Sabtu, 02 Juli 2011

[Movie] ALWAYS: Sunset On Third Street (2005)


ALWAYS 三丁目の夕日 (Always - San-choume no Yuuhi)
ALWAYS: Sunset on Third Street
(2005 - Toho)

Directed by Takashi Yamazaki
Screenplay by Takashi Yamazaki, Ryouta Kosawa
Based on the comic series "San-choume no Yuuhi (Sunset on Third Street)" by Ryohei Saigan
Produced by Chikahiro Ando, Keiichiro Moriya, Nozomu Takahashi
Cast: Hidetaka Yoshioka, Shin'ichi Tsutsumi, Maki Horikita, Koyuki, Hiroko Yakushimaru, Kazuki Koshimizu, Kenta Suga, Masako Motai, Tomokazu Miura, Fumiyo Kohinata


Jika ditilik sekilas, ALWAYS Sunset on Third Street terkesan sama saja dengan film2 yang marak bermunculan di Jepang sana memasuki milenium baru, yaitu adaptasi komik dengan aktor2 terkenal, dan terlebih lagi film ini akan penuh visual efek canggih dan digarap oleh sutradara yang sebelum ini lebih dikenal menggarap film2 aksi fantasi. Dalam rumus Hollywood, ini adalah pengeruk uang tapi seringkali menelantarkan jiwa sebuah film yang disebut "cerita". Dalam rumus Jepang, kira2 serupa, lebih centil di style ketimbang isi (ehem, Casshern?). Tapi apa yang terjadi, ALWAYS kemudian gw daulat sebagai film Jepang rilisan dekade 2000-an terbaik dan paling menghibur yang pernah gw tonton, live action pada khususnya.

ALWAYS tidak bertumpu pada plot tertentu dalam 2 jam-an durasinya, tapi lebih kepada karakter2nya yang lovable. Kalo nggak salah "Sunset on Third Street"—versi komiknya sempat diterbitkan dalam bahasa Indonesia belakangan ini—memang berisi fragmen demi fragmen kehidupan sehari-hari beberapa orang yang hidup di sebuah sudut kota Tokyo pasca perang dunia sekitar 1950-an, ketika Jepang sedang membangun kehidupan warganya kembali. ALWAYS—yang kemudian akan dibuat sekuelnya tahun 2007 dan 2012 (in 3D) ini—mengambil seting mulai 1 tahun sebelum konstruksi Tokyo Tower selesai, dan berfokus pada 2 rumah yang saling berhadapan di kawasan Third Street. Yang pertama adalah rumah keluarga Suzuki sekaligus bengkel mobil bernama "Suzuki Auto", ada pak Suzuki (Shin'ichi Tsutsumi) yang emosian, Tomoe (Hiroko Yakushimaru, pernah jadi tokoh emak di sinetron "1 Litre of Tears") si ibu yang penyayang dan..err..keibuan, serta putra kecil mereka yang bandel, Ippei (Kazuki Koshimizu). Mereka menerima seorang gadis dari daerah, Mutsuko (Maki Horikita), kemudian dipanggil Roku gara2 ambiguitas huruf kanji namanya, untuk bekerja di bengkel dan tinggal bersama mereka. Yang kedua adalah "warung chiki" Chagawa yang dikelola oleh seorang "sastrawan gagal", Ryuunosuke Chagawa (Hidetaka Yoshioka) yang juga menyambung hidup sebagai penulis cerita besambung di majalah anak2 mingguan. Suatu ketika Chagawa dimintai tolong oleh seorang pemilik bar yang mantan penari klub nan cantik, Hiromi (Koyuki) untuk titip putra sesamanya penari klub yang mengaku nggak sanggup mengurusnya. Karena mabok cinta atau mabok beneran, ia menyanggupi dan kemudian harus mengurus anak pendiam dekil bernama Junnosuke (Kenta Suga) itu mulai dari sekolah sampai kebutuhan sehari-hari, padahal dirinya sendiri sebenarnya nggak suka anak2 kecil.


Hal pertama yang langsung kelihatan dari ALWAYS adalah penggarapannya yang serius dan benar2 berusaha menghadirkan suasana Tokyo 1950-an dengan bantuan desain produksi dan penggunaan CGI yang lumayan sebagai pemolesnya, dan usaha itu tidaklah sia2. Segala referensi zaman itu ditampilkan se-otentik mungkin, mulai dari kendaraan (mobil2 tua dan “bemo” nya Suzuki), sistem transportasi (trem dan kereta uap), pakaian, peralatan (radio, televisi, dan dulu lemari es itu ternyata memang lemari yg ada es nya ya ^_^), permainan anak2 dan sebagainya, memaksimalkan nilai nostalgia yang terkandung film ini. Secara teknis lainnya pun film ini menurut gw lebih superior dibandingkan film2 Jepang lain yg pernah gw tonton—yg bagi gw terlalu kaku. Sinematografinya berperan penting menampilkan gambar2 yang nyaman dan cakep serta efektif dan dinamis, gw bisa lihat ekspresi aktor2nya dengan jelas. So, secara visual, film ini dua jempol, very good.

Tapi bukan bagian itunya yang membuat gw suka film ini. Memang keseriusan visual menambah kenikmatan menonton, tetapi gw salut dengan film dengan jalan ceritanya tidak punya benang merah jelas ini menjadi tontonan yang nyaman dan lancar jaya dengan lebih menekankan pada sisi manusia dan nilai2 kekeluargaannya. Lewat tokoh2 yang diangkat, ALWAYS berjalan dengan mulus melewati 4 musim yang diisi oleh kisah2 menarik sekitar mereka. Mulai dari Suzuki yang salah sangka (atau salah baca lebih tepatnya) terhadap CVnya Roku; pemasangan perdana televisi di rumah Suzuki yang ikut ditonton semua tetangga dengan norak hebohnya; Junnosuke yang ternyata penggemar cerbung tulisan Chagawa hingga membuat fan-fiction, yang malah dijadikan Chagawa sebagai karyanya; pencarian ibu kandung Junnosuke bersama Ippei, ya pake nyasar dan nggak ada ongkos; Roku yang enggan mudik meski berkali-kali ditawarkan libur oleh suami istri Suzuki; hingga kisah asmara canggung yang tumbuh antara Chagawa dan Hiromi, serta kemunculan ayah kandung Junnosuke. Biarpun sudah dengan dukungan teknologi digital masa kini, toh kisah penghuni rumah Suzuki dan Chagawa lah yang diutamakan. Tanpa menimbulkan perasaan menganjal atau membingungkan, keseharian mereka begitu enak diikuti, diselipi humor2 situasional yang efektif, sehingga nggak terasa bahwa sebenarnya film ini nggak ada inti selain dinamika dan perubahan yang dialami tokoh2nya selama kurun waktu 1 tahun semata.


Dari sini saja sudah ketahuan bahwa sutradara Takashi Yamazaki memang membuat sebuah keputusan yang tepat. Mungkin beliau sadar bahwa kekuatan komiknya yang masih berlanjut serinya hingga sekarang ini adalah dari ceritanya, bukan dari gaya visual, bukan pula dari ide2 yang ekstrim. ALWAYS ini sebenarnya profoundly film yang sederhana dan modest, tentang keluarga, cuman kesederhanaan itu “terpaksa” dibungkus dengan pelbagai bahan pendukung (desain produksi, CGI, kostum) yang tampak mewah agar menjaga atmosfer yang otentik. Garis bawahi kata “pendukung”. Untungnya, sajian dramanya ditata dengan baik dan tidak asal2an, cukup mengejutkan bagi seorang sutradara yg resume sebelumnya tidak ada karya drama (Returner, Space Travelers, baru2 ini Space Battleship Yamato). Ada beberapa adegan yang mengesankan gw, tapi mungkin yang paling kena dan cakep adalah adegan Chagawa menyematkan cincin ke jari Hiromi...tanpa cincin =). Beruntung pula Yamazaki karena berhasil merekrut aktor2 yang tidak sembarangan. Keberhasilan adegan demi adegan film ini bagi gw tidak lepas dari performa aktor2 yang bermain baik dan kompak, terutama kelihatan dalam beberapa long-take yang dipresentasikan dengan mumpuni—buat gw Jepang memiliki aktor2 dengan disiplin jempolan terutama dalam film2 ensemble cast, mungkin setara dengan Inggris. Bahkan aktor2 ciliknya pun sangat luwes memainkan perannya. Mungkin masih terasa agak komikal namun entah kenapa, terutama Shin’ichi Tsutsumi dan Hidetaka Yoshioka yang bermain luar biasa, membuat tokoh2 mereka menjadi hidup dan tidak terasa janggal.


Bagi penikmat di luar Jepang mungkin terlalu terpaku pada film2 Jepang yang drama artistik filosofis, horor, gore, thriller sakit, samurai, anime, adaptasi anime/komik, bokep, pokoknya yang ekstrim2 dah. Padahal ternyata Jepang juga punya batu mengkilat dalam ranah film "normal", film keluarga yang menyentuh dan bersahaja meski dibalut kecanggihan teknologi sinema, dan tidak terlalu terjebak dalam keklisean. ALWAYS adalah film yang bisa ditonton siapa saja dan rasanya sih bisa dinikmati siapa saja. Kejepangannya masih terlihat dalam cara yang berbeda, tetapi semua berbaur dalam potongan2 kisah 2 "keluarga" yang jenaka dan menarik simpati penonton tanpa paksaan. Memang masih ada bagian2 yang terlalu komikal dan adegan2 wajib dalam perfilman Jepang (adegan lari dan adegan menatap matahari =.="), dan bagian ending yang kayak terlalu dramatis, namun ketika kredit film berjalan, batin gw berujar bahwa gw baru saja menyaksikan salah satu film Jepang paling memuaskan yang pernah gw tonton. Kisah sederhana dalam tampilan mewah yang dieksekusi dengan baik. Hangat, ringan, menghibur. Love it.



My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar