Sabtu, 19 November 2011

[Movie] Sang Penari (2011)


Sang Penari
(2011 - Salto Films/Indika Pictures/KompasGramedia Production/Les Petites Lumières)

Directed by Ifa Isfansyah
Screenplay by Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Based on the "Ronggeng Dukuh Paruk" trilogy novels by Ahmad Tohari
Produced by Shanty Harmayn
Cast: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Lukman Sardi, Teuku Rifnu, Tio Pakusadewo, Happy Salma, Zainal Abidin Domba


I've mentioned once before bahwa walau gw tidak bisa mengelak status sebagai lulusan jurusan sastra, gw hanya tahu sedikit sekali soal karya sastra. Memalukan. Gw baru tahu penampakan novel berjudul "Ronggeng Dukuh Paruk" hanya beberapa tahun yang lalu karena seorang teman kampus sedang membacanya. Padahal terbitan pertama trilogi novel karya Ahmad Tohari ini sudah beredar pada paruh awal dekade1980-an ("Ronggeng Dukuh Paruk" (1982), "Lintang Kemukus di Dini Hari" (1984), dan "Jentera Bianglala" (1985)), bahkan kata seorang teman lagi novel ini pernah disinggung dalam soal-soal ujian mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP atau SMA. Hee, kemane aje guweh...Anyway, tahun ini karya sastra Indonesia yang (konon) terkemuka ini dibuat dalam bentuk film yang sangat menjanjikan kualitasnya jika dilihat dari look-nya. Sebelum masuk ke review, ada satu hal yang menarik mengenai film ini setelah gw mencari-cari info tentang novelnya, film yang dibubuhi judul Sang Penari (terjemahan dari "The Dancer", judul novel edisi bahasa Inggrisnya) ini memang mengambil plot dasar novelnya, termasuk latar dan tokoh-tokohnya, film ini jelas "berdasarkan" novel, tetapi entah kenapa para pembuat film insist pake kata "terinspirasi". Takut kena sambit penggemar novelnya gara-gara banyak titik perbedaan? Nyantai aja lagi. Menurut loe trilogi Bourne antara novel sama film samanya dimana coba? ^_^; *perbandingan yang aneh*

Jadi mari gw coba uraikan apa yang gw peroleh dari Sang Penari mengingat gw belum pernah baca novelnya. Gw harus memulainya dari apa itu "ronggeng Dukuh Paruk". Dukuh Paruk adalah sebuah desa miskin di kawasan Banyumas, Jawa Tengah dengan masyarakat yang biasa-biasa saja, berladang, bertani, kurang berpendidikan, terikat kepercayaan tradisional dan sebagainya. Satu hal yang dapat menyalakan geliat penduduk desa adalah kesenian tari ronggeng. Seorang penari ronggeng bukan hanya sekadar njoget atau nembang, tetapi wanita itu harus memiliki tanda "terpilih" oleh (arwah) kakek moyang perinitis desa untuk kemudian menjadi ronggeng, simbol keramat milik desa yang dipercaya dapat membawa berkah dan kemakmuran bagi seluruh desa. Nah, berkah itu juga tidak hanya dipercikkan dalam bentuk njoget, tetapi juga terbuka bagi pria-pria yang sanggup bayar mahal untuk mengalami transendensi ilahi...alias berhubungan kelamin dengan sang ronggeng. Dalam pandangan mereka, termasuk yang para wanita juga yang turut mendukung, laki-laki yang berhubungan intim dengan ronggeng adalah suatu kebangaan, ya karena itu tadi, ronggeng itu wanita terpilih, dan dipercaya bisa membawa berkah baik untuk masyarakat maupun untuk rumah tangga.

Tahun 1960-an, adalah Srintil (Prisia Nasution) dan Rasus (Nyoman Oka Antara) yang tumbuh di Dukuh Paruk, dan kedekatan mereka bertumbuh pula menjadi cinta masa muda-mudi. Masalahnya, Srintil merasa terpanggil menjadi ronggeng, apalagi setelah bertahun-tahun Dukuh Paruk tak punya ronggeng lagi karena yang terakhir (Happy Salma) beserta beberapa penduduk lain mati keracunan tempe bongkrek buatan orang tua Srintil—yang juga ikut meninggal, yah ini sekaligus demi memperbaiki nama keluarga. Rasus jelas tak rela kekasih hatinya jadi harfiah milik bersama. Namun keduanya memutuskan untuk menghormati tradisi desa mereka, yang tersisa hanya kepasrahan. Srintil—dengan susah payah—berhasil diakui menjadi ronggeng dan menjalani segala kewajibannya, Rasus pun mundur perlahaan ke luar desa hingga akhirnya direkrut dan dididik jadi tentara nasional. Little they know, bukan hanya tradisi ronggeng yang akan semakin memisahkan cinta mereka. Dukuh Paruk kemudian berhasil dimenangkan simpatinya oleh Bakar (Lukman Sardi) untuk mendukung partainya, ia pun menggunakan seni ronggeng (Srintil dkk) sebagai sarana menghimpun massa pendukung. Namun tak lama, selepas peristiwa Gerakan 30 September di ibukota, Dukuh Paruk disinyalir menjadi kampung PKI, dan Srintil beserta rombongan tour band ronggengnya ditangkap karena diduga menjadi anggota tercatat organisasi bawahan PKI—padahal di Dukuh Paruk tidak ada yang bisa baca tulis. Ketika tentara dikerahkan untuk menumpas anggota ataupun terduga anggota PKI tanpa pengadilan, termasuk di Dukuh Paruk, Rasus bimbang terbelah antara tugas baktinya pada negara dengan keinginannya untuk mencari dan menyelamatkan Srintil yang diringkus dan ditahan entah dimana.

Sang Penari adalah contoh film yang seharusnya banyak dibuat tapi gw tau nggak semua orang bisa menjadikannya berhasil secara keseluruhan. Hal yang kentara dari film ini adalah bobotnya yang tidak kosong, karena dari naskahnya mengharuskan adanya kerterkaitan latar budaya, sosial, tempat, politik, dan sejarah yang sangat erat dengan tokoh-tokohnya serta plot utamanya yang “cuman” kisah cinta ini. Kisah Srintil dan Rasus akan sulit dipindahkan ke dimensi lain, karena hanya di momen inilah kisah mereka benar-benar kena. Jadi, kebudayaan ronggeng ataupun latar sejarah nasional 1960-an bukan sekadar tempelan supaya menambah beban film biar kesannya “bermutu”, tetapi memang tanpa itu, ceritanya nggak jalan. Mengingat tuntutan cerita yang harus mengaitkan beberapa aspek tadi, gw menemukan Sang Penari berhasil menyampaikannya dengan baik, cukup mulus, dan tanpa harus susah payah memberi penjelasan kepada penonton, padahal “PKI”-nya juga nggak ditunjukkan jelas kalau mereka itu PKI, komunis atau apapun itu. Gw cukup mengerti apa itu ronggeng, gw pun memahami efek dari peristiwa penumpasan komunis terhadap rakyat yang nggak tau apa-apa. You see, makanya gw sangat tidak suka ketika politik mencemari dan nebeng budaya dan agama/kepercayaan untuk mempengaruhi masyarakat yang nggak tahu apa-apa demi meraih kekuasaan, jijik tauk *jadi serius gini*. Gw pun mengerti pergulatan emosi Srintil dan Rasus, dan akibatnya terhadap nasib mereka kemudian. The film just work.

Keberhasilan itu pun sangat didukung oleh keseriusan teknis dari sutradara Ifa Isfansyah dan kawan-kawannya. Dengan desain produksi yang tidak terkesan palsu, dan sinematografi yang terkesan mentah namun efektif dan cantik (Yadi Sugandi gitu loh), Sang Penari sangat bikin betah dilihat. Performa aktornya pun terbilang keren, no.1- nya Oka Antara yang keren sekali transformasinya dari pemuda desa polos dan ngapak (“Siap, paK!” ^_^) menjadi seorang anggota tentara nasional. Udah bau Citra nih, Bli. Prisia Nasution pun mengejutkan gw yang hanya tau akting payahnya jadi presenter sementara di Termehek-Mehek (eh...itu akting ‘kan ya? =P), kini tampil meyakinkan sebagai wanita desa ayu yang menjadikan njoget sebagai passionnya, bukti bahwa dia aktris berbakat dan siap berdedikasi. Dan lebih keren lagi, adalah nama-nama aktor Nyoman, Nasution, Simatupang, Teuku dan lain sebagainya meyakinkan gw bahwa mereka orang Banyumas, sangat perlu diacungi jempol. Jagoan Anda semua.

Sang Penari layak diangkat sebagai salah satu film terbaik Indonesia, baik tahun ini maupun tahun-tahun kemarin dan mendatang, dan itu karena keseriusan penggarapan dan keberhasilan penyampaian. Memang masih ada poin-poin yang tidak gw pahami betul dari segi ceritanya, namun sesungguhnya keseriusan pembuat film dan penyampaian yang nggak sok pretensius, dekat dengan penontonnya, sudah cukup memuaskan gw, bagus di cerita maupun di mata. Dan, maaf kalo diskriminatif, tapi bahasa Jawa ngapak masih terdengar lucu dan menghibur di telinga saya *jahat*.



My score: 8/10

4 komentar:

  1. Ngapak memang lucu.. Gw juga selalu ketawa disitu.. Hahaha..

    BalasHapus
  2. well, keliatannya film ini menjanjikan. berarti ga cuman novelnya HAMKA doang yang difilm in. Berharap film-film jenis gini tambah banyak di Indonesia.

    Kira-kira novel Siti Nurbaya dibikin film lagi ga yah?

    BalasHapus
  3. @Esti <--ternyata yg jahat nggak cuman gw, hehehe. Bahasanya orang lho itu, kayak kuwek ^_^

    @Huda: ho, pastinya, pastikan nonton film ini ya, penggarapannya layak diapresiasi
    siti nurbaya kayaknya belum, tapi mudah2an kalau ada yang akan membuat, digarap seperti Sang Penari ini, jangan Ayat2 Cinta *banyak reklamenya, heuheu*

    BalasHapus
  4. Bahasa "ngapak" itu bahasa gue Nyo! tapi gue aja ngakak-ngakak pas denger "Siap, PAKK!"

    Nonton film ini bikin penasaran sama bukunya. Ternyata isi bukunya emang beda latar sm filmnya ya. *Bingung sendiri pas baca bukunya*

    BalasHapus