Kamis, 12 Juli 2012

Reminiscence of 1990's Animated Features - Part 1 of 2: Disney's Golden Decade

Tempo hari gw terpanggil untuk menonton kembali film-film animasi Walt Disney, mulai dari kaset VHS The Little Mermaid hingga VCD Tarzan (di antaranya ada 1-2 judul yang didapat lewat "jalan belakang" =P). Gw memang batasin sampe film-film yang rilis di dekade 1990-an aja plus Little Mermaid (keluaran 1989), sebab bersama film-film inilah gw bertumbuh. Yet another reminiscence, tulisan berikut ini merupakan semacam lanjutan tak berkait dari daftar lagu 1990-an yang gw buat tempo hari, yakni mengenang masa kecil/pertumbuhan gw yang terjadi di sepanjang dekade 90-an. Di negeri asalnya, sejak The Little Mermaid yang sukses besar baik secara kritikal dan finansial, film animasi Disney menjadi semacam event yang harus dinantikan dan wajib nonton setiap tahunnya. Di Indonesia, karena keterbatasan media (blum ada internet cing) sepertinya film animasi bioskop yang "penting" ya yang produksi Disney. Karena itu pula, buat gw, film-film animasi Disney itu layak disebut defined the 90s, yang menemani anak-anak masa itu bertumbuh.


Tentu saja dalam konteks ini animasi yang gw bicarakan adalah animasi tradisional, digambar pake pensil dengan tangan, karena animasi fully computer-generated belumlah umum (Toy Story baru muncul tahun 1995). Pula yang gw maksud dengan "film animasi Disney", dan gw baru benar-benar paham baru-baru ini, rupanya adalah produksi Walt Disney Feature Animation, atau sekarang sudah berubah jadi Walt Disney Animation Studios, divisi perusahaan Walt Disney Pictures yang khusus membuat film animasi bioskop. Biasanya, film animasi produksi studio ini dijuluki "Walt Disney Classics"—untuk daftar lengkapnya silahkan cek wikipedia. Nah, sepanjang dekade 1990-1999, Disney telah memproduksi 9 film animasi setiap tahunnya (absen di tahun 1993), dan dimulai sejak Beauty and the Beast (1991), 8 film di antaranya merengkuh kesuksesan beruntun, baik secara box office seluruh dunia maupun langganan nominasi Oscar (biasanya kategori musik). Memang Disney sejak dulu punya karya klasik seperti Snow White and the Seven Dwarves (1937), Pinocchio (1940) hingga Cinderella (1950) dan Sleeping Beauty (1959), namun semuanya itu dalam era berbeda-beda. Dengan kuantitas dan kualitas demikian mencolok dibandingkan dekade lainnya, rasanya bolehlah gw sebut 90-an sebagai era keemasan, atau setidaknya istimewa bagi film animasi Disney.

Apa kunci kesuksesan Disney di dekade ini? Kalau box office tentu didukung oleh tim marketing dan promosi yang jago banget (merchandise, paket mainan di restoran cepat saji, hingga advertorial di majalah-majalah semisal Bobo). Yang pasti kesuksesan tersebut juga karena kualitas karya yang baik. Memproduksi 8 karya yang baik berturut-turut adalah sebuah prestasi bukan main-main. Mungkin karena Disney kembali menggunakan formula yang menyukseskan karya-karya pendahulunya, yaitu menceritakan ulang dongeng klasik yang kemudian disesuaikan untuk seluruh keluarga, ada tokoh sidekick atau hewan lucu, dan penggunaan lagu-lagu indah (film animasi Disney sebagian besar musikal), lalu ditampilkan dengan teknik dan teknologi animasi termutakhir. Mungkin juga karena generasi sumber daya manusia (baik dalam teknik animasi maupun penyusunan naskah cerita) yang memang terbaik saat itu, atau karena perubahan manajemen. Apapun itu, gw hendak menghaturkan terima kasih sama oom-oom dan tante-tante di Walt Disney yang telah membuat era 90-an dan masa kecil gw menjadi berwarna lewat karya-karyanya, yang begitu berkesan, bahkan ketika disaksikan sekarang pun tetap nampak kualitasnya yang wahid yang sudah sulit ditemukan lagi, tak akan tergantikan. Benar-benar klasik.

Berikut adalah 9 film animasi klasik Disney di era 1990-an beserta komentar dan kesan dari gw yang sudah berusia dewasa ini, diurutkan berdasarkan tahun rilis, enjoy the nostalgia =):





The Rescuers Down Under (1990)
dir. Hendel Butoy & Mike Gabriel
Pertama nonton di: laser disc sewaan
My score: 7/10

Kesuksesan The Little Mermaid nyatanya tidak menular pada animasi petualangan non-musikal The Rescuers Down Under ini. Dan jika dirunut, mungkin film ini semacam missing link dari kesuksesan beruntun animasi Disney sejak Mermaid hingga Tarzan. Namun sesungguhnya film sekuel perdana dari animasi Disney ini tidaklah jelek, apalagi jika dibandingkan dengan film The Rescuers pertama (1977). Kisahnya mungkin sangat sederhana, yaitu tentang para agen Rescue Aid Society, yang berwujud tikus =), dalam misi menyelamatkan seorang bocah yang diculik seorang pemburu jahat di alam liar Australia. Namun kesederhanaan cerita itu dikemas dalam tampilan visual memukau dan animasi yang sangat mulus. Pemandangan-pemandangan indah Australia digambar ulang dengan cantik, petualangannya lucu dan seru, pun tata gambarnya sangat cocok bila ditampilkan dalam format 3D atau IMAX (andai-andai aja), dinamis dengan perpaduan animasi tradisional yang didukung teknik animasi komputer.


Adegan terbang Cody dan Marahute










Beauty and the Beast (1991)
dir. Gary Trousdale & Kirk Wise
Pertama nonton di: kaset BetaMax bajakan
My score: 8/10

Sama-sama mengambil dongeng klasik Eropa dan ber-genre musikal, Beauty and the Beast berhasil melampaui kesuksesan The Little Mermaid. Film ini lebih laris hingga berhasil menduduki no.3 terlaris di seluruh dunia tahun 1991 (di bawah Terminator 2 dan Robin Hood-nya Kevin Costner), bahkan hingga saat ini film kisah cinta si cantik dan si hewan buas jejadian ini adalah film animasi pertama, dan satu-satunya yang berformat animasi gambaran tangan, yang masuk nominasi Film Terbaik di ajang Oscar. Pun nantinya film ini diadaptasi menjadi sandiwara musikal di Broadway yang sukses juga. Beauty and the Beast adalah pembuktian kesuksesan Disney bukan kebetulan. Film ini pun menggapai level yang lebih tinggi dengan teknik animasi yang lebih sophisticated, tata artistik yang indah, pengisahan yang lancar dan seimbang antara drama dan komedi, musik dan lagu-lagu lebih menggugah nan ikonik, desain karakter yang menarik (Beast bisa seram dan likeable sekaligus), serta karakter utama wanita yang cerdas dan berpikiran maju, bukan sekadar cantik.

The famed dance scene, "Beauty and the Beast" =)









Aladdin (1992)
dir. Ron Clements & Jon Musker
Pertama nonton di: kaset BetaMax bajakan
My score: 9/10

Gw nonton Aladdin hampir barengan sama Beauty and the Beast, dan dari dulu hingga sekarang gw selalu lebih suka Aladdin. Benar, secara historis dan budaya tampilan film ini agak acak, gak jelas antara mau Arab, Persia, Afrika Utara, atau India, but hey it's a comedy, a very good one. Buat gw Aladdin punya energi yang pas, menyenangkan, lagu-lagunya asik. Ketika gw tonton lagi baru-baru ini pun rasanya Aladdin masih jadi terfavorit. Plotnya solid, karakter-karakternya unik (terutama si Genie dan si karpet), gambar-gambarnya pun terlihat padu antara animasi tradisional dengan efek CGI-nya. Pengisahan salah satu bagian dari kisah 1001 Malam ini dibuat ala Disney yang fun, namun tidak kekanakan dengan dimasukkannya unsur jurang kelas sosial ala Charles Dickens (ciee belagu banget ngasih contohnya =P), and it worked. Ritmenya pas banget, perubahan dari komedi ke dramatisasinya mulus dan mengasyikkan, ending-nya pun cerdas dan menyentuh. Aladdinnya mudah disukai, si putri Jasmine digambarkan merasa misfit dan punya benih-benih feminisme (sifat yang resemble dengan Belle di Beauty and the Beast), Sultannya lucu, Jafarnya nyebelin, namun tokoh Genie yang benar-benar versi animasi dari Robin Williams inilah yang bikin film ini meledak. Ilmu mistis tak pernah ditampilkan selucu di film ini =). Btw, Aladdin adalah film terlaris no.1 di seluruh dunia tahun 1992 lho, belum lagi dihitung penjualan home video-nya yang sempat memecahkan rekor sebelum dikalahkan The Lion King.

My favorite number, "Prince Ali"










The Lion King (1994)
dir. Roger Allers & Rob Minkoff
Pertama nonton di: bioskop
My score: 8/10

The Lion King adalah film animasi tradisional paling laris sepanjang masa (dan obviously no.1 terlaris di tahun 1994). Film ini kerap dianggap adikarya Disney, dan gw pun nggak berani menyangkalnya. Padahal, pas ngulik-ngulik cerita di baliknya, The Lion King ini dikerjakan oleh tim animasi "cadangan" karena yang tim "unggulan" lebih memilih mengerjakan Pocahontas yang dirilis setahun sesudahnya. Well, yang nggak terlalu ambisius justru lebih sukses. Toh, meskipun bukan tim unggulan, The Lion King tetap menyajikan kualitas produksi yang mengagumkan, gambar pemandangan rimba dan sabana Afrika serta animasi tokoh-tokoh berbagai spesies hewannya sangat kelas tinggi. Musik garapan Hanz Zimmer dan lagu-lagu karya Elton John dan Stephen Schwartz menambah nyawa film indah ini. Yup, jujur ini bukan favorit gw dari Disney, kisahnya kurang menggugah gw, tetapi The Lion King tetap salah satu film animasi yang terindah dan tercakep sekalipun disaksikan dalam format bapuk seperti kaset VHS.

The iconic opening scene, "Circle of Life"










Pocahontas (1995)
dir. Mike Gabriel & Eric Goldberg
Pertama kali nonton di: laser disc sewaan
My score: 7/10

Di antara seluruh film animasi Disney rilisan dekade 90-an, mungkin Pocahontas adalah yang paling tidak gw favoritkan. Tapi sebenarnya masalah gw cuman pada bagian Pocahontas dan John Smith langsung bisa begitu saja berkomunikasi dengan bahasa yang sama. Selebihnya, Pocahontas bukanlah karya buruk apalagi gagal. Mungkin memang agak terlalu ambisius dalam menceritakan ulang legenda terkenal gadis penduduk native benua Amerika yang berinteraksi dengan para pendatang dari Inggris ini, dan memang banyak sekali menyimpang dari data-data sejarah (tapi Disney emang selalu gitu, jadi ya wajar sih), pun riwayat Pocahontas tidak lengkap diceritakan di sini. Akan tetapi, Pocahontas secara sinematik tetap memiliki momen-momen cantik, baik dari animasi, tata artistik, maupun tata adegan, dan tak ketinggalan tata musiknya. Nuansanya juga lebih serius (tokoh-tokoh hewan nggak ada yang bisa ngomong), terutama penekanan pada perbedaan persepsi tentang "siapa yang beradab dan yang tidak" seperti tergambar sempurna di lagu "Savages", sehingga terasa beda dari film-film Disney sebelumnya. Not the best, tapi tetap bagus. Film ini pun masih sanggup menjaring banyak penonton sehingga menjadi film terlaris no.5 tahun 1995.

"Just Around the Riverbend"










The Hunchback of Notre Dame (1996)
dir. Gary Trousdale & Kirk Wise
Pertama kali nonton di: laser disc sewaan
My score: 9/10

Nampaknya film adaptasi ala Disney (yang artinya akan banyak menyimpang dari sumber asli demi "nilai-nilai hiburan dan kekeluargaan") dari novel terkenal karya Victor Hugo ini agak underrated ya. Laris ya nggak terlalu (walau masih berhasil jadi film terlaris no.5 di seluruh dunia tahun 1996), DVD-nya belum pernah di re-issue, pun sepertinya film ini jarang diingat atau diungkit orang...termasuk gw yang dulu sempet nonton tapi gak inget lagi, hehe. Padahal, secara kualitas produksi maupun cerita, The Hunchback of Notre Dame bisa jadi film animasi Disney terbaik di dekade 1990-an, dan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Gw baru sadar ketika gw tonton ulang lagi baru-baru ini, damn, ini bagus banget. Nuansa gelapnya cocok dengan isi ceritanya yang mengangkat isu prejudice, diskriminasi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kemunafikan, sangat menggugah terutama bagi penonton dewasa. Mungkin dulu gw gak terlalu suka dengan nuansanya yang gloomy, agak terlalu berat bahkan seram buat anak-anak, bisa jadi ini sebab utama film ini nggak setenar The Lion King. Tetapi The Hunchback sudah selayaknya diakui secara lebih luas sebagai adikarya animasi Disney. Musik dan lagu-lagunya indah nan megah nan mencekam, tata animasinya dramatis dan intens, porsi komedinya pun dengan bijak dibuat nggak menganggu keseluruhan suasana filmnya, nggak childish-childish amat, namun cukup untuk nggak membuat filmnya jadi depresif (tetap ada sidekick non-manusia yang jenaka, this is still a Disney movie).

Lagu antagonis "Hellfire", powerful song and animation sequence. Keren sungguh










Hercules (1997)
dir. Ron Clements & Jon Musker
Pertama nonton di: bioskop
My score: 7,5/10

Entah kenapa ya, mitologi Yunani rentan banget jadi korban inakurasi saat diangkat ke media film oleh Hollywood. Well, setidaknya dalam Hercules versi Disney ini—and I know it's a lame excuse—jenisnya komedi musikal yang wacky. Bahkan sejak awal filmnya, penyimpangan itu nyata mencolok dengan pemilihan musik khas gospel Afrika-Amerika yang jelas-jelas jenis musik bukan dari Yunani. So, film yang dikomandoi tim sukses The Little Mermaid dan Aladdin ini seakan udah menyatakan "harap maklum" jika tokoh dan cerita Hercules yang ada di sini tidak sesuai dengan yang dipelajari para pemerhati mitologi, for the sake of harmless fun and entertainment. Film ini memang Disney banget, dengan tema pencarian jati diri, dan pastinya ada tokoh jahat yang hendak menghalanginya. Oleh sebab itu, hampir tidak ada jejak "mitologi Yunani" dalam intrik dan konflik Hercules ala Disney ini, yang tersisa tinggal nama dan deskripsi tokoh-tokohnya. Penyederhanaan yang terlalu sederhana ini yang membuat Hercules mungkin tidak sepenting karya animasi Disney lainnya (pun secara pendapatan nggak sampe masuk 10 besar tahunan), tetapi harus diakui Hercules adalah salah satu yang paling menyenangkan. Humornya bener-bener asik dengan ritme yang asik pula. Tokoh antagonis (Hades) dan love interest-nya Hercules (Megara) punya sense of humor ter-oke daripada tokoh-tokoh sejenis di film-film lain. Dan, buat gw dan semua orang harus setuju *maksa*, Hercules punya setlist paling keren dalam hal adegan musikal, baik dari musik, lirik, maupun tampilan animasinya. The Muses adalah "grup vokal" keluaran Disney terbaik =D.

"The Gospel Truth I". Best. Opening. EVER.

"Zero to Hero". Who put the "glad" in gladiator? =D

"I Won't I'm In Love". Balada orang denial.










Mulan (1998)
dir. Tony Bancroft & Barry Cook
Pertama nonton di: bioskop
My score: 8/10

Gw awalnya cukup ragu apakah Disney-isasi kisah dari tanah Tiongkok bakal berhasil. Hasilnya, Mulan sebagai film adventure-comedy-musical memang masih berbau fun and entertainment khas Disney, namun dalam banyak hal film ini berbeda dari karya Disney lainnya. Keunggulan Mulan bukan hanya di animasi yang sangat clean, adegan-adegan pertarungan yang keren, humor yang cukup segar, penokohan yang baik, atau tata musik dan lagu yang menggugah semata. Seakan menjawab karya-karya animasi Jepang buatan Hayao Miyazaki yang kerap menampilkan tokoh wanita heroik (dan entah kebetulan atau tidak, Mulan dirilis setahun setelah Miyazaki merilis Princess Mononoke), kini Disney menampilkan tokoh wanita—meskipun menyamar menjadi pria—yang kick-ass, terlibat secara langsung dalam peperangan fisik, bahkan dengan pertaruhan keselamatan seluruh rakyat negeri tempat ia tinggal. Pun dasar motivasi Mulan di film ini bukannya sekedar pencarian jati diri belaka, melainkan lebih pada menjaga kehormatan dan nama baik keluarga. Ini menunjukkan bahwa pembuat film ini memang menghargai dan peduli terhadap nilai-nilai budaya khas Asia khususnya China, ketimbang memaksakan nilai-nilai khas Disney/Amerika dalam tampilan tokoh dan latar non-bule. Mulan bahkan nggak mempertanyakan tentang keterbatasan gerak kaum perempuan dalam budayanya, tapi ia simply membuktikannya dengan tindakan. Walaupun raihan penonton bioskopnya gak cukup membuatnya masuk 5 besar terlaris tahun 1998 (cuman sampe no.7), Mulan is definitely one of Disney's best. My Review

"I'll Make a Man Out of You". Awesome montage.








Tarzan
dir. Chris Buck & Kevin Lima
Pertama nonton di: bioskop
My score: 7,5/10

Lewat Tarzan, Disney mengambil resiko cukup besar. Film ini dibuat berbeda dari film animasi Disney kebanyakan karena tidak berformat musikal. Kualitas produksinya pun ditingkatkan dengan pemakaian efek CGI yang lebih ekstensif dan detil. Gambar dan animasinya emang cakep banget, adegan-adegan laganya tampak dinamis dan cool. Meski dengan segala perbedaannya, adaptasi novel legendaris karya Edgar Rice Burroughs ini tetap menampilkan nilai-nilai khas Disney, yaitu tentang pencarian jati diri, namun kali ini dibuat lebih ekstrim, yakni bahwa Tarzan adalah anak manusia yang dibesarkan oleh keluarga gorila, kemudian bertemu dengan kaum spesiesnya sendiri. Gw juga melihat ada kemiripan dengan Pocahontas tentang pertemuan dua dunia dan tokoh-tokohnya berusaha saling mempelajari serta mendamaikankan kedua dunia tersebut, cuman gw lebih suka Tarzan karena setidaknya ada proses Tarzan belajar bahasa agar bisa berkomunikasi dengan Jane cs. Dengan kecanggihan visualnya, Tarzan memang kelihatan banget sebuah proyek ambisius, namun hasilnya setimpal, baik secara kualitas maupun dari respon penonton (film ini no.5 terlaris di seluruh dunia tahun 1999).

"Son of Man"



Jadi, yang manakah favorit Anda? =)


Nantikan tulisan Part 2-nya: 5 Attempts to Overthrow Disney Animation Supremacy


Data box office diambil dari boxofficemojo.com

9 komentar:

  1. I love Disney. Bisa dibilang Disney membuat saya percaya akan adanya happy end. Faktor utamanya sih humor, art dan musik yang oke.

    I love your review.

    BalasHapus
  2. Buat saya, animasi produksi Disney (di tahun 90an) selalu memesona. Nirkala. Terima kasih sudah membahasnya, jadi ingin bernostalgia :'-).

    BalasHapus
  3. Paling suka Mulan sama Lion King, yg lain jg bagus sih :) cuman blm nntn Hunchback sama Pocahontas, susah nemu nya..

    BalasHapus
  4. @Kencana & Rafael: terima kasih kembali =)
    Memang sejak The Little Mermaid sampai Tarzan dianggap era renaisans animasi Disney setelah periode sebelumnya (1970-1980-an) kerap merugi, kalah saingan, bahkan hampir tutup. Beruntunglah bagi kita yang sempat ikut menyaksikan era kebangkitan itu =)

    @Fariz Razi: wah ayo dong dilengkapi, bagus lho 2 judul itu. 'kan selalu ada torrent *eh* *uhuk*

    BalasHapus
  5. Saya juga pecinta Walt Disney Classics tapi sayang saya lahirnya aja mid 90's jadi merasakan film-film ini baru early 00's itu juga lewat media vcd :p

    fave saya sampai sekarang masih Atlantis (hehe malah menyimpang), soalnya itu pertama kali saya nonton Disney Movies dekat dengan release date dan euforia tayangnya (jangan lupakan advertorial majalah Bobo! sampai ada quiz menterjemahkan aksara yg dipakai di film Atlantis). walaupun memang Walt Disney Feature Animation, bukan classic.

    Kalau yg classics Mulan! because she's a pro-feminism princess who isn't just waiting for her prince charming to come :)) Ditambah Reflection nya Christina Aguilera selalu jadi lagu favorit saya untuk kategori Disney Classic Songs

    btw blog nya menarik sekali buat dibaca :)

    BalasHapus
  6. @Mega, karena semua film produksi Walt Disney Feature Animation dijuluki Classics, Atlantis itu termasuk classic lho, sekalipun temanya lebih bernuansa fantasi daripada dongeng, tapi memang sudah masuk dekade 2000-an.

    Terima kasih respon dan sharingnya, jangan bosan-bosan mampir lagi ke blog ini ya =))

    BalasHapus
  7. umm istilah classics atau feature itu sama aja kah? kirain classics itu merujuk pada hand-drawn movies (brother bear, lilo&stitch, dll). jadi tangled itu juga tetap masuk kategori disney classics karena diproduksi disney animation studios walaupun CGI? bingung soalnya hehe

    BalasHapus
  8. @Mega, iya kira-kira begitu. Sebenarnya "classic" itu "panggilan sayang" saja, untuk membedakan film bioskop yg dibuat Disney Feature Animation/Disney Animation Studios dengan divisi lain (semisal The Tigger Movie, A Goofy Movie atau Return to Neverland yg buatan divisi DisneyToon, Mary Poppins atau Enchanted yg animasinya hanya sebagian, dan sebagainya).

    Jadi benar Tangled sama halnya dengan Dinosaur, Bolt, Chicken Little dan Meet The Robinsons meskipun animasinya CGI, karena dibuat oleh Disney Animation tetap bisa (walaupun tidak harus) disebut Disney Classics, menurut saya sih begitu =)

    BalasHapus
  9. @mega meskipun lahir di mid 90s kaya aku tapi masih beruntung karena saat awal 2000an masih banyak film animasi berkualitas di tv tv, alhamdulillah banget deh jdi kelahiran 90s hehehehe..

    BalasHapus