Sabtu, 04 Agustus 2012

Reminiscence of 1990's Animated Features - Part 2 of 2: Five Attempts to Overthrow Disney Animation Supremacy

Di bagian kedua tentang animasi Hollywood 1990-an ini, gw akan membahas beberapa usaha untuk menyaingi film-film animasi produksi Walt Disney di dekade tersebut. Seperti yang gw sudah bahas di Part 1, kesuksesan film bioskop animasi Disney bukanlah kesuksesan untuk ukuran film animasi belaka, melainkan kesuksesan secara general, bahkan beberapa sanggup mengalahkan film-film blockbuster yang live action. Tentu saja hal ini akan menimbulkan envy dan kepo dari pihak luar Disney, sehingga ada beberapa produksi film animasi bioskop yang mencoba meraih kesuksesan yang sama. Toh kalau pada tahun 1980-an Disney bisa kalah sukses dari studio lain (terutama Universal yang animasinya diproduksi mantan animator Disney, Don Bluth), kenapa kali ini tidak bisa?


Tentu ada cukup banyak contoh film animasi Hollywood yang berusaha menggoyahkan singgasana animasi Disney di dekade 1990-an, namun kali ini gw hanya akan membahas 5 judul yang pernah gw tonton, dan punya formula Disney banget. Seperti yang pernah disinggung, animasi Disney kembali bangkit semenjak hadirnya The Little Mermaid di tahun 1989 yang membawa genre fantasi-musikal-dongeng kembali ke layar animasi Disney, kesuksesan yang diikuti Beauty and the Beast (1991) dan Aladdin (1992), sedangkan yang ber-genre petualangan yaitu The Rescuers Down Under (1990) tidak terlalu laku. Maka dari itu, strategi pihak-pihak luar Disney pasti mengikuti pola yang sukses lah. Gw pun coba menyenarai formula animasi ala Disney yang juga digunakan rumah produksi lain dalam film animasi, yakni:

1. genre fantasi musikal berdasarkan dongeng, mitos, atau legenda berlatar masa lalu
2. ada unsur magis/mistis
3. ada unsur romansa, kalau bisa ada love theme-nya
4. ada hubungannya dengan kerajaan (ada putri dan atau pangeran)
5. ada tokoh sidekick yang lucu, dan kalau bisa bukan berwujud manusia
6. ada versi pop dari setidaknya salah satu lagu dari filmnya, kalau bisa dibawakan secara duet.

5 judul yang akan gw bahas di bawah ini memang tidak harus memenuhi setiap formula di atas, tetapi percayalah sebagian besar pasti bisa ditemukan dalam film-film tersebut. Tapi ya namanya karya seni, ibarat masakan, meski bahan dan resep sama, kalau orangnya beda belum tentu hasilnya sama. Demikian pula 5 film animasi yang akan gw bahas di bawah ini, meski dengan formula yang mirip Disney, bahkan tak jarang memang melibatkan oknum-oknum yang pernah terlibat dalam animasi Disney, tak satupun berhasil menyaingi kedigdayaan Disney. Meski secara kualitas ada yang menyamai, namun rupanya pada saat itu harus diakui animasi Disney lebih banyak menarik penonton. Disney lebih jago marketing dan branding kali ya, hehe.

Baiklah mari kita mulai membahas satu per satu film-film yang mencoba mengguncang tahta Disney dalam bidang animasi bioskop di tahun 1990-an.







Thumbelina (1994)
dir. Don Bluth & Gary Goldman
prod. Don Bluth Entertainment/dist. Warner Bros.
Pertama nonton di: VCD
My score: 4,5/10

Thumbelina ini mungkin jawaban Don Bluth cs atas The Little Mermaid-nya Disney. Sama-sama berdasarkan dongeng dari Hans Christian Andersen, bahkan mengajak pengisi suara Ariel menjadi tokoh gadis manusia sebesar jempol, Thumbelina. Cukup ambisius dengan penggunaan berbagai teknologi animasi yang cukup canggih dan musik-musik yang cukup cantik melibatkan musisi pop Barry Manilow. Secara animasi, Thumbelina mungkin terbilang bagus....kalau dirilis tahun 1945 =P. Don Bluth cs. terlihat sekali menggunakan teknik animasi semi-motion-capture seperti Snow White and the Seven Dwarves, berusaha mengikuti gerakan persis manusia, which is tidaklah salah, tetapi gerakan, gestur dan cara bicara para tokohnya pun sangat-sangat kuno dan teatrikal seakan mereka meng-animate Scarlett O'Hara bukannya orang-orang yang hidup di tahun 1990. Pengisahan film ini juga seperti terlalu terpaku pada pakem fairy tale, tentang gadis yang misfit dan berharap dengan menikah dengan seorang pangeran peri (yang seukuran dengannya) akan membuatnya bahagia, namun di tengah jalan ia tersesat dan menemui rintangan dari berbagai hewan kecil. Iya, tujuan utamanya cuman kawin, what a role model. Tokoh Thumbelina yang mungkin maksudnya polos jadi kelihatan bodoh dan delusional dan lama-lama menyebalkan, sangat tidak nyaman disaksikan. Ketika sebelumnya sudah muncul tokoh putri yang berpikiran lebih modern di Beauty and the Beast dan Aladdin, ke-damsel-in-distress-an Thumbelina jadi terasa kadaluarsa. But then again, mungkin anak-anak masih bisa menikmatinya, tetapi mungkin orang dewasa akan ngantuk ketika berpikir kenapa Thumbelina tidak langsung saja menumpang si burung dara agar bisa pulang. The songs are quite good, though.

Obvious connection with Disney animation:
- Don Bluth dan Gary Goldman pernah bekerja sebagai animator Disney
- Jodi Benson pengisi suara Thumbelina, sebelumnya mengisi suara Ariel di The Little Mermaid.

"Let Me Be Your Wings"

"On The Road"










The Swan Princess (1994)
dir. Richard Rich
prod. Nest Family Entertainment, Rich Animation Studios/dist. New Line Cinema
Pertama nonton di: Laser Disc sewaan
My score: 7/10

The Swan Princess ini bukanlah film besar. Apalagi kalau dilihat sekarang. Apalagi apalagi mengingat film ini dirilis di tahun yang sama dengan The Lion King yang fenomenal. Tetapi secara keseluruhan, dibandingkan Thumbelina yang sama-sama Disney-wannabe (minjem istilah opa Roger Ebert), The Swan Princess lebih berhasil. Film animasi yang memang dibuat secara independen dan biaya tak banyak ini, kelihatan dari animasinya yang gak jauh beda dari kartun televisi, setidaknya punya formula cerita yang baik dan cukup logis. Berdasarkan kisah pada pertunjukkan balet "Swan Lake", The Swan Princess memberi sentuhan modern mulai dari hubungan putri dan pangeran yang dari kecil dijodohkan tapi benci-benci mau gitu *hehehe*, hingga karakterisasi sang putri yang tak hanya minta kawin, tetapi menuntut kedewasaan dari si pangeran. Perkembangan tokoh pangeran pun oke (meski judulnya "princess" tapi porsi putri dan pangeran seimbang), serta tokoh-tokoh sidekick-nya cukup sukses mengundang tawa. Film animasi fairy tale yang diberi sentuhan romantic comedy yang manis, lajunya pun tak membosankan, menghibur lah pokoknya. Semua keunggulan itu seakan sukses membuat gw memaafkan kekakuan dan kesederhanaan animasinya yang emang masih jauuuh banget dari Disney. Ini bukti, bagusnya sebuah film itu memang dari cerita dan penceritaan, bukan dari visual belaka.

Obvious connection with Disney animation:
- Richard Rich pernah menyutradarai film animasi Disney (The Fox and the Hound, The Black Cauldron)
- Regina Belle menyanyikan versi pop lagu "Far Longer Than Forever", sebelumnya menyanyikan versi pop lagu "A Whole New World" dari Aladdin.
- lyricist David Zippel kelak menulis lirik lagu-lagu untuk Hercules dan Mulan
- Liz Callaway pengisi suara nyanyian Odette, saat bersamaan juga mengisi suara nyanyian Jasmine dalam sekuel Aladdin (dalam bentuk home video), The Return of Jafar dan nantinya Aladdin and the King of Thieves

"This is My Idea". A cute and winning opening number.

"Far Longer Than Forever". Nice ballad.










Anastasia (1997)
dir. Don Bluth & Gary Goldman
prod. Fox Animation Studios/dist. 20th Century Fox
Pertama nonton di: bioskop
My score: 8/10

Boleh dikatakan bahwa Anastasia adalah animasi non-Disney 90-an yang paling pantas disejajarkan dengan daftar film animasi bioskop Disney klasik. Memang secara komersial tidaklah sesukses Disney, tetapi percayalah Anastasia adalah lompatan jauh dari Don Bluth dan teman-temannya sejak Thumbelina. Dengan sokongan dana yang lebih besar, film ini termasuk paling sukses menggabungkan kisah mitos putri-putrian dalam bentuk musikal Broadway dengan sentuhan yang modern (karena seting film ini di Eropa 1920-an). Teknologi animasinya apik, gambarnya bagus-bagus dan mewah (tata artistiknya keren banget, misalnya adegan "Paris Holds the Key to Your Heart" yang meniru lukisan-lukisan Monet), penggabungan animasi tradisional dan CGI-nya mantap. Meskipun tetap terlihat teknik animasi semi-motion-capture seperti Thumbelina, tetapi setidaknya gerak dan gestur tokoh-tokohnya lebih natural. Ceritanya pun mengalir dengan baik, logis, dan menyimpan kedalaman emosi. Pengembangan mitos seorang putri kerajaan Rusia yang hilang ini terbilang orisinil, apalagi plotnya digerakkan oleh tindakan con/penipuan untuk mendapatkan imbalan uang, dengan ini Don Bluth cs. terbukti sudah sadar bahwa sentuhan modern sangat penting dalam karakterisasi dan plot sebuah film animasi sekalipun terdapat tokoh putri dan unsur-unsur magisnya, supaya dapat dinikmati anak-anak dan menggugah ketertarikan penonton dewasa, sesuatu yang juga jadi kunci sukses animasi Disney di dekade itu. Ditambah dengan tata musik dan lagu-lagu yang bagus, Anastasia begitu menghibur dan tak membosankan disaksikan berulang kali. Baguslah pokoknya, of all the attempts on this list, Anastasia is simply the best. Sebuah awal yang menjanjikan bagi Fox Animation Studios—meski pada akhirnya studio ini gak bertahan lama, hehe. Pula sepertinya, Anastasia adalah biang keroknya film animasi Hollywood memakai aktor-aktor Hollywood ternama sebagai pengisi suara hampir semua karakternya, mulai dari Meg Ryan, John Cusack, Kelsey Grammer, Christopher Lloyd, Angela Lansbury, hingga Kirsten Dunst.

Obvious connection with Disney animation:
- Don Bluth dan Gary Goldman pernah bekerja sebagai animator Disney
- Angela Lansbury pengisi suara ibu suri Marie, sebelumnya mengisi suara Mrs. Potts di Beauty and the Beast
- Bernadette Peters pengisi suara Sophie, di saat bersamaan mengisi suara Angelique di Beauty and the Beasy: The Enchanted Christmas (dalam bentuk home video)
- Liz Callaway pengisi suara nyanyian Anastasia, sebelumnya mengisi suara nyanyian Jasmine dalam sekuel Aladdin (dalam bentuk home video), The Return of Jafar dan  Aladdin and the King of Thieves
- Jim Cummings pengisi suara nyanyian Rasputin, adalah pengisi suara langganan Disney

My favorite. "Once Upon a December"

"Paris Holds the Key to Your Heart"










Quest for Camelot (1998)
dir. Frederik Du Chau
prod. Warner Bros. Feature Animation/dist. Warner Bros.
Pertama nonton di: bioskop
My score: 6/10

Pecah telor juga Warner Bros. ikutan bikin animated feature film. Setelah sekian lama, studio yang tokoh-tokoh Looney Tunes-nya adalah pesaing utama tokoh-tokoh kartun keluaran Disney ini baru berani membuat film animasi bioskop pertamanya di tahun 1998 dengan Quest for Camelot. Cukup getol proyek film tentang pencarian pedang Excalibur yang hilang ini. Paling kelihatan adalah dari soundtrack-nya, ketika film ini tanpa tanggung-tanggung merekrut musisi kenamaan David Foster dan Carole Bayer Sager sebagai penggarap lagu-lagunya. Jika Anda tahu lagu "The Prayer", itu adalah salah satu lagu dari film animasi yang nggak tayang di bioskop Indonesia ini. Sayangnya, hanya statusnya yang "bersejarah" buat Warner Bros. dan soundtrack-nya yang enak-enak saja yang pantas diingat dari Quest for Camelot. Nggak jelek sih filmnya, cuma ya biasa saja. Film ini terlalu sederhana dan pengisahannya pun buat gw membosankan. Padahal film ini punya tokoh-tokoh menarik, ada anak gadis tomboy, ada cowok pengembara yang buta, sayangnya semua dikembangkan terlalu dangkal dan pacing-nya tersendat. Tokoh-tokoh sidekick non-manusianya tidak punya signifikansi apa-apa selain seksi hore. Gambar dan animasinya juga kurang indah, malah sering ada proporsi yang aneh. Ditambah lagi perbedaan sangat kentara antara suara speaking dengan suara singing dari hampir semua tokohnya, jauh banget. Segitu egoisnyakah David Foster hanya memilih artis-artis yang dia kenal tanpa mempertimbangkan kemiripan suara dengan para pengisi suara speaking? Pemilihan yang lumayan hanya Pierce Brosnan yang suara nyanyiannya dibawakan Steve Perry (Journey). Oh ya film ini juga merekrut aktor terkenal lho buat pengisi suaranya, ada Cary Elwess, Gary Oldman, Gabriel Byrne, Jane Seymour, Jaleel White (si geek Urkel di serial "Family Matters" =D), dan tokoh utama wanitanya oleh Jessalyn Gilsig yang sekarang lebih dikenal sebagai tokoh mantan istri Mr. Schue yang resek di "Glee". 

Obvious connection with Disney animation:
- Nggak ngaruh juga sih sebenarnya, tapi Celine Dion yang mengisi suara nyanyian Lady Juliana (lagu "The Prayer"), sebelumnya menyanyikan versi pop lagu "Beauty and the Beast".

Lagu "The Prayer" yang biasa kita dengar dinyanyikan secara pop pretensius duet adalah gabungan lagu dua lagu berikut ini.

"The Prayer" oleh Celine Dion sebagai Lady Juliana.

"Looking Through Your Eyes" oleh Bryan White sebagai Garrett dan Andrea Corr (The Corrs) sebagai Kayley










The Prince of Egypt (1998)
dir. Simon Wells, Brenda Chapman, Steve Hickner
prod. DreamWorks Animation/dist. DreamWorks Pictures
Pertama nonton di: VCD
My score: 7,5/10

And the most ambitious of all, adalah The Prince of Egypt yang merupakan karya perdana DreamWorks Animation, studio baru anak dari studio DreamWorks SKG yang juga baru seumur jagung. Ambisius tidak hanya dari dana dan skala produksi, melainkan juga film ini mencatut cukup banyak personel tim sukses Disney. Tetapi yang patut dipuji adalah mereka seperti punya prinsip bahwa kalau ingin menyaingi Disney, harus berani beda dari Disney. Hal ini sudah terlihat dari tone dan desain gambarnya yang memang lumayan jauh berbeda dari film-film Disney. Film ini terbilang lebih serius (tidak ada sidekick non-manusia), lebih serius daripada Pocahontas, malah lebih mirip film anime Jepang, dengan banyak menampilkan gambar dramatis dan panoramik. Secara visual, film ini sangat keren, desain karakter dan tata artistiknya kelas wahid, perpaduan teknologi animasi tercanggih sangat indah dipandang, animasinya pun sangat mulus dan bersih. Belum lagi tata musik dan lagunya yang megah menggugah. The Prince of Egypt jelas sebuah produk superior, bahkan berada di level yang sama dengan Disney. Segi cerita mungkin yang sedikit jadi sandungan. Kisah perjuangan Musa sejak kecil hingga membawa keluar kaum Israel dari tanah Mesir ini memiliki banyak perbedaan dari versi kitab-kitab suci yang sudah dikenal, hal ini mungkin akan mengganggu banyak penontonnya. Gw sih sebenarnya gak terlalu masalah dengan itu, sejak awal juga sudah di-disclaim bahwa film yang dicekal di bioskop Indonesia ini (entah karena gak sesuai kitab suci, atau simply karena ini kisah orang Israel/Yahudi) memang berbeda tetapi berusaha true to the essence. Akan tetapi, memang penyederhanaan dan alteration detil-detil yang diambil lumayan mengurangi kedalaman kisahnya, sehingga rasanya sih tidak akan mudah diterima oleh kalangan religius. Yah, mungkin membuat kisah historis-religius dalam bentuk animasi musikal semua umur untuk kalangan luas memang terlalu berisiko. But anyway, ini sebuah awal yang sangat baik bagi DreamWorks Animation. Secara finansial dan kritikal mungkin belum bisa mengungguli Disney, tapi setidaknya mereka sudah eksis dengan karakter tersendiri. Dan juga tak mau kalah dari Anastasia, film ini menggila dengan mengundang aktor-aktor terkenal untuk mengisi suara: Val Kilmer, Ralph Fiennes, Michelle Pfeiffer, Helen Mirren, Danny Glover, Sandra Bullock, Jeff Goldblum, Steve Martin, Patrick Stewart, dan tentu saja yang paling gong adalah mengundang dua diva terkemuka Whitney Houston dan Mariah Carey berduet menyanyikan lagu "When You Believe" versi pop yang hingga sekarang sering dinyanyikan banyak orang secara pretensius pengen pamer kemampuan vokal.

Obvious connection with Disney animation:
- Produser eksekutif Jeffrey Katzenberg pernah menjadi CEO Disney
- Sutradara Brenda Chapman sebelumnya bekerja dalam tim penyusun cerita dan bidang storyboard dalam film-film animasi Disney seperti The Little Mermaid, The Rescuers Down Under, Beauty and the Beast, The Lion King dan The Hunchback of Notre Dame. Kelak ia menulis dan menyutradarai film Pixar, Brave.
- Komposer Hans Zimmer sebelumnya memperoleh Oscar untuk karya musiknya dalam The Lion King.
- Penulis lagu Stephen Schwartz sebelumnya turut menulis lagu dalam Pocahontas dan The Hunchback of Notre Dame
- Penulis naskah Philip LaZebnik sebelumnya menulis naskah Pocahontas dan Mulan.

"Deliver Us/Lullaby". A majestic prologue.


"Through Heaven's Eyes" *jogetpadangpasir*



Jadi, manakah kesukaan Anda? =)

6 komentar:

  1. Belum nonton semua di atas. Sibuk nonton Disney tahun 2000-an. Anastasia kayaknya menarik.

    BalasHapus
  2. Anastasia gue tonton pas kecil dan ngena banget bahwa itu kartun yang spooky :| sampe sekarang kalo denger lagu Once Upon a December selalu merinding..

    BalasHapus
  3. @Kencana: Anastasia itu recommended, sekalian juga The Prince of Egypt kalau mau yang lebih serius tone-nya =)

    @Mega: haha, coba nonton lagi, sama sekali nggak spooky kok. Mungkin nuansa musiknya di awal-awal agak "uni soviet" jadi kesannya serem =P

    BalasHapus
  4. Wah baru baca post yg ini :p Prince of Egypt itu salah satu yg animasi non-disney yg saya suka hehe Swan Princess jg lumayan, karena dulu langganan muncul di R*TI tiap libur sekolah... kalo Anastasia, sampe sekarang temen2 saya aja ngira (dan ngotot) itu produk Disney -.-

    BalasHapus
  5. @Fariz Razi: wah perlu diluruskan jalannya tuh temennya, hehe.

    BalasHapus
  6. Pernah nonton nomor 1-4 dan itu semua di tv semasa masih TK dan SD gituu.. Bayangkan bahagia banget masa kecilkuu yaa :D
    Tapi prince of egypt baru denger sih, boleh deh masuk list film liburan ku .. Hehe

    BalasHapus