Jumat, 02 April 2010

[Movie] Children of Men (2006)



Children of Men

(2006 - Universal)

Directed by Alfonso Cuarón

Screenplay by Alfonso Cuarón, Timothy J. Sexton, David Arata, Mark Fergus, Hawk Ostby

Based on the novel "The Children of Men" by P.D. James

Produced by Marc Abraham, Eric Newman, Hilary Shor, Iain Smith, Tony Smith

Cast: Clive Owen, Julianne Moore, Michael Caine, Chiwetel Ejiofor, Pam Ferris, Clare-Hope Ashitey, Charlie Hunnam, Peter Mullan



Beberapa waktu ini gw agak terpanggil untuk me-revisit film2 terfavorit gw sepanjang masa. Setelah gw coba cek rak DVD gw beberapa minggu lalu, pilihan pun jatuh ke Children Of Men karya Alfonso Cuarón. Gw pertama kali nonton film ini lewat DVD, belinya agak gambling karena belum pernah nonton dan informasi yg gw tau tentang film ini sedikit sekali, selain mengantongi 3 nominasi Oscar yg--menurut gw--cukup penting: sinematografi, editing, dan naskah adaptasi untuk tahun 2007 (yg jadi tahun pertama penyiaran malam Academy Awards hengkang dari televisi nasional kita hingga sekarang T_T). Ditambah film ini cukup terpuji di mata para kritikus, serta disutradarai oleh Alfonso Cuarón yg gw kenal dan suka karena Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, jadilah gw ambil DVD ini, lalu gw tonton...dan gw tonton lagi...dan gw tonton lagi...dan lagi2 gw tonton...dan wah kayaknya sampe kmaren terakhir gw udah nonton sekitar 6 kali dalam 2,5 tahunan ini. Praktis Children of Men adalah salah satu film TERfavorit gw sepanjang masa, and I'm gonna stand by that statement.


Kita diperkenalkan kepada Theo Faron (Clive Owen), seorang pegawai biasa sebuah kementrian di London. Suatu hari ketika hendak menjalani rutinitas hari-hari, Theo tiba2 diculik oleh sekelompok orang, yg belakangan diketahui adalah gerakan Fish (dengan
nickname "the Fishes"), salah satu gerakan "makar" yg di-blacklist pemerintah Inggris, yg belakangan lagi diketahui dipimpin oleh Julian (Julianne Moore), yg notabene mantan istri Theo. Julian hendak meminta tolong Theo untuk bikinin surat jalan, karena Julian dkk mau mengantar seorang perempuan muda (seorang imigran gelap)--nanti diketahui bernama Kee (Clare-Hope Ashitey)--ke sebuah tempat yg harus melalui pemeriksaan aparat. Theo mau nggak mau nurut, karena diiming-imingi uang yg banyak (kayaknya sih buat nglunasin utang atau jangan2 emang nggak bisa nolak permintaan mantan). Theo sukses memenuhi permintaan Julian, tapi terpaksa Theo harus ikutan mengantar karena surat jalan itu butuh pengawalan pegawai pemerintahan. Tanpa Theo sadari, sebuah misi yg tampaknya sederhana, ternyata menyimpan rahasia yg luar biasa, dan tanpa pernah diduga berbagai macam bahaya baik dari pihak luar maupun dalam siap membuyarkan perjalanan yg dianggap remeh Theo ini.




Cukup simpel ya? Mengantar sesuatu/seseorang ke
suatu tempat melintasi rintangan dan tantangan yg menghadang, tinggal masalah berhasil atau tidak. Tapi Children of Men ini tidaklah sesederhana itu. Sebagaimana tertulis di cover DVDnya, film bersetting di tahun 2027, ketika manusia sudah tidak lagi mampu bereproduksi sejak 18 tahun sebelumnya (o-em-ji, 2009?), dunia sudah di ambang kesudahan. Kalo di film lain setting futuristik berarti kemajuan teknologi, di dunia rekaan Alfonso Cuarón ini, masa depan bagaikan puncak perilaku dasar manusia yaitu bertahan hidup dengan segala cara, terutama saat di ambang kepunahan: kekumuhan dan keruwetan. Theo dkk tengah berada dalam situasi yg sebenarnya mencekam. Lewat tayangan iklan propaganda pemerintah Inggris, terlihat seluruh dunia sudah dalam kaos (tanpa oblong), kecuali Britania Raya, yg karena itu pula negeri ini jadi tujuan utama para imigran gelap. Alhasil, seluruh penjuru Inggris disesaki oleh imigran gelap, sehingga entah karena sudah kewalahan atau kepenuhan (downtown London aja jadi mirip Blok M atau Jakarta Kota, cuman lebih banyak billboard LED screennya ajah), pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan penangkapan atau pelaporan (untuk ditangkap) imigran gelap yg nantinya akan dikarantina di kota terpencil yg dijaga ketat. Seringkali tindakan aparat sangat tidak manusiawi, sehingga timbul gerakan2 bawah tanah (yah mirip "teroris" lah) untuk menentang pemerintah, salah satunya gerakan Fish pimpinan Julian.





Penjela
san gw di atas lucunya bukanlah dalam bentuk prolog ala Star Wars. Lalu gimana caranya gw bisa jelasin ulang? Di sinilah gw temukan kegemesan gw terhadap cara penyutradaraan Alfonso Cuarón yg sangat2 jempol pol pol. Sebagaimana gw singgung, ceritanya tidak sesederhana itu. Plotnya mengalir sedemikian rupa dengan laju yg tepat dan tidak kehilangan fokus meski ada pengungkapan rahasia dan intrik2. Kita hanya tau yg Theo juga tau, sehingga mengikut jalan ceritanya pun semakin asyik karena kita nggak tau apa yg akan terjadi. Anehnya, setiap adegan pasti bercerita lebih daripada sekedar plot utamanya, bahkan tanpa perlu banyak berkata-kata. Jadi selain mengikuti jalan cerita, kita juga sekaligus--bisa jadi di alam bawah sadar (lebay)--diasupi informasi2 yg kaya tentang apa yg terjadi di sekitar Theo dkk, entah dari selipan di dialog, papan pengumuman dan iklan, situasi di sekitar, dsb dsb. Adegan2 ini diletakkan tidak berkesinambungan waktunya, jadi "penjelasan" yg gw peroleh bukan karena diceritakan secara khusus sehingga menjegal laju cerita, tapi dari memperlihatkan (memperlihatkan, bukan menceritakan) petunjuk sedikit demi sedikit yg disebar secara sangat smooth dan nggak membingungkan. Lewat cara inilah, film ini jadi terasa padat tanpa harus terlena dalam durasi yg terlalu lama, cuman 100-an menit.

Akan tetapi kalau mau jujur, sektor cerita bukanlah hal pertama yg membuat gw nagih sama Children of Men. Akan gw tambahkan pernyataan tentang film ini: Children Of Men
is one of the most perfectly-framed film I've EVER seen! Gila, visualisasi Alfonso Cuarón di sini bener2 gila! Film ini jelas2 fiksi tapi gw merasa dimanapun Theo berada, ia berada di sebuah tempat dan situasi yg sungguhan. Nggak ada yg tampak diatur atau disetting, tapi seperti dokumenter, semua tampak memang terjadi begitu saja. Luar biasa believable. Top markotop perlu gw lontarkan pada tim production design, make-up, kostum dan tentu saja sinematografi yg sukses menampilkan gambar tampak suram namun sangat indah nan dinamis, menambah kesan mencekam tapi adem secara bersamaan (silahkan tonton kalo gak bisa bayangin ^_^). Tak berhenti sampe di situ, sang sutradara Cuarón berhasil membuat gw shock dengan adegan2 yg ditampilkannya. Film baru mulai, udah ada kedai kopi meledak padahal Theo baru keluar dari sana. Lalu di perjalanan mengantar Kee, baru aja Theo dan Julian main lempar pingpong pake mulut, mobil mereka udah diserang teroris dari luar sehingga harus ngebut menghindari serangan, yg semua gambarnya diambil dari dalam mobil dalam satu take! Film ini memang jadi arena keahlian Cuarón mengarahkan adegan one-take-shot, karena bagian klimaks ketika Theo dkk berada di tengah2 peperangan gerakan Fish vs pemerintah juga disyut cukup lama, ada kali 5 menitan yg magnificent dan menegangkan. Tapi yg paling bikin gw mikir "what the.." adalah adegan "anu"--yg juga disyut dalam satu take--di malam menjelang perang besar para pemberontak vs pemerintah. Adegan apa itu? Aaaada deh...Tapi sumpah gw shock banget, maklum, gak pernah liat yg begituan sebelumnya. Keren ^o^ v.

Kalau bisa gw akan terus dan terus membahas betapa gw suka banget film ini...oh ya..aktor *lho masih nambah*. Meski tidak menampilkan penampilan yg wah gimanaa gitu, tapi gw suka banget setiap porsi karakter bahkan yg cuman sebentar dan mukanya nggak jelas sekalipun, dimainkan dengan pas dan solid oleh
cast yg sebagian besar asal Inggris (yg menurut gw senantiasa menghasilkan aktor2 yg berbakat "betulan"), menjadi bagian penyempurna film ini.

Jadi, apa artinya gw udah nonton 6 kali tapi masih terkagum-kagum?
An amazing film, I supposed. Mungkin filmnya terkesan terlalu serius, tapi jangan salah sangka, film ini juga menghibur lewat suspense yg spontan dan juga bagian ending yg menawarkan sedikit kelegaan (walaupun belum tentu). Visualnya membelalak mata, cerita yg baik dan berbeda, penceritaan yg luar biasa, dan yg penting, memicu gw jadi penggemar berat Alfonso Cuarón *penting nggak ya? ^_^'*. Jangan kaget liat scorenya ya...



my score:
9,5/10

15 komentar:

  1. eh...soal one take shot itu, katanya ada teknologi (editing) yang memungkinkan sebuah adegan terlihat seperti hasil dari satu kali take. Bener gak sih?

    BalasHapus
  2. @gilasinema: entahlah, saya sih taunya simply "editing" saja hehe. Adegan yg di mobil itu juga katanya disyut di 3 lokasi jadi memang "terkesan" 1-take shot, tapi keren ah

    video klipnya Beyonce "Single Ladies" juga kayak 1-take shot padahal nggak *top*

    BalasHapus
  3. kEREN MEMANG. WISATA VISUAL YANG CIAMIK

    BalasHapus
  4. neh pelem keren sebenarnya, tapi pas nonton ga konsen dan banyak gangguan jadi ga dapet feelnya

    besok2 nonton lagi ah :D

    BalasHapus
  5. gua memang suka film bersetting situasi bumi yang kacau balau. Tapi sayang film yang gua tonton ngehang abis adegan penyergapan itu. Padahal lagi seru-serunya. Salah satu film yang sudah gua tonton berkali-kali (mungkin sudah ratusan kali) yaitu Speed. Still amazing dengan gerak kameranya.

    BalasHapus
  6. @gilasinema: +1

    @Film ajah: film ini pernah tayang di Trans TV dan ternyata itu adalah cara yg salah. Nonton Children of Men diselingi iklan hanya akan bikin ngantuk karena mood filmnya sendiri jadi rusak. Monggo, sediakan waktu untuk nonton..

    @Bang Mupi: skitar taun lalu DVD originalnya diskon loch hehe. Ngomong2 soal film yg berkali-kali ditonton, bisa jadi buat saya adalah Sister Act, udah lupa berapa kali nonton di kaset BetaMax atau di TV hehehe..I will follow Hiiiimm

    BalasHapus
  7. ah payah.. saya telat komen disini..
    ini jg termasuk film favorit sy,
    ceritanya keren, one take shoot nya keren,
    adegan perang pas klimaksnya keren(apalg pas adegan clive owen nya bawa bayi trus di liatin tentara2 gtu), endingnya (pas di perahu nungguin kapal) ngegantung tp keren..
    hanya satu yg di sayangkan, promosinya kayanya kurang, banyak org yg ga tau film ini,
    apalagi (klo ga salah) film ini ga menang di oscar...

    salam kenal, kreshna

    BalasHapus
  8. @kreshna
    halo juga
    kayak salah satu postingan blog tetangga Awyangobrol, 2006 memang penuh film bagus, dan saking penuhnya yg benar2 bagus seperti Children of Men ini jadi agak terpinggirkan, baik box office maupun awards...terutama sama Dreamgirls, Babel, dan The Departed (dan mungkin Pirates of Carribean 2). Padahal film ini amat sangat layak dapat atensi dan apresiasi lebih.

    BalasHapus
  9. BetuL Nyo, nonton di tv saLah banget, ngerusak mood =__= *nyerah di tengah jaLan utk kedua kaLinya*

    BalasHapus
  10. baguss brroo..
    jadi pengen beli dvdnya...
    tp pesen filnya keliatan bgt New World Order or NWO (seremm bgt)
    berjaga22 aja bro...

    BalasHapus
  11. Iya kayanya bagus...
    Tadi malem pas iseng2 pindah channel ke Trans & tibalah adegan dimobil yg diserbu teroris, jreng.. jreng.. muncul pulak tampang si Clive Owen (Inside Man TOP BGT). Langsung lah gw menuduh ini pasti film OK. Clive Owen & Julianne Moore getoohh.. ;p

    Tapi sayang gw nonton dr tengah2 plus kepotong2 iklan, alhasil gw nyerah cuma sampe scene mreka kabur dr rumah Jasper... T_T

    Gw iseng2 browsing and ternyata banyak orang yg muji ni film.. Jadi pengen beli DVDnya aaahh.. ^^

    BalasHapus
  12. @amadl dan @anonim 9Aug10 13:43 (^_^) ayolah ditonton lengkap, kalo agak susah, DVD/VCD originalnya kayaknya masih ada tuh di DVD-Original.com

    @anonim 9Aug10 00:57 wah kurang tau ya, gw rasa sih gak ada hubungannya ke situ, lebih kepada proyeksi tentang akhir dari peradaban manusia modern (bobrok) yang sudah mulai dan juga sedang terjadi sekarang ini.
    Misalnya, sekarang segala2 disahkan atas nama HAM, di masa depan bukan gak mungkin obat bunuh diri seperti Quietus di film ini dijual legal bahkan ada iklannya, ya toh? =) Memang menakutkan, tapi bukannya nggak mungkin.

    BalasHapus
  13. salam kenal
    numpang komen, semalem ditayangin trans tv, setelah tengah malam
    dulu kayaknya pernah nonton di tv jg, tp sepotong2
    tp jujur, saya sangat terpesona dengan gambar film ini

    BalasHapus
  14. @bescorpio, halo salam kenal, terima kasih sudah mampir. Mungkin perlu dicoba ditonton utuh tanpa dipotong iklan, biar lebih yahud nuansanya =D

    BalasHapus
  15. Memang teknik one take shot lebih berasa real buat sebuah film. makanya suka sma film2 besutan Alfonso Cuaron. Pak Reino udah pernah coba 4 months 3 weeks 2 days (2007), filmnya jg bnya memakai teknik ini. kalo gak salah di Pride & Prejudice (2004) jg ada brpa scene.

    BalasHapus