Minggu, 31 Desember 2017

Year-End Note: My Top 10 Films of 2017


And finally, gw akan menggelar senarai 10 film terfavorit gw, yaitu film-film yang udah gw tonton *yaiyalah* yang dirilis di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2017. Seperti biasa, penyusunannya tidak selalu berdasarkan "terbaik" atau tinggi-tinggian nilai, tetapi lebih kepada tingkat kepuasan gw saat menontonnya, atau yang selalu keingat, atau bahkan yang tetap mengesankan atau at least menyenangkan ketika ditonton ulang, sekalipun belum sempat-sempat juga ditulis review-nya *eh*.

Namun, sebelum itu, gw akan menyampaikan 5 film runner-up alias special mention yang kebetulan tidak sampai di 10 besar. Mereka akan gw sebut dalam urutan abjad.




The Great Wall, directed by Zhang Yimou
Ringkas, nggak macem-macem, seru, megah, gambar cakep, dan  representatif-diplomatis soal budaya. Film ini keren. Apelu apelu…=p

The Greatest Showman, directed by Michael Gracey
Interpretasi biografi tokoh nyata dalam bentuk musikal yang ringan, menyenangkan, menghangatkan, berwarna, dan lagunya ena-enaa…

Hidden Figures, directed by Theodore Melfi
Membicarakan rasisme lewat kisah orang-orang tersembunyi di balik proyek antariksa NASA, dengan style yang cerah dan optimis, tanpa kehilangan fungsi menginspirasi.

Kong: Skull Island, directed by Jordan Vogt-Roberts
Kong yang bad-ass, visual keren, penuturan yang berenergi, tensi yang terjaga, pokoknya rollercoaster ride yang seru. Pencapaian yang sangat baik untuk ukuran upaya ngeruk duit dari materi lawas hehe.

Karena kita semua butuh kisah blockbuster baru dan fresh, dan film ini menyajikan itu. Meski ada kekurangan *uhuk pemain uhuk*, visual fantastis dengan kisah yang nggak dangkal bikin gw cukup kesengsem sama film ini.





Baiklah, silakan scroll untuk melihat 10 film terfavorit gw tahun 2017 ini. Dalam urutan mundur ya.








10. Split
directed by M. Night Shyamalan

Sekali lagi gw katakan, keahlian M. Night Shyamalan bukan pada bikin the-so-called "twist", tetapi pada pengarahan yang tidak seperti sutradara komersial kebanyakan. Memasukkan tokoh berkepribadian jamak dalam genre thriller-horor, Split membawa kembali Night pada tuturan cerita berkonsep besar dalam lingkup yang kecil, dan justru di situlah misteri dan ketegangan berhasil dibangun tanpa harus berbelit-belit.






9. Kartini
directed by Hanung Bramantyo

Gw senang ada biografi seperti ini. Bukan cuma cerita tentang seseorang dan pencapaiannya, dan informasi-informasi terkait. Melainkan juga ada pemikiran, ada kegelisahan, ada kelemahan, dan, secara filmis, ada imajinasi dan interpretasi. Film Kartini jadi beda karena berhasil mengajak gw yang hidup di masa kini menyelami kehidupan terdalam Kartini, dan memahami kenapa kisahnya tetap relevan sampai sekarang.






8. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak
directed by Mouly Surya

Sebuah unjuk ide dalam berbagai simbol, tapi mampu berjalan sebagai kisah yang utuh tanpa bikin bingung. Pemilihan lokasi dan budaya menimbulkan kesan anakronistik, ada rasa ganjil tapi nevertheless indah.






7. Arrival
directed by Denis Villeneuve

Agak selow for my taste, namun pemaparan konsep ceritanya menurut gw sangat baik, dan misterinya juga dibangun dengan rapi, ditambah pembawaan karakter yang emosional. Apalagi, film ini mengambil satu sisi yang jarang diangkat dalam film-film tentang kedatangan alien: linguistik. Hehe.






6. Baby Driver
directed by Edgar Wright

Mungkin bukan favorit gw dari sutradara Edgar Wright, tetapi ide gila menggabungkan laga kriminal dengan romansa dengan musik—sampai ke gerak-gerik adegannya juga harus sesuai musiknya—jelas haram untuk diabaikan. Bahwa ide gila itu disajikan dengan apik dan asyik membuatnya semakin layak untuk diingat.






5. Wonder Woman
directed by Patty Jenkins

Di luar "politik" bahwa ini film superhero berbujet raksasa yang diarahkan sutradara wanita, dan Gal Gadot emang cuakep.bangett, buat gw Wonder Woman adalah salah satu  film DC Comics masa kini yang ceritanya paling nggak ribet, tetapi itulah yang bikin nikmat ngikutinnya. Film yang ringan namun dikemas dengan berkelas, serta nggak grasa-grusu dalam membangun sosok si superhero, malah bikin pengen menantikan aksi-aksi selanjutnya.






4. Pengabdi Setan
directed by Joko Anwar

Baik dalam genrenya, maupun dalam lingkup film nasional tahun ini, Pengabdi Setan versi baru ini menurut gw adalah yang terunggul. Tak cuma dari craftmanship produksinya yang sangat mumpuni, penulisan dan worldbuilding yang cermat, karakterisasi kuat, ataupun kejagoannya mempermainkan rasa takut penonton. Tetapi film ini juga punya daya pikat yang berdampak hebat, bagaimana berbagai momen dan unsur film ini bisa mudah nyantol di ingatan dan jadi bahan pembicaraan yang asyik. 






3. Coco
directed by Lee Unkrich

Ada kelegaan ketika Pixar mempersembahkan sebuah karya yang tidak hanya bertumpu pada high concept atau terlalu kelihatan metafora yang berat-berat. Coco buat gw adalah film Pixar yang paling enak banget dinikmati di beberapa tahun belakangan, dengan kisah tentang keluarga, musik, serta tradisi yang konsepnya terbilang sederhana (ya mungkin karena kita juga datang dari budaya yang percaya afterlife), tetapi mampu memunculkan banyak makna yang dapat ditangkap semua kalangan. Bangunan mitologinya rapih, porsi lucu dan harunya kena, pokoknya tanpa terlalu banyak mikir ini itu, hanya pure joy, namun nggak mengabaikan bobot. Dan animasi cantek dan canggihnya Pixar jelas semakin mengangkatnya.






2. Silence
directed by Martin Scorsese

Kalau nonton film nyaris setengah jam pas midnight tapi masih bikin melek dan bahkan engaged, padahal filmnya drama cukup berat dan tak satu pun adegannya yang uplifting, berarti minimal film tersebut bernilai istimewa. Dan memang, di tengah nilai produksi dan sinematografi yang kelas atasnya atas, pada akhirnya film ini paling menohok dari cerita yang diangkat, serta penuturannya yang nggak neko-neko. Di satu sisi ini jadi semacam gambaran intens tentang perjuangan mempertahankan iman di tengah aniaya fisik dan psikologis terstruktur nan kejam, namun di sisi lain juga menjadi gelaran diskusi argumen kedua pihak yang terpapar jeli.











1. La La Land
directed by Damien Chazelle

Seperti sudah lama tidak seterkesan ini saat menonton sebuah film di bioskop. Nonton tanpa ekspektasi terlalu tinggi—karena seklias kelihatan ini adalah musikal dengan produksi yang lebih low-key dan nggak seakbar Moulin Rouge atau bahkan Mamma Mia. Toh emosi gw tetap teraduk saat menonton dari detik pertama hingga akhir. Nggak hanya dari gerak dan lagunya yang sampai sekarang masih lumayan menghantui gw, tetapi juga oleh karakter dan arah cerita yang dengan mudahnya merusak pertahanan skeptisisme, baik secara logika maupun rasa, sampai-sampai selalu teringat sukacita saat menontonnya pertama kali itu. Saking puas lahir batin, gw merasa berutang pada diri sendiri untuk mengulang nonton selama masih diputer di bioskop, walau akhirnya hanya sampai ke kali kelima saja heuheu.





That's it for 2017. Happy new year guys!!

2 komentar:

  1. Wuehh Dunkirk nya Nolan gamasuk(?) Even yg di special mention,tapi masalah selera sii

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya sempat masuk radar, mungkin kalau sampai 20 besar akan muncul =)
      *tapi berarti postingannya akan lebih panjang, hehe*

      Hapus