setelah Toy Story 3 ditutup sempurna, kisah apa gerangan yang bisa minimal melanjutkan saga Toy Story dengan layak? Dasar Pixar dan Disney, mereka nemu aja cara membangun kisah keempat tanpa harus terkesan unnecessary banget. Kali ini petualangan para mainan milik Andy yang telah berpindah tangan ke si gadis cilik Bonnie, semakin menebalkan tema "eksistensial''-nya, khususnya perihal kehendak bebas para mainan itu sendiri, terutama Woody dan beberapa tokoh baru dan "returning". Berat nggak tuh =P. Namanya juga Pixar. Tetapi, kecanggihan animasi dan penuturan yang memikat dan jenaka tetap dikedepankan. Walau secara emosional gw lebih tersentak pas film ketiga, paling tidak yang ini nggak sampai terjun bebas, dan bisa dikompensasi dengan perkembangan karakternya yang bagi gw cukup bold.
My score: 7,5/10






3. Yesterday
(2019 - Universal)
dir. Danny Boyle
Cast: Himesh Patel, Lily James, Kate McKinnon, Ed Sheeran, Joel Fry, Alexander Arnold, Sophia Di Martino, Harry Michell


Premisnya bagaikan pengharum ruangan aroma roti di toko-toko roti di mall, sedaapp banget. Apa jadinya jika tiba-tiba The Beatles dan lagu-lagunya terhapus dari sejarah dan ingatan semua orang, dan hanya diingat oleh satu orang dari kota kecil yang tengah merintis karier musiknya. Berangkat dari setting yang absurd tapi seksi, film ini kemudian berjalan pada tema dilema antara ketenaran versus kejujuran, termasuk soal cinta. Komedi romantis yang ternyata tidak hanya bergantung pada tenarnya lagu-lagu The Beatles, tetapi juga memaparkan perjalanan ajaib si tokoh utama dalam meraih yang ia cita-citakan, dengan bumbu humor dan wittiness yang sering tepat sasaran.
My score: 7,5/10






4. Godzilla II: King of the Monsters
(2019 - Warner Bros./Legendary)
dir. Michael Dougherty
Cast: Millie Bobby Brown, Vera Farmiga, Kyle Chandler, Ken Watanabe, Zhang Ziyi, O'Shea Jackson Jr., Bradley Whitford, Thomas Middleditch, Charles Dance, David Strathairn, Sally Hawkins


Bisa dibilang film ini menampilkan hampir persis yang diharapkan. Menyambung Godzilla (2014),  film ini lebih banyak menampilkan pertarungan Godzilla dengan monster raksasa lain yang nggak kalah beken--karena semuanya pernah dibikin film di Jepang sejak era 1960-an. Jadi ketika film ini menjanjikan Godzilla tarung lawan King Ghidorah si monster kepala tiga dan Rodan/Radon si burung api raksasa, serta aliansi dengan si monster kupu-kupu raksasa nan anggun Mothra, itulah yang dipertunjukkan, yang ditutamakan, dan tidak mengecewakan. Selipan drama manusia sebagai sudut pandang utama juga nggak terlalu mengganggu, walau kayaknya sih nggak perlu sebanyak itu ya jumlah tokohnya. Nevertheless, jelas ada peningkatan nilai hiburan dan keseruan dari film sebelumnya.
My score: 7/10





Minggu, 16 Juni 2019

My Movie Picks of May 2019

Sorry telat ya pemirsa, masi sibuk nih ehehe T-T, mohon dima'lumi yes. Setelah diusahakan untuk menonton sebanyak mungkin film, bulan Mei 2019 kemarin menyisakan beberapa judul yang meninggalkan kesan buat gw. Dan, sepertinya juga meninggalkan kesan bagi banyak orang lain jadi sepertinya senarai ini nggak akan terlalu mengejutkanlah =).



1. Aladdin
(2019 - Disney)
dir. Guy Ritchie
Cast: Will Smith, Mena Massoud, Naomi Scott, Marwan Kenzari, Navis Negahban, Nasim Pedrad, Billy Magnussen, Numan Acar, Alan Tudyk


Aladdin (1992) masih jadi film animasi Disney terfavorit gw sepanjang masa, keindahan musiknya dan kekacauan komedinya bagi gw masih sulit ditandingi. Jadi wajar dong kalau gw agak khawatir ketika film tersebut kebagian jatah gelombang "live action remake" dari Disney. Ternyata, hasilnya bukan hanya nggak buruk, tetapi cukup memuaskan. Punya cerita yang lebih relevan (dan lebih politically-correct) dengan cara pandang modern lewat perluasan arc karakter Putri Jasmine, ditambah gritty action yang kece serta aransemen musik yang lebih kental warna Timur Tengah, bikin gw nggak sempat kepikiran film ini merusak versi animasinya, karena memang nggak. Permakluman jelas ada, let's say pembawaan pemain si Aladdin yang -__-, sekuens-sekuens musikal yang harusnya masih bisa lebih grande setara film-film Bollywood, hingga padu padan desain dan skala ruang yang nggak sampai membelalak mata gw. Namun, pada kemasan keseluruhannya, versi anyar Disney ini masih bisa memberikan kegembiraan tersendiri, masih mampu memberikan "magic" yang nggak selalu ada di film-film live action remake Disney sebelumnya.
My score: 7,5/10





2. John Wick: Chapter 3 - Parabellum
(2019 - Lionsgate)
dir. Chad Stahelski
Cast: Keanu Reeves, Halle Berry, Ian McShane, Laurence Fishburne, Lance Reddick, Asia Kate Dillon, Mark Dacascos, Anjelica Huston, Jerome Flynn, Said Taghmaoui, Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman


Entah dengan orang lain, buat gw John Wick: Chapter 2 (2017) berhasil memberikan excitement dan rasa penasaran tinggi terhadap universe ceritanya yang berasa komik dan cerita silat banget itu, memberikan nilai tambah dari yang tadinya hanya dianggap sebagai franchise pamer stuntwork dan kekerasan bergaya belaka. Penantian itu coba dilayani lewat seri ketiganya ini. Dengan jalan cerita, tokoh-tokoh, dan adegan-adegan yang semangkin kayak komik, eskalasi ceritanya sebenarnya nggak terlalu jauh dari film sebelumnya, cuma adegan-adegan kelahi dan laga-laga lainnya masih sama gilanya. Dan, karena memang itu yang terutama dicari dari franchise ini, gw merasa terlayani dengan baik sebagai penonton. Bonus bagi kita orang Indonesia, dua aktor spesialis laga kita saat ini, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman bukan hanya dijadikan lawan tangguh bagi si jagoan utama, tetapi juga ditempatkan dengan penuh respek oleh para pembuat film ini. Sampai jumpa.
My score: 7,5/10





3. Hit & Run
(2019 - Screenplay Films)
dir. Ody C. Harahap
Cast: Joe Taslim, Tatjana Saphira, Jefri Nichol. Chandra Liow, Yayan Ruhian, Mathias Muchus, Karina Suwandi, Caitlin North Lewis, Nadya Arina, Qausar Harta Yudana, Reza Aditya, Peter Taslim, Simone Julia, David Hendrawan


Dengan penempatannya sebagai salah satu film yang ditempatkan rilis di masa Lebaran, film ini bagi gw adalah yang paling meriah dan berasa "raya"-nya. Seakan mencontoh tradisi film laga komedi khas Asia Timur, film ini digerakkan oleh tokoh-tokoh dengan kelakuan nyeleneh namun jadi "garang" ketika porsi laga itu tiba, nah apalagi kelihatan di sini modal produksinya ada banget untuk bikin adegan-adegan superheboh. Mungkin bagian komedinya relatif bagi tiap-tiap pentonton, tetapi bagian laganya gw yakin akan cenderung satu suara bahwa semuanya dibuat sangat niat dan setara dengan film-film laga-aja-nggak-komedi. Akan lebih mantep lagi sebenarnya apabila di beberapa bagian nggak stay terlalu lama di satu momen/adegan, namun pada akhirnya film ini tetap bisa bikin happy, dan itu cukuplah.
My score: 7/10





Selasa, 07 Mei 2019

My Movie Picks of April 2019

April 2019 yang ditunggu-tunggu akhirnya lewat. Sedemikian banyak judul yang jadi incaran baik yang di bioskop maupun di streaming, tapi yah apa daya yang ketonton cuma beberapa, dan yang berkesan pun juga makin beberapa aja =P. Apa pun itu nggak boleh nggak, yang beberapa itu harus tetap dicatat. Berikut hasilnya...





1. Avengers: Endgame
(2019 - Marvel Studios)
dir. Anthony Russo & Joe Russo
Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Josh Brolin, Paul Rudd, Karen Gillan, Bradley Cooper, Brie Larson, Don Cheadle, Danai Gurira, Tessa Thompson


It is as big as it can be. Pelbagai karakter dan sejarah ceritanya masing-masing yang telah digelontorkan sejak tahun 2008 ditumpahkan jadi satu dalam sajian akbar sepanjang 3 jam, berfungsi baik sebagai sebuah konklusi maupun sebagai perayaan. Menyambung langsung dari Avengers: Infinity War, premis ceritanya sangat sederhana, yaitu bagaimana para pahlawan bumi dan galaksi ini strikes back demi mengembalikan keadaan dunia yang pincang akibat pemusnahan massal oleh si musuh utama, Thanos. Namun, dengan ditaburkannya berbagai call-backs dan pay-offs, film ini jadi punya lapisan lebih karena ikatan (pengetahuan) tentang para karakternya dari film-film Marvel Cinematic Universe sebelumnya. Karena itu pula, nggak jadi masalah ketika laju filmnya agak ditahan dan lebih banyak dramanya, kalau dikalkulasi ada kali separuh porsi film ini, berhubung yang nonton juga harusnya nggak keberatan menyaksikan momen-momen emosional tersebut menyangkut "pribadi-pribadi" yang telah diakrabi selama sekitar satu dekade. Ya masak berantem dan ngelawak mulu. Ketika akhirnya sampai pada pertarungan pamungkas, kepuasan bukan sekadar pada tata adegannya yang gempita, tetapi ada rasa bangga pada keberadaan para jagoan atas perjuangannya, bak mendukung tim olahraga favorit yang tengah bertanding. Di satu sisi, terkesan filmnya hanya akan works pada orang-orang yang sudah nonton sebagian besar atau bahkan semua film MCU (dan kayaknya itu termasuk gw walaupun nggak hapal banget detail-detailnya) yang totalnya ada 22. Tapi, toh yang nonton film-film tersebut juga buanyak banget, jadi rasanya keterasingan bukan hal yang patut ditakutkan. Mungkin ada anggapan film ini besar karena hype semata, tetapi ingat, hype-nya sudah dibangun secara konsisten selama 11 tahun, dan belum pernah ada yang sanggup melakukan yang setara.
My score: 8/10






2. 27 Steps of May
(2019 - Green Glow Pictures)
dir. Ravi Bharwani
Cast: Raihaanun, Lukman Sardi, Ario Bayu, Verdi Solaiman, Otig Pakis, Norman Akyuwen, Hengky Solaiman


Dari temanya sudah bisa ditebak bahwa ini bukan film yang akan disampaikan dengan cara biasa-biasa. Menyorot dampak trauma menahun seorang perempuan muda, May, akibat diperkosa saat remaja, dan kefrutrasian sang ayah yang kehabisan cara untuk membuat putrinya pulih. Kedua sisi itu coba dilambangkan dengan cara yang bukannya tidak mudah dimengerti. Gw terkesima dengan sisi kehidupan May yang sebagian besar berkutat di kamar tidurnya yang dijaga rapi dan bersih. Walaupun hampir tak menggunakan kata dan terkesan sangat simbolik, sosok May sanggup memunculkan simpati dari ungkapan emosi yang dihidupkan dengan brilian oleh Raihaanun lewat ekspresi dan gerak tubuhnya. Sementara, sisi kehidupan si ayah yang lebih gritty dan realis--digambarkan sebagai seorang petarung di ring--juga dapat ditangkap sebagai lambang kegaduhan batin sang ayah, walau buat gw dampaknya nggak sekuat bagiannya May, mungkin karena pertarungan-pertarungan fisik yang dilakukan kurang, well, menonjok. Pada akhirnya, buat gw ini adalah persembahan yang sarat makna, yang dimotori performa akting yang prima, dan tidak mengabaikan rasa.
My score: 7,5/10






3. Kucumbu Tubuh Indahku
(2019 - Fourcolours Films)
dir. Garin Nugroho
Cast: Muhammad Khan, Raditya Evandra, Rianto, Whani Darmawan, Sujiwo Tejo, Randy Pangalila, Teuku Rifnu Wikana, Mbok Tun, Dwi Windarti, Endah Laras, Fajar Suharno



Mau bagaimanapun juga, Garin punya cara tersendiri dalam menyampaikan gagasan, dan seringkali (atau malah selalu) itu nggak mudah ditelan mentah-mentah. Sekilas film ini semacam tribute terhadap kesenian tradisional Jawa, khususnya penari lengger lanang yang notabene tampil cross-dress. Namun, satu hal jelas (karena hal yang lain nggak sejelas ini =P) gw bisa tangkap film ini membahas tentang lingkaran kekerasan dan bagaimana itu membentuk ataupun membatasi setiap tokohnya. Pembahasan itu ditandem dengan perjalanan hidup si tokoh utama yang penuh lika-liku dari bocah hingga pemuda, terkait keluarga, budaya, cinta, gender, seksualitas, hingga politik. Memang terasa banyak banget topik yang ingin dibahas, tetapi kalau gw pribadi sih lebih memilih untuk lemesin aja dan menikmati ketiadaduaan Garin dalam menata tiap-tiap adegan dan para pemainnya, baik yang bikin kagum akan kepresisian artistiknya, maupun yang...just odd.
My score: 7,5/10






4. Sunyi
(2019 - Pichouse/Xing/Xing/Studio Invictus/Mixx Entertainment/CJ Entertainment)
dir. Awi Suryadi
Cast: Angga Yunanda, Amanda Rawles, Arya Vasco, Teuku Ryzki, Naomi Paulinda, Verdi Solaiman, Unique Priscilla, Dayu Wijanto


Katanya ini adalah remake film Korea yang gw kebetulan belum tonton, namun kalau dilihat-lihat versi Indonesianya ini boleh juga. Pertama-tama dari look-nya yang memang menuju ke-Korea-an, dan menurut gw itu nggak salah, karena disokong oleh skala produksi yang cukup dan angle gambar yang efektif, malah enak banget dipandang. Ceritanya soal hantu sekolah yang mati di-bully, nggak fresh-fresh amat sih, tetapi pendekatan yang lebih fokus kepada interaksi tokoh-tokohnya menurut gw adalah pilihan yang cukup tepat biar isi filmnya nggak cuma parade setan doang. Meski ada kekurangan minor di karakterisasi dan aspek tata artistiknya, untungnya sih adegan-adegan horornya digarap tense dan thrilling. Paket hiburan yang oke.
My score: 7,5/10







Jumat, 12 April 2019

My Movie Picks of March 2019

Sekali lagi mohon maaf kali ini agak telat juga huhu. So, bulan Maret gw ternyata terbilang jarang nonton di bioskop maupun media lain--entah kenapa gw juga bingung. Namun, paling nggak gw bisa menemukan tiga film yang menimbulkan kesan, jadi sebulan kemarin nggak kosong-kosong amatlah jiwa ini =D.



1. Shazam!
(2019 - New Line Cinema/Warner Bros.)
dir. David F. Sandberg
Cast: Zachary Levi, Asher Angel, Jack Dylan Grazer, Mark Strong, Djimon Hounsou, Faithe Herman, Grace Fulton, Ian Chen, Jovan Armand, Marta Millans, Cooper Andrews, John Glover


Secara preferensi gw cenderung lebih tertarik pada unpredictability kualitas film-film superhero DC ketimbang sebelahnya. Kalau jelek ya kesel, tetapi kalau dapatnya yang bagus, rasanya tuh jadi lebih rewarding. Gw mendapati bahwa konsep dasar seorang anak/remaja bisa berubah jadi superhero dewasa (tapi bukan Minky Momo juga sih) begitu pas dihadirkan lewat sebuah drama komedi keluarga sebagaimana disajikan film ini. Imbang antara lucu, haru, pesan positif, dan wonder, walau mungkin bukan yang serba akbar kayak Wonder Woman (2017) atau Aquaman (2018). Pun di tengah keceriaan yang sangat kekeluargaan itu, masih bisa diselipi berbagai tata adegan yang thrilling dan visually exciting macam film-film horor--mungkin karena Sandberg si sutradaranya biasa ngehoror sih ya. So far, inilah film superhero DC pasca-The Dark Knight-trilogy yang paling bisa gw nikmati, meski memang nggak bisa begitu saja dibandingin dengan yang lainnya saking beda tone dan pembawaan.
My score: 8/10






2. Us
(2019 - Universal)
dir. Jordan Peele
Cast: Lupita Nyong'o, Winston Duke, Elisabeth Moss, Tim Heidecker, Shahadi Wright Joseph, Evan Alex, Yahya Abdul-Mateen II, Ana Diop, Cali Sheldon, Noelle Sheldon


Selepas sukses Get Out (2016) dari Peele, gw termasuk yang berekspektasi bahwa film ini akan menampilkan yang di luar ekspektasi ;). Premisnya memang keren karena menghadapkan satu keluarga "biasa-biasa" diteror sosok-sosok yang persis dengan diri mereka tetapi versi jahatnya. Jujur, gw sesungguhnya nggak menemukan "yang di luar ekspektasi" itu dari sajian keseluruhan film ini. Namun, gw lebih menikmati film ini apa adanya, sebagai sebuah thriller dengan konsep yang cukup edan dan pengaturan ketegangannya cermat, serta dark humour sebagai penyedap. Persetanlah dengan berbagai teori dan simbol yang katanya punya makna ina inu, film ini punya satu yang pasti kelihatan jelas, yaitu wahana yang well-designed dan well-acted.
My score: 7,5/10






3. 22 July
(2018 - Netflix/Scott Rudin Productions)
dir. Paul Greengrass
Cast: Anders Danielsen Lie, Jonas Strand Gravli, Jon Øigarden, Maria Bock, Thorbjørn Harr, Seda Witt, Isak Bakli Aglen, Ola G. Furuseth


Nama Greengrass dan materi berdasarkan peristiwa nyata jadi semacam identik, dan ini adalah yang terbaru dari doi setelah sukses dengan Bloody Sunday (2002, gw belum nonton =p), United 93 (2007) yang luar biasa dan Captain Phillips (2013) yang oke. Berkisah tentang serangan teroris tunggal pada 22 Juli 2011 di negara yang sering disebut paling bahagia, Norwegia, tepatnya bom di depan gedung pemerintahan di Oslo yang dilanjut dengan penembakan brutal di kamp organisasi remaja di pulau Utøya. Film ini mengambil tokoh-tokoh patokan yang cukup bisa menghantarkan penonton pada peristiwa itu serta  perjalanan emosional yang dialami pasca-peristiwa secara komprehensif, dengan pembawaan yang intens khas Greengrass. Hanya gw agak menyayangkan bahwa dengan pemakaian full bahasa Inggris, kayak masih ada emosi yang lost in translation.
My score: 7,5/10




Minggu, 10 Maret 2019

My Movie Picks of February 2019

Gw lupa kalo Februari itu nggak sampe 30 hari, jadi harusnya bikin postingan agak cepetan, huhu. Anyway, bulan kemaren tontonan gw lumayan banyak neh, dan berikut adalah beberapa yang rasanya patut gw catat.




1. Annihilation
(2018 - Paramount/Netflix)
dir. Alex Garland
Cast: Natalie Portman, Jennifer Jason Leigh, Oscar Isaac, Gina Rodriguez, Tessa Thompson, Tuva Novotny, Benedict Wong, David Gyasi


Konsep sci-fi-nya yang sebenarnya agak rumit rupanya tetap bisa jadi pegangan yang ampuh dalam gw mengikuti film ini hingga akhir. Penuturannya yang moody membangun tensi yang bikin terus penasaran terhadap apa yang nanti para karakternya temukan--apa di balik munculnya sebuah kubah raksasa yang bikin semua orang yang masuk ke situ nggak pernah keluar lagi. Pun karakternya dibangun sedemikian rupa sehingga ceritanya ada sisi manusiawi yang cukup menggugah. Beberapa desain visualnya berada di garis antara cantik dan grotesque dan trippy, tapi justru menambah pesona aneh keseluruhan film ini =).
My score: 8/10






2. Terlalu Tampan
(2019 - Visinema Pictures)
dir. Sabrina Rochelle Kalangie
Cast: Ari Irham, Calvin Jeremy, Rachel Amanda, Nikita Willy, Dimas Danang, Tarra Budiman, Marcelino Lefrandt, Iis Dahlia, Ratna Riantiarno, Unang


Karena berdasarkan komik--well, istilah yang dipake adalah "webtoon" yang notabene komik yang terbit via internet/aplikasi--gw lumayan siap terima apa pun yang akan ditawarkan film ini, karena nggak ada contoh pendahulu di Indonesia yang bisa dibandingkan. Karakterisasi, logika, dan keabsurdan khas komik benar-benar dihidupkan dalam film ini, yang bahkan mungkin lebih works ke gw ketimbang film-film Jepang ber-tone serupa, dan itu sepertinya yang bikin gw happy sepanjang nonton. Kisahnya masih berkutat pada relationship anak-anak remaja, nggak ada yang terlalu baru, namun penggarapannya yang berani nyeleneh bikin cita rasanya lebih fresh. Mungkin bakal lebih mantep kalau makin ke belakang makin menggila, tapi keseluruhannya ini udah cukup baik kok.
My score: 7,5/10






3. Alita: Battle Angel
(2019 - 20th Century Fox)
dir. Robert Rodriguez
Cast: Rosa Salazar, Christoph Waltz, Keean Johnson, Jennifer Connelly, Mahershala Ali, Jackie Earle Haley, Ed Skrein, Jorge Lendeborg Jr., Lana Condor, Jeff Fahey


Harapan gw lumayan tinggi ketika Robert Rodriguez ditunjuk James Cameron untuk bikin film laga sci-fi berdasarkan komik Jepang ini, jadi ngebayangin Spy Kids disuntik teknologi (dan dana) Avatar =D. Kabar buruknya, film ini nggak sampai mendekati kedua judul yang gw sebut tadi. Tetapi, nggak masalah karena hasilnya adalah sebuah sajian laga yang exciting, dan tentu saja pameran teknologi efek visual kelas puncak. Menurut gw film ini sudah cukup oke dalam mengatasi tantangan tentang worldbuilding-nya yang terbilang besar dan kompleks--karena namanya komik Jepang 'kan cenderung seri-nya panjang, juga mengatasi unsur body horror-nya dengan brilian. Namun, satu hal yang gw salut adalah penyusunan cerita yang bikin benak gw merasa ceritanya sudah tuntas, sekalipun (seharusnya) bakal lanjut.
My score: 7,5/10






4. The Breadwinner
(2017 - Universal/GKIDS/Studio Canal/Aircraft Pictures/Cartoon Saloon/Melusine Productions)
dir. Nora Twomey
Cast: Saara Chaudry, Soma Bhatia, Shaista Latif, Ali Badshah, Noorin Gulamgaus, Laara Sadiq, Kawa Ada


Sebuah film dengan animasi indah, banget, tetapi mampu menyampaikan gambaran yang efektif tentang situasi yang cukup pelik. Dalam hal ini kisahnya tentang sebuah keluarga Afghanistan di rezim Taliban, yang tak punya laki-laki dewasa di rumahnya sehingga si putri bungsu harus menyamar jadi anak laki-laki untuk cari makan di luar rumah. Tidak sertamerta provokatif, karena masih memakai sudut pandang anak-anak, tetapi tetap mampu bikin gw terenyuh lewat berbagai momennya.
My score: 8/10






5. The Ballad of Buster Scruggs
(2018 - Netflix/Annapurna Pictures/Mike Zoss Productions)
dir. Joel Coen, Ethan Coen
Cast: Tim Blake Nelson, David Krumholtz, Clancy Brown, Willie Watson, James Franco, Stephen Root, Liam Neeson, Harry Melling, John Waits, Sam Dillon, Zoe Kazan, Bill Heck, Grainger Hines, Brendan Gleeson, Tyne Daly, Jonjo O'Neill, Saul Rubinek, Chelcie Ross


Film ini bener-bener kombo 6 in 1 karena terdiri dari enam cerita yang nggak ada kaitannya sama sekali, selain bahwa semuanya berlatar dunia koboi ketika tanah Amerika lagi mulai dieksplorasi sampai ke pedalamannya. Dari soal outlaw bersenjata, perampok, pemburu hadiah, pencari tambang, pertunjukan keliling, pertikaian dengan penduduk asli, sampai kisah cinta, pokoknya unsur-unsur yang bisa kita bayangkan dari semua kisah western. Mungkin karena kisahnya pendek-pendek, penuturannya jadi lebih padat dan ringkas, tetapi tiap kisah digarap dengan apik sehingga ngikutinnya juga enak. Eksentrisitas dan dry humor khas Coen bersaudara tentu saja masih tampil, tapi untungnya keseluruhannya bisa tetap bisa menghibur.
My score: 8/10






6. The Lego Movie 2
(2019 - Warner Bros./Warner Animation Group)
dir. Mike Mitchell
Cast: Chris Pratt, Elizabeth Banks, Will Arnett, Tiffany Hadish, Stephanie Beatriz, Charlie Day, Alison Brie, Nick Offerman, Maya Rudolph, Will Ferrell, Jadon Sand, Brooklynn Prince


The Lego Movie pertama menurut gw sangat groundbreaking, bikin ngakak sentosa baik karena saking konyolnya sekaligus karena punya lapisan-lapisan cerita yang gokil-kok-bisa-kepikiran. Yang gw agak takutkan pada sekuel (dan sudah terjadi pada spin-off-nya) ternyata terjadi juga pada sekuelnya ini, yaitu belum mampu menyamai tingkat brilian plus kesegaran film pertamanya walaupun pendekatan dan eksplorasi ceritanya tergolong mirip. Namun, bagaimana pun gw tetap suka sama beberapa ide yang dimunculkan di sini, dan lelucon-leluconnya juga masih mampu memunculkan tawa yang rela.
My score: 7,5/10






7. BlacKkKlansman
(2018 - Focus Features/Legendary Pictures)
dir. Spike Lee
Cast: John David Washington, Adam Driver, Laura Harrier, Topher Grace, Jasper Pääkkönen, Ryan Eggold, Michael Buschemi, Ken Garito, Paul Walter Hauser, Ashlie Atkinson, Corey Hawkins, Fred Weller, Harry Belafonte


Dari reputasi seorang Spike Lee harusnya sudah menyangka bahwa film ini akan politis banget, like nget nget, khususnya tentang diskriminasi ras di Amerika. Namun, harus diakui bahwa sebagai sebuah film bertema kriminal dan terinspirasi kisah nyata, film ini dituturkan dengan "megang" dan menarik. Untuk memata-matai organisasi rasis dan cenderung teroris Ku Klux Klan, seorang detektif kulit hitam pura-pura mendaftarkan diri sebagai anggota lewat telepon ^_^;, lalu saat ketemuan langsung dengan orang organisasi, rekan detektif yang kulit putih jadi "pemeran pengganti"-nya. Isu sosial dan politisnya memang jadi garis paling tebal, tapi cukup bisa dikompensasi lewat dark humor, referensi kultur pop, dan tentu saja performa akting yang kompak, sehingga filmnya jadi berat-berat-tapi-enggak gitu.
My score: 7,5/10





Senin, 04 Maret 2019

Winners of the 91st Oscars (and how many I guessed them right)

Yaampun...baru sempet nge-followup sekarang, haha. Baiklah karena udah agak telat momentumnya, langsung aja gw mau cek seberapa jitu tebakan gw tahun ini di The 91st Oscars. Yang gw kasih tanda O berarti tebakan gw sebelumnya benar, sedangkan X artinya gw salah dan mohon dibukakan pintu maaf.



best picture
GREEN BOOK (O)

Nah kan bener. Well, terima tidak terima, bisa dibilang film inilah pilihan paling "tradisional" yang ternyata juga masih jadi pilihan para voter Oscar. Ternyata suara keberatan dari berbagai pihak  mengenai konten film ini terbukti nggak banyak memengaruhi pilihan tersebut. Oh, akhirnya ada pemenang Best Picture yang sudah (bahkan di beberapa tempat masih) tayang di bioskop Indonesia sebelum penyelenggaraan Oscars, hehehe.



directing
ROMA (O)

Hanya turut bangga bahwa selama gw hidup bisa menyaksikan Alfonso Cuaron menang Piala Oscar buat penyutradaraan sebanyak dua kali *sujud syukur*--sebelumnya beliau menang tahun 2014 untuk Gravity.



actor in a leading role
Rami Malek, BOHEMIAN RHAPSODY (O)

Walah bener *tapi tetep agak nggak rela*



actress in a leading role
Olivia Colman, THE FAVOURITE (X)

Whoaaa...bukti bahwa jagoan dari British Academy Film Awards (BAFTA) harus patut diwaspadai di Oscars.



actor in a supporting role
Mahershala Ali, GREEN BOOK (O)

Oscar kedua hanya dalam tiga tahun *tepuk tangan*



actress in a supporting role
Regina King, IF BEALE STREET COULD TALK (X)

Weits, kerennn.



animated feature film
SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE (O)

Akhirnya mau juga mereka nengok yang bukan Disney/Pixar =D.



cinematography
ROMA (X)

Usetttt...felicidades, Senor Cuaron. Dengan demikian Bapak ini secara pribadi sudah mengoleksi Oscar untuk bidang penyutradaraan (Gravity, Roma), editing (Gravity), dan sekarang sinematografi, gimana nggak idola coba...



costume design
BLACK PANTHER (X)

Wakanda foreva...



film editing
BOHEMIAN RHAPSODY (O)

Lha bener.



makeup and hairstyling
VICE (O)

Yaiyalah



original score
BLACK PANTHER (X)

*Silang tangan di depan dada lalu tegap sambil kepala angguk satu kali*



original song
"Shallow", A STAR IS BORN (O)

Lady Gaga (and Mark Ronson, et all) is now an Oscar winner. 



production design
BLACK PANTHER (X)

That's three Oscars for Marvel Studios. Good job.



sound editing
BOHEMIAN RHAPSODY (X)

Yang ini salah...tetapi itu berarti... (lanjut ke bawah)



sound mixing
BOHEMIAN RHAPSODY (O)

...yang ini benar. Ehehehe



visual effects
FIRST MAN (X)

Dalam tradisi Inception dan Interstellar, ternyata yang paling nggak kelihatan "pamer" efek visual bisa berjaya. Ikut senang bahwa First Man kebagian Oscar juga akhirnya =)/



adapted screenplay
BLACKKKLANSMAN (O)

Yes bener.



original screenplay
GREEN BOOK (O)

Nah kan bener juga.



foreign language film
ROMA (Mexico) (O)

Yaeyalahhh



documentary feature
FREE SOLO (X)

Meneketehe.



documentary short
PERIOD. END OF SENTENCE (X)

Meneketehe



animated short film
BAO (O)

Satu-satunya yang gw pernah tonton (karena dibundling sama Incredibles 2) dan ternyata menang ^_^.



live-action short film
SKIN (O)

Meneketehe tapi kok bener ^_^;




Jadiii...menurut angka, gw nebak benar 14 dari 24 kategori, jadi hanya 58 persen semata. Tetapi, di luar ukuran angka gw yang sepertinya akan sulit mencapai sempurna, hasil Oscars tahun ini adalah yang paling "asas kekeluargaan", kayaknya semua film yang diunggulkan kebagian piala, nggak ada yang kemaruk. Malahan film-film yang populer dan mendulang box office tinggi seperti Bohemian Rhapsody bisa dapat total 4 piala, juga Black Panther dapat 3 piala. Ibaratnya Oscars tahun ini emang sedang mendekatkan diri lagi sama penonton awam kebanyakan dengan memilih film-film yang relatif lebih dikenal luas. Ya nggak masalah sih asalkan pilihan filmnya emang bagus ye bukan buat ngemis rating show-nya *ups*. Until the next Oscars, guys.