Sabtu, 03 April 2010

[Movie] Chicago (2002)



Chicago
(2002 - Miramax)

Directed by Rob Marshall

Screenplay by Bill Condon

Based on the musical play "Chicago" directed and coreographed by Bob Fosse
book of the musical play by Bob Fosse, Fred Ebb

based on the play by Maurine Dallas Watkins
Produced by Martin Richards

Cast: Renée Zellweger, Richard Gere, Catherine Zeta-Jones, Queen Latifah, John C. Reilly, Christine Baranski


Chicago di tahun 1920-an. Ketika klub malam, minum2an keras dan musik jazz merajalela, dan ketika berita kejahatan domestik adalah hiburan utama penduduk kota sehari-hari. Roxie Hart (Renée Zellweger) adalah seorang istri yg tidak bahagia dari montir
retarded Amos Hart (John C. Reilly), memimpikan dirinya menjadi penyanyi bintang di klub2 malam, seperti idolanya, Velma Kelly (Catherine Zeta-Jones), yg belakangan masuk penjara karena membunuh suami dan adiknya yg sedang berselingkuh. Demi mimpinya, Roxie pun rela di-apa2in sama sales furnitur, Fred Casely (Dominic West) yg katanya punya kenalan di klub agar bisa mengorbitkan Roxie. Apa lacur, sudah sekian lama nggak pernah kesampaian, bahkan ketahuan Fred nggak punya kenalan di klub, Roxie menembak Fred hingga tewas. Praktis Roxie dijebloskan ke penjara--di baris khusus wanita2 pembunuh barengan Velma Kelly--tanpa pengadilan karena pengakuannya langsung (akibat perang mulut emosional yg agak bodoh ^_^;). Roxie ketakutan karena mendengar jaksa akan menuntut hukuman gantung padanya, untung ibu sipir Mama Morton (Queen Latifah) menaruh iba sama Roxie yg cute itu (?) dan bersedia memanggilkan pengacara terhebat di Chicago yg pasti bakal membebaskan Roxie, Billy Flynn (Richard Gere), potong 10% persen untuk komisi hehehe.

Ternyata Billy Flynn emang licin. Meski sudah jelas Roxie bersalah, Billy punya taktik yg diyakini bisa membebaskan Roxie dari hukuman: simpati publik. Bagaikan Zarima yg tadinya
bukan siapa-siapa tapi senantiasa masuk berita utama di pertengahan 1990-an di koran dan televisi kita sebagai Ratu Extacy (dulu belum ada infotainment), Roxie pun kini jadi sering masuk berita koran Chicago sebagai "the cutest murderer in town" (dengan bumbu dramatisasi/pemalsuan riwayat hidup dan motif pembunuhan ^_^) sehingga jadi terkenal, disukai publik, dan bahkan barang2 yg pernah disentuhnya bisa dijual. Roxie jadi bintang, dan menikmatinya, merebut spotlight yg tadinya milik Velma Kelly, yg juga kasusnya tengah dibela oleh Billy Flynn. Sirik2an antara Roxie dan Velma untuk jadi yg "terdepan" menjadi pengganjal utama perjalanan Roxie menuju kebebasan, tapi Roxie yg dasarnya ambisius itu nggak akan membiarkan apapun juga merintanginya untuk jadi bintang, meski dari balik jeruji besi. (O, I bet Jennifer Dunn have already watched this film =.=)




Kalo disimpulkan, film adaptasi pertunjukkan musikal Broadway yg terinspirasi kisah nyata ini berbentuk komedi satir dalam presentasi musikal (gerak dan lagu). Berdasarkan beberapa pendapat yg gw denger, film ini seperti
love it or hate it. Gw? Love it. Menurut gw solusi yg digunakan Rob Marshall dalam menampilkan adegan musikal di film ini cukup brilian. Kecuali adegan awal dan akhir, setiap karakter bernyanyi hanya di alam khayal mereka yg disimbolkan dengan panggung sandiwara yg ditonton masyarakat Chicago, lengkap dengan teknik panggung dan lighting. Dua dunia diselang-seling, menjadi representasi karakter atau isi hati mereka. Bagi gw, ini kreatif dan fresh (lihat waktu Roxie dicuekin Flynn ketika muncul Kitty Baxter (Lucy Liu) si triple-murderer yg bakal jadi headline, tulisan neon ROXIE di alam khayalnya langsung padam, hihihi). Mungkin bagi penonton lain, ini membingungkan. Cara yg sama juga dipakai Rob Marshall dalam film terbarunya, Nine (2009), tapi Chicago sebagai karya layar lebarnya yg pertama sepertinya lebih tampak menggugah, menarik mata, dinamis, original, mewah, dan tidak membosankan (bahkan serial Glee pun rada ngikut gaya ini), semua berkat sinematografi, editing, art direction, kostum, musik, sound dan juga koregrafi yg sangat sangat kompak, gorgeous! Beliau tahu betul kalo bikin film musikal nggak bisa setengah2, namun dengan latar belakangnya sebagai sutradara panggung Broadway, Marshall berhasil mempersembahkan excitement menonton pertunjukan musikal langsung dalam bentuk film tanpa kehilangan kesan sinematiknya. Gw menebak orang2 yg membenci film ini pasti jijik pada lajunya yg ada nyanyian tiap (maksimal) 5 menit sekali, kesannya filmnya nggak maju2. Mnurut gw, memang adegan nyanyiannya cukup memperlambat plot, tapi gw fine2 aja sama ritme keseluruhan film, nggak terasa lambat sama sekali, lagian lagunya asik2! Dialog2 yg menyelingi lagu2 (bukan kebalikannya hehe) sangat efektif dan nggak kedodoran, dan memang sangat terbantu oleh performa prima para aktornya tanpa kecuali (tante Catherine menang Oscar lewat film ini, senangnya ^__^).

Chicago yg jadi Best Picture di Academy Awards tahun 2003 ini menjadi contoh film musikal yg komplit: musik asik, visual cantik, performa akting-tari-nyanyi yg apik, serta cerita satir yg bagus dalam kemasan yg
fun dan entertaining. Dibuka dengan lagu pembuka yg menggugah tapi bercerita cukup banyak, dan ditutup dengan lagu penutup yg menghangatkan, di antaranya diisi oleh karakter2 yg hidup serta lagu2 yg dirangkai dengan mood yg pas. Bila harus memilih mana adegan musik yg favorit, gw akan pilih "And All That Jazz" di awal yg menggebrak; "Cell Block Tango" dengan koreografi jempolan; "Both Reached For The Gun" dengan simbol Roxie dan semua wartawan adalah wayang yg dikendalikan Flynn *mantaff*; "Mr Cellophane" oleh Amos yg entah kenapa sangat menyentuh; "I Can't Do It Alone" oleh Velma yg menurut gw adalah bagian yg membuat tante Catherine menang Oscar; dan adegan penutup "Nowadays/Hot Honey Rag" yg imperssive dan menyenangkan. Ada satu lagi adegan panggung yg gw suka adalah "Hunyak's Disappearing Act" yg begitu paradoks menggambarkan penderitaan seseorang adalah bahan tontonan yg memikat bagi orang lain.




Popularitas mungkin jadi impian banyak orang, tapi banyak yg nggak tau cara yg paling sejati meraihnya, dan banyak juga kasus seseorang jadi dikenal luas bukan untuk hal yg orang tersebut sendiri ingin dikenal. Chicago bersetting jaman baehula ketika teknologi paling canggih adalah telepon kabel membahas popularitas yg cepat namun semu, namun di masa teknologi semakin berkembang seperti saat ini, film ini sungguh2 masih relevan. Monggo silahkan nonton infotainment setiap hari pasti ada saja orang2 macam Roxie--bukan siapa-siapa tapi nemu aja cara biar ngangkat namanya (a.k.a Dewi Perssik Syndrome). Padahal pada akhirnya, popularitas, penghargaan yg sejati dan tulus, meski harus lewat jatuh bangun, hanya bisa didapat lewat prestasi diri, bukan yg lain2 *sok bijak*. Bagi gw Chicago sukses mengusung ide ini dengan cara-cara yang menghibur dan menyenangkan tanpa harus cheesy, norak atau terlalu aneh. Buktinya, gw nggak pernah bosen untuk nonton ulang, dan film ini jadi salah satu film favorit gw hingga sekarang...and all...that...jaaaazzzz...That jazz!



my score:
8,5/10




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar