Kamis, 08 Maret 2012

[Movie] Hugo (2011)


Hugo
(2011 - Paramount/GK Films)

Directed by Martin Scorsese
Screenplay by John Logan
Based on the book "The Invention of Hugo Cabret" by Brian Selznick
Produced by Graham King, Martin Scorsese, Johnny Depp, Tim Headington
Cast: Asa Butterfield, Ben Kingsley, Chloë Grace Moretz, Sacha Baron Cohen, Helen McRory, Christopher Lee, Frances de la Tour, Emily Mortimer, Richard Griffiths, Ray Winstone, Michael Stuhlbarg, Jude Law


Dari film-film terkemuka yang dirilis beberapa waktu belakangan ini banyak yang mengangkat nostalgia sebagai bagian dari ide utamanya. Sebut saja dalam deretan nominasi Best Picture di Oscar barusan ini, sedikitnya ada Midnight in Paris yang mengangkat nostalgia zaman keemasan sastra modern tahun 1920-an, jangan lupa ada The Tree of Life yang mayoritas isinya adalah memori masa kecil di era 1950-an, lalu The Artist yang me-"reka ulang" sensasi menonton film bisu yang berjaya di quartir awal abad ke-20, ada pula Hugo yang bahkan menjadikan salah satu pelopor dunia sinema sebagai tokoh penting di dalamnya. Walaupun diangkat dari buku cerita anak karya Brian Selznick, Hugo rupanya bukan saja hadir sebagai visualiasi kisah petualangan kanak-kanak semata. Di tangan sutradara kawakan Hollywood, Martin Scorsese, (Shutter Island, The Departed, The Aviator, Goodfellas, Raging Bull, yeah gak nyangka 'kan beliau akhirnya nyoba bikin "film anak"?) film ini rupanya menawarkan lebih banyak lagi. 

Paris, musim dingin sekitar 1930-an, tersebutlah seorang anak malang bernama Hugo Cabret (Asa Butterfield). Ibunya telah lama tiada, ayahnya (Jude Law) pun meninggal dalam kebakaran, sedangkan ia harusnya dirawat oleh pamannya, Claude (Ray Winstone) tapi si oom minggat aja gitu. Jadilah Hugo mengerjakan apa yang harusnya jadi tanggung jawab oom Claude, yakni nyetel semua jam di stasiun kereta api (karena dulu belum ada batere buat jam, adik-adik) sekaligus tinggal di balik tembok, namun jangan sampai ketahuan, terutama oleh si kepala stasiun (Sacha Baron Cohen) jika ia tidak mau dimasukkan ke panti asuhan. Hugo sebenarnya berusaha tetap bertahan sendirian di stasiun karena ingin selesai memperbaiki sebuah mesin peninggalan sang ayah, sebuah automaton (semacam robot berbentuk manusia) yang dapat menulis. Demi itu, Hugo sering mencuri perkakas dan sukucadang di toko reparasi mainan milik bapak tua Georges Méliès (Ben Kingsley)...eh sekalinya ketahuan, buku catatan peninggalan ayah soal automaton itu pun disita Georges, yang bereaksi emosional saat melihat isi catatan itu. Hugo yang ternyata punya keahlian memperbaiki barang mekanik akhirnya dipekerjakan Georges sebagai ganti barang-barang yang telah ia curi. Selama ini pula Hugo bergaul akrab dengan putri asuh Georges, Isabelle (Chloë Grace Moretz), dan rupanya Isabelle memiliki sebuah komponen khas yang dapat mengatifkan automaton Hugo. Dan wow, automaton itu berfungsi...etapi  pas dicoba si automaton bukannya menulis, ia malah menggambar, lalu diakhiri tanda nama Georges Méliès! Lho lho lho, ada apa ini ada apa dengan automaton dan Papa Georges?

Hal pertama yang mau gw bahas adalah baiknya penulisan naskah serta presentasinya. Dengan materi dasar yang menargetkan konsumen anak, serta dengan tokoh utama berwujud anak-anak, penulis John Logan berhasil membuat kisahnya mudah dicerna serta dialog yang tidak riweuh. Subplot-subplot serta karakter tambahan yang tidak terlalu nyambung dengan benang merah plot pun tetap bisa ditampilkan tanpa harus buang waktu atau mengalihkan perhatian, pokoknya pada akhirnya semua tersimpul di satu titik yang tampak wajar dan nggak maksa, ini nggak gampang lho. Kemudian ini diolah lewat penuturan Scorsese yang kali ini tampak lebih sabar, berusaha agar presentasi filmnya nggak terlalu berat, nggak buru-buru serta mudah dinikmati. Gw bilang sih jadinya film ini aman sama penonton segala usia, hubungan antar peristiwanya jelas, tokoh-tokohnya pun punya appeal yang khas dan mudah diingat khas film anak-anak, tetapi yah kurang tau pasti juga, kali aja ada yang menganggap paruh awal film ini bosenin, karena memang gw akui film ini agak hati-hati dalam babak perkenalan dan motivasi (tanpa narator) sebelum masuk dalam tujuan utama tokoh-tokoh kita...tapi daripada kecepetan ntar nggak ngerti lagi....

Jika dari segi kisah dirasa belum cukup, maka dipastikan tampilan visual film inilah yang bikin lebih betah. Look film ini luar biasa, mulai dari desain produksi, kostum, efek visual, sinematografi hingga pewarnaan gambar yang vintage kuning-biru (gw nggak merasa pernah lihat warna hijau di sini =D) sekali lagi membuktikan kualitas Martin Scorsese sebagai sineas yang tau betul cara membuat tontonan memikat nan matang secara visual, bahkan yang film keluarga macam ini. Detil dan presentasi gambarnya begitu cantik, lincah dan berkelas. Visually fantastic walau bukan film fantasi. Memang, Hugo tidak bisa dibandingkan dengan film-film fantasi anak macam Narnia atau Harry Potter—apalagi hanya karena ada kereta api dan 3 orang aktor yang juga main di seri Harry Potter, plis deh =P—karena film ini TIDAK ADA MAGIC-nya.  Jika mau membandingkan, Hugo ini lebih mirip film anak 1990-an macam A Little Princess, yang bertumpu pada cerita yang lebih plausible, layak dikonsumsi anak namun tidak kekanak-kanakan, tanpa sihir namun masih punya sense of wonder, tetapi Hugo jelas punya kelengkapan yang lebih paripurna. Penggerak film ini murni petualangan Hugo dan Isabelle dalam mencari jawaban atas misteri yang mereka temui di tengah situasi yang cukup sulit sekaligus exciting, tanpa sihir, tanpa ibu peri. 



Kalaupun ada yang namanya "magic" di film ini bukan semata-mata gaib, melainkan daya magis dari gambar bergerak, the magic of the movies. Hal yang awalnya kayak nggak relevan tetapi justru memberi penjelasan yang mendalam terhadap misteri dibalik automaton itu. Satu hal dari yang gw suka dari film ini, meskipun diproduksi dengan teknologi sinema termutakhir, Hugo memberi ruang khusus bagi pengetahuan sejarah tentang cikal bakal yang namanya film. Menarik melihat berbagai reaksi penonton saat menonton film yang saat itu belumlah lazim, lebih terpukau lagi gw ketika sampai pada segmen bagaimana film-film fantasi saat itu dibuat, dengan perlengkapan teatrikal dan teknik sangat sederhana, namun hasilnya ajaib ketika gambarnya dipertontonkan. Bagian ini bikin gw senyum-senyum girang dan tersentuh, unyuw banget ya dulu orang kalo bikin film. Semangat, ketulusan, dan kreativitas para sesepuh dulu yang luar biasa terpantul dengan baik lewat film ini, IMO the best part of the whole film, dan pasti akan menggugah keharuan para pecinta film di luar sana. Inilah sisi paling unik dari Hugo, sebuah film mutakhir dan canggih yang memberi penghormatan pada "leluhur"-nya, terhadap bagaimana film dibuat pada awalnya, yang tak dipungkiri menjadi biang inspirasi bagi dunia perfilman hingga saat ini. Eh, tapi apa hubungannya sama Hugo dkk? Aaaaada deh. Coba aja cari nama Georges Méliès di google dan youtube, you'll get the idea =).

Hugo adalah sajian sinema yang menawan, menghibur, rapih, cantik luar-dalam, ada sedikit pengetahuan sejarah, eh musiknya juga cakep, serta tema universal tentang pencarian jati diri lewat Hugo sendiri, yang mempertanyakan alasan dan tujuan hidupnya ketika segala kemalangan menimpanya, boro-boro mikirin masa depan. Sebuah tontonan yang komplit. Kalau dipikir, mungkin film ini tidak segitunya "untuk anak-anak", film ini punya kedalaman makna yang mungkin hanya bisa ditangkap orang dewasa—hmm perumpamaan "orang" dan "sukucadang" sih cukup jelas ya buat gw =)—tetapi memang penyajiannya terbilang aman untuk segala usia, setidaknya nggak ada orang berdarah di sini. Oh ya, my favorite part selain tentang "sejarah film" tadi, adalah penampilan Sacha Baron Cohen yang maksimal kocaknya. Di antara semua pemain (apalagi jika dibandingkan oleh Asa Butterfield sebagai Hugo yang masih perlu belajar lagi ya dik ya), doi yang paling mencuri perhatian, gelagatnya itu paling komikal dan "Sacha Baron Cohen" banget—dalam versi semua umur tentu saja, paling sukses lah. Adegan kepalanya pelan-pelan memenuhi layar adalah efek 3-D terbaik di film ini XD. But overall, a delightful and meaningful film.



My score: 8,5/10

4 komentar:

  1. nice review...nonton dlm format 3d jadi bisa bener2 ngebayangin rasanya org2 yg prtama kali nonton film Lumierre Bro dan takut ditabrak sm kereta (lebay!!)

    oiya ini film bener2 informatif juga,baru tau org dulu bisa buat automaton beneran,kirain cm fiksi aja...oiya terus ada cameo/homage django reindhart sama james joyce...film yang indah,anak2 nggak perlu nonton film fantasi yg isinya sihi2an aja...cheers

    BalasHapus
  2. @alyano: hore, sependapat. saya juga dapat banyak pengetahuan dari film ini.
    terima kasih, cheers juga =))

    BalasHapus
  3. Gwe juga paLing suka bagian 'shooting' fiLm-fiLmnya Papa Georges. KeLiatannya seru banget, kaya' nonton persiapan PK di kampus *eh*

    Dan beberapa kaLi keinget Tonight, Tonight -nya Smashing Pumpkins ^^

    BalasHapus
  4. @amadl: dulu peralatan sederhana tapi imajinasi harus luar biasa ya. yang mau bikin Petang Kreatif musti liat nih *lho obrolan interen =P*

    BalasHapus