Selasa, 03 Juli 2012

[Movie] Ambilkan Bulan (2012)


Ambilkan Bulan
(2012 - Mizan Productions/Falcon Pictures)

Directed by Ifa Isfansyah
Written by Jujur Prananto
Produced by Putut Widjanarko
Cast: Lana Nitibaskara, Astri Nurdin, Berlianda Adelianan Naafi, Bramantyo Suryo Kusumo, Agus Kuncoro, Landung Simatupang, Marwoto, Adrian Simon, Titi Dibyo, Hemas Nata Nagari, Jhosua Ivan Kurniawan, Manu, Harbani Setyowati Wibowo


Nama sutradara Ifa Isfansyah kini cukup menjanjikan mengingat kesuksesan komersial dan kritikal Garuda di Dadaku di tahun 2009, serta pencapaian artistik Sang Penari yang membuahkan beberapa piala Citra tahun lalu. Lalu muncul Ambilkan Bulan ini. Gw sih nggak mengharapkan film anak ini bakal menyamai Garuda di Dadaku setelah mendengar genre-nya adalah "fantasi musikal"—menggunakan lagu-lagu anak ciptaan A.T. Mahmud. Sebab menurut pandangan gw, selama revival sinema Indonesia sejak tahun 2000, fantasi musikal adalah genre film yang paling awkward hasilnya, terutama ya segi musical number-nya—coba ingat Joshua oh Joshua atau Biarkan Bintang Menari. Contoh paling sukses mungkin hanya Petualangan Sherina, yang juga merupakan biangnya film anak-anak berhiaskan lagu-lagu. Ambilkan Bulan rasanya mengambil banyak inspirasi dari Petualangan Sherina, premisnya pun mirip, soal anak kota nyasar di hutan, tapi kali ini dengan banyak tambahan efek visual yang membuatnya tampak lebih kinclong.

Amelia (Lana Nitibaskara) tidaklah terlalu akur dengan ibunya, Ratna (Astri Nurdin) yang sibuk dengan karirnya, apalagi selepas meninggalnya sang ayah (Agus Kuncoro). Saat liburan tiba, Amelia jadi galau karena iri dengan teman-teman SD-nya yang punya rencana liburan yang asik-asik, sedangkan dia sendiri nggak bisa berharap banyak sama ibunya, palingan di rumah aja sambil buka 9gag Facebook. Lewat permainan takdir, Amelia bertemu dengan seorang gadis sebayanya di Facebook, Ambar (Berlianda Adelianan Naafi) yang ternyata adalah sepupunya, mengejutkan karena selama ini Amelia nggak tahu bahwa almarhum ayah punya saudara bahkan orang tua yang masih hidup. Ia sangat berharap bisa ke tempat Ambar dan kakek-neneknya apalagi diceritakan ada hutan di kawasan Jawa (lokasi syutingnya sih di Karanganyar deket Solo) yang banyak kupu-kupu biru seperti di salah satu lukisan almarhum ayahnya. Setelah diyakinkan, akhirnya Ratna mengizinkan Amelia pergi bersama pakde Bambang (Manu) selama Ratna ada tugas di Bali. Di desa, Amelia tidak mengindahkan larangan untuk masuk hutan demi menemukan kupu-kupu biru, ia ditemani Ambar dan teman-temannya, Pandu (Hemas Nata Nagari), Hendra (Jhosua Ivan Kurniawan), dan si anak gembala Kuncung (Bramantyo Suryo Kusumo)...eh nyasar kan. Ketakutan pun bertambah dengan legenda mBah Gondrong yang menghuni hutan itu. Apakah Amelia dkk akan dapat kembali pulang, atau justru menemukan kawanan kupu-kupu biru seperti rencana semula?

Gw pahamlah sama konsepnya, menceritakan kisah sederhana yang layak konsumsi buat anak-anak, lalu pada beberapa bagian disesuaikan dengan lagu-lagu karya A.T. Mahmud, juga diselingi visualisasi dunia khayal Amelia. Gw cukup terkesan dengan beberapa bangunan karakter dan motivasinya, mulai dari yang sederhana seperti Amelia yang sedih karena nggak berlibur seperti teman-teman sekelasnya, lalu excited ketika akhirnya bisa bertemu keluarga besarnya di desa dan dapat berpetualang seperti dalam lukisan-lukisan sang ayah, hingga yang cukup kompleks seperti tidak saling pengertian antara ibu dan anak serta  sepak terjang pejabat-pejabat korup di desa. Penggunaan teknologi masa kini yang terintegrasi dengan cerita pun keren juga (utamanya soal "sinyal" =D). Film ini jelas punya niat baik dalam konsep cukup menarik, serta aman buat anak-anak.

Hanya saja, in the end gw nggak bisa anggep film ini sebagus kedengarannya. Petualangan Sherina itu menghibur dan punya nilai produksi yang baik, Garuda di Dadaku pun menghibur dan warm. Ambilkan Bulan sayangnya belum ada di level itu. Dibilang menghibur ya cukup menghibur, tetapi ia tidak warm, dan keseriusan produksinya pun tidak semaksimal yang diharapkan, just okay. Sinematografinya lumayan berhasil menangkap kesan sejuk dan nyamannya di desa berhutan, sayangya tidak berhasil menyamarkan daun merambat palsu di gubuk kayu *hehe*. Penggunaan efek visual dan animasinya pun terbilang baik apalagi untuk ukuran film Indonesia, sangat menghibur dan menurut gw menarik untuk dilihat oleh penonton cilik, hanya saja resolusi gambar yang mengandung efek visual nggak sama dengan gambar yang non-efek, jadi masih kelihatan garis-garis tak mulusnya (tapi dimaklumi kok). Sayangnya pula gw nggak melihat jejak keberhasilan Ifa mengarahkan anak-anak dalam Garuda di Dadaku di sini, anak-anaknya masih terlihat kaku dan kurang kompak menyatu. Mungkin penampilan Bramantyo sebagai Kuncung paling mencuri perhatian dan mengundang tawa, tapi kalo gw sih lebih ketawa karena dia kelihatan sekali belum bisa akting dan struggling banget di koreografi XD *e maap*.

Satu hal yang paling mengecewakan adalah ketika gw mendengar film ini berjenis musikal, kirain akan lebih banyak adegan nyanyi dan tari dari tokoh-tokohnya. Sayang banget lagu-lagunya di sini lebih banyak sebagai lagu pengiring/latar, bahkan "Amelia" sekalipun. And their biggest mistake, film ini tidak membiarkan anak-anak menyanyikan "Pelangi" ketika ada pelangi. Seriously? Ini film musikal, tapi pada sebuah momen besar mereka nggak nyanyi? Menurut gw, untuk sebuah film yang juga memberi penghormatan pada komposer besar almarhum A.T. Mahmud, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh tokohnya langsung akan lebih efektif dalam memperkenalkan lagu-lagu itu pada "anak-anak sekarang" ketimbang jadi lagu pengiring/latar semata. Thanks a lot, Sony Music, you've just ruined it =(. Sayangnya pula penataan musical number-nya, baik lagu, tari, pengambilan gambar maupun editingnya kurang greget gimana gitu. Bagian awalnya tuh lumayan bagus sampe lagu "Paman Datang", namun selepas itu jadi canggung semua. Di sisi lain, ritme filmnya justru agak menyeret-nyeret dengan terlalu panjangnya drama antara lagu-lagu. Terlalu sering gw berujar dalam hati, "ayo nyanyi dong," ketika gw rasa adegan dramanya udah kelamaan. Entahlah, mungkin secara keseluruhan agak kurang lincah aja.

Entahlah, gw sih nggak tega untuk bilang nggak suka, tapi ya filmnya emang not that good, apalagi kalau memperhitungkannya sebagai "musikal". Namun Ambilkan Bulan tetaplah film yang menghibur dan nggak mencelakakan, meskipun gw yang umur segini lebih sering "menertawakan" daripada "ter-tawa" *ampun mas Ifa*. Kekanak-kanakan dan nghayal, serta dialognya sering aneh juga, tapi nggak norak juga. Well, filmnya dibuat dengan niat baik, mungkin persiapan dan eksekusinya yang agak terburu-buru, sampe-sampe musiknya pun nggak pake orkestra (banyak nuntut nih gw =P). Tapi setidaknya Ifa Isfansyah sukses dalam menata gambar-gambar yang cerah  berwarna dan menarik dilihat (semisal memperbesar bulan =D), sehingga anak-anak pun sepertinya akan betah menyaksikannya. Keponakan gw yang umur 3 tahun tampaknya cukup menikmati, sampe terus keinget sama bagian, "mBah Gondwong! Aaaa!" =D.




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar