Selasa, 03 Maret 2009

[Movie] Fiksi. (2008)


Fiksi. 
(Cinesurya - 2008)

Directed by: Mouly SuryaScreenplay by: Joko Anwar
Story by: Mouly Surya

Produced by: Parama Wirasmo, Tia Hasibuan, Sapto Soetarjo

Cast: Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Inong, Rina Hasyim


Film ini menang piala Citra untuk film cerita terbaik (plus sutradara, naskah, dan musik) Festival Film Indonesia 2008 kmaren lho, tapi kayaknya jarang banget orang, termasuk gue, yang ngeh kalo film ini pernah "numpang lewat" di bioskop kita. Agak keterlaluan sich, meskipun ini karya perdana si sutradaranya, tapi mbok ya tim marketing/promosinya usaha dikit napah (untung aja menang 4 Citra, keangkat dikit deh), krn film ini ternyata terlalu bagus untuk ukuran "numpang lewat" doang.

Mungkin yang membuat tim marketing "Fiksi." jadi agak males mempromosikan film ini adalah temanya yang mungkin tidak terlalu populer di masyarakat kita. Genre-nya drama psikologis yang nggak ada ceria-cerianya atau romantis-romantisnya (hantu juga nggak ada), soal obsesi seorang cewek aneh terhadap seorang lelaki, sebuah film dimana perilaku karakternya kurang menyenangkan dan kurang terpuji, meski itulah yang membangun ceritanya.

Karakter utamanya adalah Alisha, anak tunggal seorang kaya raya, yang udah lulus sekolah desain padahal umurnya baru 20 tahun. Hidupnya mungkin impian semua orang: rumah besar dan indah, ada pelayan dan supir, banyak mainan, dsb. Tapi dari awal sudah ditunjukkan bahwa Alisha punya twisted personality. Tanpa ekspresi, tapi diam2 menyimpan amarah pada ayahnya dan trauma atas ibu yg bunuh diri beberapa senti dari mukanya waktu kecil. Di tengah hidup yang sedatar ekspresinya, Alisha terobsesi dengan Bari, tukang bersihin kolam renang temporer yg suka nyolong patung kelinci dari rumahnya. Dengan sedikit akal, Alisha berhasil mengejar Bari dan bahkan tinggal tepat di sebelah kamar Bari, di kompleks rumah susun yang penuh warna. Dari sini cerita dimulai, dimana Alisha memperkenalkan dirinya sebagai Mia. Dia juga jadi kenal dengan Bari yang seorang struggling writer, dan pasangan kumpul kebonya, Renta yang seorang mahasiswi psikologi. Tau bahwa ia nggak bisa mendapatkan Bari begitu saja, Alisha/Mia punya cara dalam menunjukkan cintanya: Membantu Bari menyelesaikan tulisannya.

Bari punya kebiasaan mengambil inspirasi dari penghuni rumah susun untuk dituangkan dalam ceritanya. Karena para penghuni hidup di dunia nyata, maka perjalanan mereka tidak akan berakhir, dan begitu pula cerita2 tulisan Bari yang nggak pernah ada yg kelar satupun. Masuklah Alisha/Mia, agar tulisan Bari ada endingnya, maka Alisha terlebih dahulu membuat "ending" orang2 yg jadi inspirasi Bari, in sort of sophisticated yet psycotic way. Alisha cukup puas dengan cara begini, dan makin lama makin agresif. Apakah Alisha akan mendapatkan Bari, atau dia harus terus-menerus membuktikan cintanya dengan cara demikian...?

Disamping tema yang beda dari yang sudah2, "Fiksi." punya plot yang terbilang rapih, rumit tapi tidak terlalu membingungkan, tau arahnya mau kemana sehingga tidak menampilkan adegan2 mubazir. Setiap kejadian dalam film ada maksud dan koherensinya. Secara teknis, meskipun terlihat sederhana (pake kamera digital HD), tapi sang sutradara, Mouly Surya tau betul apa yang mau ditampilkan di layar. Sinematografinya dan art directionnya nggak berlebihan tapi indah dan bermakna, pengambilannya tepat dan pada tempatnya tanpa harus terlihat norak (that goes to you, Mr. Nayato Fionuala -_-). She's quite a visionary. Pemainnya lumayan, Ladya mainnya pas, Donny cukup pas2an. Malah mnurut gue yg aktingnya bagus banget adalah penampilan singkat tanpa kata dari Jose Rizal Manua yg jadi salah satu penghuni rumah susun inspirasi cerita Bari dan di"akhiri" oleh Alisha.

Tapi biar cerita mengalir baik dan ketegangannya juga terbangun, sedikit kekurangannya adalah eksekusi bagian endingnya yang seakan tanpa klimaks. Datar--lagi-lagi--sedatar ekspresi Alisha. But overall, another Indonesia's better film.

Akhirnya Joko Anwar punya temen: filmmaker Indonesia generasi sekarang yang tau benar cara membuat film, plus punya gaya penceritaan dan visualisasi sendiri yang berbeda dari filmmaker lainnya. Melalui film feature debutnya ini, mbak Mouly Surya seakan mencoba memperkenalkan diri bahwa she's here to stay. We need more of these kind of people!!!


my score 8/10
(sudah termasuk nilai utk "niat baik" ^-^)

2 komentar:

  1. gan masih ada filmnya gak? soalnya pas waktu keluar filmnya saya masih kelas 4 sd jadi kurang tau ada filmnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin agak susah sekarang kalau cari DVD-nya, versi digital juga kayaknya blum ada. musti rajin2 cari pemutaran sih, coba follow sutradaranya di Twitter oke juga, @moulysurya

      Hapus