Jumat, 27 Desember 2013

[Movie] Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013)


Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor
(2013 - Mizan Productions/Falcon Pictures)

Written for the screen & Directed by Benni Setiawan
Based on the novel "Edensor" by Andrea Hirata
Produced by Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Cast: Lukman Sardi, Abimana Aryasatya, Astrid Roos, Mathias Muchus, Zulfanny, Rendy Ahmad, Ferdian, Arswendi Nasution, Hengky Solaiman, Shalvynne Chang, Paris Laurent, Gregory Navis, Emma Chaibedra


Sebelum memberikan komentar yang lain-lain, pertama-tama gw dengan bangga hendak menobatkan Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor sebagai Film Indonesia dengan Judul Teraneh 2013. Film macam apa yang memasukkan kata "sekuel" di judul resminya? Inilah yang terjadi kalau komersialisasi sebuah karya seni tidak dibarengi dengan sikap tenang dalam mengambil keputusan. Aneh banget, dan nggak efektif, dan membingungkan. Why harus keukeuh ada angka "2"-nya? Biar diomongin? Oh, okay. Let's move on, then.

Edensor adalah adaptasi dari novel ketiga tetralogi "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata yang laris itu, setelah Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Dua judul pertama tersebut sudah pernah difilmkan oleh Riri Riza dan Miles Films di tahun 2008 dan 2009, which are sukses banget dengan raihan masing-masing lebih dari 5 juta dan 2 juta penonton di bioskop, plus brand Laskar Pelangi berhasil terbangun di benak banyak orang sebagai patokan "film Indonesia bermutu". Tapi, Edensor tidak lagi ditangani Miles Films karena, selidik punya selidik, Miles telanjur ambil proyek lain (Sokola Rimba dll), sedangkan deadline untuk memfilmkan Edensor sudah di ambang batas, sehingga Miles Films pun melepas proyek ini. Lalu Mizan Productions sebagai pemegang hak tetralogi buku Laskar Pelangi mengajak Falcon Pictures untuk memproduksi Edensor, sedangkan sineas yang direkrut sebagai penulis dan sutradaranya adalah Benni Setiawan. From this point, dan dari pilihan judulnya yang aneh itu, akanlah sangat berlebihan jika mengharapkan film Edensor punya kualitas yang sama dengan Laskar Pelangi atau Sang Pemimpi. You've been warned.

Tapi, memang dari segi cerita saja udah berbeda, jadi kalau dibanding-bandingkan ya nggak fair juga. Edensor mengisahkan tentang bagaimana Ikal (Lukman Sardi) dan saudara angkat sekaligus sahabatnya, Arai (Abimana Aryasatya gantiin Ariel "Noah") hidup setelah menunaikan impiannya belajar (S2) di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis dengan beasiswa. Ketika dalam dua seri sebelumnya selalu diomongin soal meraih mimpi dan meraih mimpi, di Edensor yang diomongin adalah apa kabar dengan mimpi ketika dihadapkan dengan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, memikirkan perkara di kampung halaman, atau pun soal cinta. Secara konsep, apa yang mau diceritakan di Edensor ini lebih membumi. Gw pun lumayan bisa memahami benang merah film ini adalah tentang Ikal, kerinduannya kepada gadis cem-cemannya waktu masih SD di Belitung, A Ling, yang semakin menggebu-gebu, justru saat dia dating sama cewek bule Jerman di kampus, Katya (Astrid Roos). It's a strange desire karena Ikal juga terakhir ketemu A Ling juga waktu masih zaman sekolahan. Ini pula yang lama kelamaan membuat persahabatan Ikal dan Arai jadi berjarak, karena seakan mimpi mereka sekarang udah beda arah.

Yang gw suka dari Edensor adalah finally ceritanya berkisah tentang Ikal, ketika pada installment sebelumnya justru berfokus pada orang-orang lain yang dikagumi Ikal, yaitu Lintang dan Arai. Ini tentang kehidupan Ikal yang orang Belitung hidup di negeri orang, dan penggambarannya cukup baik. Apalagi tokoh lokalnya emang pake aktor lokal dan bahasa lokal, nggak kayak film...ah sudahlah. Memang, jatuhnya film ini kayak lebih dangkal dari film-film sebelumnya, cuma soal Ikal mencari cinta di tengah menyelesaikan pendidikannya, tetapi setidaknya kisahnya masih konsisten. 


Nah, problemnya, penuturan kisah yang sebenarnya ringan dan sederhana itu terkadang tersendat-sendat merayap dalam kegelapan *nyanyi*. Ini hampir sama dengan apa yang gw alami ketika gw nonton film Benni Setiawan sebelumnya, Madre. Ketika babaknya lagi di bawah dan sendu, bawaannya senduuu banget ampe gw terbuai alias merasa bosan. Belum lagi gw tidak merasa ada relevansi yang kuat antara adegan masa kuliah Ikal dengan flashback masa remajannya di Belitung, kecuali karena gambarnya cakep, atau supaya menyambung dengan Laskar Pelangi, atau supaya bisa bikin product placement. That "vaksin" scene is embarassing, btw. Untungnya bagian klimaksnya lebih enerjik dan lumayan menghibur.

Kalau menyaksikannya dengan ekspektasi yang tepat dan santai, film ini sedikitnya masih memberikan hiburan, dihiasi dengan kerjasama kompak dari tata sinematografi, musik, theme song, juga akting dari para aktornya. Perhatian gw tertuju pada Astrid Roos yang bisa menghidupkan tokohnya dengan effortless tapi pas. Cantik banget sih enggak, tapi emang layak dijadikan rebutan anak-anak kampus dengan attitude-nya. Demikian pula dengan Abimana yang sepertinya sedang jadi most reliable actor bagi sineas kita, baru saja gw saksikan doski di 99 Cahaya di Langit Eropa, namun di film ini tampil tanpa beban melanjutkan peran Arai yang memang lebih outgoing daripada Ikal, beda dengan perannya yang kalem di 99 Cahaya yang setting-nya mirip-mirip.

I enjoy many parts of the filmEffort-nya perlu dihargai terutama dalam hal penggunaan Paris sebagai lebih dari sekadar latar. Beberapa joke-nya mungkin agak-agak gimanaa gitu, tetapi overall, gw masih bisa terima sama apa yang diceritakan film ini...sebelum akhirnya gw dapat informasi kalau kisahnya sebenarnya belum meng-cover seluruh novelnya, bahkan baru separuh. Wow, party-pooper. Padahal biarin aja gw menikmati kisah di filmnya yang menurut gw sih sudah cukup, kalaupun bersambung (karena gw pikir 'kan ada buku selanjutnya, Maryamah Karpov) setidaknya udah jelas arahnya ke mana. Sebagaimana sering gw ungkap, itulah kekurangan (atau justru keuntungan) gw sebagai bukan penghobi buku. Ah, anyway, kalau bandingannya Laskar Pelangi, dan even Sang Pemimpi, Edensor ya nggak sebanding, karena emang udah beda sih cerita dan tone-nya. Tetapi sebagai sebuah film sendiri, nggak jelek lah...nggak se-"meh" judulnya.




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar