Selasa, 20 Oktober 2009

[Movie] Inglourious Basterds (2009)



Inglourious Basterds

(2009 – Universal/The Weinstein Company)

Written & Directed by Quentin Tarantino
Produced by Lawrence Bender

Cast: Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz, Eli Roth, Michael Fassbender, Diane Kruger, Til Schweiger, Daniel Brühl



Setelah sekian minggu, gw akhirnya masuk lagi ke bioskop, dan keluar dengan sangat puaaas. Inglourious Basterds adalah karya terbaru dari Quentin Tarantino. Sekali lagi: Quentin Tarantino. Nama ini perlu gw ulang dengan maksud menekankan bahwa beliau bukanlah Steven Spielberg yang sangat lurus gayanya, bukan pula Michael Bay yg maunya gila dan hingar bingar tapi tanpa tujuan. Meskipun gw baru menonton 2 biji karyanya—Kill Bill Vol. 1 dan 2, eh itu itungannya satu apa dua yah?— terlihat sekali Quentin Tarantino (sebut 3 kali ^o^) ini berlatar belakang penonton dan pencinta film sejati, bahkan konon film2 kampungan kelas B pun disukainya. Selain kerap meniru aspek2 dari film lain (halo? Film samurai, film yakuza, film kung-fu, anime, film koboi, semua ada di Kill Bill,
right?), ia juga paham betul apa yg harus diperbuat agar penonton tidak bosan tanpa mengabaikan ide yang ingin disampaikan, tak terkecuali di Inglourious Basterds ini—kenapa ejaannya kayak gini gw juga nggak paham, mungkin ini ejaan yg bisa dibaca orang Jerman?

Kini Pak Tarantino bermain-main dengan tema Nazi dan Yahudi di masa Perang Dunia II, tepatnya di masa pendudukan Nazi di Prancis, yg diklaim bergaya film "spaghetti Western" atau koboi2an brutal yg dibuat orang2 Itali (contohnya film The Good,The Bad,The Ugly yg dibintangi Clint Eastwood...info dari imdb.com hoho). Dalam bentuk
chapter-chapter yg paralel mirip Kill Bill, cerita Inglourious Basterds mengalir di 2 jalur yg menuju ke satu muara di akhir. Pertama adalah mengenai Shosanna Dreyfus (Mélanie Laurent). Ia lolos dari pembantaian yg dipimpin oleh Kolonel Hans Landa (Christoph Waltz, dengan performa yg luar biasa) terhadap keluarganya yg sembunyi di sebuah rumah petani Prancis. Beberapa tahun kemudian, Shosanna punya identitas samaran Emmanuelle Mimieux, bule pemilik sebuah bioskop di Paris. Dengan rangkaian kejadian tak terduga, Shosanna punya kesempatan membalaskan dendamnya kepada Nazi ketika bioskopnya terpilih sebagai tempat pemutaran perdana film propaganda Nazi dalam pekan film Jerman di Paris, yg bakal dipenuhi oleh petinggi2 Nazi, termasuk Kolonel Landa.

Kisah kedua adalah misi rahasia nan penuh dendam dari pasukan Amerika pimpinan Sersan Aldo Raine (Brad Pitt) bernama The Basterds. The Basterds terdiri atas sekelompok pria Yahudi (plus seorang Jerman
psycho yg hobi membunuh perwira Nazi) yang dilatih militer dengan tujuan menghabisi setiap orang berafiliasi Nazi yg mereka temui, dan mengumpulkan kulit kepalanya (hoeek). They really did. Aksi mereka sangat brutal tanpa ampun (in somewhat cruel yet hillarious way) sehingga reputasi mereka pun sampai di telinga sang führer Hitler, yang pengen The Basterds segera dibasmi. Suatu ketika The Basterds diberi misi bersama agen dari Inggris, Letnan Archie Hicox (Michael Fassbender) dan aktris Jerman sekaligus agen ganda untuk Inggris, Bridget von Hammersmark (Diane Kruger) untuk "panen" kepala2 Nazi yg akan menghadiri tayang perdana pekan film Jerman di Paris. Masalahnya, The Basterds bukanlah pasukan yg pandai menyamar (^_^').

Kisah di atas mungkin akan dianggap satu lagi film pelampiasan dendam kaum Yahudi sama Nazi, sebagaimana mungkin ratusan film lain yg bernada sama. Tapi, lagi2, ini filmnya Quentin Tarantino, yg sepertinya mengerti apa artinya potong pinggir (
cutting edge ihihihi). Film ini jelas fiksi dari awal sampe akhir, yg historicaly accurate palingan cuman settingnya. Tarantino bercerita lewat 5 bab yg dapat berdiri sendiri namun punya benang merah—sudah gw usahakan rangkum di atas—dan tiap chapternya punya sesuatu yg menarik. Polanya mirip: ada sedikit cerita latar belakang, lalu ngobrol ngalor ngidul ngulon ngwetan (tapi sebenernya tetep menarik untuk disimak), lalu sebelum penonton (=gw) bosan, ketegangan langsung dibangun dan disambung aksi yg dibuat cepat (nan kejam berdarah) dan tak terduga. Humor nyelekit yg bikin nyengir tak pernah absen dari perilaku tokoh2nya, plus ada tulisan penunjuk nama tokoh, subtitle yg kadang gak konsisten (orangnya ngomong bhs Prancis "Merci", subtitlenya yg harusnya bhs Inggris tulisannya "Merci" juga, piye toh? ^o^'), juga intercut footage2 "keterangan" yg agak norak itu (perkenalan tokoh, dan penjelasan mengena film 35 mm yg mudah terbakar haha). Selain itu, Tarantino masih suka mengesyut hal2 kecil secara perlahan seperti berdandan, nyalain pipa, memotong makanan, menaruh krim dsb dengan sangat cantik. Satu lagi, beliau juga menggunakan perbedaan bahasa dengan sangat brilian, orang Jerman ngomong Jerman, orang Prancis ngomong Prancis, The Basterds ngomong Inggris. Kalau berpindah bahasa, pasti ada maksudnya. QT is in to details for sure.

Dengan gaya pengarahan Tarantino yg unik juga, para aktor diberi ruang yg sangat leluasa untuk mengerahkan seluruh kemampuannya. Gw berharap setidaknya salah satu aktor saja di film ini patut dipertimbangkan untuk mendapatkan penghargaan, terutama Christoph Waltz yg
hands down sukses abeis memerankan Kolonel Landa yg cerdas, menyebalkan, licik dan pandai berkomunikasi—dalam bahasa apapun heuheuheu—sekaligus intimidatif (eh, di udah menang deing Best Male Performance di Cannes kmaren dalam film ini, congrats!). Brad Pitt, Mélanie Laurent (pernah main di film Taiwan setting Singapur, Rice Rhapsody, yg diputer jutaan kali di Celestial Movie Channel), bahkan Diane Kruger juga membuktikan akting mereka dengan maksimal. Oh ya, Hitler digambarkan komikal di sini, kocak dah ^0^.

Agak segan untuk bilang film ini "bagus" sebagai rekomendasi kepada orang lain. Ini semacam film yg harus ditonton dulu dengan mata kepala sendiri untuk memutuskan suka atau tidak. "Bagus" itu standarnya apa? Apakah yg plotnya mudah dimengerti (berfokus pada benang merah selalu)? Dialog yg ringkas dan
straight to the point? Karakter yang menyenangkan? Atau mumpung berlatar belakang Perang Dunia, adegan perang yg spektakuler? Maap aja, bagi yg mengharapkan hal2 itu di film ini pasti bakal kecewa. Kecenderungannya bercerita kemana-mana mungkin akan bikin kesal dalang Parto di Opera Van Java (hihihi). Atau yg bagus itu justru yg penuh drama, alurnya rumit dengan dialog terlalu serius dan bahasa tingkat tinggi? Lagi2 maap, ini juga bukan film seperti itu. Inglourious Basterds (dan kemungkinan besar film2 Tarantino lainnya) punya standar sendiri yg rancu kalo harus dibandingkan dengan film2 lain. Dan meskipun terkesan bikin film seenak udel, Pak QT sendiri sepertinya bisa membaca mood penonton filmnya: ketika saat nonton kita udah hampir bilang "aduh, bose--eh?", tiba2 ditebus lewat cara yg unexpected. Pun dari segi penokohan berhasil dibangun dengan sangat kuat. Jadi kalo dibilang film ini "jelek" pun rasanya janggal.

Gw tidak merasa fanatik Tarantino, tapi yg pasti gw bisa bilang film2 dia, termasuk Inglourious Basterds ini, setidaknya merupakan pengalaman berkesan. Apalagi, adegan klimaks Inglourious Basterds sangat
thrilling to the max, nendang banget! Gw juga melihat ada yang rada puitis--bocoran sedikit: Shosanna eventually had the last laugh. Inglourious Basterds adalah film yg bagus (dan gw suka) sebagaimana adanya: beda, entertaining, nggak perlu mikir banget (hanya perlu ikutin aja kemana jalannya cerita), tetap artistik sekaligus norak (musiknya dong, hehehe), kejam, satir (dialognya, gw paling suka waktu Bridget bilang "Do you Americans speak any other language besides English?" Gotcha! ^0^'), dan tidak punya maksud tersembunyi. Nggak ada tendensi untuk menebar simpati sama kaum Yahudi, karena film ini hanya dibuat sebagai karya seni yg menghibur dengan caranya yg aneh unik, just because he can. Quentin Tarantino (total gw nyebut nama ini 5 kali, blum termasuk panggilan lainnya ^.^) is definitely sedeng and not your typical filmmaker. Even the end credits ran rather quick. Jadi filmnya bagus atau nggak? Taauk dah. Yang jelas, kalo mau nonton, tonton sampe abis yah. Harus!



My score:
8,5/10
(yeah,
just because I can! -_- v)


NB: Ada Mike Myers cameo jadi petinggi militer Inggris yg ngebrief Lt. Hicox, logatnya bagus deh.

11 komentar:

  1. ya. mantap nih film. aku juga lama gak nonton nih. semua bioskop isinya lagi film indonesia yang gak jelas mutunya...

    BalasHapus
  2. @semuareview, betul, gw juga pikir gitu. Film ini bagaikan oase di tengah2 21 yg kering hehehe

    BalasHapus
  3. Cuma mau nambahin (I like your blog, BTW. Sorry gue komen mulu^^) penjelasan tentang <>

    Adegan Col. Landa mesenin susu sama strudel plus krim untuk Shoshanna itu memegang peranan penting sebenernya, menurut gue^^. As we know, sepanjang film kita tau kalo Col. Landa itu expert dalam mencari orang. Dia bisa tau siapa itu siapa dari detail tertentu yang dia cari tau tentang orang tersebut. Di restoran, kayanya dia sebenernya curiga atau malah dah tau kalo Mimieux itu Shoshanna, makanya dia mesenin makanan itu. Shoshanna adalah Yahudi dan Yahudi itu punya aturan tentang makanan (kosher atau ga), salah satunya: "Ga boleh makan daging berbarengan dengan dairy product (susu, mentega, keju, dll). Bahkan panci bekas masak daging ga boleh dipakai untuk menghangatkan susu" dalam kasus ini, strudel (yang mengandung daging) dan krim (dairy product), juga susu. Tapi, Shoshanna makan juga (biar penyamarannya gak ketauan)--makanya di-shoot dalam jarak dekat. Toh, Landa kayanya ga percaya juga. Dia malah nawarin rokok buatan GERMAN (lihat perubahan mimik muka Shoshanna) plus dia kayanya punya plot sendiri di kepalanya (ada hubungan dengan tragedi besar di teater film) untuk memanfaatkan Shoshanna demi kepentingannya sendiri.

    AWY, film ini masuk dalam daftar 10 film favorit gue (gue kasih rating 9/10^^). Ah, sebenernya SEMUA film QT gue suka!

    BalasHapus
  4. Kok quote-nya ilang? Hehe.

    Kalimat awal itu, lengkapnya begini: Cuma mau nambahin (I like your blog, BTW. Sorry gue komen mulu^^) penjelasan tentang "Selain itu, Tarantino masih suka mengesyut hal2 kecil secara perlahan seperti berdandan, nyalain pipa, memotong makanan, menaruh krim dsb dengan sangat cantik."

    BalasHapus
  5. @Frysta, WOW, thanks banget sharingnya, gw jadi nambah informasi dan respek juga sama mas QT ^o^ v. Good job.

    BalasHapus
  6. hmm... saya belum begitu banyak nonton film Quentin Tarantino
    baru sekitar 2 or 3 film lah
    Pulp Fiction sama Kill Bill
    Dia sering bener pake Uma Thurman
    tp kalo Quentin bikin film bagus dan berkualitas saya gak heran...
    Di jagad perfileman dia salah satu yang paling cerdas otaknya
    kalo gak salah IQ-nya 160

    BalasHapus
  7. @anonim: konon demikian, dan jangan lupa QT bukan jebolan sekolah film. hebat ya =).

    BalasHapus
  8. adegan cantik lainnya yg bikin jantung sakit (?) adalah pas si Landa makein sepatu ke kakinya Frau Bridget. sumpah gua akuin itu shootnya epik abis pas tuh spatu masuk (kleek) di kakinya frau Bridget trus shootnya pindah ke mukanya. hahaha bukan mukanya doang yg pasrah, muka gua juga ikutan pasrah. nih film poll bgt lahh

    BalasHapus
    Balasan
    1. FYI, QT memang suka sorot kaki, mungkin kamu juga, hehe

      Hapus
  9. Gue baru nonton ini film, tpi yg bkin gw gk ngerti itu knp si landa pake nyerah ke si aldo dan ngebiarin bioskop dalam kegaduhan ????

    Satu yg fatal utk film ini adalah sang fuhrer mati, padahal lebih baik dibuat selamat dan melarikan diri ke jerman.

    BalasHapus
  10. @nandaFuhrer: saya bantu jawab ya gan. Alasan kenapa Landa ngekhianatin pihak Nazi disebabkan karena Landa udah punya prediksi kalo Nazi gak akan menang dalam perang, dan melihat karakter Landa yg oportunis dan berpijir je depan, maka gak heran kalo dia rela ngejual kesetiaannya demi kemenangan.
    kalo mau hal yg ngeganjal itu adalah mengapa Landa bisa ceroboh di akhir dimana pada awalnya doi penuh kecurigaan tapi dengan mudahnya ngasih pistol dan piso ke Aldo.

    BalasHapus