Kamis, 01 Maret 2012

[Movie] The Ides of March (2011)


The Ides of March
(2011 - Exclusive Media Group/Cross Creek Pictures/Sony Pictures Entertainment)

Directed by George Clooney
Screenplay by George Clooney, Grant Heslov, Beau Willimon
Based on the stage play "Farragut North" by Beau Willimon
Produced by Grant Heslov, George Clooney, Brian Oliver
Cast: Ryan Gosling, George Clooney, Philip Seymour Hoffman, Paul Giamatti, Evan Rachel Wood, Marisa Tomei, Jeffrey Wright, Max Minghella, Jennifer Ehle


George Clooney. Dulu si oom "cuma" dikenal sebagai pemeran paling ganteng di serial medis terkenal "ER". 18 tahun, sekian belas orang kekasih, 1 piala (aktor pendukung terbaik di Syriana) dan 6 nominasi Oscar kemudian (3 akting, 2 naskah, 1 sutradara), he's already a Hollywood elite. Bukan cuma tambah terkenal, tambah laris dan tambah ganteng, rambahan profesinya di luar akting pun nggak main-main, kualitasnya sangat, sangat patut diperhitungkan. Oom Clooney sejauh ini baru menyutradarai 4 judul film bioskop, dua di antaranya memperoleh nominasi Oscar, yaitu Good Night, and Good Luck (termasuk sutradara dan film terbaik loh), dan yang 2011 barusan ini The Ides of March yang "hanya" diberi jatah nominasi skenario adaptasi. Intinya adalah, di luar unsur favoritisme di Academy, terbukti he actually can make fine films. The Ides of March adalah sebuah drama politik yang cukup pelik tetapi digelar lewat intrik yang mendasar dan relevan. Berdasarkan drama panggung karya Beau Willimon, "Farragut North", oom Clooney sukses merekrut jajaran aktor kualitas wahid nan menjanjikan dalam karya terbarunya ini. Sepengelihatan gw, itu sama sekali tidak percuma.

Jika ada kesulitan dalam menikmati The Ides of March ini, maka itu cuma mengenai latar sistem pemilihan calon presiden Amerika Serikat yang terus terang aja nggak gw pahami betul. Jadi, kira-kira aja nih ya, dua partai politik besar di sana, Partai Demokrat (cenderung liberal, julukannya "partai biru" yang berlambang keledai) dan Partai Republik (cenderung konservatif/religius, julukannya "partai merah" yang berlambang gajah) masing-masing mengajukan satu orang calon presiden. Namun sebelum itu harus ada primary election, yaitu menentukan siapa capres yang akan diajukan oleh masing-masing partai. Proses ini di masing-masing partai udah mirip persaingan pemilu presiden betulan, karena tiap kandidat (kali ini dua orang) harus berusaha memenangkan sebanyak mungkin dukungan anggota/delegasi dari partainya sendiri di tiap negara bagian—jadi bukan model musyawarah nasional/sidang raya/muktamar/kaukus/apalah namanya itu. The Ides of March menyorot pada titik ini—kisah fiktif tentu saja, khususnya soal tim sukses gubernur Mike Morris (George Clooney) dalam menghadapi rivalnya senator Pullman (Michael Mantell) untuk meraih posisi capres Partai Demokrat.

Stephen Meyers (Ryan Gosling) adalah kepala staff kampanye Morris yang muda nan cerdas—tugasnya kira-kira menyiapkan materi kampanye, entah pidato, argumen debat atau persiapan wawancara, musti hati-hati juga lho karena kalo salah sedikit bisa diputarbalikkan oleh pihak lawan untuk menjatuhkan. Meski sebenarnya ketua tim sukses Morris adalah Paul Zara (Philip Seymour Hoffman), banyak bagian dari bahan pidato/debat kampanye Morris disusun oleh Stephen. Tak hanya itu, Stephen menjalankan tugasnya itu dengan keyakinan bahwa kepemimpinan Morris akan membawa perubahan lebih baik bagi bangsanya. Stephen bukan sekadar ingin memenangkan Morris karena dia bergabung di tim kampanyenya, namun ia memang percaya akan sosok Morris yang bersih dan rasional, tanpa cara kotor pun Morris bakal menang, tak hanya sebagai capres Partai Demokrat, tetapi juga sebagai presiden Amerika Serikat nantinya. Idealisme politik Stephen pun harus diuji ketika ketua tim sukses Pullman, Tom Duffy (Paul Giamatti) tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu secara rahasia, ternyata untuk menawarkan posisi di tim sukses Pullman. Meskipun Stephen menolak, still that was, of course, a mistake. Situasi tambah runyam, ketika Stephen tanpa sengaja menguak sebuah rahasia dari cewek magang yang dikencaninya, Molly (Evan Rachel Wood) yang dapat membahayakan langkah politik Morris.

Gw berani bilang bahwa The Ides of March, meski berlabel seram "drama politik", sesungguhnya tidak sulit dinikmati oleh lebih banyak orang, karena intisarinya kerap terjadi di mana saja. Kita bisa begitu terpaku kagum akan satu tokoh, seperti Mike Morris di sini, dan kita berlaku setia hingga berbuat apa saja sebagai bentuk dukungan karena kekaguman itu. Namun kadang kita lupa bahwa sosok yang kita kagumi dan percayai adalah manusia juga. Morris adalah sosok pemimpin yang ideal, pemikirannya maju, argumennya meyakinkan, sikapnya tegas tanpa terkesan ambisius, dan ia tidak suka menjegal lawan dengan cara tercela...tetapi pasti ada saja satu sisi dirinya yang tidak sesuai ekspektasi semua orang, dan dari sisi inilah kerap timbul kekecewaan yang menyakitkan, kesetiaan pengagumnya tentu akan terguncang, apalagi mengingat posisi Stephen yang menyaksikan sendiri flaw dari tokoh yang dikaguminya. Sebagaimana kata Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan milik kita. Dan gw agak-agak merasa ini seperti "Bill Clinton: the movie" =D. 

Film ini menyampaikan ide tersebut dalam sebuah konstruksi plot yang rapih dan kokoh, segala motivasi dan sebab-akibatnya logis dan cukup mudah diikuti, tidak ada yang sia-sia dan mengerucut pada satu titik konflik yang krusial, yaitu ketika kekecewaan Stephen mengoyak kepercayaan dan idealismenya terhadap masa depan yang lebih baik sebagaimana diyakininya saat terjun ke dunia politik. Jadi, terlepas dari nama-nama tenar yang jadi pemerannya serta nama sutradaranya, The Ides of March adalah sebuah film yang dirangkai dengan solid, dikemas dalam kelengkapan teknis yang baik dan ritme yang intensif, nggak terlalu cepat ataupun lambat—nuansanya mengingatkan gw sama Michael Clayton, dialognya ditata baik dan nggak terlalu mbingungin, sekaligus mengusung sebuah isu manusiawi yang cukup penting. Hal yang gw juga sukai dari film ini adalah karakterisasi yang dibangun dengan baik dan efektif, meski levelnya "pemilihan calon presiden USA" tetapi terus menjejakkan penuturannya pada tokoh-tokoh secara personal, dan inilah yang sukses membuat gw merasa terlibat dan mudah memahami apa yang terjadi pada plotnya. 

Eksibisi kemampuan akting para pemerannya pun terakomodir dengan baik, sangat baik malah, film ini punya salah satu ensemble cast terbaik yang pernah gw tonton. Kita bakal lihat akting kharismatik George Clooney (cukup menarik bahwa si oom jarang jadi peran utama di film garapannya sendiri), penjiwaan tingkat tinggi dari Philip Seymour Hoffman dan Paul Giamatti, kehadiran singkat nan signifikan dari Marisa Tomei dan Jeffrey Wright, juga penampilan manis nan rapuh dari Evan Rachel Wood. Ryan Gosling sendiri juga membuktikan dirinya pantas memikul tanggung jawab sebagai pemeran utama sekaligus disejajarkan bareng para aktor hebat tersebut, perubahannya dari sosok cerdas dan tulus ke bimbang hingga kecewa hingga sikapnya menghadapi dilema dibawakan dengan mulus tanpa cela berarti, DAN kita bahkan bisa melihat doi menyetir—get it? "nyetir"? =P. In the other hand, The Ides of March adalah satu lagi bukti kualitas dan kerja keras seorang George Clooney sang filmmaker yang semakin matang, nyaman disaksikan sekaligus berkelas dan berbobot. Eh, interestingly gw juga mencium colongan opini (mungkin dari oom Clooney) tentang isu-isu mutakhir di Amerika (kebebasan beragama, pajak progresif, perang di Timur Tengah, pernikahan sejenis dst.) lewat pidato dan argumen Mike Morris. Kritis nih ye...



My score: 8/10


NB: setelah nyontek wiki, "the ides of March" itu adalah sebutan zaman Romawi kuno untuk hari paling tengah (idus) dari bulan Maret, yaitu tanggal 15 Maret. Hari ini jadi terkenal karena Julius Caesar ditikam ramai-ramai oleh dewan senat pada hari itu untuk mengakhiri kekuasaannya. 15 Maret dalam film The Ides of March mungkin merujuk pada tanggal 15 Maret (bisa jadi tahun 2011, soalnya katanya hari Selasa/Super Tuesday) yaitu ketika ceritanya akan diadakan primary election Partai Demokrat di negara bagian Ohio. Soal hubungannya sama tewasnya Caesar...kurang tau juga ya, hehehe

6 komentar:

  1. nice blog..udah lama ikutin blog ini..kalau boleh ingin tukaran link..trims before

    BalasHapus
  2. @novry: oke, dilihat dulu ya. terima kasih sudah mampir =)

    BalasHapus
  3. blog yg terpuji... mereview film dengan detil, sehingga bisa menjadi panduan untuk melihat, membeli bahkan mendonlot sebuah film, tanpa takut nantinya akan merasa rugi, krn sudah melihat review dri blog ini. Sudut pandang anda sangat universal, independen dan netral. salut ada pecinta film penuh kritik yg berkualitas seperti blog ini

    BalasHapus
  4. @anonim: terima kasih banyak *jadi malu*
    saya juga masih belajar jadi semoga nantinya bisa lebih bermanfaat lagi bagi pembaca.
    Terima kasih atas kunjungannya =)

    BalasHapus
  5. agree with anonim..kalau boleh jujur..ini salah satu blog yg bisa bikin ketawa (tapi gak jayus)..detail namun tidak menggurui..n tidak membosankan..keep continue bro...

    BalasHapus
  6. @novry: o, stop it you guys *kepala membesar* ^_^;

    senang rasanya mengetahui blog saya bisa dinikmati oleh tidak hanya diri sendiri. Terima kasih *semangat!*

    BalasHapus