Kamis, 27 Agustus 2009

[Movie] District 9 (2009)


District 9
(2009 - TriStar)
Directed by Neill Blomkamp

Screenplay by Neill Blomkamp, Teri Tatchell

Produced by Peter Jackson, Carolynne Cunningham

Cast: Sharlto Copley, Jason Cope, David James, Vanessa Haywood, Louis Minnaar


Meski bertema alien, District 9 bukanlah termasuk film mahal dengan strategi marketing heboh seperti film2 musim liburan lainnya. Lucunya, walau tanpa bintang terkenal, tanpa backingan studio besar, setting serta sebagian krunya adalah dari Afrika Selatan (yg jarang banget jadi setting film apapun, apalagi alien2an),
budget “hanya” sekitar 30 juta dolar dan berbekal nama sang produser, Peter Jackson (produser dan sutradara film2 kecil berjudul Lord Of The Rings 1,2,3 dan King Kong ^_^’), film ini ternyata nggak kalah heboh buzz-nya karena kabar mulut ke mulut (dan Twitter) dari orang2 yg sudah menonton dan merasa puas. Biasanya, film yg terkenal dengan cara seperti itu memang lebih terjamin daripada yg ngaku2 besar, mahal, spektakuler, bahkan megafilm (wah…film apa tuh? *padahal gw blum nonton*) tapi ternyata filmnya sendiri memble. District 9 kembali membuktikan bahwa hal itu benar adanya (atau ada benarnya?).

Tahun 1980-an, sebuah UFO besar tiba2 mangkal cukup rendah di langit Johannesburg, Afrika Selatan. Tak ada aktifitas selain melayang di atas awan, pemerintah beserta Multi-National Union (MNU…paralel nya UN/PBB mungkin) menerabas masuk dan menemukan makhluk2 asing yg bentuknya mirip udang versi tinggi dan berkaki (maka disebut “prawn”) mengerumun di dalam UFO itu. Dinilai tak terurus terlunta-lunta, disediakanlah rumah2 pengungsian bagi mereka di atas bumi Johannesburg. 20 tahunan para
prawn hidup di kawasan yg disebut District 9 ini, tapi karena perbedaan cara hidup (ya iyalah, kita makan daging sapi, mereka makan kepala sapi mentah2, mnurut loe?) dan dianggap membahayakan, maka District 9 dipagerin dan para prawn ini gak boleh keluar ke kawasan “manusia”. Lama2 kawasan penuh alien ini jadi kumuh dan benar2 liar. Karena tekanan dunia terutama soal HAA (hak asasi alien, hahaha, ngarang aja gw), para prawn ini rencananya akan dipindahkan ke kawasan yg “lebih layak”. Jelas nggak semuanya mau. Di sinilah cerita dimulai.

Wikus van der Merwe (Sharlto Copley) adalah petugas MNU yg harus mendapatkan “tanda tangan” persetujuan para
prawn untuk pindah, sekaligus inspeksi barang2 ilegal. Di sebuah gubuk prawn ia menemukan sebuah laboratorium, dan ada kecelakaan kecil terjadi ketika Wikus menemukan sebuah tabung kecil (kayak foam cukuran) tapi isinya muncrat ke mukanya. Little he knew, Wikus terkontaminasi zat yg ternyata membuatnya berangsur-angsur berubah jadi prawn, dimulai dari tangan kirinya. Mengetahui ini, pihak MNU berencana menjadikan dia objek eksperimen dan mengambil semua organ tubuhnya untuk diteliti. Wikus kemudian berhasil kabur, jadi buronan nasional (dengan tuduhan dia melakukan interaksi seksual dengan prawn…ewwh). Gak ada tempat baginya untuk sembunyi, di rumah juga gak bisa, secara mertuanya itu petinggi MNU, maka dia nyelonong ke District 9.

Wikus kemudian bertemu dengan
prawn bernama Christopher Johnson (don’t ask how he got the name. Diisi suaranya oleh Jason Cope) dan anaknya yg kecil, yg kalo kata kritikus Roger Ebert adalah dua prawn yg paling “beradab” di film ini, yg ternyata adalah pembuat tabung sumber malapetaka Wikus itu. Dia butuh tabung itu untuk bahan bakar pesawat kecil yg tertanam di bawah rumahnya agar bisa terbang ke UFO nya lalu pulang ke planet asalnya. Christopher juga mengaku bisa menyembuhkan Wikus, dan mau aja, tapi dengan syarat tabung yg kini disita di lab MNU itu didapatkannya kembali. Berbekal kenekatan, Wikus dan Christopher berdua menerobos lab MNU dengan “senjata alien” yg mereka peroleh dari gangster Nigeria di District 9, dan berusaha demi tujuan mereka masing-masing sambil dikejar2 tentara MNU pimpinan Koobus (David James) yg nggak ketulungan sadisnya, because nothing is always easy.

Jangan anggap sebelah mata film yg boleh disebut produk Afrika Selatan ini. Dengan naskah yg baik dan presentasi yg agak potong pinggir (
cutting edge ^_^’), District 9 sangat layak tonton, kecuali yg gak suka adegan cenderung kerasm kejam dan agak jijik. Film ini diceritakan kayak tayangan dokumenter Fakta atau Metro Realitas, dengan wawancara beberapa ahli dan footage2 TV dan CCTV (tapi yah ini versi bo’ongan lah), tapi nggak sepanjang durasi 112 menit gitu doang, tetep ada “kamera” yg ngikut Wikus kemana dia pergi seperti film pada umumnya. Gabungan 2 gaya ini ngingetin gw sama Cloverfield campur Slumdog Millionaire. Adegan action yg cenderung sadis ditampilkan cukup keren dan memuaskan. Sang pemeran utama, Sharlto Copley dengan logat Afsel yg jelas lebih otentik daripada Leonardo DiCaprio di Blood Diamond, tampil “gila” alias luar biasa meyakinkan sebagai Wikus yg agak sedikit dodol dan panik, padahal ini film pertamanya dan dia bukan aktor secara profesi (but I think he should consider it though). Tapi yg paling maksimal mnurut gw adalah visual efek yg nggak keliatan kayak visual efek. Semua prawn murni CGI, tapi dengan tekstur dan pencahayaan sedemikian rupa, keliatan bener2, betul2, sangat2 kayak beneran. Manteph abis dah!

Diceritakan dengan laju cepet banget, tapi anehnya gw ngerti apa isi ceritanya. Konon ide dasarnya terinspirasi politik apartheid yg diterapkan di Afsel dulu, yg membedakan hak dan kewajiban warga kulit hitam dan bule. Yg gw kepikiran adalah bagaimana sebenernya para
prawn itu punya kemampuan dahsyat dan bisa mengalahkan manusia dengan mudah, senjata alien nya aja bisa ancurin seluruh badan orang sekali tembak (!), tapi selama ini entah kenapa mereka nurut aja sama manusia, malah manusianya yg jadi lebay (gw ngerti sih kenapa, they’re aliens, we don’t understand them). Mungkin krn sebenarnya mereka hanya ingin pulang? Entahlah, nggak dijelasin. Banyak juga sih aspek yg nggak masuk akal (gw masih nggak ngerti gimana caranya manusia yg berbahasa Inggris berkomunikasi dengan prawn yg berbahasa pletak pletok apaan tau), tapi film ini tetep punya intensitas wahid, mata gw gak bisa lepas dari layar. Dan btw, endingnya tidak klise, tapi mungkin belum tentu memuaskan semua penontonnya. Gw sih fine2 aja.

District 9 sepertinya cukup sukses mempermalukan film2 Hollywood masa kini yg belakangan ini banyak yag tidak tau caranya memanfaatkan biaya untuk membuat karya yg baik dan bermakna. Film ini punya originalitas tanpa harus keteteran di segi teknis. Beberapa kekurangannya bagi gw adalah nilai
entertainmentnya yg memang absen akibat tema yg serius (sebagaimana seharusnya sih, bukan sok serius), serta gw gak habis pikir tokoh Wikus begitu reaktif sehingga sering tanpa ragu menghabisi sesamanya manusia, segitu desperate-nyakah dia? Dan lagi, kenapa juga para prawn harus menukar persenjataan mereka yg lebih canggih dengan senapan ala bumi dari mafia Nigeria? Nevertheless, ini adalah salah satu film paling stand-out tahun ini, skalian bisa belajar ngomong f**k dalam logat Afsel, like this: fok! Hehehe.



my score:
7,5/10

6 komentar:

  1. I love this movie!! One of the best sci-fi movie of the year, walaupun tema yang diangkat sebenarnya apartheid... duh, love it!

    BalasHapus
  2. agree, dari film2 tahun ini yg gw tonton, ini salah satu yg terbaik.

    Kayaknya bakal jadi cult hit nich, keliatan di twitter, penggemarnya udah fanatik ajah ^-^

    BalasHapus
  3. Neil Blomkamp suka bikin pilem2 pendek. COba cari di youtube. Keren keren..

    Pilem dokumenter Alive in Joberg misalnya; adalah prototip pilem District 9..

    BalasHapus
  4. @masova: wah nanti dicek deh
    terima kasih sudah mampir
    *abis liat site-nya masova, karikatur2nya lucu ^-^*

    BalasHapus
  5. pletak pletu pletoo totototok..

    artinya : makasi dah bahas pelem tentang bangsa kami..

    BalasHapus
  6. @anonim: tuk pletuk tak tk tk tk

    Artinya: sama-sama, trima kasih udah mampir
    ^o^ v

    BalasHapus