Jumat, 22 November 2013

[Movie] Sokola Rimba (2013)


Sokola Rimba
(2013 - Miles Films)

Directed by Riri Riza
Screenplay by Riri Riza
Based on the book by Butet Manurung
Produced by Mira Lesmana
Cast: Prisia Nasution, Nyungsang Bungo, Nengkabau, Beindah, Nadhira Suryadi, Rukman Rosadi, Ines Somellera, Netta KD


Kalau di saat-saat ini ada satu film Indonesia yang harusnya kalian tonton, dan kalian masih waras, tontonlah Sokola Rimba. Film yang "bener" ya kayak gini ini. Bukan cuma karena ini hasil karya sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana yang telah menyajikan karya yang bener lainnya seperti Gie, Laskar Pelangi, dan Atambua 39° Celsius—walaupun emang cukup jadi jaminan sih, tetapi lebih karena film ini menunjukkan permasalahan yang nyata terjadi di antara kita semua. Bukan, bukan cuma terjadi sama Orang Rimba, tapi kita semua.

Coba deh, apa sih tujuan kita sekolah, atau ikut berbagai bentuk pengajaran dan pendidikan? Biar lulus sebaik mungkin dan dapat kerjaan bergaji cukup bahkan lebih? Atau koleksi pengetahuan dan keahlian biar CV-nya panjang? Gitu doang? Menurut gw, pendidikan itu punya tujuan yang lebih simpel daripada itu. Pendidikan itu bermanfaat supaya kita sadar bahwa kita punya pilihan, dan pada saatnya, kita bisa memilih mana yang terbaik buat kita. Misalnya, kita cuma tahu makanan kita nasi, lalu di sekolah kita diajarkan bahwa singkong, kentang, roti, jagung, dan mie punya kandungan gizi seperti nasi. Tapi bukan berarti sekolah memaksa kita berhenti makan nasi, kan? Namanya juga pilihan, ya terserah. Yang dirasa bermanfaat ya diikuti, yang dirasa nggak ngaruh-ngaruh amat ya udah biarin aja.

Pemikiran itu—yang belum tentu benar juga sih, saya mah apa atuhlah *ala Zaskia Gotik*—rasanya nyambung dengan nilai yang tersimpan dalam film Sokola Rimba, sepenggal kisah yang terinspirasi dari salah satu pengalaman nyata seorang pengajar muda, Saur Marlina "Butet" Manurung yang mengabdikan diri mengajar anak-anak Orang Rimba di hutan Bukit Duabelas, Jambi. Apa yang dilakukan dan ditanamkan film ini, atau bahkan mungkin dari tulisan Butet lewat buku yang jadi dasar film ini, kira-kira dapat menggambarkan apa yang menurut gw adalah tujuan utama pendidikan: bukan untuk mengubah dan meninggalkan jati diri kita, tetapi untuk melindungi, bahkan memantapkan jati diri kita.

Di akhir tahun 1990-an, Butet Manurung (Prisia Nasution) sudah menghabiskan sebagian dari tiga tahun hidupnya tinggal bersama Orang Rimba, dengan status sebagai Ibu Guru. Statusnya ini tidak mudah didapat, apalagi mengingat adat istiadat Orang Rimba yang ketat. Butet pun memanfaatkan status dan pengakuan itu dengan sebaik-baiknya dengan setia mengajar anak-anak Rimba membaca, menulis, dan berhitung, sekaligus menghormati adat istiadat mereka. Ia juga belajar bahasa, adat, dan cara hidup Orang Rimba. Ia pun fascinated sama bagaimana anak-anak Rimba ternyata cerdas-cerdas dan punya semangat belajar yang tinggi.


Suatu ketika Butet bertemu dengan seorang remaja Rimba, belakangan diketahui namanya Bungo (Nyungsang Bungo, konon sekalipun untuk akting memerankan tokoh lain, nama aslinya harus tetap dipakai), dari sebuah kampung yang letaknya lebih ke pedalaman. Butet mau ke sana, tapi bukannya tanpa masalah. Terlepas dari konflik kepentingan di LSM tempat Butet bernaung yang enggan membiayai, tak semua warga di kampung itu setuju dengan keberadaan Butet mengajar anak-anak di sana, takut anak-anak mereka akan pergi meninggalkan mereka jika "jadi pintar". 

Kesulitan demi kesulitan tak mengikis semangat Butet untuk melayani dahaga anak-anak Rimba untuk belajar. Maka, bersama beberapa pihak yang mendukungnya, ia mulai merintis sekolah, atau bahasa sononya Sokola, untuk anak-anak Rimba. Tujuannya bukan serta merta "mengubah" mereka jadi anak kota, tetapi sesederhana agar mereka tidak diperalat oleh pihak-pihak yang menganggap mereka bodoh, hal yang selama ini terjadi ketika lahan hutan tempat mereka tinggal diratakan oleh pihak-pihak luar demi industri, tanpa ada posisi tawar dari Orang Rimba. Jauh lebih baik daripada sekadar bilang "pendidikan itu penting", film ini mengingatkan dengan jelas mengapa pendidikan itu penting.

Banyak hal yang bisa dikagumi dalam film Sokola Rimba. Dari sinematografinya, aktingnya, musiknya, tata suaranya, potret alamnya, penggambaran kearifan lokal (berasa Apresiasi Film Indonesia, hehe, but clearly this film is a frontrunner next year), juga pengarahan Riri Riza terhadap wajah-wajah asli Rimba yang tampil natural, pun penempatan humor yang sama naturalnya. Tetapi, kekaguman utama gw tertuju pada pilihan arah film ini. Tidak film banget seperti Laskar Pelangi, tidak juga bergaya realisme seperti di Atambua 39° Celsius. Sokola Rimba seperti titik temu di antara gaya kedua film tersebut. Gayanya agak semi-dokumenter, tetapi kisahnya dituturkan jelas, mudah diikuti, dan penempatan dramatisasinya subtle, nggak berlebihan, mengena tapi bebas dari melodrama. Gw suka dengan gaya seperti itu.

Yang gw suka lagi adalah bahwa sebenarnya film ini memuat lebih besar daripada yang diceritakan. Seperti gw singgung tadi, ada sedikit kritik yang cukup dalam tapi sopan, entah terhadap pihak penguasa ataupun lembaga-lembaga yang katanya mau membantu kemajuan negeri kita, tetapi pendekatan yang personal membuat kisah dan tokoh-tokohnya terasa dekat dan tidak berisik mengkhotbahi. Jika plot dasarnya adalah bagaimana Butet merintis sekolah di Rimba, maka yang jadi motivasinya bukanlah "mencerdaskan kehidupan bangsa", tetapi karena ikatan personal Butet kepada anak-anak Rimba yang antusias untuk belajar. Bukan karena wajib, tetapi karena kasih sayang. Film yang bener tuh ya kayak gini ini.



My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar