Rabu, 23 Desember 2009

[Movie] Sang Pemimpi (2009)



Sang Pemimpi
(2009 - Miles Films/Mizan Productions)

Directed by Riri Riza

Screenplay by Salman Aristo, Mira Lesmana, Riri Riza

Based on the novel by Andrea Hirata

Produced by Mira Lesmana

Cast: Vikri Septiawan, Rendy Ahmad, Azwir Fitrianto Zulfani, Lukman Sardi, Mathias Muchus, Nugie, Landung Simatupang, Nazriel Ilham



Gw awam dengan rangkaian novel Andrea Hirata atau terkenal dengan sebutan tetralogi Laskar Pelangi, sebagaimana gw memang awam sama segala sesuatu yg berhubungan dengan novel dan karya sastra.
I’m not a book fan. Atas dasar termakan euforia dan promosi gencar tanpa tahu2 banget tentang sumber aslinya, tahun lalu gw adalah salah satu dari jutaan orang yg nonton Laskar Pelangi dan terbuai dalam charm-nya baik cerita maupun pengalaman sinematiknya (haduuh terlalu tinggi gak sih bahasanya…). Salah satu film Indonesia yg digarap paling baik dan serius. Sang Pemimpi adalah lanjutan dari Laskar Pelangi. Jika Laskar Pelangi bercerita tentang Ikal dkk masih sekolah di SD Muhammadiyah di Gantung, Belitung yg nyaris bubar, maka Sang Pemimpi bermula dari Ikal yg menemukan sahabat2 baru yg bersama-sama menjalani masa remaja di SMA di kota pelabuhan Manggar (masih di Belitung btw), well most of it.

Cukup lucu bahwa baik Laskar Pelangi maupun Sang Pemimpi ini bercerita tentang Ikal (yg katanya adalah manifestasi Andrea Hirata sang pengarang sendiri)
yg bercerita lebih banyak mengenai orang lain yg digambarkan luar biasa pengaruhnya dalam kehidupan Ikal. Laskar Pelangi berpusat pada si jenius Lintang dan pengabdian Ibu Muslimah, maka Sang Pemimpi lebih kepada kekaguman Ikal pada Arai, sepupu yg jadi saudara angkatnya selepas SD. Di awal film, kita melihat Ikal (Lukman Sardi) bekerja di kantor pos selepas lulus S1. Ia tinggal di Bogor, harusnya sama Arai (Nazriel Ilham), tapi sudah cukup lama Arai hilang begitu saja. Bagaimana kehidupan Ikal dewasa “saat ini” semua gara2 Arai yg menjerumuskannya untuk meretas mimpi. Sejak kecil Arai adalah pribadi yg unik, ia sangat cerdas, tapi sangat nakal, tapi lagi berhati mulia. Arai (Rendy Ahmad) menjadi biang Ikal (Vikri Septiawan) dan sahabat satu geng yg lain, si gagap Jimbron (Azwir Fitrianto), terlibat masalah khas anak sekolah (yah iseng sama guru, bolos, dll). Tapi Arai juga yg mengajak Ikal untuk bareng2 lulus SMA dengan nilai terbaik, ke Jakarta dan lulus S1 di Universitas Indonesia—dengan biaya yg disusahakan sediri pula, lalu meraih beasiswa ke Universitas Sorbonne, Paris—terinspirasi dari guru bahasa/sastra favorit mereka, Julian Balia (Nugie) yg gemar menanamkan semangat meraih cita2 setinggi mungkin pada murid2nya. Mimpi yg terlalu tinggi? Bagi orang2 yg seperti pak kepala SMA, Pak Mustar (Landung Simatupang) maybe it is, tapi tidak bagi Arai, dan tekad itupun menular pula pada Ikal. Ditambah dengan subplot2 tentang pubertas (naksir cewek dan penasaran sama film “Skandal Metropolis”), dan kekaguman Ikal pada sang Ayah (Mathias Muchus)—ayah no.1 di dunia, maka jadilah Sang Pemimpi.

Ada yg merasa ringkasan cerita yg gw bikin di atas agak abstrak? Hehehe,
to tell you the truth, I almost have no idea what I just wrote. Berbeda dengan Laskar Pelangi yg plotnya diusahakan berkesinambungan (mempertahankan sekolah hingga Ikal dkk bisa lulus), maka Sang Pemimpi yg (harusnya) bertema coming-of-age rasanya kurang lancar dalam mengaitkan momen2 dalam adegan2 yg ada menjadi satu kesatuan. Pengait kisahnya tentu saja Arai dan Ikal untuk mewujudkan rencana jangka panjang mereka, namun entah kenapa, rasanya kurang gimanaa gitu, gw agak lost di tengah2. Gw juga kurang sreg sama kalimat2 dialog yg “terlalu sastra” dan kurang believable padahal maksudnya inspiratif. Segi casting pun, dengan sangat menyesal gw harus menyatakan, menurun dibanding pendahulunya. Performa paling okeh adalah dari Landung Simatupang sebagai kepala SMA yg keras, kaku, tapi berhati emas, serta Mathias Muchus yg kemunculannya selalu signifikan. Sedangkan para aktor remaja pemeran Ikal, Arai dan Jimbron masih kalah nendang dari rekan2 cilik mereka di Laskar Pelangi. Yg paling bisa berakting adalah Rendy Ahmad, tapi itupun masih keliatan “akting”. Nugie? Err...belumlah. Nazriel Ilham a.k.a Ariel vokalis band-yg-dahulu-dikenal-sebagai-PeterPan-tapi-belum-nemu-nama-baru-sampe-sekarang-padahal-sejak-2007-udah-disuruh-ganti? Kalo gw suruh milih, kemampuan akting Ariel sedikit lebih baik daripada kemampuan nyanyinya, since I hate the way he sings anyway. Tapi satu sektor yg paling mengganggu gw di Sang Pemimpi adalah editingnya yg tidak kreatif. Kok kayaknya pergantian adegan dengan crossfade (perpindahan adegan pake layar hitam) kebanyakan deh, dan lama2 semakin sering, malah bikin jengkel.

Meski demikian, gw gak berani mengganggu gugat kenyataan bahwa Sang Pemimpi punya kualitas lebih superior dibandingkan film2 nasional kebanyakan. Selain pesan yg dalam, sinematografinya masih oke (gw bilang siy masih bagusan Laskar Pelangi), tata artistiknya pun mantebh, dan pengarahan masing2 adegannya masih jempolan, bahkan ada beberapa adegan yg bikin gw tertawa lepas. Film ini tetap entertaining dan indah. Adegan2 yg menunjukkan hubungan Ikal dan sang Ayah adalah favorit gw. Tapi overall tampaknya film ini dibuat terlalu terburu-buru, bahannya lengkap dan berkualitas tapi komposisinya kurang pas. Sayang sayang, seribu kali sayang…But anyway, film ini bisa ditonton secara mandiri tanpa harus menonton Laskar Pelangi dulu lho.


My score: 7/10



1 komentar:

  1. belum nonton. nanti kalau udah nonton komentar lagi

    BalasHapus