Rabu, 28 Oktober 2009

[Movie] The Fall (2008)


The Fall

(2008 – Googly Films/presented by David Fincher and Spike Jonze)

Directed by Tarsem

Screenplay by Dan Gilroy, Nico Soultanakis, Tarsem
Based on the 1981 Bulgarian film "Yo Ho Ho" written by Valeri Petrov

Produced by Tarsem

Cast: Lee Pace, Catinca Untaru, Justine Waddell, Robert France.



Lama banget setelah salah satu temen gw merekomendasikan, dan setelah gw liat trailernya, akhirnya gw menonton film The Fall, skalian tes mutu DVD keluaran Jive Collection yg harganya Rp59 ribu (ternyata nggak seburuk yg gw kira, tapi tetep aja teknisnya agak kurang). The Fall adalah karya ke-2 sutradara kelahiran India, Tarsem (di imdb.com: Tarsem Singh) setelah film The Cell-nya Jennifer Lopez tahun 2000 (pernah nonton sedikit di TV tapi ketiduran pas iklan hihihi). Kelar taun 2006, tanpa ada perusahaan film yg sudi mencolek untuk sekadar distribusi, The Fall malang melintang (a.k.a. luntang lantung) di festival2 film dunia, dan akhirnya dirilis di bioskop umum tahun 2008 (di Indonesia di jaringan Blitz Megaplex skitar bulan Mei). Yg menjanjikan dari pak Tarsem, sebagaimana The Cell, adalah suguhan desain dan gambar nan fantastis. Lagipula, film ambisius yg murni pake duit Tarsem sendiri ini (dikumpulkan dari "profesi utama"-nya sebagai pembuat iklan dan video musik, kasian ya)—thus called "independent", mengambil lokasi syuting di seluruh dunia, literally.

The Fall berkisah tentang hubungan unik seorang anak imigran Rumania umur 5 tahun yg kerja di kebun jeruk (bukan kebon jeruk ya), Alexandria (Catinca Untaru) yg tangannya patah habis jatuh di kebun, dan Roy (Lee Pace), seorang stuntman film yg habis kecelakaan pas syuting dan kakinya lumpuh. Mereka berdua dirawat di sebuah rumah sakit di Los Angeles (imdb.com bilang mungkin sekitar taun 1920-an) dimana mereka dipertemukan. Pada pertemuan pertama mereka, setelah tau nama si anak perempuan itu, Roy berkisah mengenai Alexander Yang Agung, asal nama Alexandria. Alexandria tertarik dengan dongeng Roy, dan Roy pun mengundangnya kembali ke bangsalnya untuk bercerita sebuah kisah epik. Maka persahabatan mereka dibangun melalui dongeng yg dibuat Roy, serta imajinasi visual dari Alexandria yg juga turut menambahkan beberapa aspek dalam dongeng tersebut, termasuk gambaran tokoh2nya yg adalah orang2 yg dikenalnya. Dongengnya sendiri mengenai 5 (plus 1) orang hebat (yg kemudian salah satu tokohnya, Bandit adalah paralel Roy yg sama2 nggak bisa berenang) dari berbagai latar belakang tapi bertujuan satu: membunuh gubernur Odious yg jahat. Petualangan seru plus kisah cinta dan tragedi, serta gambaran "curhat" Roy mewarnai dongeng ini. Namun seejuatinya, Roy punya maksud tertentu dibalik sikap manisnya sama Alexandria, dia pengen diambilin morfin (kalo Alexandria bilang morphin3 ^_^') biar bisa "tidur nyenyak". Alexandria yg polos dan tulus pun mau aja, agar dongeng mereka bisa lanjut, sampai suatu saat imajinasi dan kepolosannya itu berakibat fatal.

Gw nonton film ini 2 kali, dan sepertinya memang harus gitu caranya untuk menikmati film indah ini. Pada kali pertama, meski dengan kualitas gambar DVD yg kurang halus, gw terpaku pada visualnya yg anjr*t top banget, para penggemar fotografi pasti bakal gregetan deh. Asal tau aja, untuk mendapat setting dongengnya yg memang antah-berantah, Tarsem tidak lari ke kantor visual efek, tapi langsung ke kantor2 pariwisata di berbagai belahan dunia untuk minta izin syuting di tempat2 yg bisa ditangkap kamera dengan indahnya. Bagaikan art directionnya sudah disediakan oleh Tuhan dan nenek moyang kita (bangunan dan situs alami nya sebagian termasuk UNESCO World Heritage) dan dimanfaatkan dengan sangat, sangat baik oleh angle-angle ajaib Tarsem (he has the eyes for these stuffs), karena adegan2 luar ruangan—termasuk sawah terasering Bali dan padang pasir oranye yg ada di Afrika—adalah memang asli, dan istana2nya sebagian besar adalah bangunan2 pariwisata bersejarah di India. Yup, termasuk "kolam" bertangga-tangga segitiga itu. Ditambah desain kostum yg out of this world dan masih banyak adegan2 yg akan panjang kalo diceritain di sini, Tarsem sukses menciptakan dunia dongeng tanpa harus keluar dari bumi. Bravo!!



Kali kedua gw nonton, gw memang udah nge-set untuk fokus sama ceritanya, karena jujur ceritanya tidaklah mudah dicerna sekali makan. Ternyata film ini punya beberapa detil tersembunyi yg lucu juga untuk diketahui, bahkan judul "the fall" pun punya makna yg beragam—Alexandria jatuh dari pohon, Roy jatuh dari jembatan, Alexandria jatuh ke "tipu daya" Roy dan dunia khayalannya sendiri, Roy jatuh mentalnya karena pengkhianatan cinta, dan ada jatuh satu lagi yg gak akan gw bilang di sini hehehe. Visualisasi dongeng adalah dari imajinasi Alexandria, ketauan dari adanya kertas pesan dan peta bolong2 seperti kertas pesan yg dimiliknya, kotak barang berharga yg persis miliknya juga, dan dia juga salah mengira "an Indian" (suku asli Amerika) adalah seseorang dari India. Detail lain yg cukup subtle antara lain, ketika Alexandria berbuat sesuatu yg nggak sesuai harapan Roy, Roy langsung memunculkan tragedi dalam kisahnya. Pun ketika Alexandria menggambarkan sang Putri kekasih Bandit adalah perawat/nurse Evelyn (Justine Waddell), dan karena emang dirawat di RS Katolik (oh ya, ini juga bukan set, tapi bangunan beneran di Afrika Selatan), Roy kira Evelyn itu seorang suster/biarawati (nggak papah, di Indonesia sampe sekarang masih rancu kok). Lalu bagaimana Roy menggambarkan kisah cintanya yg pupus gara2 si cewek lebih milih si aktor utama ketimbang dirinya yg cuman stuntman—jadi salah satu alasan pengen bunuh diri, patut diperhatikan juga. Dan satu lagi, adalah ketika di bagian akhir, Alexandria menuntut agar Roy mengakhiri dongengnya. Roy hanya bisa memikirkan akhir yg tragis (a.k.a. yg paling gampang kan?), tapi Alexandria juga merasa memiliki dongeng ini dan dia mau agar berakhir bahagia, adegan ini sebenarnya adalah obrolan heart to heart kedua orang ini.


The Fall sukses sebagai sebuah film karena menyeimbangkan visual dongeng dan kedalaman cerita di dunia nyata. Tanpa visual efek berlebihan, toh dunia fantasinya mengagumkan. Dan tanpa aktor terkenal, toh di dunia nyatanya, adegan2nya dibuat believable, apalagi interaksi si Alexandria yg aslinya (si Catinca itu) gak bisa bahasa Inggris ini dengan Roy dibuat senatural mungkin, nggak palsu. Sayang ceritanya kelewat subtle—bedakan dengan mengabaikan yah—dan mungkin puitis, jadinya kurang berasa langsung ke gw, mungkin memang musti nonton lebih dari 1 kali (dan gw dengan senang hati bersedia, ini bukan film jelek). Tapi okelah, pemanjaan mata habis-habisan mungkin sangat cukup untuk mengangkat nilai film ini. Beberapa adegan favorit gw adalah tari kecak penunjuk arah di Candi Gunung Kawi (of course), adegan pernikahan yg dikelilingi tarian memutar kaum Sufi, Otta si ksatria berkulit hitam yg jatuh tapi ditopang puluhan panah di punggungnya (oops), dan adegan sumur bertangga segitiga, plus adegan klimaks yg selang-seling antara dongeng dan realita, hehe. Boleh dibilang, meski keuntungan finansialnya diragukan, pengorbanan Tarsem dalam "memperjuangkan" The Fall tidaklah sia-sia bila ditilik (aih..ditiliiik) sebagai sebuah karya seni.

Amanah yg bisa diambil dari film ini: life goes on, man, nggak usah lebay dah! ^m^'


My score: 7,5/10


Beberapa dari konon 18 negara lokasi syuting film ini (kayaknya ada sebagian yg cuman 1 detik munculnya hehehe) http://en.wikipedia.org/wiki/The_Fall_%282008_film%29 atau http://www.imdb.com/title/tt0460791/locations




2 komentar:

  1. ini adalah salah satu film terbaik yang pernah kutonton dalam hidupku (yang lainnya Seven Samurai dan Spirited Away).
    speechless. cuma sayang aku beli VCD-nya, dan kualitas gambarnya mengecewakan. kayaknya aku harus beli blue-ray deh

    BalasHapus
  2. @semuareview: hiks, blum sanggup beli perangkat blu-ray dan discnya...T_T

    BalasHapus