Senin, 06 Juni 2016

[Movie] My Stupid Boss (2016)


My Stupid Boss
(2016 - Falcon Pictures)

Directed by Upi
Screenplay by Upi
Based on the books by Chaos@work
Produced by Frederica
Cast: Bunga Citra Lestari, Reza Rahadian, Alex Abbadd, Bront Palarae, Atikah Suhaime, Chew Kinwah, Iskandar Zulkarnain, Melissa Karim, Nadiya Nissa, Shamaine Othman, Sherry Al Hadad, Richard Oh


My Stupid Boss awalnya adalah seri buku kumpulan cerita karya penulis anonim Indonesia, Chaos@work, tentang berbagai pengalamannya bekerja untuk seorang bos berkelakuan ajaib—yang identitasnya juga tidak diungkap. Dari judulnya saja yang menyiratkan emosi, mungkin bisa dibayangkan bagaimana ajaibnya bos tersebut di mata sang penulis, sampai-sampai cukup untuk ditulis dan dikumpulkan jadi beberapa jilid buku.

Berangkat dari gagasan tersebut, dibuatlah versi film layar lebar My Stupid Boss, diproduksi Falcon Pictures bersama sutradara Upi yang juga menulis skenarionya. Sekalipun bukunya sendiri diaku sebagai kumpulan pengalaman nyata, film My Stupid Boss mengangkatnya dalam sebuah komedi dengan visualisasi yang absurd dan komikal. Ini sangat jelas ditunjukkan dengan taburan warna-warna menyala namun tertata dari desain produksi dan sinematografinya, hingga penataan adegan dan bangunan karakter yang absurd.

Setiap tokoh yang ditampilkan pun dirancang dengan tampilan dan karakteristik yang khas, khususnya dari dua tokoh utamanya, Bossman (Reza Rahadian) dan kepala administrasi alias kepala kerani di kantornya, Diana (Bunga Citra Lestari), didukung oleh tata rias dan kostum yang hampir mustahil diaplikasikan di dunia nyata. Dengan perlakuan demikian, My Stupid Boss bisa dengan leluasa menuturkan ceritanya yang memang terdiri dari rangkaian adegan-adegan komedi absurd, dengan maksud mengajak penontonnya bersenang-senang.

Film ini mengikuti kisah Diana, yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia bersama suaminya, Dika (Alex Abbad) yang sedang bekerja di sana. Untuk mengisi waktunya, Diana memutuskan untuk bekerja di sebuah kantor perusahaan bidang manufaktur. Kebetulan perusahaan itu dipimpin sesama orang Indonesia dan merupakan teman dekat Dika saat kuliah di Amerika Serikat.

Akan tetapi, Diana seakan belum siap bahwa sang pemimpin perusahaan yang hanya mau dipanggil Bossman itu ternyata menguji kesabarannya dengan berbagai kelakuan nyeleneh dan mengesalkan. Mulai dari pelit, pelupa, ngotot, sembarang bicara, suka pamer, tak mau disalahkan, sampai menyelewengkan aturan negara. Seringkali Diana terjebak dalam konsekuensi kelakuan bosnya itu, karena jabatannya memang langsung di bawah si bos, dan sedikit banyak jadi andalan satu-satunya bagi sang bos.

Tuturan cerita My Stupid Boss kemudian digerakkan lewat berbagai kejadian unik dan memancing tawa seputar hubungan Bossman dengan para pegawainya—kecuali Diana, semuanya merupakan orang Malaysia dan kerap timbul kesalahpahaman karena perbedaan bahasa dan budaya.

Bagusnya, sekalipun ditampilkan dengan gaya komikal dan dilebih-lebihkan di beberapa titik—bahkan sampai tampilkan adegan musikal, film ini bisa menampilkan konflik-konflik yang masih believable dan bisa dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, karena hanya reaksi tokohnya yang berlebihan, bukan konfliknya.

Namun, bila diperhatikan, film ini seperti hanya berisi rangkaian fragmen tanpa ada sebuah garis cerita yang jadi perekatnya. Hal ini membuat film ini sempat tak terbaca arahnya ke mana, karena baik waktu, tempat, maupun event yang diangkat terbilang acak, tanpa pengikat untuk menjadi jalinan cerita yang utuh. Paling kentara adalah sebuah belokan dari karakter Bossman di bagian akhir film yang terasa tiba-tiba, karena belum sempat dibangun dalam adegan-adegan sebelumnya, seakan fragmen ini dipaksakan ada supaya filmnya bisa segera dituntaskan.

Meski demikian, terlihat sebuah usaha dari pembuat film untuk mengelompokkan fragmen-fragmen itu menjadi beberapa babak. Diawali dari perkenalan dan ketidakberdayaan Diana menghadapi Bossman, lalu upaya Diana 'bangkit' dan melawan Bossman, sampai ditutup dengan rekonsiliasi mereka berdua. Disampaikan dengan dinamika emosi yang baik dari adegan dan performa para pemain, pembabakan itu cukup mampu membuat film ini menarik diikuti, minimal tidak sampai menjenuhkan.

Terlepas dari itu, My Stupid Boss terlihat sadar akan amunisi utama yang menghidupkan film ini, yaitu para pemainnya. Baik itu dari Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari yang bermain lepas sebagai Diana yang outspoken, maupun para aktor-aktris asal Malaysia sebagai pegawai Bossman di kantornya—antara lain Bront Palarae, Chew Kinwah, Atikah Suhaime, dan Iskandar Zulkarnain—yang mampu bermain kompak dan menonjol dengan karakterisasi komikal yang diberikan. Ketika dikira dandanan dan performa eksentrik Reza akan mendominasi, pemain lainnya terbukti berhasil mengimbanginya.

Pada akhirnya, dalam kapasitasnya sebagai sebuah film hiburan, My Stupid Boss mampu menunaikannya. Kalaupun masih terganjal pada lemahnya cerita atau lawakannya yang mungkin tak selalu bisa kena ke semua selera, film ini masih mampu menarik perhatian dari nilai produksi yang serius dan penampilan asyik para pemerannya. Bahkan, mungkin bagi beberapa orang film ini bisa mewakili rasanya memiliki atasan ajaib seperti Bossman.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar