Rabu, 30 Desember 2009

Year End Note: My Top 10 Movies of 2009

Senarai top10-top10-an 2009 gw tutup dengan top 10 Movies—gw baru sadar gw salah ngasih judul, harusnya “My 10 Top” bukan “My Top 10”, karena bukan diurut berdasarkan peringkat, ya sudahlah T-T. Gw bersyukur telah cukup banyak menonton film sepanjang tahun ini di terutama di bioskop meskipun tak semuanya terbilang mengesankan. Kalau ada yg bertanya kemana 2012, jawabannya: masih banyak yg jauh lebih bagus. Kalau ada yg tanya kemana Transformers 2, jawabannya: are you kidding me? No offense, but orang waras macam apa yg masih menganggap film begituan bagus? Harry Potter 6 bukan favorit gw, dan New Moon luput karena gw sama sekali nggak tertarik sama teenlit/chicklit. Sayangnya juga nggak ada film Indonesia yg masuk daftar gw, karena…ya suka2 gw dong =_= v. Urutan daftar ini juga nggak berdasarkan tingginya score yg gw kasih di review-nya, tapi lebih ke kesan yg bikin film2 ini pantas menjadi representatives dunia film di 2009. Baiklah, inilah 10 film paling berkesan tahun 2009 versi gw, in alphabetical order.



1. (500) Days of Summer
Film komedi romantis—yg tidak romantis—yg paling berhasil. Kisah yg sangat membumi namun dikemas berbeda, non-linear, adegan2 menarik dan akting yg pas. Naskah dan penyutradaraannya yg oke sekali sukses membuat film ini terasa relevan, believable sekaligus menghibur, bagian2 lucunya tuh
natural, nggak dipaksa. read review


2. Avatar
Bisa jadi film paling hebat sepanjang tahun. Siapa saja yg menonton pasti terlena dalam decak kagum terhadap teknologi visual efek, CGI dan sebangsanya yg paling mutakhir dan memang lebih canggih dari visual efek film apapun yg gw tonton, tapi film ini tidak terjebak di dalamnya dan tetap mengusung apa yg jadi pilar utama sebuah film: cerita. Salah satu film yg tau benar cara memanfaatkan anggaran mahal.
read review


3. Coraline
Animasi stop-motion yg bertema agak gelap tapi disajikan dengan visual yg indah serta jalan cerita yg mudah dimengerti dan seru. Dongengnya disampaikan sedemikian rupa sehingga tidak tampak terlalu konyol dan pesan moralnya pun sampe. Salah satu film animasi terbaik tahun ini. read review



4. District 9
Menampilkan sudut pandang berbeda mengenai kedatangan alien di bumi, bahkan dengan setting yg tidak “umum”, District 9 berhasil menjadi tontonan yg berbeda apalagi gaya penyampaiannya yg semi-dokumenter dan akting si tokoh utama Sharlto Copely yg all-out, plus animasi CGI yg benar2 tidak tampak seperti CGI, seriously. Gw menjagokan film ini sebagai empunya visual efek terbaik tahun 2009, tapi ternyata kemudian muncul Avatar, heheh
e. read review


5. Inglourious Basterds
Quentin Tarantino tampaknya memang selalu membuat karya yg pasti berkesan. Basterds dengan uniknya sanggup menampilkan kisah yg seharusnya sederhana tapi dirangkai dalam adegan2 yg tak terduga dan diwarnai oleh karakter2 yg sangat menarik. Dan siapa yg nggak terkesan sama si kolonel Landa? ^_^
read review


6. Knowing
Apah!? Knowing? Yes, Knowing. Penilaian gw terhadap film ini sepertinya berbeda dengan kebanyakan orang yg berpikir endingnya “garing”. Percayalah, jika mengingat ending film2 kiamat lainnya, Anda akan tahu betapa ending Knowing itu lebih masuk akal dan konsepnya benar, terlepas dari pandangan gw bahwa Knowing adalah film yg paling berhasil meng-simbolisasi-kan kisah akhir zaman, setidaknya menurut kepercayaan gw. Ditambah adegan2 keren dan menegangkan—dan akting memble Nicolas Cage, itulah Knowing. read review


7. Slumdog Millionaire
Filmnya dirilis di Indonesia tahun 2009, jadi gw masukin aja di daftar. Film yg berjaya di Oscar bulan Februari lalu ini memang sebuah tontonan yg mantap. Cerita
heart-warming, akting believable, visual top markotop, padahal film ini bertema kemiskinan, kekumuhan dan kerasnya hidup di New Delhi, tapi hasilnya keren dan bukannya tidak membuat nyaman. Slums never looked so photogenic before ^o^’. read review


8. Star Trek
My favourite movie of the year. Rekor personal gw terjadi tahun ini: nonton sebuah film di layar lebar sebanyak 3 kali, dan itu termasuk nonton di teater IMAX sebanyak 2 kali. Film tersebut adalah Star Trek. Total gw nonton 5 kali (3 bioskop+2 kali di DVD), padahal gw bukan penggemar hal2 berbau “Star Trek”—sebatas sering nonton dulu di TV siang2 krn nggak ada tontonan lain, but I just love this movie. Menolak menonton film ini karena “dari dulu nggak suka Star Trek” adalah alasan yg bodoh, berarti Anda melewatkan film paling entertaining tahun ini. read review
1, 2, 3


9. Up
Bukan persembahan terbaik Pixar, tapi tetap film yg baik. Adegan awalnya luar biasa touching, lalu selanjutnya berangsur jadi tidak terlalu istimewa. Hanya saja Up tetap lengkap sebagai tontonan, ceritanya baik, tokoh2nya lucu, gambarnya oke dan amanah yg dalem—bahkan mungkin terlalu dalem. read review



10. Watchmen
Banyak yg kecele karena film ini tidak seperti Spider-Man, Superman atau man-man lainnya, yg hanya sekadar baik vs jahat. Buat gw, Watchmen adalah sebuah pengalaman yg extaordinary. Lebih banyak dramanya ketimbang aksi berkostumnya. Superhero hanyalah universe-nya, sedangkan isi filmnya sendiri lebih daripada itu. Dengan isi yg padat, penggambaran karakter yg tepat, serta adegan aksi yg sedikit tapi keren, Watchmen adalah film yg sukses menyampaikan ide bagaimana jika superhero benar-benar ada di sekitar kita, seseorang di antara kita di dunia nyata. read review




Honorable Mention: Documentary/Concert Film of the Year

This Is It

Berisi konsep, persiapan dan latian turkonser comebacknya si Raja Pop, Michael Jackson yg akhirnya kandas karena sang bintang telanjur wafat duluan. Latiannya aja keren, gimana seandainya benar2 terlaksana. Gw tepuk tangan lho pas nonton ini hihihi. read review


Honorable Mention: Guilty Pleasure of the Year
Ninja Assassin

Film katro dengan cerita standar yg nggak masuk akal, yg gw “bela” karena adegan2 berantemnya seru dan sinematografinya bagus. Keren ah.
read review


Demikianlah Year End Notes gw, semoga bermanfaat (walau gw yakin sebenernya sama sekali nggak bermanfaat, @_@’). Happy New Year everybody!



Selasa, 29 Desember 2009

Year End Note: My Top 10 Albums of 2009

Sekarang waktunya 10 album yg paling gw suka sepanjang tahun 2009. Cukup mengejutkan buat gw bahwa 2009 adalah tahunnya gw lagi seneng2nya sama musik Indonesia, ada 4 album yg gw masukin di daftar ini. Sekadar mengingatkan gw memiliki tidak semua CD dari album2 di bawah ini, khusus album Jepang gw bajak dari internet karena satu keping CD Jepang (impor) itu harganya 4 kali CD internasional yg dijual di Indonesia, salah gue? Anyway, daftar album paling berkesan 2009, dalam urutan abjad, adalah sebagai berikut.



1. ANSWER – Angela Aki (アンジェラ・アキ)
CD-nya diedarkan di toko2 musik Indonesia dengan harga standar, langsung gw sikat karena Angela Aki adalah salah satu musisi Jepang yg gw suka. Album ini masih memuaskan dengan musik khas Angela Aki tanpa kentara ada pengulangan dari album2 sebelumnya. read review


2. ETERNAL FLAME – Do As Infinity
Album pertama Do As Infinity sejak reuni. Sama sekali tidak mengecewakan meski rasanya belum se-pol seperti jaman sebelum bubar. read review



3. FRIDAY – RAN
Melanjutkan sukses album debut mereka, RAN masih bertaji di album kedua (apaan siy). Lagu2nya masih catchy dan musiknya masih menyenangkan tanpa
kesan murahan. read review


4. Janji Pasti – The Banery
Mungkin album terfavorit gw tahun ini karena sampai sekarang ada kali gw
puter 20 kali. Musiknya kuno tapi kesannya fun dan fresh, lagunya enak2. Gw pun memutuskan The Banery adalah band baru terfavorit gw tahun 2009. Very very promising! read review


5. Mata, Hati, Telinga – MALIQ & D'ESSENTIALS
Mini-album ini gw dengerin beberapa kali dengan cara minjem CD temen gw di kantor
(abis mahal siy harganya). Bisa jadi ini karya terbaik Maliq, hanya dengan 6 lagu khas tapi terasa solid dan sangat lezat, pas sekali porsinya, nggak ada lagu yg tercela. Gw pasti beli deh kalo ada kelebihan uang hehehe.


6. My song Your song – Ikimonogakari (いきものがかり)
Hattrick dari Ikimonogakari yg tetap menampilkan musik yg berisi dengan melodi manis. Sangat pop dan sebenarnya tidak terlalu spesial. Namun Ikimonogakari tetap punya charm yg menarik gw untuk terus mendengarkan. read review


7. nowhere to go – endahNrhesa
Ini dia hidden treasure musik Indonesia yg albumnya terbilang laris—terutama untuk ukuran CD independen—tanpa promosi terlalu gencar, apalagi pake infotainment (karena justru infotainment digunakan oleh orang2 yg prestasinya nol). Dalam kesederhanaan (dari segi instrumen), endahNrhesa berhasil menyajikan musik yg berkarakter beserta lirik yg unik dan permainan ciamik. “Quality” is the right word. read review


8. Shio, Kosho (塩、コショウ) – GReeeeN
Masih belum menunjukkan tampang 4 personelnya, GreeeeN semakin mengukuhkan posisinya sebagai artis yg bisa laku hanya bermodalkan lagu,
hanya lagu. Album ini pun masih dengan formula lagu2 yg ramah didengar sekaligus asik meskipun mulai terdengar pengulangan dari karya2 sebelumnya. read review


9. SUPERMARKET FANTASY – Mr. Children
Album basi-an akhir 2008 yg jadi pendamaian gw dengan Mr. Children, padahal gw dulu nggak segitu nge-fans nya sama band senior ini. SUPERMARKET FANTASY adalah album terpuji: musiknya top, lagu2nya top, vokalnya top, judul albumnya pun luar biasa kreatif. Album ini lalu jadi salah satu album J-Pop terbaik yg pernah gw denger.
read review


10. The Pursuit – Jamie Cullum
Seperti tahun lalu, lagi2 tahun ini gw cuman beli 1 album bule, dan untungnya yg 1 itu bukan pilihan yg keliru. Album Jamie Cullum ketiga (yg gw punya) tetap memiliki ciri dan
excitement khas Jamie ditambah warna musik yg berbeda di beberapa lagunya. Worth to be bought and listened. Manstabh! read review



Senin, 28 Desember 2009

Year End Note: My Top 10 Songs of 2009 (Japan)

Selanjutnya adalah 10 lagu Jepang kesukaan gw di tahun 2009. Kebalikan dari lagu2 Indonesia, gw tahun ini terbilang jarang denger lagu J-Pop, atau setidaknya frekuensinya nggak setinggi tahun2 lalu. Selain kesibukan menjengkelkan, lagu2 J-Pop yg nge-hit di Jepang sepanjang 2009 memang banyak sekali yg bukan favorit atau tipe kesukaan gw (Johnny’s lagi, Johnny’s lagi, atau grup2 idol perempuan semacam AKB48). Setelah dengan pertimbangan dari sedikitnya lagu2 Jepang rilisan 2009 yg gw dengarkan, berikut 10 yg jadi favorit gw, diurut secara abjad.


1. “Aiamaru Tomi” - Shiina Ringo
(「あいあまる富」- 椎名林檎)
Lagu dari Shiina Ringo (yg juga vokalis band Tokyo Jihen) yg paling “normal” yg pernah gw denger. Nada dan musiknya tergolong mudah diterima dan memang ada “sesuatu” yg bikin gw larut dalam lagu ini, yg pasti bukan karena vokal dan
sound rekaman yg sama2 over-treble.. ^m^

2. “Asa ga Kuru Mae ni” – Hata Motohiro
(「朝が来る前に」- 秦基博)
Single
yg mellow tapi sekaligus meneduhkan sekali. Instrumen2 akustik dan string section nyatu banget sama suara manteph dari Hata. Salah satu karya terbaik abang yg satu ini.

3. “Black Glasses” - Angela Aki
(アンジェラ・アキ)
Lagu ini dibuat Angela Aki barengan musisi Amerika, Ben Folds dengan lirik
full bahasa Inggris. Dua kata yg bisa menggambarkan lagu ini: lucu dan unik. Ramuan musiknya agak berbeda dari lagu2 Angela kebanyakan tapi tetap menyenangkan dan enak didengar.

4. “Butterfly” - Kaela Kimura
(木村カエラ)
Melodinya kayak lagu jaman dulu, lucu deh, tapi Kaela harus memasukkan unsur yg disukainya yaitu
riff gitar listrik dengan distorsi serta beat drum yg nge-rock. Biar gitu hasilnya enak2 aja tuh, catchy dan tidak kacau. Sekali denger pasti nempel deh.

5. “Esora”
(「エソラ」) - Mr. Children
Basi-an akhir tahun 2008, tapi sempet lama jadi
ringtone di handphone gw. Musikalitas Mr. Children kembali ditunjukkan lewat hit ini, ceria dan berwarna, namun tetap berkualitas wahid terutama dari aransemennya.

6. “Etoile feat. Kirinji” - Tomita Lab
(「Etoile feat.キリンジ」- 冨田ラボ)
Keiichi Tomita adalah salah satu musisi Jepang yg gw kagumi. Dia produser dan arranger tapi bukan produser dan arranger biasa (cth: “Everything” nya MISIA dan “Canvas” nya Ken Hirai), tandingannya di sini mungkin Elfa Secioria. Tomita Lab adalah proyek dirinya untuk menyalurkan karya2 ajaib khasnya yg dilumuri unsur pop, jazz, klasik dan agak Disney dengan menggunakan instrumen yg kaya nan tepat guna. Kali ini meminjam jasa vokal dari duo
folk Kirinji, lagu Etoile yg bertema “ballerina” (karena memang soundtrack untuk film tentang seorang ballerina), Tomita menegaskan kembali kelasnya: aransemen yg terkesan nggak teratur tapi anehnya nyaman didengar—juga karena irama yg groovy, dan menumbuhkan kekaguman jika didengarkan dengan seksama, kord2 tiap instrumennya kok bisa nemu aja sih...?

7. “Ichibu to Zenbu”
(「イチブトゼンブ」) - B'z
Duo rock yg udah tuir (20 tahun) tapi mungkin tidak akan pernah mati. Apapun yg mereka rilis pasti laris manis dengan kualitas
respectable. Ini salah satu hit yg paling bagus yg pernah oom2 ini rilis beberapa waktu belakangan. Musiknya sih familiar, tapi nadanya catchy, solo gitar yg selalu sadis, dan hentakan yg tetap nge-rrrock meskipun lagunya pop. Bravo for the energy.

8. “Joy” - Bonnie Pink

Bonnie Pink yg udah terbilang senior ini bwt gw agak angin2an, kadang karyanya bagus tapi tak jarang yg terlalu biasa. Untungnya “Joy” adalah lagu yg sangat
easy-listening dengan groove dan unsur classic R&B yg menyegarkan. A fine-crafted song.

9. “Loop, Loop” - NoaNowa
(「ループ、ループ」のあのわ)
Lagu ini
catchy sekali sejak detik pertama, apalagi permainan gitar, drum dan cello yg genit dan menonjol membuatnya punya warna yg unik dan asik. Aransemennya sangat rapih dan akan mudah dikenali bahwa lagu ini milik NoaNowa, “berkarakter” istilahnya tuh.

10. “My Best of My Life” - Superfly

Satu lagi lagu indah dari salah satu talenta vokal terbaik milik Jepang. Mengalun lembut namun perlahan-lahan jadi “menggelegar” karena memang Superfly musiknya rock, awal sampai akhir lagu ini tertata bagus, megah, dan tentunya melodi yg gampang menyelusup di telinga. Walaupun belum semaknyuss hitnya tahun lalu “Ai wo Komete Hanataba wo”, tapi lagu ini tetap pantas ditengok.




Minggu, 27 Desember 2009

Year End Note: My Top 10 Songs of 2009 (Indonesia)

Melanjutkan 10 lagu paling berkesan bagi gw tahun 2009. Tahun ini gw lebih banyak denger lagu Indonesia karena radio yg gw denger terbilang sering memasang lagu2 lokal. Banyak yg bagus ternyata, dan inilah 10 di antaranya yg gw suka disenarai dalam urutan abjad.


1. “Cinta Pertama dan Terakhir” – Sherina

Wow, lagu ini mantep dah, dari nada, lirik, aransemen, vokal, semua pas. Karya terbaik Sherina hingga saat ini,
enough said.

2. “Cintailah Aku Sepenuh Hati” – Ari Lasso

Ari Lasso gak pernah gagal menelurkan hit, tak terkecuali yg terbaru ini. Liriknya sih biasa, aransemennya juga “sepi” dan standar, tapi entah kenapa, ada sesuatu dari melodi lagu dan vokal pak Ari.
Charming.

3. “Dengarkan Curhatku” – Vierra

Bukan mau sok AbeGe, tapi mnurut gw Vierra adalah salah satu band lokal yg punya warna tersendiri terutama dalam aransemen yg tidak mirip dengan band2 baru lain yg ironisnya umur personelnya lebih tua dari 4 anak remaja berambut aneh ini. Lagu ini enak dan aransemennya mantep, terlepas dari vokal yg
annoying dan isu penjiplakan (gw pernah iseng denger lagu yg konon dijiplak lagu ini, mirip doang, malah bagusan Vierra ah).

4. “Karena Dia” – The Banery

Ini lagu yg gw suka banget karena
grow-in-me. Pertama denger sih biasa aja, another indie song with noised recording, tapi semakin sering diputer di radio, gw semakin ngeh bahwa lagu ini enak, bagus, beda dan menyenangkan. My favourite local hit of the year. “Diaaaa…ha..ha..”

5. “Kuat Kita Bersinar” – Superman Is Dead

Gw lebih memilih band berpenampilan sangar dan bermusik keras tapi membawa pesan perdamaian, persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan, ketimbang band berpenampilan manis dan bermusik sendu tapi bersyair pro-perselingkuhan (plus personelnya suka mukulin orang,
do you know who I’m taking about? =_=). Btw, ini lagu SID pertama dan mungkin satu2nya yg gw suka, dan lagu seperti inilah yg seharusnya banyak dibuat di negeri Nusantara.

6. “Online” – Saykoji
Selain
catchy, liriknya kok agak gw banget yah (bangun pagi buka Facebook, produktivitas kepepet etc etc, hihihi). Saykoji tau bener caranya supaya rap bisa nge-hit di ranah mainstream musik Indonesia, lirik yg membumi dan nge-tren (dan agak kocak) dengan hook yg emang nyantol, dan nggak pake bahasa Inggris kebanyakan. Sayang di lagu ini belum ada Twitter ^o^'

7. “Palsu” – Gruvi

Single pertama Gruvi (lupa judulnya) menurut gw terlalu simpel dan generik. Ini single ketiga, walaupun tetap terdengar simpel tapi setidaknya punya kemasan yg lebih “berisi”, nyaman, dan..err..
groovy (?).

8. “Ratu Lebah” – RAN

Sekali lagi RAN membuktikan bisa membuat
sound yg asik meskipun dengan lirik yg gombal segombal-gombalnya. Melodi enak, aransemen yg wuih, maknyuss. Pembedaan melodi di verse 1 dan 2 menunjukkan kreativitas yg diramu tepat, membuktikan bahwa mereka memang bukan band biasa.

9. “Single Happy” – Oppie

“Aku baik-baik saja, menikmati hidup yg aku punya”. Perdengarkanlah lagu ini setiap ada pernikahan sepupu atau pertemuan keluarga besar lainnya jika ada tante2 *
yes, mostly those noisy aunts* yg menanyakan “kapan nyusul?”. +_+ v

10. “When You Love Someone” – endahNrhesa

Wah, lagu ini udah bener banget deh. Mungkin terlalu mendayu-dayu, tapi itu dia, dengan lirik dalem dan karakter musik endahNrhesa yg akustik sederhana,
still the song just feels right.


Honorable Mention: Guilty Pleasure of The Year

“Ular Berbisa” - Hello

Iya, iya, okey, gw sadar kok. Nama bandnya sama sekali nggak kreatif, judul dan lirik lagu yg “wapaan siy?”, dan musik yg mirip “Makes Me Wonder”-nya Maroon5 (yg justru membuat mereka agak
stand-out dari band pop-rock-melayu standard yg bermunculan dimana-mana)…ya sudahlah, gw udah pasrah untuk mengakui dengan berat hati bahwa gw menikmati setiap kali lagu ini terdengar dimanapun itu. Aku sudah tergigit…



Sabtu, 26 Desember 2009

Year End Note: My Top 10 Songs of 2009 (International)

Berusaha membuat tradisi, setelah bikin top10-top10-an tahun lalu (di notes Facebook), tahun ini gw bikin lagi, hehe. Isinya adalah yg sesuai dengan minat gw tentu saja: musik dan film. Seperti tahun lalu gw mengkategorikannya jadi tiga: lagu, album, dan film. Untuk yg pertama gw akan mendaftarlagu2 2009 yg paling berkesan buat gw. Dan karena ceritanya gw itu pecinta musik segala bahasa, maka gw mendaftar 3 jenis yaitu internasional (English), Indonesia dan Jepang, masing2 10, oke nggak tuh? (pembaca bilang: nggak tuh, biasa aja ^_^). Gw cicil dulu dari yg lagu internasional yah. Here they are in alphabetical order.



1. “Come Back To Me” – Utada

Rilisan internasional kedua dari bintang Jepang, Utada Hikaru. Dibandingkan rilisan internasionalnya yg dulu, lagu ini lebih nyantai dan
easy-listening, lebih enak dan catchy. Mari sama2 nyanyikan: “come baaack…”

2. “Give It Up To Me” – Shakira feat. Lil' Wayne

Lagu paling baru dari daftar ini, persembahan si penyanyi bersuara kambing dan berbahasa tubuh aduhai ini, bareng rapper yg lagi naik daun (di AS sana) dan juga Timbaland. Ini mungkin lagu R&B/hiphop pertama Shakira, dan sangat berhasil bagi gw, enak, rancak,
catchy, nagih, plus tarian “provokatif”—sana cek YouTube ^o^.

3. “Haven't Met You Yet” – Michael Bublé
Everyone’s favorite, I assume ^_^. Lagu ini sangat pop, agak standar namun tetap enak didengar. Dan untungnya, Michael Bublé tetap memberi sentuhan khas big band komplit dalam aransemennya. Simple tapi wah. Love the brass section/terompet2an.

4. “I'm All Over It” – Jamie Cullum

Gw baru “nyatu” sama lagu ini setelah mendengar kali ketiga. Enak banget lagunya, pop,
fun tapi masih ada jazznya. One of Mr. Cullum’s best hits yet.

5. “Just Dance” – Lady GaGa

Basian tahun 2008, tapi anggep ajalah, secara baru nge-hit di sini tahun 2009 (atau emang gwnya aja yg telat khikhikhi). Ini mungkin
dance anthem masa kini yg akan selalu diingat beberapa tahun ke depan. Lebih mantep yg versi asli, bukan remix.

6. “Love Sex Magic” – Ciara feat. Justin Timberlake

Gw nggak pernah suka Ciara sebelumnya, tapi luluh juga setelah mendengar Love Sex Magic. Agak2 ada sentuhan Justin Timberlake/The Neptunes di lagu “Rock Your Body”, tapi yg ini
beat-nya lebih medhok. Enak deh pokoknya.

7. “New Divide” – Linkin Park

Pilihan bias! ^o^. Gw suka banget Linkin Park, biar lagu ini sebenernya “What I’ve Done” jilid 2—mirip, tapi gw tetep suka. Biar gw benci banget film Transformers 2 yg menjadikan lagu ini soundtracknya, tapi gw tetep suka lagu ini. Keren (subjektif).


8. “OK It's Alright With Me” – Eric Hutchinson

Gw
aware sama artis dan lagu ini lewat nonton acara2 talkshow malam Amerika baik di Star World (Jimmy Kimmel) maupun CNBC (Jay Leno/Conan O’Brien)—ih sombong, hohoho. Lagu ini begitu nge-hook dari awal sampai akhir, khas singer-songwriter Amerika dengan musik akustik tapi rame dan enerjik. Nice.

9. “This Is It” – Michael Jackson

Seandainya direkam lebih baik, lagu ini pasti jadi hit besar (yg gw denger di radio direkam
live, apa jangan2 cuman demo, agak2 fals gitu deh) tanpa harus dikatrol sensasi meninggalnya King of Pop. Lagu ini enak dan liriknya juga agak lucu (“falling in love wasn’t my plan..” ^_^). Karya terakhir Michael Jackson sebelum wafat, dan untungnya tidak mengecewakan.

10. “What's Right Is Right” – Taylor Hicks

Ini juga bias, mungkin gw termasuk minoritas, tapi Taylor Hicks adalah American Idol favorit gw. Sayang dari segi manapun si muka tua ini kurang komersil, album keduanya pun diproduksi secara independen. Tapi
charm dari musikalitas Taylor Hicks masih bekerja pada gw, lagu ini pun terdengar intens dan enak dengan nuansa blues dan soul santai. Soul patrol!! ^0^


Honorable Mention: Guilty Pleasure of The Year

“She-Wolf” – Shakira

Gw suka Shakira, tapi sumpah ini lagu aneh banget. ANEH BANGET! Tapi tetep aja gw tak kuasa menikmati lagu ini, gara-gara bagian lolongan “auuuuuu…!” ^o^’


Rabu, 23 Desember 2009

[Movie] Sang Pemimpi (2009)



Sang Pemimpi
(2009 - Miles Films/Mizan Productions)

Directed by Riri Riza

Screenplay by Salman Aristo, Mira Lesmana, Riri Riza

Based on the novel by Andrea Hirata

Produced by Mira Lesmana

Cast: Vikri Septiawan, Rendy Ahmad, Azwir Fitrianto Zulfani, Lukman Sardi, Mathias Muchus, Nugie, Landung Simatupang, Nazriel Ilham



Gw awam dengan rangkaian novel Andrea Hirata atau terkenal dengan sebutan tetralogi Laskar Pelangi, sebagaimana gw memang awam sama segala sesuatu yg berhubungan dengan novel dan karya sastra.
I’m not a book fan. Atas dasar termakan euforia dan promosi gencar tanpa tahu2 banget tentang sumber aslinya, tahun lalu gw adalah salah satu dari jutaan orang yg nonton Laskar Pelangi dan terbuai dalam charm-nya baik cerita maupun pengalaman sinematiknya (haduuh terlalu tinggi gak sih bahasanya…). Salah satu film Indonesia yg digarap paling baik dan serius. Sang Pemimpi adalah lanjutan dari Laskar Pelangi. Jika Laskar Pelangi bercerita tentang Ikal dkk masih sekolah di SD Muhammadiyah di Gantung, Belitung yg nyaris bubar, maka Sang Pemimpi bermula dari Ikal yg menemukan sahabat2 baru yg bersama-sama menjalani masa remaja di SMA di kota pelabuhan Manggar (masih di Belitung btw), well most of it.

Cukup lucu bahwa baik Laskar Pelangi maupun Sang Pemimpi ini bercerita tentang Ikal (yg katanya adalah manifestasi Andrea Hirata sang pengarang sendiri)
yg bercerita lebih banyak mengenai orang lain yg digambarkan luar biasa pengaruhnya dalam kehidupan Ikal. Laskar Pelangi berpusat pada si jenius Lintang dan pengabdian Ibu Muslimah, maka Sang Pemimpi lebih kepada kekaguman Ikal pada Arai, sepupu yg jadi saudara angkatnya selepas SD. Di awal film, kita melihat Ikal (Lukman Sardi) bekerja di kantor pos selepas lulus S1. Ia tinggal di Bogor, harusnya sama Arai (Nazriel Ilham), tapi sudah cukup lama Arai hilang begitu saja. Bagaimana kehidupan Ikal dewasa “saat ini” semua gara2 Arai yg menjerumuskannya untuk meretas mimpi. Sejak kecil Arai adalah pribadi yg unik, ia sangat cerdas, tapi sangat nakal, tapi lagi berhati mulia. Arai (Rendy Ahmad) menjadi biang Ikal (Vikri Septiawan) dan sahabat satu geng yg lain, si gagap Jimbron (Azwir Fitrianto), terlibat masalah khas anak sekolah (yah iseng sama guru, bolos, dll). Tapi Arai juga yg mengajak Ikal untuk bareng2 lulus SMA dengan nilai terbaik, ke Jakarta dan lulus S1 di Universitas Indonesia—dengan biaya yg disusahakan sediri pula, lalu meraih beasiswa ke Universitas Sorbonne, Paris—terinspirasi dari guru bahasa/sastra favorit mereka, Julian Balia (Nugie) yg gemar menanamkan semangat meraih cita2 setinggi mungkin pada murid2nya. Mimpi yg terlalu tinggi? Bagi orang2 yg seperti pak kepala SMA, Pak Mustar (Landung Simatupang) maybe it is, tapi tidak bagi Arai, dan tekad itupun menular pula pada Ikal. Ditambah dengan subplot2 tentang pubertas (naksir cewek dan penasaran sama film “Skandal Metropolis”), dan kekaguman Ikal pada sang Ayah (Mathias Muchus)—ayah no.1 di dunia, maka jadilah Sang Pemimpi.

Ada yg merasa ringkasan cerita yg gw bikin di atas agak abstrak? Hehehe,
to tell you the truth, I almost have no idea what I just wrote. Berbeda dengan Laskar Pelangi yg plotnya diusahakan berkesinambungan (mempertahankan sekolah hingga Ikal dkk bisa lulus), maka Sang Pemimpi yg (harusnya) bertema coming-of-age rasanya kurang lancar dalam mengaitkan momen2 dalam adegan2 yg ada menjadi satu kesatuan. Pengait kisahnya tentu saja Arai dan Ikal untuk mewujudkan rencana jangka panjang mereka, namun entah kenapa, rasanya kurang gimanaa gitu, gw agak lost di tengah2. Gw juga kurang sreg sama kalimat2 dialog yg “terlalu sastra” dan kurang believable padahal maksudnya inspiratif. Segi casting pun, dengan sangat menyesal gw harus menyatakan, menurun dibanding pendahulunya. Performa paling okeh adalah dari Landung Simatupang sebagai kepala SMA yg keras, kaku, tapi berhati emas, serta Mathias Muchus yg kemunculannya selalu signifikan. Sedangkan para aktor remaja pemeran Ikal, Arai dan Jimbron masih kalah nendang dari rekan2 cilik mereka di Laskar Pelangi. Yg paling bisa berakting adalah Rendy Ahmad, tapi itupun masih keliatan “akting”. Nugie? Err...belumlah. Nazriel Ilham a.k.a Ariel vokalis band-yg-dahulu-dikenal-sebagai-PeterPan-tapi-belum-nemu-nama-baru-sampe-sekarang-padahal-sejak-2007-udah-disuruh-ganti? Kalo gw suruh milih, kemampuan akting Ariel sedikit lebih baik daripada kemampuan nyanyinya, since I hate the way he sings anyway. Tapi satu sektor yg paling mengganggu gw di Sang Pemimpi adalah editingnya yg tidak kreatif. Kok kayaknya pergantian adegan dengan crossfade (perpindahan adegan pake layar hitam) kebanyakan deh, dan lama2 semakin sering, malah bikin jengkel.

Meski demikian, gw gak berani mengganggu gugat kenyataan bahwa Sang Pemimpi punya kualitas lebih superior dibandingkan film2 nasional kebanyakan. Selain pesan yg dalam, sinematografinya masih oke (gw bilang siy masih bagusan Laskar Pelangi), tata artistiknya pun mantebh, dan pengarahan masing2 adegannya masih jempolan, bahkan ada beberapa adegan yg bikin gw tertawa lepas. Film ini tetap entertaining dan indah. Adegan2 yg menunjukkan hubungan Ikal dan sang Ayah adalah favorit gw. Tapi overall tampaknya film ini dibuat terlalu terburu-buru, bahannya lengkap dan berkualitas tapi komposisinya kurang pas. Sayang sayang, seribu kali sayang…But anyway, film ini bisa ditonton secara mandiri tanpa harus menonton Laskar Pelangi dulu lho.


My score: 7/10



Minggu, 20 Desember 2009

[Movie] Avatar (2009)


Avatar
(2009 – 20th Century Fox)
Written & Directed by James Cameron
Produced by James Cameron, Jon Landau

Cast: Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Stephen Lang, Michelle Rodriguez, Giovanni Ribisi, Joel Moore, CCH Pounder



Lupakan Transformers: Revenge of The Fallen! Lupakan 2012! Kalo mencari film dengan visual efek CGI dan sound dahsyat, tontonlah Avatar! Kalo memang mencari cerita dan penceritaan yang baik serta gambar2 menakjubkan, tontonlah Avatar! Film ini digarap James Cameron, si empunya film2 canggih seperti The Abyss, Terminator 1 &2, Aliens, dan tentu saja film yg ditonton segenap umat manusia di muka bumi, Titanic. Daftar filmografi ini terlihat bukan main2, kan? Avatar sebagai karya terbarunya 12 tahun setelah Titanic melanjutkan daftar film2 mahal dan sukses itu. Avatar memang diset sebagai film mahal (rumor budgetnya minimal 230 juta dolar AS) dan digadang-gadang sebagai pengalaman baru menonton film, apalagi dengan menggunakan teknologi yg lagi nge-tren: 3-Dimensi. Gw sih baru nonton versi 2-D ajah, tapi buzz film ini ternyata bukan sesumbar belaka. It is the movie everyone’s would and should watch.

Gw dengan senang hati mau menceritakan film ini, tapi kayaknya musti digambarkan dulu situasinya yg sebenernya lumayan kompleks . Di tahun 2154, sebuah perusahaan (dari bumi) menginginkan mineral yg terkandung di bawah tanah planet Pandora, planet mirip bumi nan asri tapi tanpa oksigen. Semua akan mudah seandainya di Pandora tidak ada penghuninya. Usaha pertambangan terhalangi oleh adanya makhluk pribumi mirip manusia, yg disebut Na’vi—berkulit biru, tinggi kurus, berekor, mata kuning dan hidung mirip harimau, serta peradaban yg
“primitif”. Belum lagi, sumber mineral terbesar ada tepat di bawah pemukiman Na’vi suku Omaticaya. Agar mereka mau menyingkir, sudah lama ada program “diplomasi” dengan Na’vi yaitu mengirim beberapa ilmuwan untuk mendidik penduduk pribumi Pandora, termasuk bahasa Inggris yg timbal baliknya sekaligus memperlajari kehidupan Na’vi, caranya adalah ilmuwan ini memakai avatar—tubuh biologis Na'vi yg dibentuk dari gabungan DNA manusia dan Na’vi, yg bisa dikendalikan dari jarak jauh lewat sambungan otak manusia, semacam pindah tubuh pake alat kayak di The Matrix gitu deh, tubuh asli mereka sih nggak kemana-mana—agar dengan wujud tersebut mereka mudah membaur dan (berusaha) dapat dipercaya para Na'vi. Kalo cara ini gagal, perusahaan udah menyiapkan pasukan bersenjata yg siap sedia kapanpun juga...dasar kalo udah maunya ya...

Tokoh utama kita adalah Jake Sully (Sam Worthington), seorang pensiunan marinir berkursi roda, yg ditugaskan untuk menggunakan avatar yg harusnya milik kembarannya, Tommy yg tewas dirampok. Tadinya, pemimpin misi diplomasi, Dr. Grace Augustine (Sigourney Weaver) tidak suka, karena Jake bukanlah ilmuwan seperti Tommy, tapi pemimpin pertambangan,
Parker Selfridge (Giovanni Ribisi) berkeras untuk mengajak Jake sebagai pengawal Grace dan Norm (Joel Moore) ketika masuk ke wiliayah Na’vi. Malapetaka pun terjadi, baru keluar pertama, mungkin gara2 kegirangan bisa berjalan pake tubuh avatar, Jake udah nyasar di hutan Pandora gara2 ketemu hewan buas. Di dalam hutan asing itu, ia bertemu dengan seorang Na’vi perempuan, Neytiri (Zoe Saldana) yg kemudian karena suatu “pertanda alam” membawa Jake ke hadapan pimpinan suku Omaticaya yg tak lain orang tua Neytiri. Para Na’vi juga ternyata ingin sedikit banyak mengadakan diplomasi dengan manusia yg notabene orang luar (disebut Orang Langit), tapi Jake dianggap istimewa karena dipilih oleh “dewa” mereka. Jake lalu dimentori oleh Neytiri mengenai kebiasaan dan cara hidup Na’vi terutama sebagai prajurit. Ini tentu saja akan memuluskan keinginan Dr. Grace untuk menggali lebih dalam tentang Na’vi. Namun pemimpin pasukan bersenjata, kolonel Quaritch (Stephen Lang) pun menuntut Jake untuk melaporkan tentang keadaan dan kelemahan Na’vi padanya—jadi triple agent deh. Semakin dalam memahami cara hidup Na’vi—yang sangat menyelaraskan diri dengan alam sekitar, Jake jadi kepincut (sama keeksotisan budaya Na'vi, dan juga sama Neytiri, obviously) bahkan ditahbiskan jadi bagian dari suku Omaticaya, maka ia pun dihadapkan pada dilema: ia jadi ada di pihak manusia yg menugaskannya, atau Na'vi yg belakangan jadi keluarga barunya. Pilihan itu pun harus segera diputuskan karena para manusia udah gatel untuk mengusir suku Omaticaya dari rumahnya yg memendam kekayaan mineral itu.

Gw jadi bingung mau mulai komentar dari mana, Avatar adalah sebuah film yg memiliki segalanya sebagai epik fantasi. Menyaksikan Avatar memiliki kesan yg kuat sebagaimana dulu pertama kali nonton Star Wars atau The Lord of The Rings,
it’s just amazing. Planet Pandora digambarkan begitu menakjubkan dengan detil2 yg luar biasa. Dari segi visual efek pun Avatar udah menyikat film manapun yg tayang tahun ini, atau tahun sebelumnya. CGI nya keren, buanget! Lagian film ini sekitar 60%-nya adalah animasi CGI karena para Na’vi dan hewan2 Pandora memakai teknologi motion capture seperti Gollum di The Lord of The Rings, awesome. Belum lagi pemandangan Pandora, wow, ada gunung2 melayang yg mengingatkan gw sama manga Magic Knight Rayearth. Juga persenjataan dan kendaraan tentara manusianya, cool. Gila banyak banget yg perlu dipuji dari segi teknis film ini. Sinematografi, desain artistik, desain makhluk, editing, musik, sound, dan tak lupa cerita, semua bagouuus. Banyak juga yg diceritakan di film ini (tidak sesingkat ikhtisar gw di atas), cukup kompleks, jadinya durasi 2,5 jamnya pun agak kerasa, tapi semua adegan terpasang relevan dan tidak mubazir, dan yg penting , berkaitan satu dengan yg lain. Perang2 besar di bagian ending hanya akan jadi perang2an tanpa arti seandainya Jake (dan penonton) nggak punya "ikatan" dan kegaguman dengan dunia Na’vi yg dibangun dengan sangat baik dan kuat di rangkaian “orientasi kebudayaan Na'vi” yg dijalaninya.


look at that! @o@

Penceritaan/plot filmnya enak diikuti, walaupun sebenarnya ceritanya sendiri cukup familiar. Soal cowok “pendatang” yg diperkenalkan tentang dunia lokal sama cewek pribumi lalu saling jatuh cinta mirip sekali dengan Pocahontas, apalagi gambaran suku2 Na’vi memang sepertinya mengambil banyak elemen2 dari suku asli Amerika a.k.a. Indian. Soal orang asing yg mempelajari lalu menjadi bagian dari kehidupan pribumi dan kemudian jadi pemimpin, serta tentang manusia yg lebih mirip
villain daripada aliennya, rasanya sudah ada di film2 lain, tapi oom James menjalinnya dengan indah dan tetap berkesan. Yg paling mengusik gw sebenarnya pada bagian perusahaan yg mencoba menawarkan “peradaban”—pendidikan, pembangunan—pada warga pribumi yg menurut mereka belum beradab, tapi semua itu hanya supaya mendapatkan apa yg mereka inginkan, ketika nggak bisa dapet, langsung nyolot pake kekerasan termasuk merusak alam, semua hanya demi fulus. Capitalism is evil.

Kalaupun ada kekurangan, mungkin dari segi penokohan yg terlalu jelas pembedaannya (yg baik dan jahat gampang ditebak di awal), dan akting para pemain yg nggak terlalu istimewa—tapi nggak papalah, sebagian besar film kan animasi yg ciamik, mumpuni, maknyuss, makblegender, endang bambang gulindang (lho kok jadi Wisata Kuliner).
Endingnya pun rasanya cenderung predictable, karena makin jelas ini film kebajikan vs kejahatan. Namun apa mau dikata, keindahan gambar, ritme cerita yang pas, adegan action keren dan faktor2 lainnya udah benar2 menarik gw ke Pandora dan yg bisa gw lakukan cuman pasrah dan nikmati saja sajian di layar. Tak hanya sampai di situ, jika Titanic berhasil membuat kebanyakan penonton kagum akan visual efek sekaligus emosional akan tragedi cinta, maka Avatar pun sukes membuat gw takjub akan gambarnya, terlibat secara emosional pada tokoh2nya (terutama saat ----nya beberapa tokoh protagonis), serta kepikiran tentang makna filosofi di dalamnya—mengapa untuk mempertahankan kelangsungan kemanusiaan, manusia harus berlaku tak manusiawi.

Gw udah bertekad untuk nonton lagi, dalam format 3-Dimensi. Avatar memang film yang tak boleh di lewatkan, haram kalau di-
skip begitu saja. Avatar successfuly defined the phrase epic fantasy: it is epic, and it is fantastic.



My score
8,5/10

~Scorenya segini dulu, kemungkinan akan berubah setelah gw nanti nonton dalam format 3D, yg konon katanya adalah “format yg sepantasnya”~

Jumat, 18 Desember 2009

Peraih Piala Citra Festival Film Indonesia 2009

Maap telat, lagi2 karena kesibukan menjengkelkan, gw baru sempat memposting ini, selain karena emang ingin menyelesaikan review film2 Jiffest duluan. 16 Desember 2009 di Hall D1 Jakarta International Expo (Arena PRJ) menjadi tempat penyelenggaraan pentas musik Hits RCTI...eh salah, maksudnya penganugerahan Piala Citra sebagai malam puncak Festival Film Indonesia 2009 =,=;. Sebagaimana gw duga, RCTI hanya besar di sesumbar (acaranya akan seperti Oscar atau Golden Globe blablabla...) dan hasilnya adalah acara yg tidak relevan dengan maksud diadakannya FFI.

Sebenarnya dari segi "penglihatan" dari jauh, acara ini cukup menjanjikan, ada pixel screen, panggungnya paling bagus dari FFI tahun2 kmaren, dan kali ini dimulai on time. Tapi itu hanya kulitnya saja. Acara yg katanya "penghargaan tertinggi bagi insan perfilman Indonesia" nyatanya—duh—dinodai oleh nyanyian Indonesia Raya bersama tapi kedengeran banget Charly ST12 nyanyi dengan cengkok yg (katanya) melayu itu, lalu penonton di area festival yg kampungan (penonton alay di Dahsyat aja masih mendingan, silahkan bayangkan) dan samas sekali bukan apresiator film, pembacaan nominasi pemeran utama pria & wanita terbaik nyontek cara Oscar kemaren—tapi masih KW10, dan yang nyesek adalah tidak semua pemenang diumumkan on air. What? Malah penonton diganggu dengan penampilan ST12 dua/tiga kali, Geisha, Vierra, D'Masiv dua kali, The Changchuters dua kali (tapi gw akui Tria adalah presenter yg paling oke, dia bacain tata musik terbaik), dan justru porsi band-nyalah yg lebih banyak (sampe Djenar Maesa Ayu agak kesel sama penonton2 kampung itu yg ribut waktu Geisha sedang siap2 di panggung, padahal Djenar sedang mempresentasikan film Ruma Maida). Apanya yg elegan? Tampilkan dong artis2 yg setidaknya ada hubungannya dengan film di tahun ini: Netral kek, RAN kek, Afgan kek, Melly kek, Slank kek, Changcuters masih boleh deh, tapi tiap artis satu lagu aja! Yg gw sebut barusan juga pasti menaikkan rating. Ini yg punya hajat (baca: RCTI) mikirnya apa sih? Udah berapa lama sih kerja di broadcasting? Gw yg cuman penonton aja tau mana yg pantas dan mana yg enggak untuk ditampilkan dalam sebuah acara yg seharusnya jadi pestanya insan film. FILM! For God sake!

Dari segi moral, SCTV tahun 2007 dan 2008 masih unggul karena semua penghargaan diserahkan on air (walaupun nggak semua dibolehin speech). Soal kemasan luar, RCTI memang lebih baik dari segi design panggung, lighting, dan design grafis, skripnya juga lebih oke. Tapi, secara keseluruhan, sama aja jeleknya, eksekusinya berantakan. Serius ya, mending tahun depan ke TVRI aja deh, biarin kuno asalkan nggak terlalu komersil seperti antek2 kapitalisme di stasiun2 TV swasta itu.

*Tenangkan diri* Oke deh, kalo soal pemenang2nya, walau daftar nominasinya cukup berkualitas sebagaimana tahun lalu, kali ini gw bisa dan sah untuk langsung merasa kurang sreg, karena udah nonton pemenang film terbaik, Identitas (silakan liat review gw). Gw lebih merasa Ruma Maida lebih oke dari segi cerita, penceritaan, dan kemasan. Kecewa juga sih Ruma Maida hanya dapet 1 Citra dari 11 nominasi, bahkan di kategori skenario terbaik kalah sama cin(T)a yg hanya dapet 1 nominasi, padahal menurut gw film ini bahkan hampir nggak ada ceritanya. Tapi ya udahlah, namanya udah rejeki masing2. Tidak sekontroversial tahun 2006 dengan Ekskul-nya yg norak itu (dan Heart nominasi film terbaik? wtf), tapi mungkin selera dewan juri tahun ini belum berjodoh dengan selera gw, I'm sure they had their own reasons. Seandainya Mira Lesmana nggak ngambeg dan mengikutkan Laskar Pelangi...




Titi Sjuman menyambut Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik, cantik ya perempuan ini @o@.
(vivanews.com)

FILM
Identitas

PENYUTRADARAAN
Aria Kusumadewa (Identitas)

PENULISAN SKENARIO CERITA ASLI
Sally Anom Sari & Sammaria Siamanjuntak (cin(T)a)

PENULISAN SKENARIO CERITA ADAPTASI
Djaner Maesa Ayu & Indra Herlambang (Mereka Bilang, Saya Monyet!)

PEMERAN UTAMA PRIA
Tio Pakusadewo (Identitas)

PEMERAN UTAMA WANITA
Titi Sjuman (Mereka Bilang, Saya Monyet!)

PEMERAN PENDUKUNG PRIA
Reza Rahadian (Perempuan Berkalung Sorban)

PEMERAN PENDUKUNG WANITA
Henidar Amroe (Mereka Bilang, Saya Monyet!)

TATA SINEMATOGRAFI
Ipung Rahmat Syaiful (Pintu Terlarang)

TATA ARTISTIK
Kekev Marlov (Identitas)

PENYUNTINGAN
Wawan I. Wibowo (Pintu Terlarang)

TATA SUARA
Shaft Daultsyah & Khikmawan Santosa (Ruma Maida)

TATA MUSIK
Aksan Sjuman & Titi Sjuman (King)

FILM PENDEK
Sabotase

FILM DOKUMENTER PANJANG
Ayam Mati di Lumbung Padi

FILM DOKUMENTER PENDEK
The Last Journey

PENGHARGAAN KHUSUS DEWAN JURI UNTUK FILM ANAK-ANAK
Garuda Di Dadaku

PENGHARGAAN PENGABDIAN SEUMUR HIDUP
Sophan Sophiaan

PENGHARGAAN KHUSUS SUTRADARA BARU
Djenar Maesa Ayu – Mereka Bilang, Saya Monyet!


Selamat untuk para peraih penghargaan. ^o^ /~

[Movie] Departures (2008)


おくりびと (Okuribito)

Departures
(2008 – Shochiku/TBS Pictures)

Directed by Yojiro Takita
Screenplay by Kundo Koyama
Produced by Toshiaki Nakazawa, Ichiro Nobukuni, Toshihisa Watai
Cast: Masahiro Motoki, Ryoko Hirosue, Tsutomu Yamazaki, Kimiko Yo, Kazuko Yoshiyuki, Takashi Sasano



Thank God for Jiffest! Gw berkesempatan untuk nonton film Jepang pemenang Academy Award/Oscar Februari kemaren, Okuribito a.k.a. Departures di layar lebar, sebagai film ke-4 dan terakhir yg gw tonton di Jiffest tahun ini. Sebenernya sih dulu gw pengen nonton dengan cara biasanya gw bisa nonton film Jepang: unduh (ih, ngapain beli di lapak kalo bisa bikin sendiri, gratis pun +_+ *sesat*) tapi karena kesibukan dan lain hal, gak sempet deh. Pucuk dicinta nasi ulam pun tiba, Jiffest 2009 menayangkan film ini. Yeay!

Menonton film (live action) Jepang sebenarnya tidak boleh dengan ekspektasi terlalu tinggi. Meskipun kurang begitu mendalami dunia sinema Jepang, gw sebenarnya dapat mengira-ngira bahwa dunia perfilman di sana mirip dengan Indonesia sekarang. Bukan dari segi pendanaan tentu saja, tapi dari segi penggarapan. Untuk sebuah negara yg empunya sutradara legendaris Akira Kurosawa (how I love Rashomon ^o^), film2 yg ada belakangan ini, yg gw tonton terutama, kurang bisa mencapai kejayaan masa lalu. Banyak yg hanya jadi mesin pencari uang misalnya versi film dari sinetron2/dorama televisi sukses, lalu yg sekarang lagi tren juga adaptasi komik dengan hasil kualitas seadanya seperti Nana dan 20th Century Boys, atau melodrama cinta adaptasi novel roman yg mudah menarik penonton terutama wanita. Beberapa film Jepang tahun 2000-an yg gw anggap cukup bagus adalah hanya Always:Sunset on The Third Street, The Wow-Chouten Hotel, Densha Otoko (Train Man), dan Ima Ai ni Yukimasu (Be With You). Tapi semuanya ada satu kesamaan: penggarapannya standar. Ya gitu2 aja, antara sutradara yg satu dan yang lain gayanya sama, kayak satu sekolahan semua. Nonton film dengan sinteron Jepang hampir nggak ada bedanya, beda alat rekam aja. Untuk urusan film bisokop, maap2 kata niy, Jepang kayaknya musti belajar dari Korea.

Oke deh, kita kembali ke Departures. Film ini mengisahkan Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki), yg tadinya berprofesi sebagai pemain cello profesional di sebuah orkestra yg akhirnya bubar. Daigo bareng istrinya Mika (Ryoko Hirosue, lovely) memutuskan untuk pindah dari kota besar (mungkin Tokyo tapi entahlah) ke Yamagata, tempat ia dibesarkan, dan tinggal di rumah warisan almarhum ibunya. Hal yg jadi prioritas Daigo tentu saja mencari pekerjaan, dan ia menemukan sebuah lowongan di koran lokal, yg umur bisa berapa aja, pengalaman nggak penting, dan upahnya cukup besar. Daigo lalu datang dan langsung diterima oleh si bos, Sasaki (Tsutomu Yamazaki) tanpa basa-basi dan tetek bengek lainnya, namun baru tahu kemudian bahwa usaha yg dia kira agen travel (karena bernama NK Agent, dan ada tulisan "tabi"=perjalanan), ternyata adalah perusahaan jasa pengurus jenazah (iklannya kurang satu huruf "tabi-dachi"=yg pergi/meninggal, capek deeh), dan NK adalah singkatan noukan: peletakan jenazah ke peti mati. Usaha ini menjual jasa mulai dari pemandian, rias sampai penyediaan peti mati—di pembukaan film kita udah tau ini sebuah prosesi berupa upacara yg, honestly, terlihat jauh lebih keren ketimbang upacara minum teh nan membosankan itu.

Walah, Daigo jadi kebingungan tapi segan menolak, secara nganggur kan, lagian NK agent saat itu isinya cuman pak Sasaki dan pengurus administrasi + hal lainnya, Kamimura-san (Kimiko Yo), 2 orang doang, mana Daigo langsung dikasih upah pertama hari itu juga. Memutuskan untuk merahasiakan dari istrinya ("jasa upacara" katanya, "oh, kayak kawinan gitu?" ^=^), Daigo lalu melakoni pekerjaan yg dianggap tabu itu, diawali dengan jadi model mayat di syuting DVD demo prosesi pemandian dan rias jenazah pak Sasaki, kemudian waktu2 selanjutbya menyaksikan sekaligus belajar cara kerja pak Sasaki memandikan dan merias mayat dalam satu prosesi yg disaksikan langsung oleh keluarga berduka. Daigo tak butuh waktu lama untuk akhirnya menghargai pekerjaan ini. Pak Sasaki membersihkan dan merias jenazah dengan penuh penghormatan, ketulusan, dan menjaga martabat almarhum dan keluarga (mayat tidak serta merta ditelanjangi, tapi dikamuflase dengan canggihnya) —dan tentu saja dengan keahlian yg mumpuni, serta meriasnya seakan-akan si almarhum siap untuk berangkat tanpa beban, memberi kelegaan kepada keluarga yg ditinggalkannya. Melihat itu, Daigo pun mulai luluh dan giat menekuni profesi langka ini. Tapi di saat2 itulah, Daigo mulai jadi pembicaraan orang, bahkan teman lamanya jadi malu berteman sama dia (cih, temen apaan tuh?). Mika pun akhirnya tau, karena merasa syok dan malu (dia tidur bareng orang yg pegang mayat, hii) Mika memutuskan untuk berpisah sampai Daigo memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Tapi Daigo tampaknya sudah mantap pada kehidupannya sekarang. Ia belajar banyak lewat peristiwa2 kematian yg disaksikannya, dan tanpa disangka melalui pekerjaan inilah ia bisa kembali menghadapi apa yg masih mengganjal dalam hatinya, yaitu kebencian pada ayahnya yg kabur waktu ia kecil bahkan sampai lupa mukanya. Lewat pekerjaannya inilah Daigo akan dipertemukan, dan bukan hanya sekadar mengingat kembali wajah ayahnya (ini spoiler bukan yah? ^_^').

Jujur aja, secara teknis Departures hampir tidak jauh beda dengan film2 Jepang yg pernah gw tonton. Semuanya tampak sederhana sekali, akting dan gambar2nya pun tidaklah terlalu istimewa, standar (buat gw Sekai no Chuushin de Ai wo Sakebu/Crying Out Love in the Centre of the World masih unggul dalam urusan sinematografi film drama). Apalagi yg gw heran adalah kualitas gambarnya yg kotor dan kasar yg notabene jadi penyakit hampir semua film2 Jepang, bahkan di DVD sekalipun (terutama produksi TBS), entah salah kameranya, salah pita filmnya, atau salah printingnya. Jepang lho, negara teknologi, tapi masih kayak gitu, kalah sama Korea. Akan tetapi, setelah menonton Departures sebagai sebuah film utuh (meski diwarnai dengan pengulangan adegan waktu gw nonton, entah karena operator salah pasang roll film atau emang dari sononya kopi filmnya error), gw mengerti kenapa film ini bisa terpilih menerima piala Oscar. Film ini sangat representatif, memuat ke-Jepang-an meski tanpa samurai dan geisha. Tema yg diangkat, yaitu upacara "persiapan" jenazah, yg di film ini ditunjukkan dengan sangat baik detil serta estetika nya, takkan ada di mana-mana, bahkan di Jepang pun konon profesi ini cukup tabu dan jarang ada (terlihat dari adegan ending, pengurus jenazah di kota lain yg mau ngangkut mayat kayak pindahan rumah, nggak ada penghormatannya sama sekali), karena, realistis aja, siapa yg bangga kalo ditanyain Q: "kerja kamu/bapakmu apa?", A: "mandiin mayat"? =_='. Di Indonesia, mungkin ini "cuma" jadi bahan ejekan, tapi di Jepang, juga menurut film ini, sebagian masyarakat akan menanggapinya dengan serius dan menjadikan itu profesi memalukan yg hampir tak ada seorang pun yg mau mengerjakannya (duh ribet ya jadi orang Jepang tuh).

Terlepas dari kesederhanaannya, dan berkaitan dengan temanya juga, film ini sangat kuat di cerita, yang bisa dimaknai secara universal, pun karakterisasi yg simpatik tanpa kecuali. Semuanya terlihat ringan dengan beberapa adegan dan dialog yg cukup menggelitik (thus, film ini nggak mboseni, beneran deh) tapi menyimpan makna yang mendalam: bagaimana menghadapi dan membiasakan diri pada perubahan hidup yg tiba-tiba, bagaimana menerima dan menghargai orang lain tanpa terpaku pada stigma, bagaimana untuk mengampuni, bagaimana menjalani hidup dengan tulus. Beberapa momen prosesi persiapan jenazah pun sangat menarik dan mengena, terutama dari reaksi setiap keluarga yg berbeda satu dengan yang lain. Gw paling suka ketika seorang ibu meninggal, pak Sasaki nanya "boleh saya minta lipstik kesukaan istri Anda", lalu si suami bereaksi bengong "hah?", dan akhirnya si anak yg mengambilnya. Hanya dari adegan ini saja kita tahu "sebesar" apa perhatian si suami pada si istri. Sebenarnya film yg judulnya harusnya diterjemahkan jadi "penghantar" ini tak luput dari kelemahan di beberapa adegan, seperti adegan ala sinetron ketika Kamimura-san yg tiba2 bercerita mengenai masa lalunya meninggalkan anak untuk mencari nafkah. Tapi itu bisa dimaafkan mengingat adegan prosesi persiapan mayat sebelum dan sesudah adegan itu amat sangat "mendiamkan" gw dan sepertinya membuka saluran air mata penonton yg lain.

Kalo boleh terus terang, gw tidak segitu terkesan sama film secara keseluruhan sesaat setelah filmnya habis, seperti gw bilang di atas, tampilannya nggak terlalu istimewa, aman2 saja. Tapi selama mencoba menulis review ini, ternyata gw menemukan Departures memuat banyak sekali hal yg patut digali yg memang ditunjukkan secara subtle, baik itu gambaran sosiologi, budaya, ataupun kemanusiaan, meskipun plotnya berjalan dalam scope yg kecil, yang personal, nggak meluber kemana-mana, dan justru itulah yg membuatnya lebih nyaman sekaligus "kena", serta asiknya lagi, film ini cukup menghibur. Film ini lebih bagus justru kalo diingat-ingat lama setelah nonton, seperti makanan kaya gizi yg rasanya biasa aja, tapi baru terasa khasiatnya belakangan (kayak ngantuk 15 menit setelah makan kangkung, haha). Gw nggak berani bilang film ini "great", tapi cukup layak lah untuk gw sebut "very good", dan itu sebagian besar berkat ceritanya semata. Layak menang Oscar kah? Wah kalo itu musti nonton film yg lainnya dulu baru bisa menilai, sebab belajar dari film ini, jangan buru2 nge-judge. ^o^ V


My score: 8/10


Trivia gak penting: gw nonton film ini di hari yg sama gw nonton Identitas, sama2 tentang orang berprofesi mengurus mayat, hihi.

Rabu, 16 Desember 2009

[Movie] Identitas (2009)


Identitas
(2009 - Citra Sinema/Esa Films/Tits Film Workshop)


Written and Directed by Aria Kusumadewa

Produced by Choky Situmorang

Cast: Tio Pakusadewo, Leony VH, Ray Sahetapy, Otig Pakis, Teguh Esha, Titi Sjuman


~tulisan dibuat sebelum tapi diedit sesaat setelah pengumuman pemenang piala Citra FFI 2009, which btw, film ini menang Film Terbaik~

Gw tadinya nggak nyangka kalo ini film komedi. Kalaupun memang komedi, gw nggak tertawa karena lucu, tapi lebih kepada "wapaan siy?" ^_^' hehehe. Oh, btw,
thank God for Jiffest! Ini film ketiga yg gw tonton di rangkaian Jiffest tahun ini, mumpung gratis dan gw dapet cuti setengah hari. Gw cukup penasaran karena film ini masuk banyak nominasi FFI 2009, dan karena pengen tau sutradara paling terkenal di dunia film independen Indonesia, Aria Kusumadewa bikin film seperti apa. Gw belum familiar sama karya2 sebelumnya, dan film ini juga film pertama beliau yg diputar di jaringan bioskop nasional sekitar pertengahan tahun ini, walau umurnya mungkin cuman 1 minggu atau kurang.

Gw cukup bingung menceritakan kembali isi film ini. Sepenangkapan gw, intinya soal Adam (Tio Pakusadewo), seorang petugas kamar mayat (dokter?) yg terobsesi dengan seorang perempuan muda (Leony VH) yg ayahnya (Teguh Esha) dirawat di rumah sakit, sekaligus melacurkan diri untuk biaya kesehatan sang ayah (
that's way I don't call her "gadis" haha). Dalam beberapa kesempatan, Adam berinteraksi dengan perempuan yg enggan menyebut namanya itu, timbul kedekatan yg hangat tanpa nafsu (walau Leony bugil di hadapan si Adam lalu diblur di tempat, kalo kata temen nonton gw mirip AV/bokep Jepang, tapi Adam kira2 bilang "saya mau tolong, tapi nggak perlu pakai cara begitu kan"), namun obsesi Adam makin menjadi ketika si perempuan tiba2 hilang tanpa jejak. Cukup singkat ceritanya, tapi sisa 85 menit durasi Identitas dipenuhi dengan situasi dan setting sebagai bentuk satirisme yang mungkin hanya terlihat lucu bagi sebagian orang, atau malah bagi pembuatnya saja. Sedang ada pemilihan walikota, calonnya dari partai2 yg disingkat PMS dan TITS, oke deh =.='. Rumah sakit setting utamanya bernama Rumah Sehat Sakit, yg begitu kumuh semrawut, perawatnya absurd seperti suster2 fantasi seksual, tulisan pengumuman yg nyolot, dan suara announcer yg maunya lucu tapi nggak membuat gw tertawa.Tag nama2 mayat yg dikoleksi Adam pun diambil dari nama2 orang yg dikenal di dunia perfilman: John de Rantau, Deddy (Mizwar, yg juga produser eksekutif film ini), Leony (?) dan nama2 kru film ini sendiri, dengan kata lain: candaan dapur, utk kalangan sendiri.

Baiklah, film ini sedang berusaha menyampaikan kebobrokan yang terjadi dalam bangsa kita: kekotoran politik, desakan kemiskinan, keasusilaan yg nggak pernah mati, buruknya pelayanan dan fasilitas kesehatan terutama bagi rakyat kecil, petugas kesehatan yg nggak kompeten, tayangan TV yg berkualitas buruk, penggusuran oleh pembangunan "modern", diskriminasi warga keturunan, penjualan organ tubuh ilegal, komersialisasi terhadap keluarga yg berduka, pelecehan di tempat kerja, keribetan birokrasi, pemberitaan berlebihan media massa mengenai hal yang sepele, dll dll semua dijejal di film ini,
I get it, alright. Mungkin karena dirasa berat, maka semua situasi itu dipresentasikan lewat sindiran dan parodi, yg sayangnya alih2 jadi lebih ringan, malah tidak selalu lucu, dan mungkin hanya akan bisa berhasil di panggung teater.

Itu kuncinya: teater! Identitas terlalu teatrikal dalam mengangkat isu yg nyata. Akting depresi petugas rel kereta api teman Adam memperkuat kesan itu. Gw masih yakin dalam sebuah film, harus timbul efek
believable (hal yg paling believable di film ini hanya penempatan iklan Promag dan motor Suzuki) atau setidaknya subtle, tersirat. Sindiran kan nggak perlu disampaikan sekasar itu, apalagi kalo inti filmnya bukan itu. Lagian ada beberapa adegan yg kurang relevan sama benang merah cerita, padahal ceritanya sendiri mengusung tema yg butuh fokus lebih seksama "Apa itu identitas? Kenapa itu penting? Kenapa identitas bisa menimbulkan diskriminasi?" tapi justru urung digali lebih dalam dan malah teralihkan oleh hiasan2 situasi yg mnurut gw penuh sesak dan tak nyaman. Alhasil, film ini terjebak sebagai tontonan yg nyiyir namun kurang thought-provoking. Film cin(T)a walaupun sama2 nyinyir, bagi gw masih lebih berhasil dalam hal mengusik sanubari (apaa lagi tuh? ^o^').Gw juga cukup menyayangkan penggunaan kamera digital di film ini, gambarnya kurang bagus euy. Sepertinya pake handycam merek Sony yg belum high definition yg lemah sekali menangkap cahaya dan warna (seperti yg ada di rumah gw), atau mungkin faktor transfer ke bentuk pita filmnya yg kurang baik, alhasil gelap, buram, dan kurang sedap dipandang, lebih mirip Under The Tree ketimbang Public Enemies, pun sudut pengambilannya tidak terlalu istimewa, cuma ada beberapa aja yg okeh.Dari tadi kayaknya gw menilai negatif terus yah hehe, tapi tenang, Tio Pakusadewo adalah penyelamat film ini dari segi tontonan. Aktingnya bagus dan menjiwai (as always) dengan kacamata tebal, perut buncit dan gigi tonggosnya. Adam memang orangnya pendiam dan agak canggung, tapi anehnya berhasil mengundang simpati, berkat pembawaan pak Tio yg mantap. Gw sama sekali nggak kaget waktu pak Tio menang Citra, dan memang beliau pantas mendapatkannya. Leony si alumnus Trio Kwek-Kwek sebenernya tampil nggak jelek2 amat, cuman nggak bisa dibilang bagus banget.

Identitas memang memuat banyak hal, hal yg cukup penting, yg memang jarang diangkat di film2 Indonesia lainnya. Kelebihan ini mungkin yg membuat Identitas berjaya dalam FFI 2009. Hanya saja, kalau terlalu banyak dan disampaikan dengan cara yg kurang
audience-friendly apalagi buat gw yg masih bodoh, sederhana dan berselera rendah ini, percuma saja, karena kemasannya kurang "cantik" baik secara visual maupun ramuan plotnya, jadinya kurang kena. Oh btw, di awal gw mencap ini film komedi. Tapi apakah memang niatnya komedi, gw nggak tau juga karena meskipun tampil joke2 garing (Adam bilang aktor Tio Pakusadewo mainnya bagus, joke tua Y_Y), nyatanya film ini terlalu serius untuk jadi komedi, tapi juga terlalu konyol untuk jadi film satir sekalipun.


My score:
5/10