Selasa, 01 September 2015

[Movie] Inside Out (2015)


Inside Out
(2015 - Disney/Pixar)

Directed by Pete Docter
Screenplay by Pete Docter, Meg LeFauve, Josh Cooley
Story by Pete Docter, Ronne del Carmen
Produced by Jonas Rivera
Cast: Amy Poehler, Phyllis Smith, Mindy Kaling, Bill Hader, Lewis Black, Richard Kind, Kaitlyn Dias, Diane Lane, Kyle MacLachlan


Pixar selama belasan tahun dikenal sebagai sebagai studio penghasil film-film animasi jaminan mutu. Mutu itu dinilai dari orisinalitas dan kreativitas cerita, teknologi animasi yang mutakhir, nilai-nilai hiburan, dan temanya yang mendalam sehingga tak hanya menyenangkan bagi penonton anak-anak saja. Sudah banyak yang kenal dengan trilogi Toy Story, Monsters Inc., Cars, juga film-film seperti Finding Nemo, The Incredibles, Ratatouille, WALL-E, dan Brave yang memenangkan banyak penghargaan dan laris di box office. Karena itu, ekspektasi terhadap film terbaru Pixar, Inside Out, pun menjadi tinggi.

Konsep yang ditawarkan Inside Out pun sepertinya memang menuntut ekspektasi yang tinggi. Film ini berangkat dari pertanyaan "apa yang ada di pikiran orang" ketika berkata dan bertingkah laku. Lalu, film ini mengandaikan bahwa di dalam alam pikiran manusia terdapat wujud-wujud karakter yang menentukan emosi seseorang lewat semacam mesin. Sebuah konsep yang sebenarnya cukup rumit untuk dieksekusi, apalagi untuk menghasilkan tontonan semua umur.

Inside Out berjalan dalam dua "dunia" yang berkesinambungan. Di alam nyata, seorang anak perempuan bernama Riley (diisi suara Kaitlyn Dias) tumbuh sebagai pribadi yang ceria di sebuah kota kecil di negara bagian Minnesota. Kehidupan bahagianya tiba-tiba harus berubah ketika orang tuanya (diisi suara oleh Kyle MacLachlan dan Diane Lane) memutuskan untuk pindah ke San Francisco, California, sebuah kota besar dengan orang-orang dan kebiasaan berbeda. Riley yang beranjak remaja jelas-jelas kesulitan untuk beradaptasi, karena apa yang ia senangi di rumah lamanya benar-benar hilang di tempat barunya.

Sementara itu, di dalam alam pikiran Riley, terdapat lima macam wujud emosi yang menentukan atas apa yang terjadi pada pribadi Riley. Mereka adalah Joy (Gembira, suara oleh Amy Poehler), Sadness (Sedih, suara oleh Phyllis Smith), Fear (Takut, suara oleh Bill Hader), Anger (Marah, suara oleh Lewis Black), dan Disgust (Jijik, suara oleh Mindy Kaling). Interaksi antara kelima emosi ini membentuk kepribadian Riley, bertanggung jawab atas kenangan-kenangan penting dalam hidup Riley—yang berwujud bola-bola menyala, juga menjaga agar Riley dapat menghadapi apa pun dengan baik.

Watak ceria Riley ternyata disebabkan sosok Joy dominan. Dengan sikapnya yang serba positif, kenangan-kenangan Riley pun sebagian besar sifatnya gembira. Tetapi, sejak pindahnya keluarga Riley ke kota baru, Sadness banyak bertingkah. Ia bahkan sering menyentuh kenangan-kenangan gembira Riley sehingga menjadi kenangan sedih. Belum tahu sebenarnya apa yang terjadi, sebuah "kecelakaan" membuat Joy dan Sadness terlempar keluar dari pusat kendali, bersama bola-bola kenangan penting Riley. Joy dan Sadness harus memulai perjalanan agar bisa kembali. Sementara dengan hanya ada Fear, Anger, dan Disgust di pusat kendali pikiran, sikap Riley pun jadi pemurung dan serba tak nyaman.

Setelah Monsters Inc. dan Up, sutradara Pete Docter sekali lagi mempersembahkan sebuah cerita yang diolah secara kreatif menjadi sebuah tontonan penuh makna. Ditambah lagi dengan desain karakter dan latar yang menarik dan terkonsep. Sulit untuk tidak terhibur dengan interaksi antara Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust, yang masing-masing punya kepribadian sesuai dengan namanya. Mereka pun diberikan dialog-dialog cerdas sehingga tak terkesan terlalu kartunis, walau mungkin beberapa humor dalam dialognya hanya bisa ditangkap oleh penonton yang dewasa.

Demikian pula pada gambaran bahwa pikiran manusia bak negeri ajaib. Memori Riley sendiri disimpan dalam bola-bola kenangan, dengan memori-memori yang terpenting akan disimpan di paling depan. Sementara yang lainnya akan disimpan dalam penyimpanan yang luas, dan kadang-kadang akan ada yang dibuang sehingga terlupakan. Perjalanan Joy dan Sadness pun membawa penonton menjelajah setiap sisi "negeri" pikiran Riley tersebut.

Tetapi, di balik segala warna-warni dan kreativitas tinggi dalam konsepnya, Inside Out sebenarnya sebuah film yang memuat pemikiran mendalam. Film ini ingin "menjawab" tentang apa yang terjadi saat seorang anak beranjak remaja—Riley digambarkan berusia 12 tahun. Namun, situasinya ditambahkan dengan sang anak yang pindah rumah ke tempat yang tidak diingingkan. Masa transisi ini sebenarnya sangat wajar terjadi pada setiap orang, namun film Inside Out memberikan sebuah cerita "di balik layar" tentang mengapa itu terjadi, dalam kemasan petualangan yang digarap apik.

Di sisi lain, dengan sorotan utama pada petualangan Joy dan Sadness dengan sifat yang saling bertolak belakang dalam alam pikiran Riley, film ini juga ingin kembali membenturkan mana emosi yang kerap dianggap baik dan yang kurang baik. Ini dicerminkan sikap Joy yang tidak akur dengan Sadness, dan ingin memastikan sebanyak mungkin memori Riley bersifat gembira. Kadang interaksi mereka menimbulkan kelucuan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan, apakah memang kegembiraan itu selalu lebih baik dari kesedihan?

Hal-hal inilah yang mungkin hanya bisa ditangkap oleh penonton dewasa. Bahkan, film ini sebenarnya lebih kaya akan nilai-nilai tentang kedewasaan, transisi, dan kompleksitas emosi—termasuk dengan penggunaan gambar gaya realis dan shaky camera di adegan-adegan "dunia nyata", yang membuat orang-orang dewasa mengingat masa pertumbuhan anak-anak sekitarnya, atau pertumbuhan dirinya sendiri. Inside Out jelas bukan sebuah kisah petualangan lucu-lucuan, seperti Minions atau Madagascar, misalnya.

Bobot dan pemikiran-pemikiran itu sebenarnya membuat Inside Out punya banyak nilai yang bisa diserap dan menyentuh penontonnya, khususnya penonton dewasa. Namun, timbul pula pertanyaan apakah film ini akan memberikan efek yang sama besarnya bagi penonton cilik, yang mungkin belum paham benar tentang apa itu emosi.

Untunglah film ini tampil dengan visual memikat penuh warna, desain karakter jenaka, serta alunan musik yang dinamis, sehingga film ini masih bisa dinikmati banyak orang. Inside Out tetap sebuah film dengan kualitas tinggi yang diharapkan dari animasi keluaran Pixar. Walaupun, mungkin, dampak menghiburnya tidak sedominan bobot pemikiran yang ditimbulkan.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

1 komentar: