Year-End Note: My Top Albums of 2025

It’s happening, guys. Yang gw takutkan sejak beberapa tahun lalu terjadi sekarang. Senarai top album nggak sampai 10 butir =(. Bukan maksud hati menyatakan bahwa rilisan album 2025 banyak yang buzuk lho ya. Cuma lagi-lagi gw memang mendengarkan musik almost exclusively hanya saat jalan berangkat-pulang kerja, belum lagi pola perilisan artis-artis rekaman zaman sekarang lebih banyak prioritas di lagu individual ketimbang album, kayaknya menyebabkan eksplorasi gw jadi makin terbatas. 

Namun yang pasti, album yang gw masukkan di senarai kali ini memang gw nikmati dan punya repeat value yang tinggi—bukan hanya denger sekali terus dianggurin di library. Jadi, yah, walau akhirnya hanya dapat delapan, gw akan stand with these selections




8. Survive (E.P.)
Lewis Capaldi 

Extended play berisi hanya empat lagu yang, walau mellow sekali, mengangkat tema optimisme setelah mengalami surut kehidupan, mungkin mencerminkan yang dihadapi Capaldi beberapa tahun belakangan—sempat vakum setahun lebih karena masalah kesehatan fisik dan mental. Karakternya masih seperti karya yang sudah-sudah, namun ada suntikan depth yang menjadikan E.P. ini tetap menawan perhatian. 




7. The Light for Days
Jacob Collier

Rehat sejenak dari seri “Djesse” yang penuh eksperimen musikal, Collier menerbitkan album yang seluruhnya berbunyi akustik. Berisi lagu orisinal baru maupun cover, album ini tetap penuh eksperimen di chord dan aransemen dan harmoni vokal, sekaligus mencerminkan sisi lebih kalem dan soulful dari Collier dan mengajak lebih dekat ke bunyi-bunyian alamiah. 




6. 予酔いの宵/YOYOI NO YOI (E.P.)
YONA YONA WEEKENDERS
 

Kembali jadi bukti band pop-rock santai asal Jepang ini lebih greget ketika bikin mini album ketimbang full album. Lima track bernada catchy yang dibawakan chill namun dibangun di atas chord dan nuansa yang bervariasi, dibantu dengan kualitas recording yang semakin naik, serta vokal enak Isono-kun yang semakin prima, E.P. ini mulus sekali untuk dinikmati. 




5. Play
Ed Sheeran 

Salah satu solois pop pria tersukses dalam satu dekade terakhir ini kok ya masih punya amunisi lagu-lagu yang nikmat didengar. Memang overall nggak banyak pergeseran dari album-album sebelumnya jika dilihat dari formula melodi dan penulisan, tapi masih ada upaya memberi bumbu-bumbu pembeda. Kali ini ada pada masuknya nuansa Asia Barat dan Selatan yang dipinjam Sheeran pada beberapa track-nya, semacam contoh rangkuman dari hasil doi selama bertahun-tahun ini keliling dunia sebagai musisi terkenal, yang tak hanya memperdengarkan musik miliknya, tetapi juga mau mendengar sekelilingnya. 




4. Dalam Dinamika
Perunggu
 

Sebelum ini cuma pernah tahu nama Perunggu sering masuk line-up festival-festival musik masa kini, gw akhirnya resmi 'bertemu’ dengan band rock orang kantoran ini (tapi udah pada resign ceunah) di full album keduanya. Sebuah album yang 'really feels like an album', dengan pengurutan track yang tertata dan terbabak, dari yang riuh keras sampai yang lebih reserved. Bunyi-bunyi ala American rock awal 2000-an dikreasikan ulang dengan semarak dan asyik, pun liriknya yang agak kaku itu (setipe Bernadya kalau dipikir-pikir) tersisip kegelisahan sekaligus optimisme, dan sesekali humor, yang somehow mudah gw serap. Band yang asyik ya ternyata. 




3. PREMA
Fujii Kaze
 

Salah satu solois J-Pop terfenomenal di era 2020-an ini bereksplorasi dengan sembilan lagu baru berbahasa Inggris. Seperti dua album Jepang miliknya dulu, di sini bisa kelihatan pengaruh-pengaruh yang membentuk karakter musik Kaze—ada unsur nostalgia karena meminjam gaya musik pop dan R&B lawas, tetapi output-nya tetap terasa segar. Apalagi nggak ada kecanggungan Kaze dalam menyanyikan bahkan menuliskan lirik berbahasa Inggris, semua terdengar masih in character aslinya dia sekalipun tidak dalam bahasa native-nya, pun nggak kelewat nyeleneh untuk dapat terhubung dengan audiens global—sesuatu yang mungkin nggak semua artis bisa lakukan saat go international




2. Perjumpaan (E.P.)
Wijaya 80

Kalau mau jujur, Wijaya 80 sepertinya berjasa membuat gw *akhirnya* bisa appreciate musik-musik pop kreatif Indonesia 1980-an. Trio generasi milenial ini bisa dibilang menyomot hal-hal unik dari era itu, yang notabene one generation before their own's—dari progresi chord, belokan nada, tema dalam lirik, dominasi synthesizer hingga tinggi-rendahnya echo dalam mixing rekamannya =D, lalu mengolahnya lagi dalam sensibilitas kiwari. Nggak sekadar fotokopi form-nya, namun juga memberi perspektif pada sisi paling keren dari musik era itu. Kalau mau digambarkan agak liar, mini album ini seperti sekumpulan cover Fariz RM tanpa pakai lagu-lagu Fariz RM. But all in the best way possible


 



1. 5.0
10CM 

Pastinya gw nggak sendirian yang punya persepsi bahwa band Korea beranggotakan satu orang, 10CM lekat dengan lagu-lagu melankolis, mostly akustik, kadang manis ceria, dan banyak di-tie-up ke drama-drama Korea romantis. Jadi ketika gw coba masang full album kelimanya ini, lalu separuh track awal ternyata musiknya power pop cenderung pop punk, jujur gw kaget. Kagetnya karena hasilnya seamless banget, sama sekali nggak terdengar aneh. Vokal sengau-kadang-raspy Kwon Jungyeol seakan dari sononya memang dirancang untuk musik-musik yang lebih keras, walau dalam perkembangannya dia sukses di gaya yang lebih kalem. Album ini ibarat representasi arc karakter musik mas Kwon, dari yang nge-rock sampai pelan-pelan transisi ke gaya yang lebih tender pada track-track paruh akhir, disampaikan dalam lagu demi lagu yang catchy dan kemasan musik yang serba komplet menunjang. 12 track yang sangat satisfying dari awal hingga akhir tanpa henti.  



ilustrasi dari irasutoya.com

Komentar