Sabtu, 02 Juni 2012

[Rapid Film Review] X-Men Original Trilogy

Akhirnya muncul juga niat untuk membangkitkan Rapid Film Review ini, setelah terakhir gw lakukan pada Juli 2009, hahaha. Anyway, niat ini muncul karena gw akhirnya ada waktu untuk menonton lebih banyak film, termasuk menonton ulang film-film yang udah gw tonton sebelumnya. Salah satu yang udah lama gw pengen tonton ulang adalah tiga film pertama X-Men, yang baru sempat gw lakukan baru-baru ini. Anehnya, meskipun sudah ada momen dirilisnya X-Men Origins: Wolverine dan tahun lalu X-Men: First Class, gw baru terpanggil menyaksikan lagi trilogi X-Men secara beruntun tak lama setelah dirilisnya The Avengers (sama-sama dari Marvel Comics), mungkin karena sama-sama berisi tokoh-tokoh berkekuatan super, jadinya keinget. Toh, film X-Men pertama adalah cikal bakal kesuksesan adaptasi superhero komik ke layar Hollywood, mungkin kalau X-Men nggak sukses, The Avengers juga belum bisa terlaksana sekarang *ya kali aja sih, hehe*.


Theme: X-Men Original Trilogy


X-Men 
(2000 - 20th Century Fox)
Directed by Bryan Singer
Story by Tom DeSanto, Bryan Singer
Screenplay by David Hayter
Produced by Lauren Shuler Donner, Ralph Winter
Cast: Patrick Stewart, Hugh Jackman, Ian McKellen, Anna Paquin, Halle Berry, Famke Janssen, James Marsden, Bruce Davison, Rebecca Romijn-Stamos, Ray Park, Tyler Mane

Keberadaan kaum mutan—manusia yang mengalami mutasi genetik sehingga memiliki kemampuan/kekuatan/penampilan yang istimewa—yang semakin banyak membuat warga manusia "biasa" merasa senewen dan terancam. Alhasil, berbagai tindakan diskriminatif dialami oleh kaum mutan, termasuk dengan adanya RUU registrasi mutan yang diajukan Senator Kelly (Bruce Davison) di pemerintahan Amerika Serikat, yang memicu Erik Lehnsherr/Magneto (Ian McKellen) dan mutan antek-anteknya bertekad memerdekakan kaum mutan dengan cara menghancurkan kaum manusia. Professor Charles Xavier/Professor X (Patrick Stewart), mutan ahli telepati pro-perdamaian yang berprinsip bahwa mutan dan manusia dapat hidup berdampingan, berusaha mencegah rencana Magneto itu bersama anak-anak didiknya yang dijuluki X-Men.

Konon versi layar lebar X-Men ini dibuat terburu-buru, namun ternyata berakhir sukses dengan hasil box offfice sangat memuaskan ($150-an juta, dua kali budget) dan direspon positif. Gw sebelumnya udah tau X-Men dari serial kartun yang ditayangkan RCTI dulu, sehingga cukup excited dan lumayan puas dengan hasil  karya Bryan Singer ini. Singer sebelumnya dikenal sebagai sineas yang menggarap film-film drama, namun itulah yang membuat X-Men versinya ini terasa beda dari film fantasi superhero biasa, visinya membuat dunia X-Men yang realistis dan monokromatis, bahkan mengandung tema serius tentang diskriminasi, di-set-up dan diproyeksikan dengan baik, yang tampaknya sedikit banyak mempengaruhi beberapa film adaptasi komik setelahnya (semisal DareDevil, Hulk, atau Batman Begins). Namun dampaknya adalah terbatasnya tokoh-tokoh mutan yang ditampilkan. Yang tergali lebih dalam hanya tokoh Wolverine (Hugh Jackman), Rogue (Anna Paquin) dan Magneto. Tetapi untungnya tokoh-tokoh mutan lain beserta keistimewaannya masing-masing masih ditampilkan dengan cukup mengesankan dengan porsi yang seadanya itu. Meskipun adegan-adegan aksinya nanggung, dengan cerita dan naskah yang solid dan overall menghibur, film pertama X-Men ini menurut gw adalah tetap yang terbaik dari trilogi awal film X-Men.

Main Mutants: Professor X, Magneto, Wolverine, Storm, Rogue, Cyclops, Jean Grey, Mystique, Sabretooth, Toad


My score: 7/10




X2 
(2003 - 20th Century Fox)

Directed by Bryan Singer
Story by Zak Penn, David Hayter, Bryan Singer
Screenplay by Michael Dougherty, Dan Harris, David Hayter
Produced by Lauren Shuler Donner, Ralph Winter
Cast: Patrick Stewart, Hugh Jackman, Ian McKellen, Halle Berry, Famke Janssen, Brian Cox, James Marsden, Anna Paquin, Rebecca Romijn-Stamos, Alan Cumming, Shawn Ashmore, Aaron Stanford, Kelly Hu


Presiden Amerika diserang seorang mutan di Gedung Putih, membuat Kolonel Stryker (Brian Cox) diizinkan menjalankan rencananya untuk menggerebek sekolah milik Professor Xavier (Patrick Stewart) yang berisi banyak mutan, namun rencana Stryker, yang memegang peranan atas rahasia masa lalu Wolvrine (Hugh Jackman), ternyata lebih jauh dari sekadar melokalisasi kaum mutan, yaitu memusnahkan setiap mutan di muka bumi.

Dibanding X-Men pertama, X2 menampilkan adegan-adegan aksi dan visual efek yang jauh lebih baik. Adegan Nightcrawler (Alan Cumming) menyerang Gedung Putih dan pertarungan brutal Wolverine vs Lady Deathstrike (Kelly Hu) adalah adegan-adegan aksi paling memorable dari seluruh seri X-Men. Ceritanya yang kental berbau konspirasi juga disusun dengan baik dan cerdas, banyak intrik-intrik menarik, termasuk kubu Magneto dan X-Men yang bekerja sama mencegah kelangsungan hidup mereka. Hanya saja pendalaman karakter yang ada masih belum berkembang dari film pertama, palingan cuman Wolverine yang agak lebih berkembang, inilah yang menurut gw menjegal X2 meraih status "lebih baik dari yang pertama". Lebih banyak tokoh mutan yang ditampilkan, tapi tetap saja kemunculan tokoh-tokoh baru yang "berperan" dalam cerita terbilang minim jumlah dan pengembangannya sehingga terasa kurang fair, filmnya jadi kayak film Wolverine dan Prof. X daripada film X-Men (still way better than X-Men Origins: Wolverine though =P). Emosinya masih nanggung, dan pace-nya pun rasanya masih agak terlalu lamban untuk dikatakan "seru". Namun X2 tetaplah sebuah follow-up yang baik dari sebuah "merek" yang sukses.

Main Mutants: Professor X, Magneto, Wolverine, Storm, Rogue, Cyclops, Jean Grey, Mystique, Nightcrawler, Iceman, Pyro, Lady Deathstrike, Jason 143


My score: 7/10




X-Men: The Last Stand 
(2006 - 20th Century Fox)
Directed by Brett Ratner
Written by Simon Kinberg, Zak Penn
Produced by Lauren Shuler Donner, Ralph Winter, Avi Arad
Cast: Hugh Jackman, Halle Berry, Ian McKellen, Patrick Stewart, Famke Janssen, Kelsey Grammer, Anna Paquin, Shawn Ashmore, Ellen Page, Rebecca Romijn, James Marsden, Ben Foster, Vinnie Jones, Aaron Stanford, Dania Ramirez, Daniel Cudmore, Michael Murphy, Shoreh Aghdashloo, Olivia Williams

Kaum mutan kini dapat hidup lebih leluasa karena tindakan diskriminasi sudah diminimalisir, namun bukan berarti keberadan mereka sudah diterima sepenuhnya oleh masyarakat. Seorang pengusaha, Warren Worthington II (Michael Murphy) menyatakan berhasil mengembangkan sebuah antibodi yang dapat menghilangkan "kelainan" pada mutan, dengan kata lain itu adalah "obat mutan"—yang didapat dari seorang mutan bernama Leech (Cameron Bright) yang kekuatannya adalah menghilangkan kekuatan mutan lain. Pro dan kontra di antara kaum mutan pun terjadi terhadap keberadaan obat ini. Magneto (Ian McKellen) yang paling vokal menolak, sehingga merencanakan serangan besar-besaran terhadap laboratorium Worthington bersama sekelompok gerakan mutan bawah tanah. Di luar itu, X-Men harus mengatasi Jean Grey (Famke Janssen) yang punya kepribadian lain bernama Phoenix yang memiliki kekuatan tak terbatas yang dapat membahayakan kelangsungan bumi, manusia dan mutan.

Dari drama perumpamaan kemanusiaan di dua film sebelumnya, X-Men ketiga hadir dengan pendekatan action yang lebih "popcorn movie". The Last Stand adalah sebuah usaha memuaskan harapan penggemar X-Men, dan menurut gw usaha itu patut dihargai. Action-nya lebih menggelegar, pace-nya lebih seru, lebih banyak mutan yang terlibat dalam konflik utama, dan yang paling pol sih ada parade mutan-mutan yang pamer kekuatan sekaligus dalam satu momen. Secara kualitas produksi, The Last Stand bisa dibilang yang terbaik dari seri X-Men ini, mulai dari efek visual sampai music score-nya. Namun, film ini kekurangan intensitas dan bobot cerita yang sudah terdapat dalam dua film sebelumnya, konfliknya kurang nendang. Soal karakter jangan ditanya, selain dangkal, pembagiannya kurang padu dan banyak tokoh favorit (termasuk yang baru) yang hilang aja di tengah-tengah cerita. Ini bisa disalahkan pada proses produksi yang kilat dan hengkangnya keterlibatan Bryan Singer (demi Superman Returns) sehingga nyaris tiada benang merah dengan X-Men dan X2, juga modifikasi pengembangan tokoh karena aktornya udah telanjur terikat proyek lain (James Marsden, Rebecca Romijn). Akan tetapi, meski not good enough sebagai tutupan megah sebuah trilogi, pada akhirnya The Last Stand adalah film yang cukup baik bila mengingat keadaan selama proses produksinya. Well, setidaknya nuansanya lebih berwarna, humornya lebih renyah, dan Brett Ratner tampak pandai memilih aktor-aktor yang tampil sekilas tapi punya presence yang kuat seperti Dania Ramirez, Eric Dane, dan Ken Leung. Sangat Hollywood dan sangat komik, masih menghibur lah, nggak ancur.

Main Mutants: Wolverine, Storm, Beast, Professor X, Magneto, Jean Grey/Phoenix, Rogue, Iceman, Pyro, Shadowcat, Mystique, Juggernaut, Colossus, Angel, Leech, Callisto, Multiple Man, Kid Omega, Cyclops, Archlight, Psylocke, Phat, Spike


My score: 6,5/10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar