Minggu, 04 April 2010

[Movie] The Passion of The Christ (2004)



The Passion Of The Christ
(2004 - Icon/20th Century Fox)


Directed by Mel Gibson
Screenplay by Benedict Fitzgerald, Mel Gibson
Produced by Mel Gibson, Stephen McEveety
Cast: James Caviezel, Maia Morgenstern, Christo Jivkov, Monica Belucci, Hristo Shopov, Francesco De Vito, Luca Lionello, Mattia Sbragia



The Passion of The Christ memvisualisasikan proses penangkapan Yesus dari Nazareth (James Caviezel), atau disebut Kristus, di Taman Getsemani oleh aparat agama, dihakimi di Mahkamah Agama (Yahudi) dengan tuduhan penodaan agama krn mengaku-ngaku sebagai sang Mesias yg dinubuatkan, diadili (
sort of) untuk disiksa dan dihukum mati lewat hukum penjajah Romawi (karena hukum agama nggak bisa menghukum mati..kotor katanya), kemudian memikul serta mati di kayu salib. Setiap pemeluk Kristen manapun sudah seharusnya familiar dengan kisah ini karena ini salah satu bagian paling inti dari iman Kristen. Peristiwa ini dirayakan setiap tahun sebelum perayaan Paskah, yaitu di Jumat Agung, dan terutama bagi pemeluk Katolik pasti sudah tau detil2 perjalanan Yesus menuju kematian ini. Banyak sudah film2 lain yg mencoba menggambarkan cerita yg sama, tapi menurut gw The Passion of The Christ yg memang berfokus di bagian passion (sengsara menuju penyaliban) serta berusaha menggunakan dialog bahasa2 yg dipakai pada zamannya, memang paling istimewa. Apa istimewanya? Lewat deskripsi, ilustrasi, film2 yg ada sebelumnya, sengsara Yesus hanya bisa dibayangkan, malah sepertinya diperbagus (atau istilah sekarang kayak di-photoshop). Mel Gibson lewat film ini, ingin penontonnya tidak hanya membayangkan, tapi menyaksikan dan merasakan. Beliau seperti ingin menekankan bahwa Yesus tidak sekedar disiksa, tapi di-SIKSA dengan cara serealistis mungkin sehingga menimbulkan efek yg nyata pula, bahwa sengsara Yesus bukanlah sekadar sengsara kayak kelaparan atau putus cinta.Nggak heran film ini menjadi film bertema Kristiani paling laku sampe saat ini, karena memang, terutama bagi gw, film ini penting untuk disaksikan umat Kristen, karena jika saja tidak ngeh pada maksud dibuatnya, maka The Passion tak ubahnya tontonan sadistis layaknya film2 horror slasher.

Terlepas dari tema religiusnya, sebagai sebuah film The Passion of The Christ tetaplah sebuah karya serius, yg tidak menggurui, dan yg seharusnya bisa diapresiasi siapa saja. Munculnya berbagai kontroversi seputar film ini, yang anti-Semitik lah (mengarahkan kebencian pada orang Yahudi, katanya...idih, kalo bersih kenapa harus risih?), yg kelewat
violent lah, yg kurang akurat lah, sebenarnya dapat dimentahakan oleh karena kenyataan film ini adalah sebuah karya yg solid secara dramatik dan sinematik, lewat rangkaian adegan2 yg dijalin cukup rapih meski banyak sekali referensi yg hanya bisa dimengerti oleh "kalangan sendiri". Di sela-sela proses passion sepanjang film, dimunculkan juga adegan2 flashback dan simbolik yg menguatkan kesan dramatis dan emosional film ini sehingga tidak terlalu menjemukan. Ada tiga bagian semacam itu yg paling berkesan buat gw: pertama adegan flashback Yesus memamerkan meja tinggi buatannya pada sang ibu, Maria (Maia Morgenstern), menunjukkan betapa manusianya Yesus, lengkap dengan selera humor. Kedua, adegan yg cukup singkat ketika Yesus memulai perjalanannya memikul salib di jalan2 Yerusalem, Ia disoraki dengan dihina-dina, intercut dengan momen dirinya yg datang ke kota yg sama beberapa hari sebelumnya yg disambut meriah beserta lambaian daun2 palma oleh penduduk kota, disyut dari sudut pandang Yesus. Lalu yg ketiga adalah adegan intercut Yesus yg terjatuh ketika membawa salib dengan Yesus kecil yg jatuh karena berlari, dalam kedua momen itu sang bunda Maria datang untuk menolongnya bangkit (T_T).

Bagi gw sutradara Mel Gibson sukses untuk mengangkat hal2 yg memang perlu dan menarik untuk ditampilkan dalam film. Penonton disuguhkan bahwa Pontius Pilatus (Hristo Shopov), gubernur Romawi di Yerusalem sedang dalam konflik batin untuk menegakkan hukum--bahwa Yesus memang tidak melanggar hukum apapun, atau menyerah pada tekanan rakyat Israel (terutama kaum petinggi agama yg sangat mudah menggalang massa) yg ditakutkan menimbulkan
uprising dan kekacauan. Lalu cukup detail juga soal Yudas Iskariot (Luca Lionello), murid yg menyerahkan Yesus pada aparat yg karena penyesalannya jadi depresi berat seperti diganggu setan hingga bunuh diri. Dan yg cukup esensial dari awal hingga akhir, adalah keberadaan wujud Iblis yg senantiasa ingin menggoyahkan kesetiaan Yesus atas takdirNya. Si Iblis (Rosalinda Celentano) menanti Yesus untuk jatuh hingga menyangkal Tuhan atas penderitaan luar biasa yg dialami, bahkan siksaan yg diterima jauh lebih berat daripada yg penjahat betulan. Namun ketika ternyata Yesus taat sampai mati, Iblis pun digambarkan kalah.

Kesan lambat dan nyeret sempat terbesit menyaksikan sekitar 1 jam pertama: udahlah lama, gelap2an lagi, dialognya kayak ngeja pelan2 pula (maklum bahasa asing yg kuno). Satu momen yg mengubah itu adalah adegan Yesus dicambuk puluhan kali oleh tentara Romawi. Ya, sadis, tapi bagian ini membangunkan gw bahwa untuk menyaksikan proses inilah film ini dibuat. Gw udah nonton sekitar 3 kali, dan masih nggak kuat ketika bagian Yesus dicambuk pake martil tajem sampe dagingnya ikut kecabut (aaargghh! >.<). Namun detail2 kekerasan gamblang itu diimbangi dengan apik oleh adegan2 dramatik seperti yg gw sebutkan sebelumnya. Dan untungnya, semua momen ditangkap dengan luar biasa indah oleh kamera. Sinematografinya jempolan, meski suka ada adegan tiba2
slow motion kayak the Matrix, serta adegan tokoh2 saling liat2an sambil jalan (yg juga diulang Mel Gibson di film Apocalypto), tapi semua terkesan wow dan bermakna, adegan siang dan malam sama2 bagus.

Kembali ke kesan lambat itu, gw sebenernya cukup respek dengan keputusan Mel Gibson dengan gaya seperti itu, bahwa memang proses sengsara Yesus adalah proses yg panjang dan memilukan, bukan hanya sambil lalu semata. Untuk yang satu ini,
he did it so well. Beliau tidak menekankan pada akurasi sejarah karena kisah ini banyak sekali versinya, tapi lebih kepada impact yg dihasilkan. And it worked. Yang jelas, film ini memang layak untuk ditonton: penting dan indah.



my score:
8/10



NB: gw dulu2 pernah baca bahwa menurut tradisi orang Yahudi pada zaman Yesus, laki2 termasuk Yesus seharusnya TIDAK gondrong. Tapi mungkin karena sekian lama sudah terlanjur gambaran Yesus di benak semua orang adalah gondrong, brewok dan agak pirang (
thanks a lot, Da Vinci =.=), maka Yesus versi James Caviezel di sini tetap gondrong, hanya saja tidak bergelombang dan tidak pirang..tapi ini teori gw loh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar