Year End Note: My Top 10 Films of 2025

Ehehehe…hehehe….dikiiit banget nontonnya setahun ini =’). You know what, film yang gw tonton di tahun 2025—baik bioskop maupun media rumah—mungkin jumlah totalnya sama dengan jumlah film yang dipilih sebagai “best films of the year” versi blogger-blogger lain XD. Namun, bagaimana pun gw tetap menilik dan berupaya mengisi senarai gw sendiri minimal 10 butir, toh ketemu juga, untungnya. Masih dalam spirit nonton-yang-pengen-ditonton-kalau-berhalangan-ya-jangan-dipaksa, tetap merasa bersyukur bisa menemukan setidaknya 10 judul film yang gw sukai dan atau kagumi.  

Melanjutkan prasyarat pasca-pandemi, yang masuk senarai adalah film-film bioskop yang rilis resmi pertama kali di teritori Indonesia, baik itu di bioskop maupun di platform streaming, sepanjang tahun 2025. Ini termasuk film-film yang tayang perdana di bioskop-bioskop luar Indonesia di tahun 2024 lalu (hanya) masuk platform streaming di Indonesia pada 2025. Mudah bukan memahaminya? =P 


RUNNERUPS
(in alphabetical order) 


THE FANTASTIC FOUR: FIRST STEPS, dir. Matt Shakman
Apresiasi terhadap konsep visual dalam latar semesta yang baru dan segar di antara plot winning-formula khas superhero Marvel. 


ONE BATTLE AFTER ANOTHER, dir. Paul Thomas Anderson
Perjalanan eksentrik dari karakter-karakter antik yang dikemas realis berirama presisi.  


PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI, dir. Joko Anwar
Membangun ketegangan skala personal dari ide besar distopia Indonesia, bertabur kritik sosial namun tetap mengutamakan nilai entertainment yang didukung performa akting maksimal. 


SUPERMAN, dir. James Gunn
Sajian yang tepat untuk mendefinisikan ulang sosok Superman. Penuturan dan visual ‘punk rock’-nya sukses memberi ciri khas pembeda yang menyenangkan. 






10. SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
dir. Yandy Laurens 

Sebuah pencapaian untuk genre yang somehow jarang sukses saat diramu oleh filmmaker Indonesia: high-concept fantasy romance. Pendekatan heartfelt khas Yandy memberi nilai tambah dan menjadi jangkar pada pola cerita time-loop (pengulangan waktu) yang kelak-keloknya kerap tak terduga. 


 


9. SINNERS
dir. Ryan Coogler 

Bagaikan kuali berisi aneka ide terkait dengan sejarah kaum marjinal Amerika, film ini dimasak dengan keterampilan kreatif tingkat tinggi. Kisah yang beralaskan ketegangan rasial, dunia kriminal bawah tanah, musik, tari, kepercayaan, diramu dalam koridor teror vampir yang tak biasa. Seru, unsettling, megah.  


 


8. PERANG KOTA
dir. Mouly Surya 

Memandang sejarah kemerdekaan Indonesia dalam kacamata yang sama sekali berbeda. Tanpa menihilkan nilai heroisme, film ini menggali lipatan-lipatan kehidupan manusia di masa itu yang mungkin dianggap sepele, tetapi sebenarnya berpengaruh besar bagi tiap-tiap individu di dalamnya. Penuturan skala intimate pada karakter-karakter yang flawed justru memberi perspektif baru perihal perjuangan kehidupan di tengah situasi serba tak pasti berskala nasional.


 


7. JUMBO
dir. Ryan Adriandhy 

Jumbo memenuhi semua poin yang sepatutnya dicapai film animasi keluarga. Kualitas animasi yang mumpuni itu satu hal, namun yang juga penting adalah bangunan cerita menarik, karakter membumi, dan penuturannya yang koheren. Plus, yang menurut gw poin yang sering diremehkan: memanfaatkan medium animasi, yang memungkinkan imajinasi tanpa batas, dengan efektif dan tertata. Gw senang film ini jadi fenomena nasional, tetapi di luar itu, gw juga bangga bahwa film ini legitimately well-crafted


 


6. CONCLAVE
dir. Edward Berger 

Apabila Angels & Demons (2009) adalah versi bombastisnya, Conclave adalah kisah proses pemilihan pemimpin tertinggi gereja Katolik sedunia (bergelar Sri Paus) yang lebih terfokus, lebih realis, tetapi tetap sangat intricate. Dengan lingkup ruang, waktu, dan pandangan yang terbatas, film ini mampu memaksimalkan dinamika adu ide dan watak antarindividu tanpa kesan jenuh. 




5. TUKAR TAKDIR
dir. Mouly Surya 

Karya paling komersil dari Mouly Surya ini menghantarkan cerita dan penggarapan yang hampir nggak disentuh oleh sineas Indonesia lain, hasilnya adalah human drama yang sensible dan solid di berbagai aspek. Berangkat dari kecelakaan pesawat yang menewaskan semua penumpang kecuali satu orang, film ini menjadi studi tentang manusia-manusia yang terdampak, baik itu pergolakan batin yang butuh penuntasan, maupun perjuangan untuk mendapat keadilan. Dan untungnya porsi proses investigasi kecelakaannya pun informatif dan nggak ngasal.  



 

4. NOSFERATU
dir. Robert Eggers 

Awal kemunculannya di tahun 1920-an film Nosferatu dikenal ‘nyolong’ kisah Dracula-nya Bram Stoker versi setting Jerman, tapi kemudian malah jadi brand legendaris tersendiri. Di versi terbaru ini sineas antik Robert Eggers memberi penekanan pada tokoh heroine-nya yang punya ikatan misterius nan sensual dengan sang pemangsa darah, ditaruh dalam visualisasi Eropa abad ke-19 yang raw dan gelap dan punya kadar disturbing secukupnya. Film ini menunjukkan keahlian Eggers bermain dalam gambar gelap yang tetap tampak jernih, memukau dan indah, dan berfungsi optimal buat feel dan ceritanya—not just for the sake of it


 


3. THUNDERBOLTS*
dir. Jake Scheier 

Lho, emang film Marvel boleh ya kayak gini? Sepertinya dengan memakai tokoh-tokoh superhero yang bukan skuad utama—termasuk mantan villain—memberi ruang bagi pembuat Thunderbolts bereksplorasi tanpa beban. Hasilnya adalah cerita dan tokoh-tokoh yang membumi, jenaka tepat guna, visual yang terkonsep rapat (aka nggak colorful), villain yang beneran mersahkan, dan—ini yang mengherankan—penyelesaian apik tanpa gembar-gembor laga CGI fest layaknya film Marvel (dan Disney) biasanya. Semoga Marvel tetap mau bikin yang model non-formulaik gini walau box office-nya nggak seberapa. 


 


2. HOW TO TRAIN YOUR DRAGON
dir. Dean DeBlois 

Nggak salah juga kalau dibilang film ini persis plek film animasi pertamanya (2010). Akan tetapi, gw nggak mengira bahwa versi ini sanggup memberi ‘rasa’ yang serupa gw dapatkan dari pertama kali nonton animasinya dulu, dan itu satu hal yang penting banget. Jadi bukan soal adegan atau visualnya dibuat persis animasi atau nggak, pun bukan berusaha ngutak-atik supaya jadi lebih 'realistis' atau ‘mutakhir’. Aspek tersukses dari film ini adalah mentransfer muatan emosional yang bikin franchise ini istimewa, hanya saja kali ini dengan tata adegan di lingkungan nyata dan aktor manusia betulan sebagai medianya--oh dan animasi Toothless yang masih gemez <3. Adaptasi sempurna dari salah satu film animasi Hollywood terbaik. 


 


1. FRANKENSTEIN
dir. Guillermo del Toro 

Akhirnya tiba waktunya Guillermo del Toro menggarap the O.G. cinematic monster. Urusan desain visual, bangunan, kostum, dan sosok si manusia rakitan, tentu saja indah, mewah, mempesona, dan terperinci dengan gaya khas gothic-nya, as we expected and as it should. Namun, del Toro pantang lupa bahwa Frankenstein bukan sesederhana cerita monster meneror manusia. Benang merah utamanya terletak pada ambisi manusia dan konsekuensi dari upaya mengendalikan apa yang di luar kendalinya. Film ini bukan horor, tapi dari bangunan konflik dari tokoh Dr. Frankenstein dengan orang-orang sekitarnya, dan terutama sekali dengan si monster ciptaannya, menciptakan drama dinamis yang captivating, bernas, penuh rasa, sekaligus bertabur spektakel epic, sehingga nggak jemu diikuti hingga 2,5 jam durasi. Yang disayangkan banget nget dari film ini cuma satu: nggak beredar di bioskop =((.  



ilustrasi dari irasutoya.com

Komentar