Jumat, 19 Februari 2016

[Movie] Deadpool (2016)


Deadpool
(2016 - 20th Century Fox)

Directed by Tim Miller
Written by Rhett Reese, Paul Wernick
Based on the Marvel Comics character created by Fabian Nicieza, Rob Liefeld
Produced by Simon Kinberg, Ryan Reynolds, Lauren Shuler Donner
Cast: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, Ed Skrein, T.J. Miller, Gina Carano, Brianna Hildebrand, Steven Kapicic, Leslie Uggams, Jed Rees, Karan Soni


Banyaknya tokoh superhero komik yang diangkat menjadi film, khususnya di Hollywood, sering dilihat sebagai sebuah tren baru di box office. Problemnya adalah film-film jenis ini jadi punya pola cerita yang generik: tokoh berkekuatan super berupaya menyelamatkan dunia dari musuh yang tak kalah kuat. Setiap film superhero yang kemudian muncul belakangan pun harus mulai mencari cara agar tidak terjebak pada pola cerita yang itu-itu saja. Kini hadir Deadpool, yang tampaknya mencoba mendobrak pola itu dengan cara yang cukup ekstrem.

Dirilis oleh 20th Century Fox, Deadpool menjadi tokoh superhero Marvel yang masuk dalam universe kisah X-Men—berbeda dari Marvel Cinematic Universe buatan Marvel Studios. Sosok ini pernah diperkenalkan dalam film X-Men Origins: Wolverine (2009), kala itu masih memakai identitas Wade Wilson sang tentara bayaran yang diperankan Ryan Reynolds. Kemunculannya di film itu awalnya mendapat sambutan positif, namun banyak penggemar kecewa Wade tidak sempat sepenuhnya menjadi sosok Deadpool. Bahkan di akhir film tersebut ia langsung jadi mutan super Weapon X dan dibuat bisu, sangat bertentangan dengan Deadpool yang dikenal di komiknya.

Pihak Fox seperti ingin menebus kekecewaan itu dengan merombak ulang karakter Deadpool—mumpung universe X-Men juga sudah berubah sejak X-Men: First Class (2011). Film ini adalah asal muasal sosok Deadpool, dan masih diperankan Ryan Reynolds. Wade Wilson tadinya manusia biasa berkeahlian tempur yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Suatu ketika ia menerima tawaran misterius untuk sebuah percobaan yang membuatnya jadi mutan dengan kekuatan super. Pada dasarnya percobaan ini berhasil, ia jadi punya ketangkasan tubuh dan bisa pulih dari penyakit dan luka seketika. Sayangnya, percobaan itu juga membuat seluruh kulitnya jadi melepuh.

Wade merasa terpukul dan risih ketika tampil di tempat umum, belum lagi ia takut akan reaksi Vanessa (Morena Baccarin), kekasihnya yang sudah cukup lama ia tinggalkan demi percobaan itu. Wade kemudian mencari cara untuk bisa melacak Ajax (Ed Skrein), orang yang bertanggungjawab atas efek samping percobaan itu. Ia memulainya dengan membasmi para penjahat kecil yang kemungkinan terkait dengan Ajax. Pada perjalanannya, Wade menjadi Deadpool, sosok bertopeng merah yang ditakuti para preman dan akhirnya memberinya jalan untuk menemukan Ajax.

Bisa dilihat sebenarnya film ini tidak menempatkan Deadpool sebagai penyelamat dunia. Benang merah film ini adalah upaya mengembalikan rupa seorang Wade Wilson seperti sediakala demi memenangkan kembali hati kekasihnya. Motivasi yang sangat sederhana, dan sebenarnya sangat tidak cadas untuk sebuah film yang dilabeli 'superhero'. Berangkat dari persoalan cinta dan ketakutan bahwa pasangannya tak mau menerima dia apa adanya, plot ini bisa saja dianggap kisah cinta picisan. Akan tetapi, masuknya unsur manusia super, serta kemasan yang tak mengikuti pakem film superhero umumnya, membuat Deadpool menjadi sajian yang tetap menarik.

Sutradara Tim Miller dan penulis skenario Rhett Reese dan Paul Wernick tampak memanfaatkan betul karakterisasi Deadpool yang telah ditanamkan di komiknya. Deadpool biasa dijuluki 'merc with a mouth', kemampuan supernya sama besar dengan mulutnya yang bawel. Karakter Deadpool ini kemudian diterjemahkan—juga berkat performa hebat Reynolds—dengan sifat-sifat liar, centil, humor jahat dengan mengomentari semua hal, serta segudang referensi kultur pop yang mampu membuat karakter ini jadi hidup, dan justru mudah disukai dan sukses mengundang tawa sepanjang film.

Film ini juga menerjemahkan karakter Deadpool yang 'ngawur' dalam keseluruhan filmnya. Batas antara cerita di film dan dunia penonton—sering disebut fourth wall—diacak-acak dengan menempatkan Deadpool sebagai narator kisahnya sendiri dan kerap berkomunikasi langsung dengan penonton di sepanjang film. Ini juga mencakup topik-topik yang dibicarakan, mulai dari sindiran terhadap kegagalan film superhero Green Lantern yang pernah diperankan Reynolds, sampai lawakan bahwa dari sekian banyak mutan, hanya ada dua anggota X-Men yang ikut muncul di film ini, yaitu Colossus (Stefan Kapicic) dan Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand).

Karena sejak awal film ini ditargetkan mendapat rating dewasa, terlihat jelas bahwa orang-orang yang terlibat dalam film ini cukup leluasa memanfaatkan peluang itu. Tak hanya dari segi humor yang lebih akan kena ke orang dewasa—termasuk ke pemilihan lagu-lagu soundtrack-nya, film ini juga tak tanggung-tanggung dalam menampilkan adegan laga yang fast-paced, serta kekerasan yang cukup brutal, namun masih dalam kerangka komedi.

Kemasan seperti ini bukannya hal yang baru, sudah ada film-film bertema superhero yang memakai pendekatan serupa, dengan contoh yang paling dekat adalah Kick-Ass (2010). Namun, dalam deretan film-film superhero dari Marvel dan universe X-Men, unsur-unsur tersebut membuat Deadpool tampil lebih stand-out dan menggigit.

Film Deadpool memang tak bisa seluruhnya kabur dari pakem sebuah film superhero. Dari sosok musuh berkekuatan super—Ajax juga seorang mutan—serta para anteknya, hingga klimaks yang wajib tampilkan kehancuran massal, semua masih ada di film ini. Namun, ini juga makin menguatkan bahwa cara mengemas film jadi sangat penting. Film ini membuktikan bahwa cerita yang ringan bahkan cenderung cheesy, bila digarap dengan sense yang tepat, mampu menghasilkan tontonan yang menyegarkan, meriah, dan pada akhirnya menghibur.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

1 komentar:

  1. Superhiro atau lebih tepat nya blm sepenuh nya jdi superhiro dgn mulut kotor nya sukses buat saya ketawa saat menonton hehee..

    BalasHapus