Senin, 11 Juli 2016

[Movie] Sabtu Bersama Bapak (2016)


Sabtu Bersama Bapak
(2016 - Max Pictures/Falcon Pictures)

Directed by Monty Tiwa
Screenplay by Adhitya Mulya, Monty Tiwa
Based on the novel by Adhitya Mulya
Produced by Ody Mulya Hidayat
Cast: Abimana Aryasatya, Acha Septriasa, Arifin Putra, Deva Mahenra, Ira Wibowo, Sheila Dara Aisha, Ernest Prakasa, Jennifer Arnelita, Rendy Kjaernett


Baru tiga bulan lalu kita disuguhkan film garapan Monty Tiwa, drama remaja Raksasa dari Jogja, di Lebaran kali ini hadir lagi film drama terbaru dari Monty, yang bisa dibilang lebih ke lingkup dewasa muda, Sabtu Bersama Bapak. Berdasarkan novel karya Adhitya Mulya (penulis novel Jomblo yang diadaptasi jadi film di tahun 2006), dari judulnya aja sudah terdengar melankolis ya. Konsep judul ini menggambarkan sebuah keluarga kecil di Bandung yang harus kehilangan sosok bapak karena sakit parah ketika dua putranya masih kecil. Tak rela absen dari tumbuh kembang anak-anaknya, sosok bapak bernama Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) ini membuat serangkaian video--before vlog was cool--yang berisi nasihat-nasihat yang diucapkannya, yang akan disaksikan oleh istri dan kedua putranya setiap hari Sabtu, selepas dirinya meninggal dunia.

Dalam gulirannya, Sabtu Bersama Bapak menjadi semacam film dengan tiga jalan cerita saling silang dari Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra) serta ibu mereka, Itje (Ira Wibowo). Di usia 30-an, Satya terlihat punya kemapanan yang diinginkan banyak orang, punya istri cantik dan rajin, Rissa (Acha Septriasa) dan dua putra, bekerja di perusahaan pertambangan dan tinggal di Paris, Prancis. Akan tetapi, bukan berarti segalanya jadi lebih mudah. Satya yang bekerja keras di tempat jauh demi membangun kesejahteraan keluarganya--seperti nasihat bapak untuk selalu punya rencana dalam hidup--malah berbalik arah ketika ia kurang hadir dalam kehidupan istri dan anak-anaknya. Kisah Satya dan Rissa gw tangkap sebagai sebuah gambaran perjuangan keluarga muda, yang dari luar terlihat mapan tetapi belum tentu kesehatian dan kebahagiaan itu langsung dicapai, bagian drama-drama deh pokoknya.

Sementara kisah Cakra lebih bernuansa komedi romantis. Cakra tumbuh sama sekali tak seserius kakaknya. Sifatnya yang komikal serta karier yang lumayan mapan di Jakarta sayangnya tak mencerahkan prospek kehidupan percintaannya, sampe-sampe dia sering jadi target ledekan para bawahannya *iya, bawahannya* karena masih melajang. Namun, kali ini ia kepincut dengan seorang karyawati baru bernama Ayu (Sheila Dara Aisha). Hanya saja proses kedekatan mereka sangat tidak lancar mengingat Cakra yang selalu membuyarkan suasana dengan gelagat anehnya, dan Ayu sendiri sepertinya memang tidak tertarik pada Cakra. Kisah Cakra menjadi menu hiburan utama film ini, ditambah dengan penataan humor yang lihai khas Monty--kali ini dari interaksi Cakra dengan Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita), sehingga Sabtu Bersama Bapak nggak cuma soal menye-menye aja.

Di tempat lain, walau dalam porsi yang nggak terlalu besar, adalah kisah tentang Itje dalam menjalani hidupnya ketika dua putranya sudah mandiri dan tak lagi tinggal bersamanya. Kekhawatirannya kini tinggal menunggu Cakra menemukan jodohnya, namu itu harus ditambah lagi ketika dirinya didiagnosis mengidap tumor, mirip dengan yang menimpa suaminya. Ketika Satya menangkap nasihat sang bapak untuk tak pantang menyerah dalam berusaha dan berencana, dan Cakra menangkap bahwa ia tak boleh salah langkah dalam menemukan teman hidup, Itje juga hendak menerapkan nasihat suaminya untuk tidak menyusahkan anak-anak mereka. Tentu saja, nasihat-nasihat tersebut juga harus ditantang oleh kenyataan yang sering kali meleset dari perkiraan.

Menyenangkan deh kalau bikin review sebuah film yang gw lebih banyak bahas soal ceritanya, pertanda bahwa film bersangkutan telah berhasil memikat gw pada ceritanya, bukan pada hiasan atau gimmick tambahannya. Gw memang merasa Sabtu Bersama Bapak ini punya materi yang menarik serta disusun sebagai cerita yang menarik pula, nggak terlalu biasa, plus didukung oleh deretan aktor yang performanya oke. Penuturannya pun gw rasa enak aja, ada usaha menyeimbangkan bagian yang dramatis dan komedik, dan nggak terlalu dilama-lamain. Mungkin gw nggak selalu setuju dengan nilai-nilai yang disampaikan di film ini--dan elemen-elemen kebetulan dalam kisah Cakra juga kayaknya agak gimanaaa gitu, tapi semuanya disokong oleh argumen yang cukup masuk akal dan disampaikan dengan cukup smooth. Film ini bukan cuma berisi ucapan-ucapan nasihat dari sang bapak yang harus dicatat sebagai "quotes" atau "pesan moral" buat penontonnya, tapi nasihat-nasihat itu juga diuji oleh para karakternya dalam kisah masing-masing, supaya penonton juga bisa menilai sendiri nggak langsung terima aja. Menurut gw that is what this film all about.

Tetapi, namanya film kan kerja kolaboratif ya, dan menurut gw cerita yang oke bisa menurun kesannya jika presentasi keseluruhannya nggak mendukung itu. Gw sendiri segan untuk bilang Sabtu Bersama Bapak ini presentasinya teknisnya kurang oke, tetapi kenyatannya seperti itu. Gw bisa lihat dengan jelas bahwa production value film ini tidaklah mewah, cenderung sangat sederhana, khususnya dari desain produksi yang simplisitik dan pengambilan gambar yang juga demikian, dan ini sesuatu yang kayaknya selalu gw lihat dari film-film garapan Monty selama ini. Yang gw paling nggak habis pikir adalah pemilihan warna dan pencahayaan film ini yang cenderung redup dan murung, ditangkap oleh jenis kamera yang tak jauh beda dengan yang digunakan di TV, seolah ingin menyangkal bahwa film ini punya potensi untuk jadi lebih sinematik dan punya unsur ceria di dalamnya. Parahnya lagi, sederhana dan redupnya gambar itu dicoba di-"betul"-kan dengan cara yang menurut gw keliru. 

Gw membayangkan bahwa pihak produser kaget dengan presentasi gambar filmnya yang terlalu sederhana, sehingga berusaha membuatnya jadi lebih kinclong di tahap akhir pascaproduksi. Ide ini kemudian diterjemahkan dengan penambahan lens flare secara digital (bukan betul-betul karena ada lampu menyorot langsung ke lensa kamera) di hampir setiap adegan mungkin biar kelihatan literally mengkilap--menariknya, teknik ini jadi gimmick khas film-film produksi Falcon Pictures belakangan ini kecuali My Stupid Boss, mungkin ini salah satu andil PH tersebut saat masuk dalam Sabtu Bersama Bapak yang diproduksi oleh Max Pictures yang notabene semacam pecahannya Maxima Pictures. Sayangnya, tindakan itu malah jadi merusak kualitas gambar keseluruhan karena rendering gambarnya kurang sempurna sehingga jadi terlihat nggak tajam di layar besar bioskop. Dan, entah ini pengaruh atau nggak, kesan yang timbul dari presentasi Sabtu Bersama Bapak jadi berbeda jauh dari posternya yang punya nilai artistik luar biasa. Sayang.

Gw mungkin salah besar karena gw sama sekali nggak tahu apa yang terjadi di balik produksi film ini, tetapi ya untung aja bahwa sisi cerita dan pembawaan akting para aktornya masih cukup kuat untuk bikin gw agak memaklumi, bahkan mengabaikan kekurangan teknis gambarnya itu. Tapi, mau sampai kapan cerita bagus harus "diganggu" oleh kekurangan di sisi teknis terus? Secara keseluruhan, buat gw Sabtu Bersama Bapak adalah film arahan Monty terbaik sejak Test Pack: You're My Baby. Namun, gw rasa sineas seperti Monty yang udah berkiprah lebih dari 10 tahun dan diberkahi kemampuan bercerita yang baik, sudah saatnya move on dan memberi perhatian--atau diberi kesempatan?--pada upaya memperkaya production value karya-karyanya. Kalau tidak, mungkin gw nggak akan melihat karya doi yang bisa disebut great tanpa ada embel-embel "tetapi".





My score: 7/10

1 komentar:

  1. Sumpah itu lens flare nya ga keren pisan. Untungnya emang ceritanya enak diikutin.. Akting-aktingnya top :D

    BalasHapus