Jumat, 10 Maret 2017

[Movie] Kong: Skull Island (2017)


Kong: Skull Island
(2017 - Warner Bros./Legendary)

Directed by Jordan Vogt-Roberts
Screenplay by Dan Gilroy, Max Borenstein
Story by John Gatins, Dan Gilroy
Produced by Thomas Tull, Mary Parent, John Jashni, Alex Garcia
Cast: Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, Brie Larson, John Goodman, Toby Kebbell, John C. Riley, Corey Hawkins, Jing Tian, John Ortiz, Shea Wingham, Thomas Mann, Jason Mitchell, Eugene Cordero, Marc Evan Jacobs, Richard Jenkins, Miyavi, Will Brittain, Terry Notary


Lagi dan lagi, remake atau reboot atau reimagined lagi. Dibilang bosan ya gimana, angka membuktikan demand untuk daur ulang atau perpanjangan materi lama lebih menjamin diminati penonton daripada yang lebih baru. Untuk kasus King Kong sebenarnya agak lebih wajar, karena monster gorila raksasa ini termasuk ikon sinema dunia sejak 1933 (!)—bahkan namanya sudah jadi bagian dari percakapan sehari-hari sekalipun dalam konteks untuk ngatain orang *jangan ya, adik-adik, itu tidak baik =)*. Dalam sejarahnya King Kong juga sering didaurulang dalam berbagai bentuk, terakhir oleh Peter Jackson dalam film King Kong (2005) dengan efek CGI mutakhir saat itu—but seriously those giant leeches are big time nggilani iyuh. Lalu Legendary hendak menyegarkan sosok ini dalam kisah yang entirely baru dalam Kong: Skull Island. Dibilang baru karena, menariknya, film ini akan jadi satu semesta dengan film-film monsternya Legendary lainnya, yang sudah dimulai oleh Godzilla versi 2014.

Kong: Skull Island mengambil latar 1970-an, ketika masih perang dingin dua negara adidaya Amerika Serikat vs Uni Soviet, dan ideologi mereka liberal vs komunis. Salah satu perang dingin mereka ada di bidang pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi, you know siapa duluan yang menemukan apa atau menciptakan teknologi apa, itu matters untuk menentukan negara mana yang lebih unggul. Dengan semangat yang sama, perusahaan Monarch pimpinan Bill Randa (John Goodman) akhirnya dapat meyakinkan pemerintah AS untuk mendukung ekspedisinya ke sebuah pulau misterius yang belum tergambar di peta dunia. Monarch yang membawa para peneliti kemudian mengajak seorang ahli pelacakan alam James Conrad (Tom Hiddleston), seorang fotografer perang Mason Weaver (Brie Larson), serta kawalan militer pimpinan Kolonel Preston Packard (Samuel L. Jackson), yang baru saja mengakhiri tugasnya di perang Vietnam. Mengarungi tantangan alam, rombongan akhirnya bisa menemukan dan masuk ke langit pulau yang disebut Skull Island itu. Akan tetapi, baru juga sampe, mereka sudah berhadapan sama gorila raksasa yang mencerai-beraikan posisi mereka. Kini masing-masing kelompok harus berusaha keluar dari pulau itu dengan peralatan seadanya, serta ancaman dari segala sesuatu makhluk di pulau itu, karena si gorila bukan satu-satunya makhluk yang berbahaya, dan yang raksasa di sana.

Okay, dibilang olahan baru juga ternyata nggak juga. Kong: Skull Island ini memang ceritanya nggak sama persis dengan cerita King Kong yang lebih dahulu, tetapi lebih memakai pola lain tentang sekelompok manusia "berpetualang" di tengah-tengah tempat terpencil yang penuh ancaman monster-monster yang tak mereka kenali—Jurassic Park-ish gitu. Dari awal film ini punya cerita dan rupa-rupa karakter yang cara perkenalannya waduh standar banget, dan somehow dari sini kita mulai bisa kira-kira siapa saja yang bakal mati duluan dan mana yang bakal selamat, sebagaimana pola film-film seperti ini. Lalu muncul poin manusia-manusia ini berantem sendiri mengenai sikap terhadap si monster, ada yang mau langsung saja lawan secara agresif, dan ada yang lebih memilih berkompromi bagaimana pun caranya biar bisa selamat. Dan, tentu saja ada segelintir percikan romansa di antara beberapa karakternya. Rutin.

Namun, apakah itu menghalangi Kong: Skull Island untuk tampil mengesankan? Sekali-kali tidak. Buat gw, film ini sepertinya sadar dengan ke-standar-an materinya, sehingga mengompensasinya dengan kemasan yang menggelegar dan penuh energi, serta yang paling penting, melayani keinginan sederhana penonton melihat aksi para monster, sebagai pertunjukkan utama—mana yang mau filmnya jadi kontemplasi psikologis spirtual 'kan =P. Berbeda dengan Godzilla versi 2014 *bihihik*, Kong: Skull Island dengan murah hati memperlihatkan keperkasaan Kong dan para monster secara jelas dan mostly terang benderang di alam terbuka, dan sering. What else can you ask for? Film ini juga masih memegang pakem bahwa Kong sebenarnya monster protagonis yang kerap disalahpahami oleh keangkuhan manusia, dan dalam film ini karakteristik Kong tersebut semakin diberi ruang, bukan sekadar karena ada karakter perempuan cantik nan lemah sebagai pemicunya. Pokoknya, untuk sebuah film yang berjudul Kong, film ini memperlakukan "beliau" dengan layak. Gw pun beberapa kali ikut bersorak setiap ia bertarung melawan makhluk-makhluk yang lancang menantangnya =).

Sementara penggarapan bidang lain juga menurut gw nggak kalah menarik. Gw kesengsem banget sama penataan gambarnya—dari sinematografi, desain produksi, efek visual, hingga kostum dan rias—yang cakep dan kece dan menebalkan rasa fantastikalnya. Biarpun terkesan "gritty" dari segi cerita, namun film ini cukup lihai dalam memainkan warna, sehingga enak banget untuk dipandang dan menimbulkan excitement—dan seolah sutradaranya berguru sama Zack Snyder berhubung mengajak penata sinematografi yang sama, Larry Fong hehe. Dan, yang penting bisa menyokong keraksasaan sosok Kong. Laju filmnya juga lincah tanpa berlama-lama pula tanpa terburu-buru, ditambah keseimbangan humor dan thrill yang megang, ya itu tadi, sepantasnya yang dimiliki sebuah film tentang aksi-aksi para monster raksasa.

Kalau boleh bilang juga, walau plot dan karakterisasinya itu standar, film ini tetap punya cara agar nggak terkesan plek-plek sesuai pakem standar. Sorotoan gw adalah pada timing adegan-adegannya yang seringkali nggak terduga, bahkan urutan korban jiwanya agak random di sini, nggak selalu persis seperti perkiraan sotoy gw di awal, dan cara-caranya cukup kreatif. Kecil sih, namun buat gw itu cukup signifikan dalam membuat film ini tetap segar untuk dinikmati. Pun, kalau mau sok nge-deep, film ini menaruh beberapa elemen tema yang cukup esensial meski seuprit-uprit, terutama kaitannya dengan perang di masa itu. Baik itu soal perang dingin, perang Vietnam, motivasi perang—patriotisme, dendam, atau uang?—hingga perlakuan terhadap penemuan-penemuan baru, baik itu mahkluk dan tempat baru atau kebudayaan baru. Yah, minimal film ini nggak sestandar film-film bencananya Roland Emmerich-lah—yang saking standarnya seringkali terkesan membodohi =p.

Maka dari itu, terlepas dari motivasi mengeruk laba dan atau kekurangan ide yang mendorong eksistensinya, film Kong: Skull Island rupanya mampu tampil sebagai sajian yang layak dihampiri. Film ini berhasil mengetengahkan pengalaman menonton di bioskop yang solid, hiburan sederhana namun megah di teknis audio visual dan asyik dalam bercerita, yang tahun-tahun belakangan nggak selalu sukses dilakukan oleh film-film Hollywood sejenis. Serulah pokoknya.





My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar