Senin, 23 Desember 2013

[Movie] 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)


99 Cahaya di Langit Eropa
(2013 - Maxima Pictures)

Directed by Guntur Soeharjanto
Screenplay by Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra, Alim Sudio
Based on the novel by Hanoum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Produced by Ody M. Hidayat
Cast: Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Nino Fernandez, Marissa Nasution, Alex Abbad, Gecha Tawara, Dewi Sandra


Kalau kalian rajin ikutin komik Crayon Shinchan, pasti tahu kalau Shinchan punya tetangga turunan Amerika yang belum bisa bahasa Jepang, namanya Robert. Robert selalu berbicara dengan bahasa Inggris, tetapi supaya pembaca mengerti doski ngomong apaan, dan supaya lucu, maka si pengarang tetap menuliskan dialognya dalam bahasa Jepang (kalau di versi Indonesia ya bahasa Indonesia), tapi selalu memberi keterangan dengan tanda panah menunjuk ke bubble dialog Robert dengan teks ini: "ini ceritanya bahasa Inggris". You know what? Itu juga terjadi di film 99 Cahaya di Langit Eropa. Yup, gw barusan menyamakan film bernuansa religi dengan komik Jepang kontroversial. Dan setidaknya di Shinchan masih dikasih keterangan "ini ceritanya bahasa Inggris". Di film ini, enggak.

Gw nggak ngerti caranya bikin film sih ya, tetapi menurut penilaian gw, okelah kalau misalnya setting-nya dan orang-orangnya ceritanya di China tapi dibikin semuanya berbahasa Indonesia, asalkan emang semua orang di sana berbicara bahasa yang sama. Nggak ada masalah, anggep aja self-dubbing *apa pula itu*. Tapi kalau filmnya tentang situasi antarbangsa, seharusnya ada effort lebih mengenai ke-antarbangsa-an itu. Tokohnya bolehlah dimainkan oleh bukan orang bangsa aslinya, tetapi setidaknya itu bisa dikamuflase dengan penggunaan bahasa, makeup, dan gestur. 99 Cahaya di Langit Eropa setting-nya di Wina, Austria dan Paris, Prancis. Anehnya, orang Turki (Raline Shah, Gecha Tawara), orang Austria (Nino Fernandez, Marissa Nasution), orang Pakistan (Alex Abbad), dan orang Prancis (Dewi Sandra) yang ada di sana bisa berbahasa Indonesia dengan sangat faseh setelah mengucapkan beberapa kata bahasa Inggris dan Jerman. Lebih aneh lagi, yang bisa begitu hanyalah tokoh-tokoh bule yang dimainkan oleh aktor Indonesia, sedangkan tokoh lain yang asli bule nggak pernah berbahasa Indonesia. Gw nggak habis pikir kenapa pembuat filmnya tidak merasa ini sebuah keanehan.

If only that is the only problem this film has. 99 Cahaya di Langit Eropa ternyata adalah film yang bersambung, karena nanti bakal ada bagian 2-nya. Lagi tren banget kayaknya. Akibatnya, film 99 Cahaya bagian pertama ini jadi nggak ke mana-mana. Cuma kayak kenalan, jalan-jalan, itu pun cuma ke dua kota, Wina dan Paris. Udah. Plot-nya apa juga gw nggak tahu. 

Well, di bagian awalnya sih ada satu plot yang cukup menarik, yaitu Rangga (Abimana Aryasatya) yang sedang kuliah S2 di Wina yang menghadapi dilema antara ujian semesterannya dengan kewajiban salat Jumat. Tapi ya udah, itu satu jam juga selesai. Di filmnya juga nggak diarahkan plot utamanya ke mana, pake bersambung lagi. Tokoh-tokoh kita ke sana dan ke sini, dapat pengetahuan, tapi terus kenapa? Konflik/tujuan besarnya apa yang harus diselesaikan di film ke-2? Kalau ini dirancang sebagai road movie, lah kapan jalannya? Dalih "semaksimal mungkin menuangkan isi novelnya" menurut gw adalah alasan yang "males", kesannya ingin membuat visualisasi novel yang tinggal copy-paste, ketimbang berusaha membuat sebuah karya film yang utuh dan berdaya tarik setara dengan novelnya. Mau setia sama novel tapi kok tokoh yang harusnya warga asing nggak diperankan oleh orang asing/berlaku seperti orang asing. Logika.

Tapi, di luar segala inkonsistensi dan pemaksaan filmnya harus dibelah dua, 99 Cahaya gw akui memang manis dipandang. Melihat pemandangan kota-kota Eropa, memberi pengetahuan tentang jejak kebudayaan Islam di Eropa yang mungkin jarang diketahui, serta penampilan Acha Septriasa sebagai Hanum (istri Rangga) dan Abimana yang solid dan loveable. It's well made...seandainya nggak bersambung. Okelah The Lord of the Rings dan The Hobbit juga bersambung, tetapi setidaknya dalam setiap film ada konflik dan ada penyelesaian di setiap akhirnya. Film yang ini gw bayar tiket full tapi dapetnya separoh.

Nah, karena effort-nya separoh, dan cerita filmnya juga baru separoh, jadi pontennya separoh juga ya *kejam*. Yah tambah setengah lagi deh buat penampilan manis Acha *luluh*.



My score: 5,5/10

2 komentar:

  1. Yah filmnya emang agak gimana gitu cerita nya ya. Si Hanumnya mungkin terinspirasi sama si Fatma jadi maunya jalan2 muterin Eropa gitu. Sama itu,kemunculan si Fatin gak penting bgt. Emangnya di novel aslinya ada ya ketemuan sama si Fatin,katanya berdasarkan kisah asli Hanum? Emang waktu itu udah ada si Fatin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. namanya juga cameo, buat promosi, kali aja adanya Fatin bisa bikin penonton filmnya tambah banyak =D

      Hapus