Minggu, 09 Februari 2020

My Movie Picks of January 2020

Tiap awal tahun, khususnya Januari biasanya adalah bulan yang "aneh" buat rilisan film, terutama bioskop. Antara sisaan film-film bulan Desember yang masih banyak beredar, dan film-film blockbuster terbaru yang agak di-rem perilisannya, sehingga jarang banget yang meledak secara box office. Di lain pihak juga jadi banyak film-film jagoan "award" yang dilemparkan ke khalayak. Nah, dari antara semua itu, manakah yang berhasil meninggalkan kesan signifikan buat gw? Let's see lah..






1. 1917
(2019 - DreamWorks/Amblin/Universal)
dir. Sam Mendes
Cast: George MacKay, Dean-Charles Chapman, Colin Firth, Andrew Scott, Mark Strong, Benedict Cumberbatch, Richard Madden, Claire Duburcq


Sekalipun nggak nge-fan banget sama Mendes, mendengar bahwa doski bikin film perang dengan hanya dengan satu (or should I say, dua) continuous shot bikin gw langsung penasaran. Dengan cerita yang sebenarnya sederhana banget--dua prajurit dari titik A diutus jalan ke titik B melewati berbagai risiko, a.k.a. Saving Private Ryan versi mini, 1917 adalah sebuah demonstrasi kemahiran storytelling dan filmmaking yang mencengangkan. Bagaimana merencanakan sorotan kamera hingga tiap frame jadi tampak sempurna, bagaimana para aktor mengatur emosi agar tetap berkesinambungan, bagaimana merancang blocking dan setting sehingga tidak tampak monoton sekalipun (seolah-olah) tanpa terpotong, dan bagaimana juga tempo cerita terjaga sehingga dinamika adegan yang bekelanjutan tanpa henti itu bisa terasa natural, tanpa kesan diburu-buru atau diseret-seret demi durasi (ya kadang masih berasa sih dikit, hehe). Keheranan-keheranan itu terus berdengung sepanjang film ini, dan membawa gw pada kesimpulan bahwa ini salah satu film masa kini yang dibuat dengan ambisi besar dan terbukti sanggup memenuhi ambisi itu.
My score: 8/10






2. Klaus
(2019 - Netflix/SPA Studios)
dir. Sergio Pablos
Cast: Jason Schwartzman, J.K. Simmons, Rashida Jones, Will Sasso, Joan Cusack, Norm MacDonald


Sebuah versi alternatif dari asal usul mitos Santa Claus yang dibuat dengan cukup berbeda. Dengan tradisi konsep seperti Disney klasik, film ini menggabungkan hikayat Santa dengan kisah perjalanan seorang pemuda yang mengalami perubahan hidup dan menemukan jati diri, tentu saja dengan gaya komikal. Sekilas nampak dark karena warna visualnya memang tidak serba cerah ceria, namun nggak menghalangi film ini untuk menunjukkan kualitas teknik animasinya yang halus sekalipun "hanya" 2D, desain gambar yang indah nian, karakter-karakter yang menarik, humor yang elegan, dan terutama cerita yang punya hati. Dan, gw juga suka bahwa pada akhirnya ini bukan soal menebalkan Santa Claus sebagai sosok, tetapi pada misi yang dikerjakannya, karena itulah yang sebenarnya lebih penting untuk diingat dan diwariskan.
My score: 8/10






3. Bombshell
(2019 - Lionsgate)
dir. Jay Roach
Cast: Charlize Theron, Nicole Kidman, Margot Robbie, John Lithgow, Allison Janney, Kate McKinnon, Connie Britton, Malcolm McDowell, Mark Duplass


Dalam tujuannya sebagai representasi kisah nyata pengungkapan skandal pelecehan seksual seorang petinggi stasiun televisi Fox News di Amerika terhadap para pegawai wanitanya--yang kemudian juga mendorong pengungkapan serupa di lembaga-lembaga bidang lain, Bombshell terbilang bisa memberikan berbagai informasi cukup komprehensif. Keputusannya untuk disajikan dalam alur lincah dan sentuhan dark humour menjadikan film ini nggak terlalu berat untuk dinikmati, walau juga terasa pahit saat menyaksikan momen-momen pilu pengalaman para korban. Di satu sisi gw agak menyayangkan tone lincah yang di-set di awal tadi agak hilang di pertengahan hingga akhir. Namun, untungnya gw nggak sampai kehilangan tujuan utama kisah ini diceritakan, apalagi para pemeran utamanya sanggup memberi penampilan super-prima sepanjang film.
My score: 7,5/10





Senin, 20 Januari 2020

My Movie Picks of December 2019

Baiklah, setelah keriuhan senarai akhir tahun usai, mari kita kembali ke senarai rutin bulanan. Biasanya akhir tahun tuh rilisan film terbaru nggak sebanyak bulan-bulan lain, tetapi justru yang paling jadi unggulan, baik dari segi box office maupun yang pemancing awards. Dan kayaknya itu kembali tercermin dari film-film yang gw tandai sepanjang Desember 2019 ini, sampai ada enam plus satu judul. Makanya ngeposting ini agak lama hehehe *lagi-lagi alesan*






1. Knives Out
(2019 - Lionsgate)
dir. Rian Johnson
Cast: Daniel Craig, Ana de Armas, Jamie Lee Curtis, Chris Evans, Christopher Plummer, Don Johnson, Toni Collette, Michael Shannon, Katherine Langford, Lakeith Stanfield, Jaeden Martell, Noah Segan, Edi Patterson, Riki Lindhome, K. Callan


Kisah misteri detektif-detektifan dengan mengundang banyak nama aktor-aktris terkenal sepertinya harus terus banyak dibikin deh. Knives Out sendiri adalah kisah orisinal dalam tradisi karya misteri Agatha Christe, namun dengan suntikan tema-tema kontemporer dan, sebagai bumbu penyedap penting, humor gelap. Diawali dengan "standar" kasus kematian seorang patriarch kaya raya yang menimbulkan berbagai misteri, pertanyaan muncul mulai dari penyebab kematiannya, hingga warisannya jatuh ke siapa--macam kasus-kasus Detektif Conan yang dirotasi setiap 2 buku sekali. Meski demikian, kelihaian penuturannya membuat film ini tetap exciting, tidak hanya kelar pada pengungkapan "siapa pelakunya" lewat beberapa manuver adegan yang smart, namun juga pembangunan banyaknya tokoh serta kekonyolan mereka masing-masing. Sebagai dark comedy campur thriller dan misteri, humor maupun ketegangannya terjaga banget sehingga bikin makin pasrah mengikuti ke mana arah ceritanya, karena yakin akan semakin dipuaskan di bagian akhir.
My score: 8/10






2. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
(2020 - Visinema Pictures)
dir. Angga Dwimas Sasongko
Cast: Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Oka Antara, Susan Bachtiar, Niken Anjani, Ardhito Pramono, Agla Artalidia, Sinyo, Nayla Denny Purnama, M. Adhiyat, Alleyra Fakhira Kurniawan, Syaqilla Afiffah Putri, Joe P. Project, Umay Shahab


Mempersembahkan kisah sosok orang tua dengan tiga anaknya, yang berangkat dari pembedaan cara perlakuan antara anak satu dengan anak yang lain secara perlahan bepengaruh dan memuncak pada kehidupan anak-anak saat dewasa. Gw menangkap film ini sebagai slice of life yang cukup spesifik: kehidupan dari sebuah keluarga berkecukupan Jakarta yang punya konflik tak kasatmata dan kesannya kurang istimewa, namun justru bisa terhubung dengan banyak orang dan banyak keluarga. I mean, gw sih pernah banget ngegas sama ortu maupun saudara buat masalah-masalah yang lebih sepele daripada yang ada di film ini. Maka buat gw, nilai utama film ini adalah sensasi rasa dramatis yang didapat dari hal-hal keseharian, dari topik-topik yang mungkin bukan hal besar bagi sebagian orang tapi big enough bagi sebagian yang lain. Sekalipun gw kurang sreg dengan salah satu poin konflik yang dimunculkan di sini, kemenangan utama film ini terletak pada presence keluarga Narendra yang diarahkan dan diperankan dengan sangat baik. Emosi yang mereka keluarkan saat bersama-sama bisa menularkan vibe yang efektif dan genuine, baik saat mereka sedih, bahagia maupun saat bertengkar, hingga diksi dialog yang di atas kertas tampak artifisial mampu mereka wajarkan dengan sempurna.
My score: 7,5/10






3. The Two Popes
(2019 - Netflix)
dir. Fernando Mereilles
Cast: Jonathan Pryce, Anthony Hopkins, Juan Minujin, Luis Gnecco, Maria Ucedo, Lisandro Fiks, German de Silva


Film ini adalah dramatisasi dari satu periode sejarah ketika Paus Benediktus XVI menyatakan mundur hingga terpilihnya Paus Fransiskus pada tahun 2013. Sebagian besarnya dalam bentuk dialog antara dua tokoh pemimpin umat Katolik sedunia ini, yang mempunyai berbagai perbedaan pandangan dalam berbagai soal yang cukup prinsipil, diselingi juga dengan kisah masa lalu Paus Fransiskus atau bernama asli Jorge Mario Bergoglio saat masih melayani di negaranya, Argentina. Hanya lewat "ngobrol", interaksi kedua tokoh ini terasa intens dan dinamis, terutama ditekankan dengan perbedaan karakter keduanya--media selama ini mencondongkan yang satu sangat kaku dan yang satu lagi lebih down-to-earth. Namun, yang gw salut adalah film ini nggak memojokkan satu tokoh atau satu pandangan saja, karena masing-masing punya poin-poin valid. Dan lebih salut lagi, film sukses menonjolkan sisi manusiawi dari dua tokoh ini--terlepas mereka beneran seperti yang digambarkan di film ini atau tidak ya--sehingga presentasinya pun jadi nyaman disimak, nggak kelewat berat kok.
My score: 7,5/10






4. Jumanji: Welcome to the Jungle
(2017 - Columbia)
dir. Jake Kasdan
Cast: Dwayne Johnson, Kevin Hart, Jack Black, Karen Gillan, Nick Jonas, Rhys Darby, Bobby Cannavale, Alex Wolff, Ser'Darius Blain, Madison Iseman, Morgan Turner


Betul, ini yang rilis tahun 2017 yang baru gw tonton menjelang perilissan Jumanji: The Next Level ^_^;. Gw lupa kenapa nggak nonton pas rilis di bioskop, dan agak menyesal juga karena ternyata kontennya sendiri jauh dari kata buruk. Ini adalah model film fantasi petualangan komedi yang dirancang dan dieksekusi dengan semangat bersenang-senang. Dibekali oleh plot yang sederhana--namun merupakan pemutakhiran yang bagus dari Jumanji (1994) versi lawas, humor-humor yang nggak self-indulgent, hingga performa bersemangat dan berenergi positif dari para pemerannya, maka jadilah sebuah film yang tinggi nilai hiburan tetapi tidak melulu bertumpu semata pada kecanggihan efek visual dan nama besar film yang legendaris.
My score: 7,5/10






5. Imperfect
(2019 - Starvision)
dir. Ernest Prakasa
Cast: Jessica Mila, Reza Rahadian, Clara Bernadeth, Yasmin Napper, Shareefa Daanish, Karina Suwandi, Dewi Irawan, Ernest Prakasa, Boy William, Dion Wiyoko, Tutie Kirana, Kiki Narendra, Karina Nadila, Devina Aureel, Kiky Saputri, Zsa Zsa Utari, Aci Resti, Neneng Wulandari, Asri Welas


Kali ini film komedi Ernest Prakasa merapat ke topik-topik yang hangat dan berkelanjutan dalam pergaulan, khususnya soal bias penilaian fisik perempuan. Angle dari topiknya juga terbilang jitu, bahwa Rara si tokoh utama bertubuh gemuk dan kurang bisa berdandan tetapi bekerja di perusahaan kosmetik, bagian marketing pula, bidang yang terkenal punya standar gaya tertentu. Kisah Rara yang ditantang untuk memenuhi standar tersebut menjadi benang merah film, dan kemudian berpengaruh pada hubungannya dengan kekasih dan keluarganya. Di luar itu, disematkan lagi beberapa subplot, yang sesaat terasa seperti distraksi dan melebar, namun pada akhirnya bisa ditangkap sebagai penguat message yang hendak disampaikan. Tapi, balik lagi bahwa film ini komedi, penyampaiannya yang ringan membuat alir filmnya nyaman dinikmati, apalagi dengan berbagai selipan humor yang bagi gw sih kadar lucunya paling tinggi di antara film-film Ernest sebelumnya.
My score: 7,5/10






6. Dark Waters
(2019 - Focus Features/Participant Media)
dir. Todd Haynes
Cast: Mark Ruffalo, Anne Hathaway, Tim Robbins, Bill Camp, Victor Garber, Mare Winningham, Bill Pullman


Melengkapi jajaran film berdasarkan kisah nyata pengungkapan sisi gelap korporasi raksasa, kali ini yang diangkat adalah perusahaan kimia DuPont, yang terbukti menutup-nutupi berbagai efek buruk dari produk-produknya, khususnya bagi para pegawai pabriknya dan warga sekitar. Dibandingkan dengan Erin Brockovich (2000) yang bertema mirip, film ini jelas lebih kelam dan depressing, apalagi mengingat produk DuPont juga cukup dikenal di Indonesia (brand yang bikin lapisan antilengket teflon di panci dan wajan, walau sebenarnya unsur-unsur serupa dari DuPont juga terdapat di barang-barang rumah tangga yang lain). Namun, kekuatan film ini bukan semata-mata menambah pengetahuan dan faktor kedekatan terhadap topiknya, melainkan juga terletak pada performa tulus Ruffalo cs, yang mampu memberikan gambaran seemosional mungkin dari beratnya dan panjangnya kasus ini.
My score: 7,5/10






7. Marriage Story
(2019 - Netflix/Heyday Films)
dir. Noah Baumbach
Cast: Scarlett Johansson, Adam Driver, Laura Dern, Alan Alda, Ray Liotta, Julie Hagerty, Merritt Weaver


Yang unik, dan mungkin agak ironis dengan judulnya, film ini menuturkan proses terjadinya sebuah perceraian. Proses ini dijalani oleh sepasang seniman peran: suami adalah sutradara teater muda berbakat, dan istri adalah aktris film Los Angeles yang hijrah ke teater New York ikut suaminya. Alasan-alasan mereka mau bercerai kemudian dipaparkan, mulai dari konflik emosional, tempat tinggal, hingga perihal profesi. Pada perjalanannya, film ini dengan cermat menyorot kedua tokoh ini di satu sisi dalam posisi simpatik, tetapi ada pula momen-momen bahwa keduanya bikin antipati, terutama ketika proses perceraian mereka sudah masuk ke ranah hukum. Dalam dinamika kisah yang demikian, Johansson dan Driver sebagai pemeran utama menunaikan tugasnya dengan tanpa cela, yaitu menggunakan ekspresi dan emosi mereka sebagai motor yang menghidupkan cerita, baik ketika mood-nya lagi santai bahkan jenaka, maupun saat tensi tinggi.
My score: 7,5/10




Minggu, 05 Januari 2020

Year-End Note: My Top 10 Films of 2019


This is it. Usai perenungan yang cukup alot *dalih karena nggak posting lebih cepat =P*, gw akhirnya siap menggelontorkan 10 film teratas sepanjang tahun 2019 versi gw . Dalam satu tahun jelas banyak banget film yang dilepas ke khalayak, dari berbagai bangsa dan genre, apalagi sekarang medianya nggak cuma di bioskop-bioskop. Artinya, nggak mungkin gw akan mencakup semua judul yang ada. Makanya, seperti biasa gw melakukan pra-eliminasi bahwa yang gw taruh di senarai adalah film-film yang dirilis resmi di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2019, biar hidup gw nggak lebih ribet. 10 judul yang akan gw sebut adalah film-film yang menurut gw paling berkesan, membekas, dan atau gw paling nikmati. Terbaik secara objektif? Belum tentu, atau bahkan, jelas tidak. Toh patokannya gw sendiri, subjectivity is my jam =)).





HONOURABLE MENTIONS
Sebelum masuk ke top 10, gw juga ingin menyerukan special shoutouts buat 5 film lain yang sudah memberi kesan masing-masing buat gw di tahun 2019. Untuk yang ini, gw urutkan sesuai abjad ya.


Aladdin, dir. Guy Ritchie
Tak sekadar memeragakan ulang film animasi musikal Disney nan legendaris, film ini memberi suplemen tema yang relevan dengan dunia modern, laga bombastis, dan aura kebintangan Naomi Scott =).

Alita: Battle Angel, dir. Robert Rodriguez
Awalnya hanya terpukau pada digdaya visual efek/CGI, excitement film ini tidak pernah pudar seiring durasinya, sekalipun banyak hal yang harus diceritakan dalam durasi yang terbatas.

Glass, dir. M. Night Shyamalan
Sebuah crossover-sequel dari karakter-karakter berkekuatan unik dalam film Unbreakable dan Split. Memang tidak berskala mentereng, tetapi balutan thriller-misteri minimalisnya justru memunculkan sisi "main-main", membuat gw duduk pasrah menikmati apa pun yang disajikan. Ape lo.

The Mule, dir. Clint Eastwood
Film nggak neko-neko yang disokong kekuatan aneka emosi di tiap pengadeganan dan permainan simpatik dari para pemerannya.

Terlalu Tampan, dir. Sabrina Rochelle Kalangie
Upaya paling efektif dalam menghidupkan konsep komik nan absurd menjadi tontonan dengan gaya humor yang juga absurd, namun tetap lancar dalam bertutur.





Dan, berikut adalah 10 besarnya.




MY TOP 10 FILMS OF 2019






10. Knives Out
dir. Rian Johnson

Kisah misteri/detektif-detektifan yang dibawakan dengan cara yang lincah bahkan cenderung jenaka. Ketimbang terjebak kesan kuno dan berulang, film ini menampilkan berbagai sentuhan modern yang relevan, mulai dari rancangan karakter-karakternya yang rada eksentrik sampai ke dialog-dialog cerdik-nya.






9. Weathering With You
dir. Makoto Shinkai

Tak hanya jago gambar, Shinkai sekali lagi membuktikan kemampuannya untuk mengolah cerita dengan tema berlapis, namun dengan penuturan yang bikin nyaman dan senang, bikin hanyut pada emosinya, dan akhirnya juga mampu bikin merenung. Kok bisa gitu kepikiran bikin cerita tentang "pawang hujan" dikembangkan jadi kisah romantika remaja yang kini banget, nggak soal mistisnya doang.






8. Dua Garis Biru
dir. Gina S. Noer

Judul teranyar bertema kehamilan remaja tak terencana yang digarap dengan penuh perhitungan. Membawa sensibilitas dalam bercerita, memuat banyak simbol namun nggak membatasi alir penuturannya untuk bisa dipahami dan dirasakan semua kalangan.






7. Keluarga Cemara
dir. Yandy Laurens

Tak jauh dari kesan yang timbul saat membaca judul atau melihat gambar-gambar promosinya, film ini begitu lembut dan sederhana. Padahal, membuat film keluarga di tengah kompleksitas kehidupan kontemporer adalah sebuah tantangan tersendiri, dan film ini berhasil mengatasi itu, menghasilkan sebuah tontonan yang menghangatkan dan seringkali menghanyutkan.






6. Avengers: Endgame
dir. Anthony Russo, Joe Russo

Movie event of the year yang meroketkan karier Stephanie Poetri benar-benar menghidupi definisi frase tersebut. Sebagai jilid pamungkas dari film-film Marvel Cinematic Universe angkatan pertama, 3 jam durasi film ini tak hanya menuntaskan misi penyelamatan dunia yang ditampilkan dengan dahsyat riuh rendah gegap gempita. Film ini sekaligus jadi momen selebrasi bagi para karakter, para pemain, dan juga para kreator di balik layar yang telah mempersembahkan aksi puluhan karakter Marvel terintegrasi lewat judul demi judul pengubah peta box office dunia selama lebih dari 10 tahun non-stop. Dan, getaran dari semangat itu sangat dirasakan saat menonton hingga usai.






5. Parasite
dir. Bong Joon Ho

Awalnya akan dikira film ini tentang satu hal saja--satu keluarga pengangguran ngapusi satu keluarga kaya supaya dapat kerja, namun dengan lihai film ini membawa penonton pada belokan-belokan tak terduga, sampai akhirnya tiba pada gambaran utuh tentang keresahan yang hendak disampaikan para pembuatnya. Bermain di ranah komedi gelap dan thriller, digerakkan oleh akting yang kompak serta kontrol ritme yang menimbulkan rasa excited, ini adalah salah satu spesimen terbaik dari film-film yang punya pesan lantang namun di saat yang sama memberikan hiburan.






4. Ad Astra
dir. James Gray

Disajikan sebagai drama sci-fi, sulit untuk nggak terpukau pada imajinasi yang ditawarkan: masa tak terlalu jauh di depan andai eksplorasi dan kolonialisasi antariksa jadi hal jamak, yang disajikan lewat visual yang elok dan, well, membumi. Terlebih lagi, film ini berhasil memaparkan semesta ceritanya yang cukup kompleks, sekaligus menuturkan kisah tentang hubungan ayah dan anak dalam proses pencarian dan pendamaian, hanya dalam satu kali jalan.






3. Ford v Ferrari
dir. James Mangold

Diadaptasi dari kisah nyata kemenangan pertama perusahaan mobil AS, Ford di event balap tahunan 24 Hours of Le Mans tahun 1966, garis besarnya adalah upaya orang-orang yang tadinya tak diperhitungkan membuktikan kemampuan mencapai puncak. Namun, bukan glorifikasi keberhasilan yang diutamakan. Film ini merangkaikan kisah di balik layar, khususnya persahabatan Caroll Shelby dan pembalap Ken Miles serta keluarganya, dalam tuturan yang hangat dan manusiawi. Tetapi tak ketinggalan, penataan adegan-adegan balap vintage-nya juga digeber maksimal, sampai bikin lupa bahwa kadang dunia nyata tak semanis harapan kita.








2. Shazam!
dir. David F. Sandberg

Tampil tanpa beban sebagai entry yang paling "longgar" dalam semesta superhero DC, film ini mencuat dengan premisnya yang simpel dan fun, disuguhkan dalam kemasan laga komedi yang solid. Tak hanya mengambil jalur laga superhero baik versus penjahat seperti umumnya--dengan pengadeganan yang thrilling ber-visual keren andalkan CGI, nyawa film ini juga terletak pada kisah persahabatan dan kekeluargaan, makanya mudah mengena dan nggak terlalu ribet dinalar. Ditambah lagi, sajian komedinya tampil organik dan bersinergi dengan ceritanya, bahkan sampai di pertarungan pamungkasnya. Sebuah paket hiburan lengkap, satu hal yang mungkin sulit disematkan pada film-film keluaran DC di tahun-tahun sebelumnya.










1. Joker
dir. Todd Phillips

Menonton Joker adalah salah satu pengalaman paling "lain" sepanjang tahun 2019. Menyadur sosok penjahat utama dalam kisah Batman, film ini completely kebalikan dari film superhero yang pernah ada, mengajak untuk mengalami kehidupan seseorang yang nantinya jadi penjahat besar. Terlepas dari kualitas teknis premium minim efek dan performa akting layak puja-puji, penuturannya begitu runut dan tak sulit dipahami, tetapi di situlah "masalahnya", seolah mencolek sisi tergelap penonton, yang secara moral seharusnya tidak simpati terhadap si Arthur Fleck dan pilihan-pilihannya--toh di tengah-tengah bobrok dunia, seseorang seharusnya bisa tetap memilih kindness, tetapi Arthur tidak. Alhasil, buat gw, Joker adalah sebuah drama kriminal mencekam dan so dark sampai-sampai sulit untuk menyingkirkannya dari ingatan. A stand-out indeed.




Dan demikianlah catatan dan senarai tahunan gw untuk 2019. Semoga 2020 menjadi tahun yang lebih exciting lagi ya. See you around!

Kamis, 02 Januari 2020

Year-End Note: The 10 Indonesian Films of 2019

Sebuah comeback =)). Setelah tahun lalu absen, gw mencoba meneruskan kembali catatan film-film Indonesia yang notable sepanjang tahun. Senarainya masih dibuat dalam urutan abjad, karena emang di sini motivasinya bukan mencari yang terbaik dan mana yang melebihi yang lain, melainkan memberi apresiasi terhadap blantika film Indonesia itu sendiri *eaak serius amat*. Berikut ini adalah 10 film Indonesia yang menurut gw pantas untuk predikat tersebut dengan alasannya masing-masing. Again, dalam urutan abjad ya.





THE 10 INDONESIAN FILMS OF 2019



27 Steps of May
sutradara Ravi Bharwani


Merefleksikan dua sisi kehidupan atas sebuah trauma kekerasan: sang korban dan satu-satunya orang terdekat yang tersisa. Banyak simbol, tetapi nggak sampai bikin kebingungan, malah bikin makin peduli. Performa aktor-aktornya juara kelas.






Bebas
sutradara Riri Riza


Bermain di dua masa sekaligus, berpusat pada nilai persahabatan dan nostalgia. Versi lokal dari film Korea, Sunny (2011) ini dengan terampil mengindonesiakan berbagai aspek ceritanya, sehingga menjadi tetap terasa wajar dan punya rasa. Daftar soundtrack-nya ngehek sih.






Bumi Manusia
sutradara Hanung Bramantyo


Film roman berlatar masa kolonial berskala besar adalah risiko yang jarang sekali diambil di blantika sinema Indonesia. Jadi, gw bersyukur bahwa film seperti Bumi Manusia berhasil diproduksi secara proper dan ditayangkan (dan laku). Sempurna? Tentu tidak. Tetapi, skor terbaik film ini adalah bisa membuat durasi 3 jam nggak berat untuk diikuti dan yang nonton nggak kekurangan informasi. Itu sudah pencapaian yang besar.






Dua Garis Biru
sutradara Gina S. Noer


Film yang dipasarkan dengan kemasaan visual imut-imut, namun digarap dengan pemikiran mendalam. Versi mutakhir dari topik kehamilan remaja Indonesia yang nggak hanya sekadar menyulut diskusi, namun juga disajikan dengan kepekaan moral dan emosi.






Imperfect
sutradara Ernest Prakasa


Ernest Prakasa melanjutkan tradisi mengangkat premis sederhana tapi aktual dalam film komedinya. Berangkat dari kecenderungan sosial dalam bias penilaian tampilan fisik, khususnya perempuan, tujuan akhir film ini sudah terlihat jelas, yaitu pembelajaran mengenai penerimaan diri serta sensibilitas terhadap orang lain. Untungnya, sajiannya sangat ringan dan kemasannya jenaka, bahkan bisa jadi ini film Ernest yang humornya paling pecah.






Keluarga Cemara
sutradara Yandy Laurens


Reinterpretasi dari kisah sebuah keluarga yang kehilangan privilege (istilah nakanak Twitter untuk 'orang kaya tiba-tiba miskin') yang rupanya berhasil mempertahankan spirit dari kisah-kisah yang disadurnya (gw sendiri familier dengan serial TV-nya), dengan sentuhan yang relevan dengan masa kini, dan percikan ekstra di sisi emosi. Pemetaan konflik dan karakternya terampil, pemilihan dan pengarahan pemainnya juga cermat. Pesannya sama, bahwa fokusnya bukan pada gimana cara jadi kaya lagi layaknya kisah-kisah para motivator, melainkan bagaimana memelihara harta yang paling berharga, yaitu…*insert theme song*.






Kucumbu Tubuh Indahku
sutradara Garin Nugroho


Sudah berkali-kali gw kemukakan, seorang Garin Nugroho adalah jenis sineas yang "udahlah terserah mas Garin aja". Premisnya cukup abstrak: sejarah kekerasan yang membentuk jati diri seorang penari lengger lanang, lengkap dengan pengaruh aspek budaya, sosial, ekonomi, politik, geografi, dan kepercayaan. Begitupun cara bertuturnya terbilang menantang (a.k.a. gw kayaknya belum paham sepenuhnya, hahaha). Hanya saja, keterampilan dan artistry Garin dalam mengeksekusi adegan masih dan selalu menawan, yang belum bisa ditandingi ataupun bahkan kepikiran oleh sineas manapun.






Perempuan Tanah Jahanam
sutradara Joko Anwar


Joko Anwar menampilkan pemandangan baru dalam genre horor-thriller negeri ini. Betapa leganya gw bahwa tampilan "desa angker"-nya terlihat seperti actual desa, demikian pula dengan mitologi yang hendak dibangun terasa masih segaris dengan mitos-mitos lokal kita, sehingga tak sulit untuk masuk dalam suspension of disbelief-nya. Ya kalau soal serem dan seru, itu niscaya.






Terlalu Tampan
sutradara Sabrina Rochelle Kalangie


Film ini adalah contoh terbaik sinergi antara konsep absurd (ini adaptasi sebuah komik) dan penggarapan yang sama absurdnya. Nggak ada yang perlu direalistiskan dari ide "seorang pemuda yang harus disembunyikan karena keterlalutampanannya dapat menimbulkan keresahan dan kekacauan massal". Dijalankan dalam plot persahabatan dan kisah asmara remaja, langkah paling tepat film ini adalah memperlakukan segalanya se-wacky mungkin, namun dengan pengaturan visual dan ritme humor yang terkontrol, bikin seneng nontonnya.






Twivortiare
sutradara Benny Setiawan


Dengan presentasi yang tidak terlalu mewah, pemandangan utama dari film ini adalah konser akting Reza Rahadian dan Raihaanun sebagai pasangan muda yang kawin, cerai, lalu dekat lagi terus kawin lagi, tapi bermasalah lagi. Berkat mereka, penonton dapat tersedot untuk menilik dan mengikuti naik turun kehidupan karakter mereka, mencoba menyerap motivasi dan dilema mereka masing-masing, hingga akhirnya menyadari bahwa yang satu tak sepenuhnya salah dan yang lain tak sepenuhnya benar.