Sabtu, 23 April 2011

[Movie] Invictus (2009)


Invictus
(2009 – Warner Bros.)

Directed by Clint Eastwood
Screenplay by Anthony Peckham
Based on the book "Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game that Made a Nation" by John Carlin
Produced by Lori McCreary, Robert Lorenz, Mace Neufeld, Clint Eastwood
Cast: Morgan Freeman, Matt Damon, Tony Kgoroge, Adjoa Andoh


Dalam rangka menambah wawasan sinema gw *prett*, gw akhir2 ini lagi mengusahakan lebih sering nonton film2 yg terlewatkan oleh gw ketika film2 itu lagi hit2nya. Entah karena kebetulan atau sebenarnya gw adalah penggemar di alam bawah sadar, gw menonton dua film yg dilakoni Matt Damon secara berdekatan, dua film tersebut pun ternyata diterbitkan sama2 tahun 2009, sama2 mendapat tanggapan positif secara umum, dan sama2 berawalan “in” (uh-huh), yaitu The Informant! (review terpisah) dan Invictus ini. Invictus mungkin lebih high profile karena menceritakan tentang tokoh besar dunia, pejuang anti diskriminasi dan juga mantan presiden berkulit hitam pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela. Namun bukan berupa biografi biasa, Invictus mengambil sepenggal kisah sepak terjang Nelson Mandela di awal pemerintahannya sebagai presiden Afrika Selatan yang ternyata berbicara banyak tentang tokoh ini.

Pasca dilantik sebagai presiden di Afrika Selatan, negara yg selama ini mempraktekkan apartheid, yaitu diskriminasi antara ras Eropa (yg menguasai pemerintahan) dan ras pribumi Afrika, Nelson Mandela (Morgan Freeman) merasa terpanggil untuk menyatukan 2 kubu yang selama ini hidup terpisah dan dipisahkan secara politik maupun sosial itu. Mandela mengawalinya dari kantor kepresidenannya, meski menimbulkan keheranan dan keseganan beberapa pihak, ia tidak serta merta “mengusir” staf berkulit putih, ia juga menggabungkan paspampres dari presiden lama yg berkulit putih, dengan staf keamanan bawaannya yg berkulit hitam. Namun ia pun terpanggil untuk lebih jauh lagi untuk menyatukan bangsanya yang menurutnya masih belum memiliki rasa kesatuan. Mandela lalu mengarahkan pandangannya pada tim rugby nasional Afrika Selatan, yang dijuluki Springbok—yang hanya punya 1 anggota tim yang berkulit hitam, yang belum punya prestasi yang membanggakan. Lewat pertemuan empat mata dengan kapten timnas, François Pineaar (Matt Damon), Mandela mendukung penuh dan secara tak langsung meminta agar Springbok untuk sebisa mungkin meraih Piala Dunia rugby, apalagi kali itu (1995) Afrika Selatan menjadi tuan rumahnya. Tak hanya itu, Mandela meminta Springbok untuk meng-humas-kan timnas rubgy dan permainan rugby itu sendiri—yang hanya digemari kaum kulit putih—kepada rakyat yang berkulit hitam. Apakah ini cara yang tepat untuk mempersatukan seluruh rakyat Afrika Selatan?

Bisa dibilang Invictus ini film dengan genre dual-layer (hehehe, emangnye keping DVD), ia adalah genre biografi—yang bukan tokoh olahraga—sekaligus genre olahraga. Sinergi dua jenis ini diramu dengan apik lewat naskah dan penyutradaraan yang lancar dan tepat sasaran (walau belum istimewa banget2 sih). Gambaran bagaimana keadaan Afrika Selatan, terutama pada masyarakatnya setelah Nelson Mandela jadi presiden (masih ada sisa2 sentimen apartheid, yang ras kulit putih masih enggan dengan pemerintahan dipimpin orang berkulit hitam—terlihat dari ortu nya François tiap nonton TV, yang ras kulit hitam juga sinis dan anti dengan segala yang berhubungan dengan simbol kekuasaan ras kulit putih—termasuk tim Springbok...bahkan kedua kubu punya bendera dan lagu kebangsaan masing2), reaksi rakyat Afrika Selatan dengan kepemimpinan presiden barunya, serta seperti apa sosok Mandela itu sendiri sehingga menjadi tokoh yg dikagumi banyak orang, baik dalam menjalankan pemerintahan maupun secara personal. Selain itu, film ini juga menceritakan pergumulan François sebagai kaptem timnas yang harus tegar mengemban harapan sang presiden sekaligus menghadapi tekanan pesimistis media massa, masyarakat bahkan anggota timnya sendiri. Semuanya itu ternyata bisa dirangkum rapi hanya lewat sebuah momentum Piala Dunia rugby 1995. Nilai plusnya lagi, dengan penggabungan dua genre itu, film ini jadi punya “klimaks” yang lebih berasa daripada film2 biografi biasa, sehingga sembari menyajikan pengetahuan dan insipirasi lewat dramatisasi tokoh dan sejarah, film ini juga jatuhnya cukup menghibur, at least buat gw.

Menyertai cerita yg oke, opa Clint Eastwood dengan baik hati menampilkan adegan2 yang membumi dan believable dalam gambar2 segar dipandang. Namun lebih daripada itu, kunci dari sebuah film biografi adalah tokoh utamanya, dan oh my lord, Morgan Freeman sempurna menjiwai diri Nelson Mandela yang berwibawa dan know-what-he's-doing, tapi bersahaja dan kadang jenaka itu—dan yup, penonton akan melihat dia pake baju batik =). Gw pernah beberapa kali liat pak Mandela di televisi, namun melihat opa Morgan (tolong “opa”nya jangan dihilangkan, bisa salah persepsi, apalagi bagi adik2 remaja =P) gw hampir percaya bahwa dialah Mandela. Tak hanya dari kelihaian public speaking serta karismanya, tapi juga sisi kemanusiaannya digali sangat baik, great preformance indeed. Aktor lainnya yang kebanyakan aseli Afrika Selatan pun bermain baik, juga untuk Matt Damon yang semakin ke sini semakin biasa bermain bagus, tidak over-acting namun tetap bisa memberi “isi” bagi tokohnya yang sebenarnya tidak banyak bicara itu.

In short, gw suka Invictus ini. Gambaran tentang Nelson Mandela mungkin tidak menyeluruh tetapi cukup vital, apalagi tentang gaya kepemimpinannya. Pun ide yg disampaikan bahwa “cuman” pertandingan olahraga bisa mempersatukan bangsa, yang bagaikan harapan berlebihan, it actually kinda work, don’t you think? Inspiratif dan enak ditonton, itulah Invictus ini. Tolong pinjamkan film ini sama bapak2 dan ibu2 di pemerintahan kita itu *ciee sok kritis ni ye*.



My score 7,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar