Selasa, 02 April 2013

[Movie] Madre (2013)


Madre
(2013 - Mizan Productions)

Directed by Benni Setiawan
Screenplay by Benni Setiawan
Based on the novella by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Cast: Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, Titi Qadarsih, Savitri Nooringhati, Gatot W. Dwiyono, Lisa H. Pandansari, Framly Nainggolan


Madre adalah karya tulisan Dewi "Dee" Lestari ketiga yang diangkat ke layar lebar dalam satu tahun terakhir ini. Setelah Perahu Kertas yang (mesti banget ya?) dipecah 2 volume dan 5 dari 11 cerita pendek dalam Rectoverso jadi sebuah film omnibus, Madre adalah yang pertama berformat "normal" sekali jalan. Sedikit latar belakang, Madre adalah salah satu dari 13 cerita pendek dan novel pendek—atau istilahnya novelet—karya Dee yang dimuat dalam buku kumpulan cerita karyanya, buku itu juga akhirnya diberi judul Madre. Nggak, gw belum baca, ini taunya juga dari temen+wiki kok =p.

Tansen (Vino G. Bastian), seorang free-spirited surfer dan blogger yang tinggal di Bali, mendapati sebuah kabar mengejutkan bahwa ia sesungguhnya adalah cucu dari pengusaha toko roti bernama Tan Sin Gie di Bandung. Selepas kakeknya itu meninggal, Tansen dipanggil untuk mengambil warisan yang jadi haknya, yang membawanya pada toko roti Tan De Bakker yang sudah tidak beroperasi di Jalan Braga. Warisan yang ia terima adalah sebuah kunci untuk membuka sebuah kulkas di sana, yang berisi setoples Madre. Menurut pak Hadi "heu'euh" (Didi Petet) si penjaga toko terbengkalai itu, Madre adalah rahasia kelezatan roti Tan De Bakker di masa lampau, mungkin si engkong mengharapkan Tansen menghidupkan kembali toko itu. Di tengah kekagetan dan keengganan Tansen, muncul Mei (Laura Basuki) pengusaha toko roti modern waralaba Fairy Bread yang hendak membeli dan memiliki Madre. Tansen harus memilih akan menyerahkan semua warisan keluarga yang asing baginya itu lalu kembali ke kehidupan bebasnya, atau menjalankan mandat menghidupkan kembali Tan De Bakker yang mungkin memang jadi takdirnya.

Gw tertarik membahas apa itu Madre. Dijelaskan di film ini, Madre adalah biang roti yang dibuat Tan Sin Gie untuk bahan roti jualannya. Madre ini juga "hidup" sehingga harus "diberi makan" sehingga sekalipun terus diambil untuk membuat roti, Madre tetap dapat bertambah besar dan memenuhi toples wadahnya. Katanya lagi, sudah jarang penjual roti yang memakai biang roti dalam pembuatannya, karena tidak semua orang berhasil membuat biang roti, boro-boro yang bermutu baik. Dari informasi ini saja, kita dapat membayangkan bahwa Madre ini adalah semacam karakter tersendiri, sakral, bahkan dikiaskan sebagai "ibu" (karena "madre" itu bahasa Spanyol-nya ibu)  dsb dsb. Dari sini saja pula, gw menangkap bahwa film Madre mengembangkan ide dan konsep dasar ini dengan penyampaian yang agak miss.

Roti dengan biang roti sendiri adalah salah satu dari beberapa metode membuat roti. Setelah ulak-ulik Google, biang roti (sponge) itu ya sebenernya adonan roti yang difermentasi sekian lama, lalu dicampur dengan adonan kedua, jadi basically bikin adonan 2 kali. Merepotkan, tapi konon hasilnya adalah roti dengan tekstur lebih lembut, lebih wangi, dan lebih tahan lama, sedikit berbeda dengan metode adonan langsung atau metode adonan instan yang lebih ringkas tapi tak bertahan terlalu lama. It's a shame bahwa gw harus mendapat informasi ini dari internet ketimbang dari film yang menjadikan biang roti sebagai judulnya.

Ya, Madre itu nama biang rotinya. Yes. Adonan dikasih nama. Yap. I know. It's like a Chinese restaurant cook naming their lard "Ti Pat Kay", or how people find various ways to refer ganja in mie Aceh. Konyol kedengarannya. It's a goddamn adonan. Namun, sebagaimana konyolnya anime-anime Jepang kayak "Mister Ajikko/Born to Cook", yang mengesankan hal-hal yang dianggap kecil semisal "cara iris ikan" adalah penentu kelestarian umat manusia, Madre yang tokoh-tokohnya begitu mengagungkan si biang roti spesial ini harusnya bisa juga demikian. Setidaknya lebih bisa menunjukkan betapa penting bangetnya si biang roti ini buat orang awam seperti gw, bukan sekadar gimmick. Sayangnya, pembuat film Madre mungkin tidak menangkap potensi tersebut, instead malah membuat film yang maunya buru-buru filosofis romantis melankolis sebelum gw berhasil menyerap benar tentang dunia pe-roti-an Tan De Bakker yang, jujur saja, sangat komikal itu. Padahal model rambut Tansen udah "lucu" gitu, setting-nya pun sudah seperti komik. Kenapa hanya sampai di situ?

Oke, ini memang terdengar sok ngatur, tapi I really really wish film ini lebih berat ke komedi dengan sentuhan filosofi plus cinta, ketimbang sebaliknya, maka niscaya konsep "Madre si biang roti super" itu sendiri akan lebih mudah gw terima, lebih pas, lebih kena, lebih istimewa, dan niscaya juga akan lebih manis semanis wajah Laura Basuki. Bukannya film ini nggak ada lucunya, tetapi tone gambar dan penceritaannya kurang bisa mengeluarkan kelucuan yang maksimal, terlalu sendu dan lamban buat gw, jadinya not fun enough. Untunglah Madre tertolong dengan visual yang memikat (Jalan Braga gitu loh) dan tata musik yang cukup asyik. Penampilan para aktornya pun nggak jelek-jelek amat, baik Vino, Laura Basuki maupun Didi Petet dan empat manula komikal pegawai Tan De Bakker (tuh tokoh-tokohnya aja udah komikal kok filmnya enggak?). Gw terkesima dengan Laura yang sangat fasih dan natural ketika ngomong soal bisnis, bakat banget kayaknya =). 

Buat gw Madre adalah film yang cukup nyaman dinikmati, tidak sampai mengesalkan, dan setidaknya mendorong gw untuk tahu lebih jauh tentang roti =p. Tapi, ya itulah, pada akhirnya gw merasa eman, film ini mestinya bisa lebih baik lagi, bisa lebih lucu, bisa lebih lincah, bisa lebih cerah, bisa lebih menghibur, lebih heart-warming, dan juga dengan latar utamanya bisa lebih informatif lagi tentang seluk-beluk usaha bakery. It could've been a different and more interesting movie than this "safe" one. Salah satu ide nih, film ini bisa aja memasukkan info bahwa kalo bikin roti pake biang roti seperti Tan De Bakker, nggak perlu pewangi ruangan tambahan supaya bikin tokonya terkesan wangi roti banget, nggak kayak toko-toko "roti ngobrol" ituh...




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar