Minggu, 13 November 2011

My Top 100 Film of the 2000's: Final Part (no. 10-1)

Sampailah kita pada bagian akhir dari serial postingan senarai My Top 100 Films of 2000-2009 ini, tepatnya posisi sepuluh besar. Kecenderungan kriteria top 10 ini adalah film-film yang menyeimbangkan kepuasan teknis, cerita, dan unsur hiburan, yang selalu memanggil-manggil untuk ditonton ulang dan kenikmatannya tidak cepat pudar, yang tidak akan terlupakan sampai akhir hayat *levay*. Seperti yang gw sampaikan pada foreword, gw punya selera pasaran sehingga kesepuluh film paling top versi gw ini pasti banyak yang tahu dan banyak pula yang suka, so jangan harap yang aneh-aneh, hehe. Kurang cutting edge deh. But to hell with that, bagi yang sudah menanti-nanti film-film paling “whoa” di dekade 2000-an versi gw, atau bagi yang penasaran sama jawaban quiz yang gw adakan kemarin, inilah saat penyingkapannya. Oh ya, gw menyematkan pula potongan adegan dari film-filmnya (nemu di YouTube), kali aja yang belum nonton pengen tau filmnya kira-kira kayak gimana.  AND. HERE. THEY. ARE.....





10. Bin Jip (빈집) a.k.a. 3-Iron (2004)
Kim Ki-Duk/Jae Hee, Lee Seung-Yeon, Kwon Hyuk-ho
Pertama nonton di: DVD
3-Iron bisa jadi film dengan ide paling orisinil yang pernah gw tonton. Nemu dimana coba, seorang Kim Ki-Duk mengembangkan ide tentang orang yang kerjaannya nyusup ke rumah-rumah yang lagi ditinggal yang punya, nginep dan menggunakan makanan dan alat-alat lainnya berasa rumah sendiri, tapi membalas dengan membersihkan rumah, nyuci, sampe perbaiki barang-barang rusak? Dihiasi kisah cinta, Kim lebih iseng lagi membuat dua tokoh utamanya tidak (terlihat) berbicara sepanjang film. Namun orisinalitas dan keisengan itu berimbang juga dengan cerita dan penggarapan yang luar biasa. Meski terkesan agak “nyeni”, namun nyatanya justru ini adalah film yang ringan dan sangat menghibur dengan keabsurdannya. Briliant!

3-Iron clip






9. Kala a.k.a. Dead Time (2007)
Joko Anwar/Fachri Albar, Ario Bayu, Shanty
Pertama nonton di: bioskop (JIFFest)
Jika ada film Indonesia yang gw tonton seumur hidup gw yang menimbulkan reaksi “wooow” seusai nonton, itu adalah Kala. Bahkan gw berani menyatakan bahwa film ini satu-satunya yang membuat gw bereaksi demikian. Karya kedua Joko Anwar ini mungkin tidak sempurna, namun semua itu tertutupi oleh penulisan dan penggarapan eksekusi yang hampir tidak bisa dipercaya ini karya orang Indonesia: sinematografi, tata artistik, kostum, dan segala-galanya. Meski secara visual bernuansa Eropa, namun dalam aspek lain dibuat sedemikian rupa sehingga mencakup segala sesuatu yang Indonesia sekali, mulai dari latar keadaan politik dan sosial, legenda khas, hingga mistika, menciptakan sebuah metafora yang cantik dan keren. Set-up misterinya dibuat apik, menimbulkan rasa penasaran yang tidak menjengkelkan. Film lokal yang paling paling niat di segala bidang, kecuali di promosi komersialnya, hehe. Sebuah film yang patut dibanggakan baik oleh pembuat maupun penontonnya, seriously.

Kala trailer






8. Zodiac (2007)
David Fincher/Jake Gyllenhaal, Mark Ruffalo, Robert Downey Jr.
Pertama nonton di: VCD sewaan
Film thriller misteri ini adalah salah satu film paling malang dekade lalu. Produksi besar, distribusi luas, kru dan cast yang terkenal, diangkat dari misteri kasus kriminal terkenal (di Amerika), ikut kompetisi di festival Cannes, tapi kok yaa box officenya melempem, awards apapun itu hampir sama sekali tidak didapat. Padahal Zodiac adalah film yang luar biasa, buat gw setidaknya. Meski berupa dramatisasi, film ini dengan baik berusaha menyajikan sedekat mungkin dengan kasus pembunuh berantai narsis yang sempat menghebohkan Amerika Serikat akhir 1960-an yang hingga sekarang tidak pasti siapa identitas pelakunya. Kisahnya mengikuti proses fakta penyelidikan yang didapat dan dirangkai dengan sedikit drama antar karakter yang tidak berlebihan. Step demi step perkembangan kasusnya digulirkan dengan rapi, menegangkan sekaligus mengasyikkan. Garapannya jempolan dan aktingnya terpuji, begitu mencekam berkebalikan dengan tone gambarnya yang cenderung hangat. Mencekamnya bukan sok dibikin mencekam, tetapi semua dibuat kayak “biasa” namun berefek luar biasa. Ini film yang sukses membuat gw ketakutan di adegan yang sama saat nonton ulang. Great movie. Review

Zodiac clip






7. Le Scaphandre et le Papillon a.k.a. The Diving Bell and the Butterfly (2007)
Julian Schnabel/Mathieu Amalric, Emmanuelle Seigner, Marie-Josée Croze
Pertama nonton di: DVD
Ini film produksi kerjasama Amerika Serikat (termasuk sutradaranya) dengan Prancis, berdasarkan otobiografi Jean-Dominique Bauby, editor majalah Elle Prancis yang mengalami “locked-in syndrome”—lumpuh di semua anggota tubuh kecuali otak, telinga dan mata. Alih-alih membuatnya sangat meng-Amerika, keputusan pembuat filmnya membuatnya dalam bahasa Prancis dengan aktor-aktor Prancis adalah tepat, membuat otentisitasnya terjaga dan lebih believable. Namun keputusan yang jenius adalah bagaimana penulis dan sutradara memilih benar-benar menceritakan segala sesuatu dari sudut pandang Bauby yang lumpuh. The Diving Bell adalah film biografi yang keren, kekerenan yang dimulai dari keputusan-keputusan awal itu. Bagaimana penonton bisa bertahan terutama pada 15 menit awal ketika kita bahkan nggak tau tampangnya Bauby kayak apa, karena kita hanya melihat dari sebelah matanya Bauby, itu tentu tantangan sinematografi dan pengarahan yang tidak main-main. Dirangkai dengan gambar-gambar apik, selipan footage-footage cantik, rangkaian kata yang menggelitik dan witty (seusai karakter Bauby), serta karakterisasi yang terkesan natural apa adanya, film ini adalah bukti kisah nyata soal orang sakit bisa sukses tanpa jualan air mata. Review

The Diving and The Butterfly clip






6. Chicago (2002)
Rob Marshall/Renée Zellweger, Catherine Zeta-Jones, Richard Gere
Pertama nonton di: bioskop
Versi film dari pertunjukan musikal Broadway terkenal ini bukanlah film semua orang, hal ini terlebih karena gayanya yang kayaknya sih first of its kind, bahwa bagian drama dan musikal itu dua dunia berbeda yang berparalel, tidak semua paham, tidak semua suka. Apalagi film ini bukan film cerita yang ada lagu-lagunya, melainkan lagu-lagu yang direkat dengan cerita sehingga nyambung—kayaknya emang banyakan durasi nyanyi daripada dialog deh. Tapi bagi gw, Rob Marshall sukses besar dalam cara penerjemahan yang tidak menghilangkan kekuatan sumber aslinya namun tahu benar bahwa film adalah media yang berbeda dan butuh penanganan tersendiri. Bukannya mengadaptasi, ia malah mengawinkan dua media itu, inilah yang membuatnya istimewa. Chicago mengangkat sisi “lucu” masyarakat yang cenderung suka menonton penderitaan orang lain, yang dengan “penanganan yang tepat” bahkan dapat membuat seseorang lebih terkenal sebagai penjahat daripada sebagai artis misalnya. Keberhasilan film ini adalah mengimplementasikan ide dasar itu dalam presentasi dualisme visual yang efektif. It’s all a show. Sebuah film musikal satir yang menyenangkan, dalam arti bikin nyengir karena kelucuan kisahnya, juga bikin kagum akan presentasi musikalnya yang bisa dibilang belum tertandingi oleh film-film musikal modern lain setelahnya. Review

Chicago clip






5. Finding Nemo (2003)
Andrew Stanton/Albert Brooks, Ellen DeGeneres, Alexander Gould
Pertama nonton di: bioskop
Finding Nemo itu film yang hebat, film keluarga yang nyaris sempurna. Film ini adalah konfirmasi superioritas studio animasi Pixar bahwa mereka adalah yang terdepan dalam pembuatan film animasi komputer. Ini sebelum Pixar menampilkan subteks yang kelewat berat dalam film-film selanjutnya, film ini begitu menyenangkan sekaligus mengagumkan dan menghangatkan. Konsepnya sangat menarik, berdasarkan konflik ayah overprotective dan anak yang agak nakal dalam bentuk ikan. Kisah petualangan yang lucu dan menyentuh dengan tokoh-tokoh yang khas dan kuat, menjadikan film ini begitu lovable. Namun kehebatannya tidak sampai di situ, teknik animasinya yang sangat halus dan gambar-gambar indah cerah merekah menjadikan film ini unggul di berbagai sisi, termasuk juga ritme yang lincah dan tepat, serta pengisi suara yang ajaib (Ellen DeGeneres masih jadi voice actor animasi Pixar terbaik bagi gw). Film ini begitu sedap dipandang dan mudah dicerna, namun tidak menjadikannya gampangan atau selewat saja. Gara-gara film ini semua ikan badut pasti kita panggil Nemo =D. Might not be the best (of the bests), tetapi masih yang paling berkesan.

Finding Nemo clip






4. United 93 (2006)
Paul Greengrass/Khalid Abdalla, Christian Clemenson, Cheyenne Jackson
Pertama nonton di: DVD
This is modern filmmaking. Paul Greengrass tidak membuat melodrama kepahlawanan, ia bahkan seperti tidak membuat “film”, United 93 layaknya reka ulang yang begitu realistik sehingga suspense-nya mau tak mau berasa banget. Menyorot hari naas 11 September 2001 seperti dokumenter, ketika empat pesawat berpenumpang dibajak untuk ditabrakkan pada bangunan-bangunan tertentu di Amerika Serikat (World Trade Centre, Pentagon, Capitol Building), film ini mencoba menelusuri kembali urutan kejadiannya berdasarkan bukti-bukti dan kesaksian-kesaksian—itulah mengapa nggak ada adegan pesawat yang nabrak tower pertama WTC, karena media tidak sempat merekamnya—sampai akhirnya berfokus pada pesawat keempat, United Airlines 93 yang tidak nabrak apa-apa melainkan jatuh di sebuah tanah kosong, karena ternyata ada intervensi penumpang-penumpang di kokpit yang telah dikuasai si pembajak. Tidak ada bintang terkenal karena itu akan mengalihkan perhatian, pun tidak ada tokoh yang ditonjolkan karena film ini lebih pada soal peristiwa. Kekaguman gw pun berlanjut ketika mengetahui, selain yang di dalam pesawat itu dimainkan aktor, orang-orang yang terlibat dalam adegan-adegan ruang kontrol udara adalah memang orang-orang asli yang pekerjaannya demikian, bahkan terlibat langsung pada hari naas itu. Membuat para non-aktor ini tampak natural dan benar-benar membangun film ini adalah sebuah kemampuan penyutradaraan yang luar biasa. Perhatikan pula bahwa film ini didedikasikan bukan buat “victims”, tapi “those who lost their lives”.

United 93 clip






3. The Dark Knight (2008)
Christopher Nolan/Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart
Pertama nonton di: bioskop
Sekuel Batman Begins ini seinget gw adalah film pertama yang dengan niat dan sadar gw tonton dua kali di bioskop 2 hari berturut-turut. Batman Begins itu film yang bagus, ia membuat versi lain, yang lebih riil tentang superhero ternama, Batman dengan gaya yang asyik dan nggak terlalu nghayal, mendekatkan diri pada drama ditambah action. Akan tetapi gw tidak menyangka bahwa Batman bisa sampai pada level The Dark Knight. Ini bukan film superhero komik, ini film thriller kriminal yang superbly made. Cuman pada penjahat ber-make-up dan pahlawan berkostum lah yang membuatnya “tetap berpijak” pada action fantasy. Entah karena IQ gw makin bodoh atau apa, gw merasa apa yang terjadi sepanjang film ini bukannya tidak mungkin terjadi. Dengan ramuan intrik berlapis yang cerdas, karakterisasi Joker sebagai penjahat dengan brilian—dia bukan sekadar ganggu, tapi memang mengancam seluruh aspek penduduk kota—diselipin juga pertanyaan-pertanyaan moral, seakan film ini terlalu too much. Namun bila itu semua dikemas dalam ritme penceritaan dan akting yang keren, adegan-adegan laga yang super seru, serta kelengkapan teknis yang mantabh surantabh (sinematografi, editing, sound, musik), I don’t mind at all. Film ini melibas semua keklisean Hollywood dan superheronya, standar baru dalam memperlakukan sebuah merek yang sudah telanjur terkenal. Bukan hanya soal penampilan hebat alm. Heath Ledger, box office yang sukses besar, atau faktor-faktor terpisah lainnya, but the whole movie is a single awesomness. Period.
Honorable mention: Batman Begins (2005)

The Dark Knight clip






2. Moulin Rouge! (2001)
Baz Luhrmann/Nicole Kidman, Ewan McGregor, Jim Broadbent
Pertama nonton di: VCD
Yes, ini dia biang kerok film musikal modern di Hollywood. Moulin Rouge! kalau dipikir-pikir ceritanya tuh biasa banget ya, nggak ada yang benar-benar baru. Pemuda polos yang mengejar cita-cita, jatuh cinta pada wanita anggun di “tempat yang salah”, dan cinta mereka terhalangi oleh status serta gangguan seorang tokoh antagonis yang, hmm, bersifat antagonis, usual stuff. Namun yang mem-boost-up-nya adalah kemasan yang superenergetic, superkinclong, dan superasyik. Baz Luhrmann sepertinya memang agak sakit jiwa, membuat sebuah film yang di atas kertas mirip dengan formula film India menjadi sebuah tontonan magis, begitu mencolok mata (akibat sinematografi lincah, art direction dan kostum yang gila, serta editing kilat), dengan lagu-lagu pop modern yang dikacau-balaukan dan dirangkai ulang menjadi nyawa filmnya. Merinding adalah reaksi yang muncul ketika pertama kali Christian masuk klub Moulin Rouge, hingga pada bagian klimaks di pertunjukan teater mereka. Jelas sebuah film yang tak akan terlupakan, entah atas keberadaannya semata, maupun karena efek yang ditimbulkannya. Konyol, lucu, menyentuh, mengharukan, cantik, asyik, keren, semua ada dalam film ini. Sebuah pertunjukan yang spektakuler, spektakuler.

Moulin Rouge! clip










1. Children of Men (2006)
Alfonso Cuarón/Clive Owen, Julianne Moore, Michael Caine
Pertama nonton di: DVD
Percaya nggak kalau gw baru nonton kali ke-3 baru sadar akan bagus-bangetnya film ini. 2 kali sebelumnya gw masih memproses sehingga merasa perlu nonton lagi dan lagi. Beberapa kali tontonan kemudian, yak, saya pastikan, Children of Men adalah film paling TERBAGUS BANGET sepanjang dekade 2000-2009, sejaligus ada di jajaran atas film favorit gw sepanjang masa. Tidak hanya soal banyaknya long take (keren), tidak hanya soal gambaran dunia masa depan yang scarily realistic (keren), tidak hanya soal metafora kebobrokan moral (keren), tidak hanya soal tone warna gambar yang redup nan artistik (keren banget), kekaguman gw terhadap film ini mencakup semuanya, I mean SEMUANYA. Hanya orang jenius yang bisa bikin film kayak begini. Menggambarkan sebuah dunia yang cukup kompleks dengan cara yang mudah dicerna tanpa mengganggu laju plotnya, lalu disandingkan dengan cerita adventure yang cukup sederhana, kemudian diisi dengan intrik, konflik, dan pengembangan karakter yang dirangkai dan dieksekusi tanpa cela. Intens, realistik, tangible, believable, sekaligus personal dan ada lucunya, naik turun ritmenya gokil. Cukup banyak lapisan yang bisa digali dan dibahas dari film ini, namun pembawaan film ini tidaklah sok berat, dan itu membuatnya tidak akan membosankan bila ditonton berapa kalipun. Toh penataan adegan demi adegannya terlalu luar biasa untuk dikagumi sekali saja. Menurut gw, film ini adalah satu-satunya dalam senarai ini yang semakin ditonton malah semakin bagus. It’s that great. Review

Children of Men clip




Demikianlah telah terungkap 100 film keluaran tahun 2000-2009 paling top versi gw. Semoga bermanfaat bagi semua pembaca (halah). Kita bertemu pada senarai yang lainnya. Dan yang ikut quiz, tunggu pengumuman pemenangnya ya =).




My Top 100 Films of the 2000's Recap

1. Children of Men (2006)

2. Moulin Rouge! (2001)
3. The Dark Knight (2008)
----Honorable mention: Batman Begins (2005)
4. United 93 (2006)
5. Finding Nemo (2003)
6. Chicago (2002)
7. The Diving Bell and The Butterfly (2007)
8. Zodiac (2007)
9. Kala (Dead Time) (2007)
10. 3-Iron (2004)

11. Munich (2005)
12. The Pianist (2002)
13. WALL•E (2008)
14. Gosford Park (2001)
15. Y Tu Mamá También (2001)
16. The New World (2006)
17. The Bourne Ultimatum (2007)
18. Revolutionary Road (2008)
19. In The Mood For Love (2000)
20. Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004)
21. Closer (2004)
22. 21 Grams (2003)
23. Letters From Iwo Jima (2006)
24. Atonement (2007)
25. Star Trek (2009)

26. The Lord of the Rings: The Return of The King (2003)
----Honorable mentions: The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001), The Lord of the Rings: The Two Towers (2002)
27. Collateral (2004)
28. Kung Fu Panda (2008)
29. Traffic (2000)
30. Inglourious Basterds (2009)
31. Lilo & Stitch (2002)
32. Crouching Tiger Hidden Dragon (2000)
33. The Incredibles (2004)
34. Spider-Man 2 (2004)
35. Erin Brockovich (2000)
36. Opera Jawa (2006)
37. The Passion of The Christ (2004)
38. Persepolis (2007)
39. Lost In Translation (2003)
40. Hero (2002)
41. Harry Potter and The Prisoner of Azkaban (2004)
42. Spirited Away (2002)
43. Big Fish (2003)
44. Slumdog Millionaire (2008)
45. ALWAYS: Sunset on Third Street (2005)
46. The Photograph (2007)
47. Minority Report (2002)
48. Fiksi. (2008)
49. Kill Bill vol. 1 (2003)
----Honorable mention: Kill Bill vol. 2 (2004)
50. City of God (2002)

51. Doubt (2008)
52. The Hurt Locker (2009)
53. Michael Clayton (2007)
54. Frost/Nixon (2008)
55. Ratatouille (2007)
56. Inside Man (2006)
57. The Aviator (2004)
58. Changeling (2008)
59. Babel (2006)
60. Crash (2005)
61. About A Boy (2002)
62. Master and Commander: The Far Side Of The World (2003)
63. (500) Days of Summer (2009)
64. Brokeback Mountain (2005)
65. There Will Be Blood (2007)
66. Pan’s Labyrinth (2006)
67. Avatar (2009)
68. I, Robot (2004)
69. Gran Torino (2008)
70. The Imaginarium of Doctor Parnassus (2009)
71. Black Hawk Down (2001)
72. Watchmen (2009)
73. Shrek (2001)
74. A Beautiful Mind (2001)
75. Janji Joni (2005)

76. Sin City (2005)
77. Up In The Air (2009)
78. Catch Me If You Can (2002)
79. Memento (2000)
80. Signs (2002)
81. Fantastic Mr. Fox (2009)
82. Amélie (2001)
83. Ray (2004)
84. Departures (2008)
85. Laskar Pelangi (2008)
86. Casino Royale (2006)
87. Train Man (2005)
88. Lagaan: Once Upon a Time in India (2001)
89. District 9 (2009)
90. Public Enemies (2009)
91. Invictus (2009)
92. The Fall (2006)
93. Apocalypto (2006)
94. Syriana (2005)
95. Finding Neverland (2004)
96. The Emperor's New Groove (2000)
97. Shaun Of The Dead (2004)
98. Berbagi Suami (2006)
99. Sita Sings The Blues (2008)
100. Equilibrium (2002)





sebelumnya:
Foreword
Part 1: no. 100-76
Part 2: no. 75-51
Part 3: no. 50-26
Part 4: no. 25-11

3 komentar:

  1. Ya ampun, ternyata kita sehati ya. Children of Men memang KEREN GILAAAAAAAA!!! Entah sudah berapa kali aku nonton film ini dan tak sekalipun bosen. Adegan di mobil yang 'berdarah' itu sumpah bikin aku gemes, saking bagusnya.

    BalasHapus
  2. Aduh, posisi 3 ama 1 ketuker.. posisi 2 salah.. Tapi overall listnya emang keren..

    BalasHapus
  3. @CineTariz: Toss se-toss-tossnya. adegan itu dan adegan bersalin (!)

    @WewW: thank you =). Trims juga udah berpartisipasi

    BalasHapus