Jumat, 21 September 2012

[Movie] Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012)


Rayya, Cahaya di Atas Cahaya
(2012 - MAM Productions/Pic[k]lock)

Directed by Viva Westi
Written by Emha Ainun Najib, Viva Westi
Produced by Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh
Cast: Titi Sjuman, Tio Pakusadewo, Alex Abbad, Christine Hakim, Sapto Soetarjo, Richard Oh, Tino Saroengallo, Verdi Solaiman, Bobby Rachman, Lila Azizah, Vedie Bellamy, Arie Dagienkz


Rayya, Cahaya di Atas Cahaya bukanlah film yang "nyata". Berbeda dengan 3 Hari untuk Selamanya yang sama-sama road movie yang berusaha terkesan riil, film ini justru memilih untuk tidak riil, caranya lebih teatrikal, yang akan "aneh" jika ditempatkan dalam semesta alam nyata. Pun ia hadir dengan kekunoan, entah dari pilihan kata, konflik, hingga teknis, seakan-akan film ini dibikin berdekade-dekade yang lalu. So what? Jika film ini memang secara sengaja dan sadar meng-embrace pendekatan semacam itu, ya nggak salah lah. Sepengelihatan gw, sudah sekian banyak film Indonesia era milenium yang berusaha mempersembahkan kisah dengan gaya sastrawi tetapi masih bertabrakan awkward dengan dunia nyata kontemporer, terutama dari gaya bicara aktornya, jadi kesannya maksa dan hanya ingin supaya dari filmnya ada "quote" yang bisa ditarik, atau bahkan isinya cuma "quote" doang tanpa mentingin cerita (ehem, *lirik cin(T)a*). Rayya adalah sebuah film bergaya klasik yang digagas, dieksekusi, dan dimainkan dengan tepat dan benar. Penggunaan bahasa dialog yang "tidak wajar" sudah ditekankan sejak film dibuka dengan rapat tim yang hendak membuat buku biografi tentang selebritas nomer 1 Indonesia, Rayya (Titi Sjuman). Anehnya, dengan pembawaan setiap aktor yang terlibat di dalamnya, ketidakwajaran itu jadi terlihat...well, meyakinkan.

Utamanya, film ini bercerita tentang perjalanan Rayya sepanjang pulau Jawa hingga Bali lewat jalan darat demi pemotretan yang akan dipakai pada buku biografinya nanti. Rayya mungkin punya sifat-sifat "umum" selebritas yang menginginkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya, termasuk sesi foto road trip yang hanya ingin ia lakukan sendiri dengan fotografernya saja tanpa keberadaan orang lain. Namun hal itu diperparah dengan kehidupan asmara Rayya yang tidak sesempurna karir dunia hiburannya. Sakit hati yang dimiliki Rayya karena ternyata cowoknya udah beristri menyebabkannya jadi cranky dalam bekerja, sampai-sampai bikin kesal si fotografer, Kemal (Alex Abbad) yang kemudian menarik diri. Kemal kemudian digantikan fotografer yang lebih senior, Arya (Tio Pakusadewo). Sesi foto Rayya dan Arya pun berlanjut dengan berbagai perhentian, di berbagai lingkungan dan situasi yang eksotis, dan somehow ke-cranky-an Rayya bisa "cocok" dengan kekaleman dan kedewasaan Arya. Klisenya, dua orang ini akan saling jatuh cinta. "Masalah"-nya, film ini tidak klise. Persinggungan pikiran dan cara pandang dari dua orang yang (ternyata) sama-sama pernah disakiti hatinya ini terjadi secara perlahan, namun saling menggali satu dengan yang lain, memunculkan diri mereka masing-masing yang sesungguhnya ke permukaan.

Sudah jelas unsur obrolan akan mendominasi film berdurasi nyaris 2 jam ini. Dari segi bahasa mungkin akan terdengar, seperti gw bilang tadi, agak pretensius dan nyaris sinetronis, tetapi apa isi yang diujarkan lewat dialog bukanlah hal-hal yang terlalu aneh atau terlalu besar untuk dibicarakan. Malah, adu pendapat tentang love and life antara Rayya dan Arya terlihat manis dan sesekali jenaka. Hadirnya susunan kalimat yang terbilang baku tujuannya bukan supaya bisa dikutip, tetapi memang begitulah gaya bicara dalam semesta film ini, dan anehnya, segala yang dibicarakan bisa mudah relate dan dimengerti. 2 orang teman nonton gw pun mengingatkan bahwa demikianlah gaya bahasa dari budayawan ternama Emha Ainun Najib, salah satu penulis naskah film ini yang juga ayah dari sang produser Sabrang Mowo Damar Panuluh a.k.a. Noe "Letto" (that is a very fancy name). Diksinya memang agak mengawang, tetapi begitu membumi pemaknaannya. Momen-momen yang muncul pun kalau dipikir-pikir seperti fragmen-fragmen kontemplatif tentang kemanusiaan di negeri kita ini, namun semuanya itu disusun dan ditata dengan mulus serta relevan dengan kisah utama tentang Rayya dan Arya. My point is, meski film ini (memang seharusnya) menampilkan proses penyatuan dua hati dalam bentuk banyak obrolan, namun tidak, sama sekali tiada terkesan nyinyir dan cerewet tanpa alasan dan tujuan.

Satu hal yang menurut gw agak lucu adalah bagian proses pembuatan buku biografi Rayya seperti menjadi paralel dengan berbagai unsur film ini, baik di dalam maupun di luar cerita. Misalnya, apakah di buku perlu ada kisah keluarga Rayya atau tidak menjadi persoalan, demikian pula dalam film ini kita hanya tau sedikit saja tentang latar belakang keluarga Rayya, penting atau tidaknya hal itu tergantung penonton. Demikian pula metode Arya yang masih memakai kamera analog dengan rol Fujifilm kontras dengan Kemal yang lebih muda dan ahli bidang fotografi digital, sedangkan film Rayya sendiri diambil dengan film seluloid ketimbang digital yang jadi tren perfilman Indonesia dan dunia saat ini (meskipun gw sendiri nonton dalam presentasi digital cinema projectors). Satu lagi, tentang seberapa tebal nanti bukunya, takutnya kalau terlalu tebal dan mewah nanti banyak yang enggan beli. Itu semacam proyeksi film Rayya ini sendiri, yang dari luar sekilas tampak terlalu "nyeni", panjang/membosankan dan diperkirakan sedikit orang yang bakal meminatinya, padahal tidak sepenuhnya benar. I don't know, I found them funny, or maybe I'm just a weirdo.

Kudos bagi sutradara Viva Westi dan timnya, Rayya adalah film Indonesia tahun ini yang, secara cukup mengejutkan, paling memuaskan gw dari hampir segala segi. Pilihannya menggunakan film seluloid pada pengambilan gambar terbukti menambah keindahan, kedalaman dan ke"puitisan" filmnya, apalagi gambar-gambar yang ditangkap sinematografer langganan Citra (piala ya, bukan lotion) Ipung Rachmat Syaiful ini begitu mengharukan saking cantiknya. Namun pencapaian tertinggi film ini adalah pemilihan dan performa para pemain yang sangat tepat. Membuat film dengan gaya tidak modern memang harus kudu menggunakan aktor-aktor yang sanggup men-deliver "kekakuan" secara meyakinkan. Itulah yang dicapai pasangan peraih Citra, Titi Sjuman dan (terutama) Tio Pakusadewo, bahwa dengan kerapuhan tokoh-tokoh mereka dan ketidakwajaran tutur kata (bagi kita yang hidup di dunia nyata, setidaknya), mereka tetap dapat menghidupinya tanpa canggung, bahkan jadi lovable. Para pemain minor pun sama bagusnya, namun Christine Hakim mungkin yang paling menarik perhatian dengan akting agak budegnya.

Mudah sekali menge-cap Rayya sebagai film "art" yang akan memusingkan dan mengantukkan. Tapi saya beri tahu, itu salah besar. Menganggap film ini "puitis" pun juga kurang tepat, karena problema yang dialami tokoh-tokohnya itu sangat bisa dirasakan secara langsung tanpa harus loading dulu cari maknanya, hanya bahasa penyampaiannya saja yang agak berbeda. Memang ada perenungan-perenungan yang ditampilkan, tetapi tidak ada kesan "nih kalimat gue penting nih, ayo renungkan". Semua mengalir enak, forgivably dramatis, dan lancar selancar perjalanan Rayya dan Arya yang sepertinya tidak menemui kemacetan dan perbaikan jalan itu. Pada akhirnya, gw tidak benar-benar ingat "kata-kata mutiara" dari film ini, yang gw ingat hanyalah ada rasa cinta di sana. Apapun hiasan dialognya, yang jauh lebih penting adalah film ini berhasil menyampaikan apa yang dirasakan kedua tokohnya tanpa maksa atau vulgar alih-alih cheesy, karena ketika menjunjung tinggi cinta, hal-hal lain seakan jadi nggak penting *lah ini apa kalo bukan quote langsung dari filmnya? hehe*. Well-done lah pokoknya, salah satu film Indonesia terbaik, ternyaman, dan paling bertanggungjawab yang pernah gw tonton.



My score: 8,5/10

6 komentar:

  1. agreed with u 100 %.. to be honest bukan penggemar film indonesia 15th terakhir ini.. ga tau kenapa kok tiba tiba pengen nonton film "Rayya", mungkin triggernya judulnya yang kebetulan persis sama nama ponakan saya.. Rayya with 2 y.. surprise sekali ketika di akhir film saya merasa puas... Karena semuanya tersaji PAS..

    BalasHapus
    Balasan
    1. *toss*. senang mengetahui ada yg suka film ini sebagaimana saya, memang memuaskan.

      sayangnya penontonnya dikit banget hingga tayang di Jakarta saja cuma 8 hari, di kota2 lain malah lebih singkat lagi =(.

      Tapi mudah2an pihak pembuat/pemain film ini tahu bahwa film ini tetap diapresiasi positif sama penontonnya yang sedikit itu =))

      Hapus
  2. iya sedih banget.. yg nonton dikit.. saya dr Jogja, beruntung semalem nyempetin nonton.. soalnya saya check di koran hari ini ternyta udah g tayang X( padahal udah ku promosiin di fb.. heran kenapa yang setan setan mesum masih lbh laku ya... aduh kapan majunya nih film indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju sekali.
      mana nih penonton-penonton "pintar" yang ribut terus film Indonesia gak mutu, pas ada yang betulan bermutu malah nunda-nunda atau malah gak nonton sama sekali. Gila juga sih penonton kita *lha, malah sewot* =(

      Hapus
  3. Pemaparannya lembut, namun tidak lemas. Jalan ceritanya semakin subtil dengan bahasa puitisnya. Tokoh-tokohnya pun begitu mudah dicintai.

    Seperti Cita-citaku Setinggi Tanah dan Sang Penari, semestinya beginilah ciri khas film Indonesia, indah, sederhana, namun tidak murahan; bukan sinema-sinema teror berbumbu mesum yang kini marak beredar di bioskop-bioskop kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga lebih banyak lagi penonton Indonesia seperti Rafael yang sadar akan identitas film kita sesungguhnya.
      Terima kasih telah berbagi =)

      Hapus