Minggu, 16 Oktober 2011

My Top 100 Films of the 2000's: Part 3 (no. 50-26)

Halo...Lama ya? *kedip-kedip innocent* Maap, maap, kehidupan nyata yang keras tengah membebani saya selama beberapa minggu terakhir jadi nggak bisa update blog secepat mungkin, terutama yang lanjutan My Top 100 Films ini *alasan*. Anyway, pada bagian ketiga ini kita masuk pada 50 besar. Kalau gw liat daftar di bagian ini, semakin banyak film yang gw sangat nikmati meski sudah ditonton berulang kali, genre maupun bahasa/negara asalnya juga rupanya cukup variatif. Gw sih merasa seneng dan puas liat 50 besar ini (sampe no. 1 tentu saja), bagaimana dengan Anda? =)





50. Cidade de Deus a.k.a. City of God (2002)
Fernando Mereilles/Alexandre Rodrigues, Leandro Firmino, Seu Jorge
Pertama nonton di: unduhan bajakan
City of God bukanlah film yang "nyaman" untuk ditonton. Isinya tentang sejarah terbentuknya dunia kriminal di pemukiman kumuh pinggiran kota Rio de Janeiro dari tahun 1960-1970-an, hingga sampai terjadinya perang antar dedengkot narkoba yang memakan banyak korban jiwa. Meski demikian, film ini tetap menyimpan kecerdasan bercerita dan kelihaian merangkai gambar yang membuatnya sangat menarik disimak, bahkan somehow menyenangkan. Begitu panjang dan berliku latar belakang peristiwa besar yang muncul di awal film, namun dengan penggarapan lincah dan tokoh-tokoh yang jelas, film ini sangat jauh dari membosankan. Yang gw nggak habis pikir gimana itu caranya sutradara mengarahkan buanyak orang dalam keadaan riot tapi tidak hilang fokus. Legal.


49. Kill Bill vol. 1 (2003)
Quentin Tarantino/Uma Thurman, Lucy Liu, Vivica A. Fox
Pertama nonton di: bioskop
Sesungguhnya tidak lengkap kalau hanya Kill Bill Vol. 1 saja yang diangkat, karena ia sangat saling mengisi dengan Vol. 2 yang dirilis beberapa bulan setelahnya (tadinya juga rencananya ini satu film saja). Namun bila harus memilih, gw harus memilih Vol. 1 yang menjajakan aksi semi-gore yang seru, nuansanya sejak awal memang lebih “rame”. Kisah Kill Bill Vol. 1 dirancang dengan motif dan tujuan yang sederhana dan jelas, mencontoh film silat Hong Kong atau pedang-pedangan Jepang, namun perjalanan di antaranya yang dikreasikan dengan menarik. Dialog ngalor-ngidul nan cerdas yang jadi kebiasaan Quentin Tarantino masih mendominasi, namun yang pasti film ini telah menciptakan, atau mempopulerkan kembali adegan-adegan aksi klasik dan karakter-karakter yang, well, berkarakter. Ending—or should I say "pemotongan" di akhirnya pun brilian.
Honorable mention: Kill Bill Vol. 2 (2004)


48. Fiksi. (2008)
Mouly Surya/Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih
Pertama nonton di: DVD
Menurut gw, Fiksi. adalah film pemenang piala Citra yang paling nggenah sejak revival FFI tahun 2004 hingga sekarang. I’ll tell you why. Menurut gw kekuatan dasar dari sebuah film adalah naskah, dan film ini memilikinya. Dengan premia yang cukup striking (anak orang kaya yang “terjun ke masyarakat” demi mendekati cowok yang ditaksir, dengan membantu membuatkan “akhir” dari orang-orang yang jadi inspirasi karya tulis si cowok), film diam-diam ini menghanyutkan penontonnya dalam jalinan cerita yang semakin ke sana semakin “sakit”. Didukung lagi pada eksekusi tata adegan yang memang terlihat jelas dibuat oleh orang-orang yang tahu caranya membuat film, yang tidak menyia-nyiakan durasi atau frame gambar untuk hal-hal yang tidak relevan. Salah satu film Indonesia yang paling bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya. Review


47. Minority Report (2002)
Steven Spielberg/Tom Cruise, Colin Farrell, Max von Sydow
Pertama nonton di: bioskop
Steven Spielberg adalah brand yang seringkali lebih penting daripada nama-nama aktor, karena (sebagian besar) apa saja yang diperbuatnya berhasil, baik secara kualitas dan ataupun kepuasan penonton. Minority Report adalah karya sci-fi Spielberg yang di-boost oleh nama Tom Cruise yang musti kudu nama+mukanya tampil minimal 25% proporsi poster film-filmnya—artinya dia menjual banget gitu. Apa yang dihasilkan film ini ternyata lebih dari sekedar “superduet” dari Spielberg dan Cruise, tetapi juga film yang intriguing. Misterinya ditata rapi, visualnya yang gritty dan kasar pun menambah nuansa misterius yang unik. Meski durasinya agak panjang, thriller futuristik ini sukses dalam merangkum cerita dan penjelasan segala sesuatunya dengan cukup (walau bisa agak membingungkan tetapi tetaplah dirasa cukup), dilengkapi dengan beberapa adegan yang memorable, menjadikannya tontonan yang keren dan mengasyikkan.


46. The Photograph (2007)
Nan Achnas/Shanty, Lim Kay Tong, Lukman Sardi
Pertama nonton di: bioskop (JIFFest)
Film ini tuh cakeeeep banget. Itulah kesan awal yang masih terpatri di benak gw ketika mengingat film ini. The Photograph memang intinya agak abstrak, 2 karakter yang berbeda segalanya (gender, usia, ras, budaya dan latar belakang lainnya) dipertemukan karena keadaan, kemudian saling membuka diri dan saling mempercayai. Di luar gambar yang bening (bahkan di versi DVD-nya yang kualitasnya memprihatinkan pun gambarnya masih woke) serta akting bernas, film ini berjalan tenang dan bisa dibilang datar, konflik tidaklah benar-benar muncul ke permukaan. Namun tetap saja ada kegetiran dan kehangatan yang tertransfer lewat rangkaian dialog, atau bahkan tanpa dialog dari interaksi cewek karaoke dengan tukang foto uzur yang tengah mencari penerus usaha foto ini. Adegan di akhirnya juara!


45. ALWAYS San-choume no Yuuhi (ALWAYS 三丁目の夕日) a.k.a. ALWAYS: Sunset on Third Street (2005)
Takashi Yamazaki/Hidetaka Yoshioka, Shin’ichi Tsutsumi, Maki Horikita
Pertama nonton di: DVD bajakan (pinjaman teman)
Berawal tanpa ekspektasi yang gimana gitu, ALWAYS rupanya jadi salah satu film Jepang yang paling gw nikmati dan paling menghibur dari yang pernah gw tonton. Kisah-kisah bersahaja dan seringkali kocak dari warga Tokyo di tahun 1950-an diperagakan dengan kekompakan tak terbantahkan oleh para aktornya, dan dipoles lagi dengan dukungan visual effect yang cukup untuk menambah feel zaman dulunya. Sebuah film yang komplet baik gambar maupun isiannya, hangat, menyentuh, dan...gw udah bilang menghibur ya? =) Review


44. Slumdog Millionaire (2008)
Danny Boyle/Dev Patel, Anil Kapoor, Freida Pinto
Pertama nonton di: bioskop
Gw ini termasuk orang yang kepo sama film-film yang dapet buzz piala Oscar, jadi wajar saja gw antusias untuk menyaksikan Slumdog Millionaire yang digadang-gadang akan (dan ternyata memang) menang Oscar ini. Film ini bukanlah film “art” yang gimana-gimana gitu, justru sebaliknya, ini adalah film yang menghibur, menyenangkan, heartwarming, plus penggarapan yang buat gw luar biasa. Film produksi Inggris ini sukses dalam menyajikan cerita dalam 3 lajur waktu berbeda secara selang-seling dengan sangat nyaman, ditambah presentasi gambar (warna dan angle) yang dinamis serta musik yang keren. Baru di film ini gw bisa melihat sisi fotogenik dari kawasan kumuh, bisa aje ye. Dan pasti ada senyum tersungging pada saat main title di akhir *gelenggelengIndia*. Review


43. Big Fish (2003)
Tim Burton/Ewan McGregor, Albert Finney, Billy Crudup
Pertama nonton di: VCD sewaan
Bagi gw film ini adalah sebuah kejutan. Gw terkejut bahwa seorang Tim Burton bisa bikin film yang terang benderang dengan cerita kuat dan menghangatkan seperti Big Fish ini. Eksentrisitas jelas masih ada, gambar dan tata artistik fantastis bertaburan dimana-mana, namun bukan hanya itu saja yang membuat gw mantengin terus film ini hingga akhirnya. Tokoh-tokoh yang menarik serta drama ayah-putra yang dirajut solid menjadi daya tarik yang kuat sekali, sama kuatnya dengan visual imajinatif yang ditampilkan, juga kekuatan akting Ewan McGregor dan Albert Finney. Gw suka banget endingnya =).


42. Sen to Chihiro no Kamikakushi (千と千尋の神隠し) a.k.a. Spirited Away (2001)
Hayao Miyazaki/Rumi Hiiragi, Miyu Irino, Mari Natsuki
Pertama nonton di: DVD
Ini juga gw tonton karena buzz kenceng, termasuk di antaranya sebagai film bioskop terlaris sepanjang masa di Jepang. Sen to Chihiro adalah film penuh imajinasi tetapi disajikan tanpa pretensi meski tidak juga terlalu ringan. Konsepnya luar biasa, pusat pemandian air panas-nya makhluk halus? Brillant! Bagaikan Alice In Wonderland tetapi dengan sebuah tujuan yang lebih jelas. Usaha Chihiro menyelamatkan orang tuanya yang berubah jadi babi akibat melanggar hukum dunia arwah ternyata menjadi petualangan penuh warna dan makhluk-makhluk aneh terinspirasi dari pelbagai mitologi dan folklor Jepang. Meski mengandung berbagai simbol dan filsafat (gw nggak ngeh juga sih *cetek*), namun itu tidak menghentikan film ini untuk bisa dinikmati kalangan luas, ditonton tanpa mikir yang berat-berat pun film ini tetap menghibur.


41. Harry Potter and The Prisoner of Azkaban (2004)
Alfonso Cuarón/Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson
Pertama nonton di: bioskop
By far my most favorite Harry Potter film. Tidak ada keterpesonaan akan dunia sihir seperti film-film sebelumnya, pun tidak ada aksi-aksi megah seperti film-film sesudahnya, namun seri ke-3 inilah spirit penyihir remaja benar-benar tampak, lengkap dengan perilaku dan emosinya. Dengan penggarapan yang paling beda sendiri di antara 8 film yang sudah diproduksi, Azkaban mungkin yang paling berusaha terlihat realis dan wajar—dengan banyaknya long take dan gambar berorientasi ruang/lingkungan (maksudnya kameranya suka berkeliling memperlihatkan ruang sekitar tokoh-tokohnya), serta banyak hal terjadi dalam satu frame, namun tetap berwarna dengan humor-humor dan visual effect yang pas, serta jalan cerita yang mudah dimengerti. Di sinilah Harry Potter dkk baru tampak benar-benar “hidup”. Review


40. Yīngxióng (英雄) a.k.a. Hero (2002)
Zhang Yimou/Jet Li, Tony Leung, Chen Daoming
Pertama nonton di: DVD
Sebelum film ini gw cuma tahu film silat Tiongkok (atau istilahnya film “wuxia”) adalah orang-orang jago kung-fu yang berpetualang mencari sesuatu kitab atau pusaka atau sekadar balas dendam sama orang yang telah membunuh guru kung-fu-nya. Hero, walau merasa agak propaganda banget di bagian konklusinya, hadir sebagai film silat yang puitis di mata gw. Plotnya cerdas dan lain daripada yang lain, teknik menceritakan berbagai versi cerita yang divisualisasikan dalam tampilan warna yang berbeda-beda menjadikan film ini sangat striking dan istimewa. Sure, adegan-adegannya berlebihan, namanya juga film silat, tetapi keberlebihannya itu ditata dan dirangkai dengan sedemikian rupa sehingga cantik dan nyaman dilihat serta memiliki keterkaitan emosional. Benar-benar more than meets the eye.


39. Lost In Translation (2003)
Sofia Coppola/Bill Murray, Scarlett Johansson, Giovanni Ribisi
Pertama nonton di: bioskop
Ini adalah contoh film yang semakin menarik dan semakin lucu ketika ditonton oleh orang-orang yang pernah mengalami apa yang dialami tokoh-tokoh di film ini. Gw juga begitu, dulu awalnya tertarik karena film ini ada unsur Jepangnya, dan setelah mengalami berbagai peristiwa (belajar bahasa dan budaya Jepang, berinteraksi dengan orang Jepang hingga mengunjungi Jepang *ciee pamer*), tawa gw makin keras ketika nonton ulang Lost In Translation ini. Pandangan dan pemikiran tokoh Charlotte dan Bob benar-benar mewakili orang-orang asing yang ada di negeri itu, tidak ada maksud unsur penghinaan, karena memang begitulah adanya. “Apa adanya” mungkin adalah kata kunci dari film karya Sofia Coppola ini, karena semua mengalir dan berjalan natural tanpa dramatisasi sama sekali. Hubungan kasih platonik aktor gaek dengan pengantin muda yang sama-sama kesepian (dan stuck) di negeri orang ini tidak terlihat dibuat-buat, namun justru di situ kekuatannya, lembut dan wajar. Lip my stocking.


38. Persepolis (2007)
Vincent Paronnaud, Marjene Satrapi/Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve, Danielle Darrieux
Pertama nonton di: bioskop (JIFFest)
Membuat karya otobiografi dalam bentuk komik dan kemudian film animasi adalah sebuah langkah yang jarang terpikirkan oleh banyak orang, namun cara ini sangat berhasil bagi Marjene Satrapi lewat Persepolis ini. Pengalaman masa kecil hingga dewasa dalam gejolak politik di Iran pada tahun 1970-1980-an digarap dengan informatif, emosional, witty, namun tetap komikal dan lucu di saat yang sama. Gambar-gambarnya mungkin tidak canggih, namun ditata begitu artistik dan efektif dalam membangun mood mencekam dan gelisah dari keluarga Satrapi yang beraliran kiri ini, hingga kadang penonton akan lupa kalau ini film animasi, saking bagusnya narasi film ini yang terasa riil dan relevan.


37. The Passion of The Christ (2004)
Mel Gibson/Jim Caviezel, Maia Morgenstern, Monica Belucci
Pertama nonton di: DVD bajakan (entah punya siapa =P)
Film ini mendobrak gambaran umum, baik dalam lukisan maupun film, tentang sengsara Yesus yang selama ini kayaknya “kurang kejam”. I couldn’t agree more, the suffering should have been more gory. Meski gw sendiri tidak banyak (atau tidak ingat) nonton film-film bertema serupa, namun The Passion lah yang menurut gw tepat dalam menggambarkan penderitaan Yesus yang dituduh melakukan blasphemy terhadap agama—namun justru dihukum secara hukum penjajah Romawi. Film ini tidak berusaha menunjukkan otentisitas peristiwa (walau menggunakan bahasa yang mendekati otentik), tetapi lebih pada otentisitas emosi, dan itu berhasil sangat. Jelas film ini ditujukan bagi penganut Kristianitas, namun ia tidak berhenti di sana, Mel Gibson sangat serius dalam merangkai setiap peristiwa, mengemasnya dalam sinematografi dan tata artistik yang luar biasa, membuat film ini bukan cuma “film agamis” yang bagus, tetapi juga simply film yang bagus. Review


36. Opera Jawa a.k.a. Requiem for Java (2006)
Garin Nugroho/Artika Sari Devi, Martinus Miroto, Eko Supriyanto
Pertama nonton di: unduhan bajakan
Opera Jawa adalah prasmanan berbagai disiplin ilmu seni. Tembang, musik, tari, kostum, instalasi, pahat, hingga wayang, baik tradisional maupun modern, digunakan si sutradara "nyeni" terpopuler di Indonesia, Garin Nugroho untuk menyampaikan kisah yg terilhami episode penculikan Sita dalam epos Ramayana. Pengetahuan gw (sedikit) tentang kisah tersebut rupanya lumayan membantu gw dalam memahami setiap gerakan dan nyanyian dari Siti, Setio dan Ludiro ini, tentang kisah cinta segitiga mereka sekaligus tentang kesenjangan sosial lingkungannya. Terlalu banyak simbol yang ditampilkan (yang semuanya keren-keren) yang mungkin membuat sebagian khalayak alergi sama film seperti ini, namun bila bersabar dan meresapi maksudnya, film ini luar biasa. Dibalik gambar-gambar nyeni, tersimpan pergulatan batin dari seorang Siti, antara setia pada suaminya dan hanya diam di rumah atau berpaling pada Ludiro yang menawarkan sesuatu yang membuatnya “hidup”—menari; Setio yang menggunakan perlawanan sosial sebagai jalan pelampiasan permasalahan pribadinya; Ludiro yang egois dan berkuasa namun begitu bergantung pada sang bunda. Experimental, yes, but not pointless.


35. Erin Brockovich (2000)
Steven Soderbergh/Julia Roberts, Albert Finney, Aaron Eckhart
Pertama nonton di: VCD
Erin Brockovich adalah momen ketika kecablakan Julia Roberts benar-benar ampuh dalam mengisi energi keseluruhan filmnya. She’s phenomenal here. Namun di luar itu, keberhasilan film ini juga tak lepas dari naskah yang solid dan sesekali jenaka, karakterisasi yang dibangun dan digali dengan baik, serta ritme bercerita yang pas dan tidak kehilangan fokus sehingga gw betah menyaksikan guliran kisahnya hingga akhir. Meski dibungkus agak ringan, apalagi dengan adanya tokoh Erin yang rada bikin malu itu, film ini tetap memiliki bobot dalam memberikan gambaran tentang perjuangan “rakyat kecil” yang dibohong-bohongin oleh industri yang arogan.


34. Spider-Man 2 (2004)
Sam Raimi/Tobey Maguire, Kirsten Dunst, Alfred Molina
Pertama nonton di: bioskop
Film blockbuster Hollywood yang baik dan benar contohnya adalah film ini. Spider-Man 2 melangkah jauh lebih baik dari seri pertamanya, dengan porsi drama yang lebih besar takarannya dan juga lebih menggugah, porsi aksinya lebih nendang, dan hubungan di antara keduanya pun—bahwa kegiatan Spider-Man “menganggu” kehidupan normal Peter Parker, sebaliknya Peter yang stres mengakibatkan kekuatan supernya berkurang—saling mendukung dan bisa diterima akal, serta dipresentasikan dengan selaras dan seimbang. Jadi nggak cuma bagus di mata doang, tetapi juga menimbulkan simpati. Film superhero komik banget, but a very good one.


33. The Incredibles (2004)
Brad Bird/Craig T. Nelson, Helen Hunt, Jason Lee
Pertama nonton di: bioskop
Dari segi animasinya, The Incredibles mungkin bukan produk terunggul dari Pixar, gambarnya malah terlihat sangat polos jika dibandingkan film Pixar lainnya. Namun demikian The Incredibles adalah salah satu yang terkuat dari segi penuturan. Kisah keluarga superhero ini betul-betul mengawinkan kata “keluarga” dan “superhero” dengan suksesnya, menyuguhkan kisah keluarga Parr dengan konflik-konfliknya yang langsung relate dengan siapa saja, lalu dikasih twist bahwa mereka semuanya adalah superhero. Lucu dan menghangatkan sekaligus, kenikmatan menontonnya ditambah pada adegan-adegan aksi yang canggih dan seru. Quite incredible indeed.


32. Wòhǔ Cánglóng (臥虎藏龍) a.k.a. Crouching Tiger Hidden Dragon (2000)
Ang Lee/Chow Yun-Fat, Michelle Yeoh, Zhang Ziyi
Pertama nonton di: VCD
Crouching Tiger adalah film silat/wuxia paling serius yang pernah gw tahu *padahal tahunya ya nggak banyak, hehe*. Meski plotnya sendiri memang khas film-film kung-fu, namun entah kenapa gw merasa film ini adalah yang paling berbobot, terutama dari eksekusi dan akting. Mungkin baru di film ini adegan aksi kung-fu-nya dibuat sangat frontal termasuk bagian meringankan tubuhnya, gak main editing—terima kasih kepada teknologi visual effect. Namun di luar itu, Ang Lee membawa ilmu dari negeri seberang (karena beliau menggarap banyak film bule) dalam menggarap dramanya dengan sangat maksimal. Ditambah dengan tata artistik yang realistis (bahkan cenderung kurang warna), sinematografi dan musik yang keren, film ini pantas jadi fenomena karena membawa sesuatu yang berbeda pada genrenya: drama yang kuat dan adegan aksi yang sangat memorable.


31. Lilo & Stitch (2002)
Dean DeBlois, Chris Sanders/Daveigh Chase, Tia Carrere, David Odgen Stiers
Pertama nonton di: bioskop
Inilah karya animasi gambaran tangan yang hebat terakhir milik Disney, (sayangnya) tidak ada yang lebih baik setelah ini. Lilo & Stitch bukanlah karya ambisius yang mewah (apalagi dibandingkan dengan Tarzan atau Atlantis), namun memiliki apa yang membuat animasi Disney di masa lalu begitu disukai, yaitu karakter dan cerita yang mudah merasuk dalam ingatan dan hati penontonnya. Gw kagum akan pembawaan mood film ini yang mudah berubah (dari lucu sekali sampai merenyuhkan sekali), membuatnya menjadi tontonan yang sangat menghibur. Masih dengan pesan kekeluargaan, film ini dengan cara yang menyegarkan mengangkat kisah sci-fi berseting Hawaii yang dihiasi lagu-lagu milik Elvis Presley. Simpel tetapi sangat berkesan, dan Stitchnya masih sanggup bikin ketawa meski udah ditonton berulang kali =D. 


30. Inglourious Basterds (2009)
Quentin Tarantino/Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz
Pertama nonton di: bioskop
Quentin Tarantino memang senang membuat film seenak perut, namun seenak perutnya dia adalah hal yang selalu menarik ditonton. Inglourious Basterds adalah versi Tarantino dalam menyelesaikan perang dunia ke-2. Menciptakan sebuah misi rahasia untuk membasmi tentara Nazi, membuat kebetulan-kebetulan yang “manis” untuk melawan pihak Nazi, pokoknya ini seperti semacam pelampiasan akan kekesalan terhadap kaum fasis. Tidak masalah, film ini tetap wajib disimak, apalagi bertaburan tokoh-tokoh yang ikonik dengan dialog-dialog keren. Satu hal lagi yang gw suka adalah penonjolan ke-Eropa-an sesuai seting kisahnya, yaitu dengan aktor dan seting otentik, dan penggunaan perbedaan bahasa dan budaya dalam ceritanya dengan pandai sekali. Review


29. Traffic (2000)
Steven Soderbergh/Michael Douglas, Benicio del Toro, Don Cheadle
Pertama nonton di: VCD sewaan
Dari kelihatannya aja, film ini rumit untuk dibuat. Kisah berbagai sisi dari dunia narkoba yang mencengkeram USA dan Meksiko ini memuat plot yang jamak dan puluhan tokoh—yang sesekali bersinggungan, tapi di sanalah letak kualitas naskah dari Stephen Gaghan dan penyutradaraan Steven Soderbegh menonjol dengan jelas. Membuat anyaman kisah yang durasinya juga lumayan panjang, dan adegan-adegan yang lumayan disturbing tetapi masih bisa membuat penonton terpaku pada layar adalah sebuah kemampuan yang tidak sembarangan. Film yang mencekam namun masih kental nuansa realita dengan akting yang wajar, eksekusi ciamik, dan topik yang tidak mengada-ada. Kerenlah pokoknya.


28. Kung Fu Panda (2008)
John Stevenson, Mark Osbourne/Jack Black, Dustin Hoffman, Angelina Jolie
Pertama nonton di: bioskop
Kung Fu Panda adalah film yang dirancang dengan brilian dan disajikan dengan luar biasa menghibur dan bikin ngakak tanpa menanggalkan kualitas teknis. Film ini bikin ngakak dari beberapa sisi, baik dari tokohnya, bentuk tokohnya, dialognya, slapsticknya dsb, namun caranya membuat kisah khas film silat Tiongkok/wuxia yang dimainkan oleh hewan adalah kesenangan yang utama. Film ini sangat setia pada formula film silat tetapi di saat yang sama menawarkan kesegaran yang menyenangkan. Adegan laganya keren-keren dan gambar  animasinya pun sangat bagus. Buat gw film ini berada di papan atas karya DreamWorks Animation terbaik, ketika kreativitas yang nggak maksa berpadu pada kualitas gambar yang mumpuni.


27. Collateral (2004)
Michael Mann/Tom Cruise, Jamie Foxx, Jada Pinkett Smith
Pertama nonton di: bioskop
Sebuah drama-thriller kriminal modern terbaik yang pernah gw tonton. Michael Mann adalah jagoan dalam membangun plot dan karakternya secara perlahan tapi captivating. Menu utama film ini baru dimulai sekitar menit ke-20, namun sejak awal hingga akhir penonton dibawa berkeliling kota Los Angeles malem-malem dan tak akan berhenti dibuat tegang sampai film ini berakhir. Pengarahan adegannya keren, jalan ceritanya tidak mudah ditebak, sinematografinya (yang sebagian besar pake kamera digital) somehow artistik dan khas, dialog yang menarik, dan tak ketinggalan adu akting Tom Cruise dan Jamie Foxx yang juara (Foxx lebih juara sih kali ini menurut gw) adalah senjata utama Collateral yang menjadikannya tontonan seru—dengan caranya sendiri—dan berkualitas. A finely-crafted film.


26. The Lord of the Rings: The Return of the King (2003)
Peter Jackson/Elijah Wood, Ian McKellen, Viggo Mortensen
Pertama nonton di: bioskop
The Lord of the Rings memang tak bisa dipisahkan ketiga episodenya, karena sesungguhnya mereka satu kisah utuh yang (terlalu) panjang dan (terlalu) penuh detil. Tapi seperti Kill Bill, meski gw juga menyukai seri yang lainnya, jika harus memilih salah satu, maka menurut gw The Return of the King adalah film Rings yang terbaik. Tampak luarnya sih sama aja ya sama 2 seri sebelumnya, negeri fantasi dengan visualisasi indah dan efek visual gegap gempita yang mendukung kemagisannya, namun menurut gw film yang ini punya satu hal yang lebih daripada film-film sebelumnya: emosi. Memang sudah mulai dibangun sejak film pertamanya, namun pada film ketiga ini adegan-adegan emosionalnya paling banyak muncul dan dengan tepat pula cara dan penempatannya, itulah yang membuat gw lebih “merasa” film yang ini daripada yang sebelum-sebelumnya, jadi lebih kelihatan indahnya. Ya, adegan perang yang seru to the max serta efek visual juara dunia jelas perlu diberi applause, juga bahwa dalam film ini akhirnya kisahnya selesai. Namun jangan lupa pula bahwa film ini berhasil membuat penutuoan itu dengan melegakan dan sangat memuaskan dari sebuah perjalanan panjang nan gaib dalam trilogi paling ikonik di dekade 2000-an ini.
Honorable mentions: The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001) & The Lord of the Rings: The Two Towers (2002)



bersambung ...

sebelumnya:
Foreword
Part 1: no. 100-76
Part 2: no. 75-51

selanjutnya:
Part 4: no. 25-11
Part 5: no. 10-1

2 komentar:

  1. Konichiwa Kamiya Desu (berhayal

    Seperti biasa q tau alasan knapa koq lama kluarna wkwkwk ditonton smua ya !!!

    wkwkkwkwk

    BalasHapus
  2. @mangalovers, iya betul, prosesnya emang begitu, yg nontonnya udah agak lama gw tonton lagi buat refresh =)

    BalasHapus