Jumat, 09 September 2011

My Top 100 Films of the 2000's: Part 1 (No. 100-76)

Sebagaimana sudah dijelaskan di pembukaan, yuk langsung mari kita mulai hitungan mundur 100 film-film keluaran sepanjang tahun 2000 hingga 2009 paling top versi saya. Kita mulai dari 25 film terbawah, nomor 100 hingga 76 =) :




100. Equilibrium (2002)
Kurt Wimmer/Christian Bale, Taye Diggs, Emily Watson
Pertama nonton di: VCD sewaan
Sebuah sci-fi yang underrated, saking kasiannya gw merasa wajib menaruhnya di daftar ini, hehe. Equilibrium ini sebuah film yang solid untuk ukuran action fiksi ilmiah, ada aksi yang keren (cth: tembak-tembakan di ruang gelap gulita =)), visual yang rapi, drama yang tidak palsu, akting yang lumayan, dan keseluruhan cerita yang enak diikuti dengan konsep yang cukup masuk di akal. Meskipun agak ternodai sama musik yang rada B-movie, tapi harusnya lebih banyak orang menonton film ini.


99. Sita Sings The Blues (2008)
Nina Paley/Annette Hanshaw, Reena Shah, Nina Paley
Pertama nonton di: unduhan resmi
Ini adalah satu-satunya film di senarai ini yang belum pernah tayang resmi di bioskop manapun. Mungkin akan dianggap sambil lalu melihat distribusinya yang digratiskan oleh pembuat filmnya, Nina Paley, juga penggunaan animasi flash yang sederhana (secara semuanya dikerjakan Paley sendiri), namun yang membuat film sedikit eksperimental ini sangat menarik adalah ramuan penceritaan ulang epos Ramayana khususnya episode penculikan Sinta oleh Rahwana yang diparalelkan dengan pengalaman pribadi Paley, film curhat gitu deh, dengan cara yang menghibur. Review


98. Berbagi Suami (2006)
Nia Dinata/Jajang C. Noer, Shanty, Dominique
Pertama nonton di: bioskop
Gayanya yang nyinyir terhadap praktek poligami di Indonesia, tetapi dibalut dalam komedi satir yang cukup sukses menyamarkan nada kemarahan kaum perempuan, Berbagi Suami menjadi sebuah hiburan tersendiri. Didukung oleh aktor-aktor berperforma wahid dan penggarapan serius, Berbagi Suami jelas adalah sebuah karya anak negeri yang patut disorot.


97. Shaun of the Dead (2004)
Edgar Wright/Simon Pegg, Kate Ashfield, Nick Frost
Pertama nonton di: TV kabel
Gw pernah singgung kalo gw nggak suka horor yang murni horor, Shaun of The Dead ini salah satu contoh yg gw suka. Bukan parodi atau mengolok-olok, tapi memang sajiannya semacam romantic comedy seorang cowok yang dianggap loser untuk mendapatkan cinta ceweknya kembali, tapi dalam keadaan lingkungan sekitarnya ketika semua orang jadi zombie. Kaget-kagetan, darah-darahan masih ada, tapi lebih penting lagi film ini lucu dan menyegarkan dengan timing dialog dan pergantian adegan yang lincah luar biasa. Love it.


96. The Emperor’s New Groove (2000)
Mark Dindal/David Spade, John Goodman, Eartha Kitt
Pertama nonton di: VCD
Film kartun Disney pada dekade 2000-an mengalami kemerosotoan yang luar biasa dibandingkan kesuksesan melimpah di era 1990-annya, namun bukan berarti nggak ada yang bagus sama sekali. The Emperor's New Groove mungkin tampak rendah diri, sederhana dan tidak terlalu populer, tapi film singkat padat ini masih menjadi salah satu film animasi Disney paling kocak yang pernah ada. Lihatlah dari konsepnya, desain dan karakterisasinya, timing komedinya, ditambah permainan ekspresi lewat suara voice actors-nya, tanpa harus kasar humornya, Kuzco dkk sukses besar menghibur gw.


95. Finding Neverland (2004)
Marc Forster/Johnny Depp, Kate Winslet, Freddie Highmore
Pertama nonton di: bioskop
Finding Neverland hadir sebagai sebuah film yang indah baik tampilan maupun performa prima dari para aktornya. Meski agak berjarak di bidang emosi, namun menonton dramatisasi bagaimana proses J.M. Barrie membuat karya terbesarnya, Peter Pan ini tetap menyenangkan dan mencapai tujuannya dalam menyajikan tontonan berkelas.


94. Syriana (2005)
Stephen Gaghan/George Clooney, Matt Damon, Jeffrey Wright
Pertama nonton di: DVD
Stephen Gaghan sang penulis naskah film Traffic terjun langsung sebagai sutradara dengan konsep serupa, yakni kisah2 paralel yang bersinggungan di beberapa titik, tetapi kali ini berpusat pada minyak bumi, berkisah lewat sudut corporate legal, konsultan bisnis perminyakan, keluarga kerajaan sebuah negara Timur Tengah (fiktif), pegawai tambang minyak migran yang di-PHK, politisi Amerika, hingga agen CIA. Syriana berhasil menularkan pandangan bahwa seberguna apapun minyak bumi bagi hajat hidup orang banyak, si emas hitam itu juga jadi pemicu ketamakan manusia yang bahkan tidak segan berbuat segala cara demi mendapatkannya, taruhan nyawa sekalipun. Orang-orang oil&gas bakal kaget atau malah angguk-angguk ya kalau nonton film ini?


93. Apocalypto (2006)
Mel Gibson/Rudy Youngblood, Dalia Hernández, Gerardo Taracena
Pertama nonton di: VCD sewaan
Ini film yang betul-betul berisiko. Pemain tidak terkenal, seting tempat dan kebudayaan yang tidak terlalu familiar dan cenderung primitif, minim efek visual, ceritanya bukan adaptasi apapun, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa benar-benar asing, bahasa suku Maya yang hampir punah. Namun gak ada yang bisa memungkiri bahwa Mel Gibson berhasil mengawinkan kisah ikatan kekeluargaan dengan sejumput penggambaran budaya dan peradaban luar biasa dari suku Maya di masa lalu dalam balutan aksi yang seru dan sinematografi (serta tata artistik) yang menawan. Review


92. The Fall (2008)
Tarsem Singh/Lee Pace, Cantica Untaru, Justine Waddell
Pertama nonton di: DVD
Jujur awal ketertarikan gw sama film ini hanyalah pada tata visual yang anjrit-keren-banget-nih-kayaknya. Rupanya, film yang syuting di berbagai lokasi cantik di dunia (termasuk Indonesia) tanpa bantuan CGI ini menyimpan kisah yang memikat di balik gambar-gambar yang indah itu. Bagaimana ikatan persahabatan hangat dua pasien rumah sakit, seorang gadis kecil dan seorang stuntman itu terbentuk lewat sinergi imajinasi mereka berdua. Unik. Review


91. Invictus (2009)
Clint Eastwood/Morgan Freeman, Matt Damon, Adjoa Andoh
Pertama nonton di: unduhan bajakan
Sebuah biopik yang hanya becerita rentang waktu yang singkat, tetapi sudah mencakup semua yang ingin disampaikan mengenai sang tokoh tersebut. Sepenggal riwayat Nelson Mandela, seorang aktivis dan kemudian presiden Afrika Selatan, tokoh besar, yang gak ada atlet-atletnya acan, lalu dikerucutkan dalam sebuah event olah raga rubgy. Memang terdengar tak lazim, namun kenyataannya Invictus berhasil dalam meramunya tanpa ada kebingungan genre. It worked. Review


90. Public Enemies (2009)
Michael Mann/Johnny Depp, Christian Bale, Marion Cotillard
Pertama nonton di: bioskop
Di luar barisan aktor yang jempolan, yang membuat film ini tetap berkesan di hati adalah penggarapan seorang Michael Mann yang memiliki daya magis tersendiri. Sutradara yang belakangan gemar pake kamera digital (dan kelihatan banget digital) ini begitu lihai dalam mengarahkan blocking pemain, menentukan angle pengambilan gambar yang dramatis tanpa berlebihan, serta yang tak kalah penting ketegangan yang dibangun perlahan-lahan. Dan gambar hasil kamera digitalnya malah membuatnya makin riil. Review


89. District 9 (2009)
Neill Blomkamp/Sharlto Copley, Jason Cope, David James
Pertama nonton di: bioskop
District 9 adalah film alien yang berbeda, baik dari konsep, cara bertutur, karakterisasi, lokasi, hingga konklusinya, namun keberbedaan itu malah merenggut minat gw. Katanya sih film ini terinspirasi pada politik apartheid di Afrika Selatan sana—yang diwakili oleh perlakuan manusia pada komunitas alien yang "menumpang" di bumi, namun film ini membungkus tema agak berat itu menjadi sebuah sajian yang menggempur penonton dengan kisah humanis, aksi2 seru dan brutal nan enjoyable. Review


88. Lagaan: Once Upon A Time In India (2001)
Ashutosh Gowariker/Aamir Khan, Gracey Singh, Rachel Shelley
Pertama nonton di: TV nasional
Lagaan adalah film India pertama yang gw tonton yang mendobrak sebagian klise film2 Bollywood yang selama ini gw tau. Selain bahwa ini film bertema olah raga (cricket) dan berseting zaman kolonial yang jarang gw saksikan, di film ini tidak ada kisah ngalor ngidul dengan timeline tak terbatas dan tokoh jahat yang udah celaka 200 kali tetep gak mati-mati. Memang masih ada tari dan nyanyi, protagonis-antagonis, tokoh komikal, dan durasi yang puanjang (hampir 4 jam itu panjang menurut gw, hehe). Namun sepengelihatan gw, Lagaan membuat pakem-pakem yang tersisa ini menjadi masuk akal, relevan dan terintegrasi dengan ceritanya. Ah, dan Bollywood memang bisa aje ye mainin emosi penontonnya =).


87. Densha Otoko (電車男) a.k.a. Train Man (2005)
Shousuke Murakami/Takayuki Yamada, Miki Nakatani, Eita
Pertama nonton di: DVD bajakan (pinjaman teman)
Densha Otoko atau Train Man adalah romansanya kaum otaku (atau geek, atau...err apa ya bahasa Indonesianya?), kaum yang kerap dicap nggilani di masyarakat Jepang tapi anehnya dianggap membanggakan di luar negaranya. Biarpun begitu, otaku juga manusia, bagaimana jika ia ternyata jatuh cinta, pada seorang wanita mature pegawai kantoran yg..emm.."normal"? Tentu saja minta bantuan pada kawan-kawan dunia maya lewat milis/chatroom =D. Meski plot film yang terinspirasi kisah nyata ini sudah pakem standar romantic comedy, namun gw suka sekali dengan caranya yang mulus menghadirkan gambaran nyata masyarakat Jepang modern tanpa harus keluar dari ceritanya, and entertaining too. Jangan dibandingkan sama versi sinetronnya, jauh.


86. Casino Royale (2006)
Martin Campbell/Daniel Craig, Eva Green, Mads Mikkelsen
Pertama nonton di: DVD
Mungkin jadi satu-satunya film 007 James Bond yang gw suka, reboot seri legendaris ini menghapus semua absurditas yang makin menjadi di film-film sebelumnya, menggantinya dengan plot yang realistis, emosional, dan James Bond yang lebih garang dan lebih..emm...laki. Casino Royale memang film spionase namun tidak melulu bergantung pada adegan aksi (yang seru juga), melainkan pada kemahiran penulis naskah dalam meramu intrik-intrik dalam cerita misi pertama Bond sebagai agen rahasia Inggris berkode 007 ini. Bagian favorit adalah "shaken or stirred?" yang dijawab "emang gue pikirin!" XD.


85. Laskar Pelangi (2008)
Riri Riza/Cut Mini Theo, Zulfanny, Ikranagara
Pertama nonton di: bioskop
Laskar Pelangi bisa jadi karya sinema Indonesia yang paling banyak disayangi, selain bahwa (kalau nggak salah) film ini masih memegang rekor penonton (bioskop) terbanyak dalam sejarah perfilman nasional. Di balik seting dan kisah yang bersahaja, tersimpan limpahan karakter yang berwarna dan mudah dicinta. Well, mungkin saja memang sudah bawaan versi novelnya yang laris itu, namun Riri Riza harus turut bangga bahwa eksekusi beliau terhadap kisah ini terbilang mulus dan tetap berhasil dalam membawa semangat dan nilai inspirasi dari novelnya, menjadikanya tontonan menghibur dan mudah mengikat penonton segala kalangan yang belum tentu membaca novelnya. Pemilihan pemain yang birilian, didukung tampilan visual yang membangkitkan niat masyarakat ingin pergi ke pulau Belitung adalah kunci dari kesuksesan film ini.


84. Okuribito (おくりびと) a.k.a. Departures (2008)
Youjirou Takita/Masahiro Motoki, Tsutomu Yamazaki, Ryoko Hirosue
Pertama nonton di: bioskop (JIFFest)
Tampilan visual dan penggarapan biasa-biasa saja rupanya tidak sanggup menutupi kuatnya cerita film Okuribito atau Departures ini. Lewat film ini penonton diajak mengakrabi sebuah profesi yang selalu hampir luput (atau sengaja diluputkan) oleh masyarakat: pengurus jenazah. Dalam cakupan yang sangat kecil dan personal, film ini sudah memuat kisah yang believable, informatif tentang sosial-budaya (Jepang), serta melibatkan sisi kemanusiaan yang universal, mengenai pencarian jati diri, juga pendamaian dengan kepahitan masa lalu, semua berhasil terangkum dalam satu benang merah saja. Review


83. Ray (2004)
Taylor Hackford/Jamie Foxx, Kerry Washington, Regina King
Pertama nonton di: DVD bajakan
Ray seperti film riwayat musisi ternama yang tampak tidak istimewa. Padahal menurut gw, selain musik2nya yang asyik, film ini jadi semacam analisa akan jatuh bangun paruh awal karir musisi soul tuna netra, Ray Charles. Kehidupan rumah tangga yang tak sehat, karirnya yang perlahan tapi pasti menanjak namun tak pernah jauh dari obat-obatan terlarang, film ini mengaitkan kedua hal dengan trauma masa kecil Ray yang tragis, membuatnya tidak hanya sebuah dokumentasi, namun juga melibatkan emosi. Sebuah tribut yang pantas bagi sang musisi besar (elah, kayak gw kenal aja =P).


82. Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain a.k.a Amélie (2001)
Jean-Pierre Jeunet/Audrey Tatou, Mathieu Kassovitz, Rufus
Pertama nonton di: VCD sewaan
Sebuah film yang aneh, absurd, penuh dengan tokoh2 yang juga demikian, tapi menyenangkan. Berpijak pada naskah yang memang rada over-the-top sekaligus lucu, Amélie tampil sebagai film dengan tata visual merekah yang menyegarkan mata, menampilkan sudut2 kota Paris layaknya di-photoshop, juga pada kuatnya tokoh Amélie sendiri, seorang gadis yang kelihatan santai dan introvert namun ternyata unik dan gemar mengekspresikan diri dengan cara yang lain daripada yang lain.


81. Fantastic Mr. Fox (2009)
Wes Anderson/George Clooney, Meryl Streep, Jason Schwartzman
Pertama nonton di: DVD
Gaya dan humor kering Wes Anderson ternyata lebih cocok ketika gw menyaksikannya dalam bentuk animasi stop motion super kaku ini. Berdasarkan buku cerita anak karya Roald Dahl, Fantastic Mr. Fox berhasil mengisi plot yang harusnya sederhana dengan karakter2 yang lebih kaya dan dialog2 lucu-cerdas yang bikin nyengir terus menerus. Gambar dan musiknya juara.


80. Signs (2002)
M. Night Shyamalan/Mel Gibson, Joaquin Phoenix, Rory Culkin
Pertama nonton di: bioskop
Signs mungkin adalah film serangan alien yang tidak terlalu mengindahkan aliennya. Kesian deh =P. Aliennya hadir dan melancarkan serangan, tetapi nggak ada tuh tembak-tembakan atau sejenisnya, yang lebih disorot justru tentang sebuah keluarga kecil nan pincang di ladang pertanian. Serangan alien hanya satu dari sekian permasalahan yang harus mereka selesaikan. Naskah yang solid ditampilkan dengan sunyi, kaku, dan kerap menyunggingkan senyum, namun sisi mencekam dari ketidaktahuan manusia terhadap si makhluk asing—terlebih lagi keluarga Hess bukan ilmuwan apalagi tentara—tetap menimbulkan suspense yang luar biasa, dan pesan spiritual yang mengena.


79. Memento (2000)
Christopher Nolan/Guy Pearce, Carrie-Anne Moss, Joe Pantoliano
Pertama nonton di: unduhan bajakan
Konsep cerita yang menarik dan cukup rumit, tentang seseorang yang mengidap short-term memory loss berhasil dieksekusi menjadi sebuah rangkaian misteri yang membuat penasaran sekaligus mengasyikkan. Christopher Nolan bermain-main dengan struktur becerita yang sebagian besar berjalan mundur dan berakhir, no, wait, "bermuara", ya bermuara pada satu titik yang cukup mengejutkan yang mengungkap semua misteri berlapis yang hadir di sepanjang film ini, dan konklusinya yang bikin terenyuh.


78. Catch Me If You Can (2002)
Steven Spielberg/Leonardo DiCaprio, Tom Hanks, Christopher Walken
Pertama nonton di: bioskop
Gw cukup terkejut ketika mendengar Steven Spielberg menangani sebuah film yang terkesan ringan dan tidak mewah seperti Catch Me If You Can ini. Eh, bisa juga lho dia. Film ini berhasil dari sebagai biopik Frank Abagnale Jr yang adalah seorang penipu dan pemalsu cek, sebagai film kejar-kejaran, sebagai human drama, direkatkan oleh akting bagus lalu dibungkus dalam kemasan visual pastel yang menyenangkan dan eksekusi yang menceriakan seakan menyembunyikan kegelapan tema dan kegalauan hati Abagnale sendiri.


77. Up In The Air (2009)
Jason Reitman/George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick
Pertama nonton di: bioskop
Kelincahan Up In The Air dalam bertutur adalah yang paling menyita perhatian. Cepat, tepat, cerdas seperti dialog-dialognya. Sebuah cara yang sangat jitu dalam mengisahkan tentang seseorang yang terlanjur larut dalam kenyamanan dan kemapanan hidup, namun harus menghadapi dua tantangan yang dapat mengubah hidupnya: bawahan muda yang ambisius, dan cinta. Karakterisasi kuat dan akting berkelas pun turut menjadikan film ini begitu segar, lucu dan enak diikuti, santai tetapi menyimpan makna tersendiri. Review


76. Sin City (2005)
Robert Rodriguez, Frank Miller/Bruce Willis, Mickey Rourke, Clive Owen
Pertama nonton di: DVD bajakan (pinjaman teman)
Robert Rodriguez mungkin adalah salah satu sutradara paling berani dalam mengambil risiko di luar sana. Salah satu buktinya adalah ketika sineas serba bisa ini membuat Sin City, film tentang dunia kelam sebuah kota fiktif yang dibuat plek plek sama dengan sumber aslinya, yaitu serial komik karya Frank Miller, baik dari dialog, gambar, tone warna, tata adegan, maupun penampilan tokohnya. Bukan sekadar adaptasi, tetapi lebih cenderung ke "cetak ulang" grafika komik ke dalam media gambar bergerak dengan aktor hidup. Absurd tetapi anehnya berfungsi optimal. Limpahan nama-nama beken sebagai pemainnya sungguh menggiurkan, namun nyali sang sutradara dalam membuat film macam inilah yang sesungguhnya jadi bintang utama.



bersambung ...

sebelumnya:
Foreword

selanjutnya:

10 komentar:

  1. Muahaha.. Perasaan mendadak sekali mas bikin list a decadenya. Commentarynya as always gw paling suka. Kalo filmnya sih dikit doang yg suka aduh kenapa yaa..hehe, yg paling gw suka cuman Fantastic Mr Fox, selebihnya menjengkelkan (seperti Departures yg bikin mata gw bengkak) dan belum ditonton (Amelie, Lagaan, Sin City,catch me if you can).
    Quiznya harus terealisasi ya.. Saya belum pernah menang dipenyelenggaraan quiz manapun. :Dnya. Commentarynya as always gw paling suka. Kalo filmnya sih dikit doang yg suka aduh kenapa yaa..hehe, yg paling gw suka cuman Fantastic Mr Fox, selebihnya menjengkelkan (seperti Departures yg bikin mata gw bengkak) dan belum ditonton (Amelie, Lagaan, Sin City,catch me if you can).
    Quiznya harus terealisasi ya.. Saya belum pernah menang dipenyelenggaraan quiz manapun. :D

    BalasHapus
  2. @Halomoan: semua tergantung selera mamen =). Terima kasih sudah menyimak. Soal kuisnya, doakan ya semoga terealisasi, lagi mikir2 tata caranya nih, hehe

    BalasHapus
  3. seneng banget sama amelie, harusnya rankingnya lebih tinggi :)
    ga sabar nunggu update-annya lagi.

    BalasHapus
  4. Asyik! Ada filmnya Christopher Nolan (Momento) juga. Sutradara ini sepertinya suka sekali dengan tema waktu, terutama masa lalu. Film garapannya tentang memori semua. Selanjutnya, aku banyak tak tahunya, kecuali beberapa judul yang cukup akrab, meski belum pernah menonton filmnya. Maklum, masih awam dalam "tonton-menonton" (^_^)a.

    BalasHapus
  5. saya paling suka sama mementonya nolan kereen listnya

    BalasHapus
  6. @anonim, silakan ditunggu 2-3 minggu lagi update nya ya =)

    @Rafael, good thought about Nolan =). mudah2an bisa nonton lebih banyak rekomendasi saya ya *promo*

    @rizal, terima kasih *malu*, Nolan memang tokcer ya =)

    BalasHapus
  7. Konbawa!!
    Kamiya Desu !!! (berhayal

    bgi yang ga ada tontonan skarang ini diwajibkan nonton fatastic Mr. Fox, tu film paling kocak sedunia dah (bwt gwa). for ajirenji : maju trus pantang mundur !!!

    Arigato gosaimazu!!

    BalasHapus
  8. Keren listnya, senang ada Signs Shyamalan. Unbreakable juga bagus menurut saya, rindu doi kembali bikin film "bener".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berartu harus cek film-nya tahun 2015, The Visit, nanti juga ada film thriller terbarunya, Split. Never lose faith in Shyamalan =D

      Hapus