Sabtu, 17 Oktober 2009

[Movie] Garuda di Dadaku (2009)


Garuda di Dadaku
(2009 - SBO Films/Mizan Productions)

Directed by Ifa Ifansyah
Written by Salman Aristo

Produced by Shanty Harmayn

Cast: Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranagara, Ari Sihasale, Maudy Koesnaedi, Ramzi



Ketika bioskop lagi kurang menarik tawaran filmnya, saatnya
catch-up film2 yg pengen tapi belum gw tonton 6 bulan sampe setahun terakhir dengan mampir ke Video Ezy dan menyewa VCD—tahun 2009 dan gw masih nonton VCD, Video Ezy-nya kacrut nich. Film pertama yg gw pilih dan tonton (karena masih baru dan harus dibalikin besoknya) adalah salah satu film Indonesia paling sukses tahun ini, Garuda di Dadaku. Sekadar informasi, gw punya kebiasaan untuk tidak menonton film Indonesia secara “konvensional”…entah kenapa kurang niat. Terakhir gw nonton Pintu Terlarang dan memang cukup layak ditonton di bioskop, tapi berdasarkan pengalaman, bagi gw masih banyak film lokal yg kurang segitu worth it nya utk ditonton di bioskop (just an opinion, jangan tensi dulu ya). Film2 lokal lainnya gw tonton paling di VCD sewaan atau pernah juga di JIFFEST mumpung gratis hehe. But anyways, kita balik lagi ke manuk dadali…eh maksudnya Garuda di Dadaku ini.

Bayu (Emir Mahira) adalah anak kelas 6 SD, pecinta dan memang berbakat dalam sepak bola karena almarhum ayahnya adalah mantan pemain di tim nasional RI (yg kalo main kostumnya ada lambang garuda Pancasila di dada sebelah kiri,
get the idea?). Bayu dan ibunya (Maudy Koesnaedi) kini tinggal di rumah sang kakek dari pihak ayah, Usman (Ikranagara, dengan tampilan yg agak mirip Antasari Azhar (?)) seorang pensiunan Pertamina yg juga berarti–meski tidak hidup mewah–tidak pernah khawatir soal uang. Sayang disayang, si Kakek justru anti sepak bola, dengan pengalaman bahwa sang anak yg pernah di timnas meninggal saat bekerja sbg supir taksi. Segala hal yg berhubungan dengan sepak bola dilarang bagi Bayu (kecuali kostumnya…aneh). Tapi selalu saja ada cara Bayu utk bermain sepak bola, apalagi ia bersahabat baik dengan Heri (Aldo Tansani), anak wong sugih berkursi roda penggila sepak bola yang sangat mendukung hobinya itu, termasuk untuk cita-cita Bayu masuk timnas U-13 dan memakai lambang garuda di dada kirinya (sweet ^_^).

Suatu hari dengan cara yg film banget, bakat Bayu tertangkap mata oleh seorang pelatih (aah lupa namanya, pokoknya Ari Sihasale) yg mengajaknya bergabung di sekolah sepakbola Arsenal (ada yach?). Ini merupakan jalan pembuka Bayu agar bisa masuk timnas, tapi ini sekolah mahal, dan jelas ini nggak boleh ketahuan kakeknya. Maka Bayu bersama Heri dan sopirnya (ah lupa juga namanya, yg main Ramzi dengan bagus sekali) berusaha berlatih sepakbola untuk ikut seleksi dan mendapat beasiswa di sekolah itu, dan kalau itu lewat, selanjutnya adalah ikut seleksi timnas U-13! Tentu tidak mudah karena Bayu dan Heri harus main rahasia2an dan tipu muslihat agar tidak dicurigai oleh sang kakek, apalagi Bayu sama si kakek disuruh juga les matematika, bahasa inggris, musik, dan lukis..capek dong . Sanggupkan Bayu mencapai cita-citanya? Dan apalah artinya film kalau rahasianya tidak ketahuan? ^o^’


Bila ditonton sampai habis, film ini punya inti cerita yg cukup baik dan manis, tidak terlalu serius apalagi pretensius (kalo itu mah kebanyakan di film atau komik Jepang, lebay dah), serta cukup jelas juntrungannya. Seorang anak pengen masuk timnas, tapi keadaan merintanginya, itu saja. Plotnya berjalan sebagaimana
sport movie generik –yg berarti endingnya sudah bisa ditebak tapi tetap ditunggu, ditambah bumbu kekeluargaan dan persahabatan (siapa yg gak mau punya temen kayak Heri?). Gw cukup diyakinkan dengan setting film dan karakterisasinya yg tidak mengada-ada. Film ini punya modal yg sangat baik, apalagi temanya sangat jarang diangkat, tambah lagi sepakbola adalah olahraga terpopuler di Nusantara. Pokoknya film ini layak lah untuk laku.

Tapi bukan berarti tanpa kekurangan. Terlepas pengaruh format gambar VCD yah, menurut gw sinematografinya masih kurang cantik, padahal tata artistiknya bagus. Dari segi cerita juga, selain hal2 klise dalam sebuah
sport movie, banyak bagian2 yg mnurut gw gak terlalu penting, termasuk tokoh anak perempuan, Zahra yg sepertinya hanya dibuat agar Bayu bisa mengelabui kakeknya dengan lukisan Zahra, dan supaya ada benih cinta nyemot sama Heri. Keanehan juga gw rasakan pada kakek Usman yg menyuruh Bayu untuk les musik dan lukis supaya nanti (yg diucapkan berulang-ulang sepanjang film) jadi orang sukses dan elit, nggak seperti pemain sepakbola. Aneh karena seharusnya bagi generasi pak Usman –dan kayaknya sampai sekarang juga—bukannya pelukis dan pemusik tidak lebih elit atau lebih tajir daripada atlit? Yg elit dan tajir mah kerja di perusahaan minyak kayak Pertamina dong (tdk termasuk SPBU yah hihi). Belum lagi ada orang tua murid sekolah Arsenal yg mau menyuap agar anaknya masuk seleksi timnas, maksud yang mau disampaikan baik, tapi jatuhnya kurang nempel sama keseluruhan filmnya. Dan jangan tanya sama penempatan iklan yg sumpah kasar banget. Film baru mulai, udah ada adegan Bayu mandi dan disuruh kakeknya "Bayu, jangan lupa keramas!", dan botol sampo Lifebuoy dengan jelas diambil Bayu. 2 kali loh. Apaan sich?

Para aktor bermain pas-pas saja, tidak jelek. Mnurut gw Ramzi yg paling berhasil membawa perannya dengan santai dan selalu menyegarkan sebagai bang sopir yg asik dan kocak. Pemeran2 anaknya mungkin tidak senatural anak2 di Laskar Pelangi, tapi setidaknya mereka tidak kaku.
Overall, Garuda di Dadaku adalah film yg baik, berbekal cerita yg terkesan hangat dan bersahaja tanpa ambisi yg terlalu berlebihan (gw belum nonton tuch film yg ngaku2 "Megafilm"). Gw kurang yakin ketika film ini mulai, tapi pas abis ternyata gw tersentuh juga TvT. This film has a heart. Gw suka dengan eksekusi endingnya yg tidak biasa dan bikin tersenyum ikhlas. Kapankah semua pemain sepak bola kita bermental Bayu (minus berbohong yah), dan kapankah semua pembina sepak bola kita bermental Heri? Indonesia masih menunggu kalian *cieileeh*.



My score:
7/10



NB: Ada yg menghitung berapa kali nama "Bayu!" atau "Bay!" diucapkan? Kayaknya porsinya berlebihan deh..^.^'

2 komentar:

  1. Waduh...sebut merk. Buruan minta bayaran sana hehehe....
    Kayaknya lagi ngamuk nonton ya. Kebetulan yang disewa favorit aku semua. Taken dan Coraline udah siap-siap masuk list tahun 2009 yang akan aku buat awal taon depan

    BalasHapus
  2. @gilasinema: lumayan niy, maklum banyak film yg mau ditonton tapi hampir tak ada waktu hehe.

    BalasHapus