Minggu, 20 Mei 2012

My Chronicle of Matt Damon

My Chronicle of... adalah fitur terbaru dari blog ini, yaitu tulisan yang khusus membahas karya-karya para pelaku film yang menjadi perhatian saya. Tulisan ini bertujuan untuk mengingat kembali film-film yang sudah saya tonton yang melibatkan pelaku film tertentu, sekaligus menggambarkan perjalanan bagaimana saya, sebagai penonton, bisa mengenal individu bersangkutan lewat karya-karyanya itu. Saya akan membahasnya dengan pendekatan orang per orang—bisa aktor, sutradara, penulis, produser, komposer, sinematografer, dan lain sebagainya dengan alasan masing-masing—serta memberi komentar atau kesan pada setiap judul film mereka yang sudah saya tonton. Oh ya, supaya sedikit lain dari yang lain, senarai film bukan disusun berdasarkan tahun produksi, tahun edar, ataupun preferensi kesukaan, melainkan dari yang saya tonton lebih dahulu (meskipun ada kemungkinan tidak akurat).

Sebagai postingan perdana, saya akan membahas aktor Matt Damon, salah seorang bintang Hollywood yang saat ini masuk dalam jajaran aktor papan atas akibat relatif sering terlibat di film-film yang terkenal. Akan tetapi, bukan itu alasan utama saya menjadikan dirinya menjadi individu film pertama yang saya bahas. Alasan yang lebih besar justru agak mengherankan, setidaknya bagi saya. Saya secara sadar tidak berpikir Damon sebagai aktor favorit, alih-alih menjadikan keterlibatannya sebagai alasan menonton sebuah film. Hingga kini sudah 17 filmnya yang sudah saya tonton, namun sebagian besar saya berniat menontonnya bukan karena faktor Damon. Kita memang punya kecenderungan untuk sengaja menonton film karena dibintangi aktor yang kita suka, bukan? Namun untuk kasus Damon, yang terjadi malah dia yang selalu muncul di film-film yang saya suka.

Matt Damon

Baiklah, saya perhatikan Damon memang patut disanjung. Sejak tampil di Courage Under Fire (1996, saya belum tonton), aktor kelahiran Boston, 8 Oktober 1970 ini mulai menarik perhatian para sineas pada paruh akhir dekade 1990-an. Namanya melesat melalui film Good Will Hunting (1997, saya belum tonton utuh) yang memberikannya nominasi Oscar untuk pemeran utama pria terbaik—ia menerima piala Oscar untuk naskah yang ditulisnya bersama sang sobat karib, Ben Affleck. Karirnya menanjak perlahan tapi pasti, Damon membuat iri banyak rekan sejawatnya karena kerap menjadi pilihan sineas ternama, mulai dari Francis Ford Coppola, Steven Spielberg, Anthony Minghella, hingga Robert Redford, kebanyakan peran utama pula. Memasuki era 2000-an, ketika namanya dikenal "hanya" sebagai "pemain film" yang bagus, Damon secara mengejutkan meraih status "bintang film" yang menjual setelah membintangi The Bourne Identity (2002), sebuah film thriller laga yang sukses secara komersial sehingga melahirkan dua film lanjutan. Membuat sosoknya sangat identik atau "terjebak" pada tokoh Jason Bourne si assassin amnesia? Tidak, Damon masih terus membuktikan dapat memerankan tokoh apa saja sesuai porsi dan konteks. Alhasil, selain dikenal sebagai bintang film terkenal, Damon masih mampu menjaga bahkan meningkatkan kemampuan aktingnya sehingga masih dapat mengerjakan proyek-proyek high-profile dari para sineas kelas wahid seperti Martin Scorsese, Clint Eastwood, Coen bersaudara, dan Steven Soderbergh.

Damon tampaknya tak perlu khawatir kekurangan proyek jika punya prestasi dan citra demikian cemerlang, dan bila melihat riwayat karyanya, Damon termasuk sangat produktif dengan paling sedikit satu film yang dibintanginya beredar setiap tahun yang rata-rata disambut hangat di pasaran. Padahal, rasanya Damon ini tidak memiliki wajah yang termasuk dalam kategori "tampan" (ini apabila contoh "standar tampan" adalah Brad Pitt atau George Clooney, lagipula ketampanan/kecantikan itu relatif), tinggi tubuhnya juga rata-rata (menurut internet 178 cm, memang terlihat lebih pendek kalau disandingkan dengan Ben Affleck yang 189 cm), namun Damon selalu berhasil meninggalkan kesan dalam setiap performanya, terlihat berkarakter dan keren, talentanyalah yang menjadi nilai jualnya. Baik peran utama maupun pendukung, drama, aksi, maupun komedi, ia dapat membawakannya dengan tepat, menggugah, dan meyakinkan tanpa harus terkesan berusaha terlalu keras. Ditambah lagi, Damon (dan mungkin agennya) tampak pandai dalam memilih proyek film, sehingga reputasinya sebagai aktor berkelas sejauh ini belum benar-benar cidera oleh keterlibatannya dalam film-film tidak penting. Ia tak takut kalau bukan peran utama, tak takut berlaku konyol, tak takut didandani jelek, tak canggung dengan dialek, ia malah selalu tampak nyaman dengan tuntutan-tuntutan itu, akibatnya penonton pun nyaman menyaksikannya, dan produser/sutradara (saya asumsikan) senang mempekerjakannya.

Setelah menyadari bahwa ia salah satu aktor yang paling banyak saya saksikan karya-karyanya, lambat laun saya mulai akui mungkin Damon memang salah satu aktor favorit saya, minimal di alam bawah sadar. Faktor premis, produksi, atau sutradara mungkin tetap jadi pertimbangan utama saya untuk mau menonton sebuah film, namun keterlibatan Damon bisa jadi memperkuat niat itu, lagipula saya tidak bosan atau terganggu dengan setiap penampilan Damon, sebuah karunia yang langka bagi seorang aktor Hollywood yang tergolong laris—namun saya tetap bertekad tidak akan menonton sebuah film hanya karena dibintangi Damon kalau filmnya memang tidak menarik minat saya. Berikut adalah film-film Matt Damon yang sudah saya tonton sekaligus perjalanan saya mengenalnya sebagai aktor, dimulai dari film Damon pertama yang saya tonton hingga yang baru-baru ini.




My Chronicle of  MATT DAMON


1. Titan A.E. (2000)
as Cale Tucker
dir. Gary Goldman, Don Bluth
Film pertama Damon yang saya saksikan ternyata adalah animasi laga fiksi ilmiah berlatar ruang angkasa, Titan A.E. Saya kira film dari para pembuat Anastasia ini lumayan seru, sangat baik menggabungkan teknik animasi gambaran tangan dengan efek-efek visual CGI (Computer-Generated Images) canggih. Sedangkan Damon sebagai pengisi suara sang tokoh utama, sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan keberadaan dirinya karena saat itu saya lebih mengenal pengisi suara yang lain seperti Drew Barrymore dan Bill Pullman, namun seingat saya Damon tidak jelek-jelek amat. Suara dan cara bicara Damon memang cukup khas dan berkarakter, tak pelak Titan A.E. bukanlah proyek terakhir dirinya dalam hal mengisi suara atau voice-over.



2. Ocean’s Eleven (2001)
as Linus Caldwell
dir. Steven Soderbergh
Damon menjadi salah satu dari deretan aktor terkenal yang tergabung dalam proyek all-stars Ocean's Eleven ini, sebuah buat-ulang dari film tahun 1960. Dengan jajaran pemain mulai dari George Clooney, Brad Pitt, Julia Roberts hingga Andy Garcia, Damon di tengah-tengahnya termasuk dapat menempatkan diri dengan baik...oke, pernyataan itu sedikit dusta karena saya sesungguhnya tidak terlalu ingat filmnya maupun karakter yang dimainkan Damon. Seri Ocean memang bukan favorit saya, namun yang pasti sejak Ocean's Eleven inilah Damon mulai melangkah menjadi bintang di milenium baru.



3. The Bourne Identity (2002)
as Jason Bourne
dir. Doug Liman
Saat itu, keraguan muncul apakah aktor serius dengan tampilan fisik yang sekilas mudah diremehkan seperti Damon berhasil jadi jagoan dalam sebuah film laga komersial. Tetapi Damon membungkam keraguan itu lewat The Bourne Identity, peran utama pertamanya di sebuah film laga berbiaya besar. Ia ternyata sanggup tampil meyakinkan saat adu tembak, adu pukul, kejar-kejaran, berbicara dalam berbagai bahasa, namun tak meninggalkan kedalaman akting yang tepat. The Bourne Identity akhirnya mendulang sukses sepantasnya dan dilanjutkan lewat dua film sekuel yang untungnya masih dibintangi Damon.



4. The Bourne Supremacy (2004)
as Jason Bourne
dir. Paul Greengrass
Film kedua Damon sebagai Jason Bourne yang diarahkan oleh sutradara baru. Terlepas dari gaya filmnya yang lebih brutal dan visualnya yang kerap membuat pening, The Bourne Supremacy adalah peningkatan dari film pertamanya, dengan kisah yang lebih gelap, laga yang lebih seru, lebih cepat dan menegangkan, bahkan seperti menjadi patokan gaya film laga generasi baru. Damon memberikan performa yang juga lebih baik dan berkembang sesuai tuntutan naskah, bukan lagi sebagai Bourne yang kebingungan, melainkan Bourne yang terluka. Sejak film ini kita tidak akan melihat Damon sebagai Bourne tersenyum.



5. Ocean’s Twelve (2004)
as Linus Caldwell
dir. Steven Soderbergh
Sama seperti Ocean's Eleven, saya juga tidak terlalu ingat bagaimana film Ocean's Twelve, kecuali bahwa film ini lebih konyol (aduh, bagian Julia Roberts menyamar sebagai Julia Roberts itu meruntuhkan keasyikan film ini) dan latar tempatnya di benua Eropa. Kini dengan status yang lebih terkenal, Damon tetap sanggup mengerjakan bagiannya dengan baik meskipun harus berbagi dengan bintang-bintang yang lainnya. Aktor yang tahu diri tanpa harus rendah diri.



6. Saving Private Ryan (1998)
as Pvt. James Francis Ryan
dir. Steven Spielberg
Saya sudah tahu tentang film ini cukup lama, namun baru benar-benar menontonnya secara utuh sejak membeli DVD-nya sekitar tahun 2005. Saya terkesima akan film perang yang berinti cerita kekeluargaan ini, dengan narasi menyentuh, karakter-karakter simpatik, dan penggarapan suasana perang yang realistis nan mencekam namun mengagumkan, tak heran bila Saving Private Ryan kerap didapuk sebagai salah satu film karya Steven Spielberg favorit, termasuk bagi saya pribadi. Hingga dua per tiga film berjalan, saya baru sadar bahwa ada Damon di sini (padahal di sampul DVD sudah jelas ada dia, saya memang mudah lupa...), sebagai Prajurit Ryan, orang yang harus ditemukan oleh sekelompok tentara yang dipimpin Tom Hanks sejak awal film. Dengan peran dan sisa screen time yang sedikit, Damon dapat tampil maksimal sebagai seorang prajurit muda berdedikasi, dapat menyeimbangkan performa Tom Hanks yang sudah menjadi pahlawan penonton sejak film dimulai (dan kenyataan bahwa dia adalah Tom Hanks), serta menjadi pelengkap yang pantas untuk film sebesar ini.



7. The Departed (2006)
as Collin Sullivan
dir. Martin Scorsese
Entah ini pikiran saya saja atau tidak, di era 1990-an Matt Damon dan Leonardo DiCaprio adalah aktor muda yang sama-sama berbakat namun berada di jalur yang berbeda. Ketika DiCaprio sudah menjadi idola dunia akibat Romeo+Juliet dan Titanic, Damon lebih banyak tampil di film-film produksi independen yang popularitasnya tidak sampai semenjulang DiCaprio. Memasuki era 2000-an, ketika DiCaprio agak vakum, giliran Damon—yang menurut saya karirnya relatif lebih mulus—yang mulai melesat. Hingga akhirnya mereka berdua dipertemukan Martin Scorsese dalam The Departed, sebuah thriller kriminal buat-ulang dari film Hong Kong terkenal, Infernal Affairs. Sama seperti karir akting mereka, karakter Damon dan DiCaprio digambarkan bersejajaran namun di jalur yang berbeda. Ketika DiCaprio dituntut untuk terlihat senantiasa depresi, Damon berhasil membawakan karakter berperangai tenang dan tegas namun menyimpan rahasia kelam. Di film ini pula saya akhirnya mendengar Damon berbicara dalam dialek kota asalnya, Boston.



8. Syriana (2005)
as Bryan Woodman
dir. Stephen Gaghan

Lewat Syriana, yang menggambarkan berbagai aspek dunia pertambangan minyak bumi, menambah catatan Damon bermain di film yang menampilkan banyak karakter (dan ini bukan yang terakhir). Seakan sudah terlatih, Damon terlihat maksimal meski terbatas oleh porsi cerita, memainkan perannya sebagai konsultan ekonomi dalam bidang migas yang mengalami tragedi, menyeimbangkan pembawaan diri sebagai profesional cerdas yang tingkah laku dan tutur katanya terkendali, dengan statusnya sebagai kepala keluarga penuh kasih sayang yang mengalami kesedihan mendalam. 



9. The Bourne Ultimatum (2007)
as Jason Bourne
dir. Paul Greengrass
Cerita yang lebih berkembang, aksi yang lebih seru, lokasi yang lebih menarik, jajaran pemeran yang semakin wahid, The Bourne Ultimatum memang puncak dari seri Jason Bourne dengan segala kelengkapannya. Saya suka sekali film ini sebagaimana adanya, tidak peduli absurdnya Bourne dan tokoh-tokoh lainnya yang terlalu tahan banting. Peran Damon sebenarnya tidaklah berkembang banyak, hanya saja ia kini dituntut beradegan laga lebih banyak dan lebih intens. Namun tetap saja konsistensi Damon layak dipuji, ia tetap bisa menampilkan kedalaman gestur dan emosi pada saat dan tempat yang diperlukan di antara atraksi ketangkasan fisik yang mendominasi film ini.



10. Green Zone (2010)
as Roy Miller
dir. Paul Greengrass
Karena bergenre aksi, disutradarai Paul Greengrass, dan dibintangi oleh Damon yang bersenjata, khalayak tak kuasa menganggap Green Zone sebagai film Bourne dalam setting dan nama tokoh berbeda. Ternyata salah. Film yang bermuatan politis kental ini tidak sama dengan seri Bourne, bobotnya lebih kritis, dan Damon pun berhasil terbebas dari stereotip tokoh Jason Bourne yang sudah telanjur dikenal publik. Berbeda dengan Bourne, di sini tokoh Damon tahu betul siapa dirinya (tentu saja) dan apa yang diperjuangkannya, ia hanya "manusia biasa" yang memiliki keterbatasan dan banyak pertanyaan. Ia lebih manusiawi, namun kekerenan yang dipancarkan tidak kalah dari tokoh Bourne.



11. Invictus (2009)
as Francois Pienaar
dir. Clint Eastwood
Menonton Invictus dan The Informant! inilah yang membuat saya sadar bahwa saya sering sekali melihat film-film Matt Damon, dan menyadari kehebatannya sebagai aktor. Dalam Invictus yang poin utamanya adalah biografi Nelson Mandela (diperankan dengan luar biasa oleh Morgan Freeman) ini, Damon "disuruh" memerankan seorang kapten tim rugbi nasional Afrika Selatan, yang artinya dia harus membentuk tubuh, berlatih rugbi, dan berbicara dalam dialek Afrika Selatan. Betapa setimpal usaha Damon dalam memerankan atlet pendiam ini. Tak hanya sanggup bersinar bersama-sama dengan Freeman, namun juga membuahkan nominasi Oscar keduanya (untuk akting) dalam kategori pemeran pendukung pria terbaik.



12. The Informant! (2009)
as Mark Whitcare
dir. Steven Soderbergh
Tahun 2009 adalah tahunnya Damon untuk unjuk kebolehan dalam berakting, karena ia berperan dalam dua judul film yang berbeda jenis dan berbeda pula tokoh yang dimainkannya. Jika Invictus lebih optimistis dan simpatik, maka The Informant! adalah film biografi berjenis komedi satir. Damon memberikan penampilan terbaiknya dalam film ini sebagai seorang petinggi korporat yang menjadi informan amatir untuk pihak penegak hukum atas kecurigaan adanya kejahatan dalam perusahaannya sendiri. Karakter yang licik, norak, culas, berpenampilan tidak menarik namun rapuh ini dimainkan dengan luar biasa oleh Damon, sehingga merangsang penonton untuk menghina sekaligus iba. Penonton tak perlu repot untuk menghilangkan citra Jason Bourne dari Damon di film ini, ia sudah melakukannya dengan sendirinya.



13. True Grit (2010)
as LaBoeuf
dir. Ethan Coen & Joel Coen
Damon diajak oleh Coen bersaudara bermain dalam True Grit, sebuah kisah balas dendam berlatar Amerika zaman koboi yang pernah juga difilmkan tahun 1969, sebagai seorang penegak hukum yang lurus dan sok keren bernama Ranger LaBoeuf. Lagi-lagi tampilan Damon ditata sedemikian rupa sehingga agak sulit dikenali, dan lagi-lagi Damon memerankan tokohnya dengan apik. Damon sanggup mengimbangi dan bersinergi dengan karisma aktor senior Jeff Bridges maupun kecemerlangan aktris muda Hailee Steinfeld. Keberadaannya begitu impresif sehingga ketika tokohnya sedang tidak ada di dalam cerita, saya merasa kehilangan dan mengharapkan kedatangannya kembali. 



14. Contagion (2011)
as Mitch Emhoff
dir. Steven Soderbergh
Contagion adalah film yang mengesankan bagi saya karena gayanya yang cukup berbeda dalam menuturkan kisah bencana global yang disebabkan sebuah virus mematikan dari berbagai sisi. Mengesankan pula karena Steven Soderbergh kembali berhasil mengajak dan meyakinkan aktor-aktor terkenal untuk rela berbagi layar dan durasi secara merata demi gaya penceritaannya itu. Keterlibatan Damon terbilang tak sia-sia. Selain karena ia sudah biasa dalam film ramai-ramai seperti ini, peran yang didapatnya sebagai suami dari pasien pertama pengidap virus baru adalah yang paling menuntut kedalaman emosi, dan Damon kembali sukses memberikan performa simpatik dan berarti, bahkan bagi saya, salah satu yang terbaik dari jajaran aktor yang ada di dalamnya.



15. The Adjustment Bureau (2011)
as David Norris
dir. George Nolfi
Salah satu kehebatan Damon adalah kemampuannya untuk tampil meyakinkan, membuat penontonnya percaya, apa pun peran yang dibawakannya. Entah sebagai mata-mata, tentara, orang terpelajar, atlet, orang kantoran, ataupun bapak-bapak biasa, saya percaya saja. Saya juga dapat percaya bahwa dia seorang calon gubernur yang disukai publik dalam The Adjustment Bureau ini. Perannya dalam film fiksi-ilmiah bercampur romansa ini sebenarnya agak paralel dengan peran-peran sebelumnya, tidak terlalu istimewa, namun bagaimanapun penjiwaannya sebagai seseorang yang hendak melawan suratan takdir demi orang yang dicintainya demikian alami dan simpatik, jauh dari kata membosankan (gestur berlarinya pun tampak berbeda dengan Jason Bourne).



16. The Brothers Grimm (2005)
as Wilhelm Grimm
dir. Terry Gilliam
Saya agak memaksa menonton The Brothers Grimm demi tulisan ini, namun saya memang sudah memiliki DVD-nya jauh sebelum ide postingan ini tercetus, toh saya membeli film ini karena ingin melihat karya sutradara Terry Gilliam. Damon tidak tampak canggung dalam memerankan salah satu dari Grimm bersaudara yang berprofesi sebagai pengusir makhluk halus bohong-bohongan ini. Ia juga terbilang pas memerankan Wilhelm "Will" Grimm yang lebih supel dan pandai berbicara, pun terlihat kompak dan serasi dipasangkan dengan Heath Ledger—yang bagi saya berakting sedikit lebih baik—dalam film absurd namun lumayan lucu ini. Lewat film ini pula pertama kalinya saya menyaksikan Damon berbicara dalam dialek Britania, atau setidaknya menyerempet dialek Britania karena latar tempat filmnya sendiri di Jerman. Tidak buruk atau mengganggu, malah menambah jangkauan peran Damon sebagai seorang aktor.



17. Hereafter (2010)
as George Lonegan
dir. Clint Eastwood
Satu lagi film yang saya tonton demi melengkapi tulisan ini, meskipun (tetap teguh) ketertarikan saya terhadap film ini adalah Clint Eastwood yang karya-karyanya belakangan ini saya sukai. Walau memasang nama Matt Damon besar-besar di atas judul di poster atau sampul DVD, Hereafter tidaklah dikuasai oleh Damon seorang. Terdiri dari tiga cerita mengenai tiga orang tokoh di tiga tempat masing-masing yang kemudian bertemu di satu titik, Damon hanyalah salah satu dari tiga karakter tersebut, sebagai pria penyendiri yang memiliki kemampuan paranormal namun berusaha menanggalkannya. Ini semakin menguatkan bahwa nama Damon tanpa ragu lagi sudah dianggap menjual. Selain itu, film ini menegaskan satu lagi ciri khas Damon dalam berakting, yaitu memainkan karakter yang memiliki keistimewaan dengan wajar, tulus, dan membumi, yang dapat mengikat secara emosional dengan penontonnya .



5 komentar:

  1. wah postingannya keren, bahas salah satu aktor favorit saya :D overall setuju sih sama yg diomongin di postingan ini (kebetulan hampir semua saya udah nonton), Matt Damon walau mukanya agak kelewat 'good boy' tapi aktingnya versatile dan bisa mainin beragam karakter

    kalo soal filmnya saya sih suka pas di Adjustment Bureau sama The Departed (yg kebetulan ada aktor fav satu lagi, Leo hehehe). kalo yg ga terlalu suka, Syriana sama Hereafter (lebih karena keder nonton filmnya sih). oia, you might want to watch We Bought a Zoo sama Talented Mr. Ripley too :D

    BalasHapus
  2. iya...tontonlah The Talented Mr. Ripley

    BalasHapus
  3. @gemarama: wah ada penggemar Damon di sini. Terima kasih ya responnya, nanti saya akan tambah lagi wawasan film Damon-nya =)

    @soeby cakep: pernah nonton tapi nggak utuh, nanti akan dipertimbangkan. Minghella sih, pasti bikin ngantuk =P hehe

    BalasHapus
  4. bagus ulasannya... bahasanya enak dibaca dan ga hiperbola :P

    saya salah satu penggemar Matt Damon, film2 diatas rata2 sudah saya tonton..

    waktu mau nonton jason bourne sy jg sempet ragu apa damon cocok dengan peran ini... mukanya good boy banget :P
    tp ternyata melebihi ekspektasi saya :)

    he's totally great actor... attitude nya pun bagus bngt, beda sama seleb2 holliwood lainnya...

    thank u ulasannya :)

    BalasHapus
  5. @anonim: terima kasih responnya =))
    satu hal yang saya suka dari Damon adalah dia bisa serius tapi bisa ambil peran santai juga. Coba lihat penampilan konyolnya di beberapa episode serial "30 Rock" season 4 dan 5 =D

    BalasHapus