Sabtu, 09 April 2016

[Movie] Raksasa dari Jogja (2016)


Raksasa dari Jogja
(2016 - Starvision)

Directed by Monty Tiwa
Screenplay by Ben Sihombing, Monty Tiwa
Based on the novel by Dwitasari
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Karina Salim, Abrar Adrian, Ridwan Ghany, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Dewi Irawan, Stella Cornelia, Ray Sahetapy, Sahila Hisyam, Marcell Darwin, Adinda Thomas


Kisah roman dengan target remaja pada umumnya dibuat sangat ringan, tak terlalu kompleks, sampai-sampai tak jarang terjebak dalam logika dan solusi serba instan. Inilah yang mungkin membuat film jenis ini jarang ditanggapi dengan serius, lantaran formulanya cenderung berulang. Lalu hadir Raksasa dari Jogja, film garapan Monty Tiwa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dwitasari. Film ini sekilas akan mengulangi formula film roman remaja yang sudah ada, tetapi upayanya untuk tampil lebih realistis juga tak bisa diabaikan.

Raksasa dari Jogja merupakan kisah Bian (Karina Salim), gadis muda yang mengalami banyak kekecewaan di saat ia hendak memulai jenjang baru sebagai mahasiswa. Ia diultimatum ayahnya yang seorang politikus (Ray Sahetapy) untuk mendaftar kuliah di kampus yang sudah ditetapkan, atau diusir dari rumah. Lalu, kekasihnya, Pras (Kiki Farell) diam-diam menjalin hubungan dengan Letisha (Adinda Thomas), sahabat Bian sendiri. Dan, ternyata itu semua hanyalah pelengkap dari kesengsaraan Bian, yang selama ini melihat sang ibu (Unique Priscilla) kerap dianiaya oleh sang ayah tanpa perlawanan.

Bian pun memutuskan meninggalkan semua itu, keluar dari rumah untuk kuliah seni rupa di Yogyakarta, dengan tinggal bersama sang bude (Dewi Irawan) dan sepupunya, Kevin (Ridwan Ghany). Selagi mencoba memulai hidup baru di tempat yang juga baru, Bian bertemu dengan sosok Gabriel (Abrar Adrian), mahasiswa tingkat akhir berpostur tinggi besar, berperangai tanpa basa-basi, dan tampak tak punya teman. Gabriel juga ternyata seorang wartawan muda di sebuah media yang cukup berpengaruh. 

Lambat laun kedekatan mereka mendorong keduanya untuk mulai saling terbuka satu sama lain. Itu berarti mereka juga saling mengungkapkan masa lalu yang kurang menyenangkan untuk didengar. Bahkan, Bian pun sempat melihat bagaimana Gabriel bisa berlaku brutal saat emosinya naik, sesuatu yang justru jadi alasan ia meninggalkan rumah orang tuanya.

Sebagai sebuah kisah tentang cinta remaja—atau masa peralihan menuju dewasa, film Raksasa dari Jogja mungkin sedikit lebih kelam. Latar belakang kedua tokoh utamanya terbilang tragis, dibangun di atas air mata dan sakit hati. Bagaimana keduanya dapat saling membuka hati dan menyemangati kemudian menjadi penggerak dasar kisah ini.

Untungnya, film ini tidak menampilkan semua itu dalam porsi yang eksploitatif. Penyusunan dialog-dialognya pun terkesan wajar tanpa harus berbunga-bunga. Pembangunan karakter-karakternya berhasil disampaikan dengan alami dan believable, tetapi bisa tetap seimbang dengan tujuan film ini sebagai kisah roman yang manis dan tidak terlalu berat.

Ya, walau memasukkan tragedi dalam latar belakang tokoh-tokohnya, Raksasa dari Jogja tetaplah sebuah roman yang, suka atau tidak, harus disajikan secara ringan dan menyampaikan harapan akan kebahagiaan protagonisnya. Tak dipungkiri pula bahwa kisah ini masih menyimpan berbagai situasi yang diromantisasi khas film-film sejenis, sehingga masih terkesan klise.

Banyak hal dari film ini yang mengingatkan pada pola kisah buku teenlit ataupun komik roman Jepang. Seorang gadis mungil yang tampak rapuh, disayangi dan dilindungi oleh orang-orang sekitarnya, lalu jatuh cinta pada sosok penolong yang sulit untuk dicintai tetapi diam-diam punya kualitas yang patut dikagumi. Beberapa tokohnya pun punya kebiasaan antik, misalnya Gabriel yang menggunakan mesin tik mekanik untuk tulisan-tulisan yang akan diterbitkan di media cetak ataupun online. Itu mungkin terkesan romantis, tetapi jelas-jelas tidak realistis dan merepotkan—untungnya itu kemudian dijadikan bahan humor di film ini. 

Pola klise tersebut kemudian berimbas pada keseluruhan cerita yang jadi tidak istimewa, dan 'tertular' juga ke beberapa pengadeganan yang terkesan kaku untuk sebuah film layar lebar. Akan tetapi, perlu dihargai pula bahwa film ini berupaya menyampaikan ceritanya dengan cara yang membumi dan tidak terlalu melankolis. Bahkan, ketika film ini memasukkan unsur politik, kekerasan rumah tangga, hingga komedi—terutama dari tokoh kepala redaksi Angkola (Dwi Sasono), semuanya terlihat menyatu dengan porsi yang tepat dan tidak gegabah.

Pada akhirnya, Raksasa dari Jogja punya modal untuk bisa mencapai target penontonnya. Romansa yang ditampilkan mampu menimbulkan kesan manis, didukung dengan keserasian Karina Salim dan Abrar Adrian sebagai Bian dan Gabriel—meskipun masih kelihatan Abrar yang baru pertama kali berakting belum sanggup imbangi Karina yang performanya sangat baik. Unsur tersebut kemudian berbaur baik dengan karakterisasi yang membumi. Walau pada dasarnya ceritanya tak beda jauh dengan roman remaja yang sudah banyak dibuat, minimal film ini tidak memberikan solusi instan terhadap segala sesuatu, dan itu cukup untuk membuat Raksasa dari Jogja jadi berbeda.




My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar