Senin, 02 Mei 2016

[Movie] Eye in the Sky (2016)


Eye in the Sky
(2016 - Entertainment One)

Directed by Gavin Hood
Written by Guy Hibbert
Produced by David Lancaster, Colin Firth, Ged Doherty
Cast: Helen Mirren, Alan Rickman, Aaron Paul, Barkhad Abdi, Phoebe Fox, Jeremy Northam, Iain Glen, Aisha Takow, Faisa Hassan, Armaan Haggio, Richard McCabe, Monica Dolan, Kim Engelbrecht, Babou Ceesay, Vusi Kunene


Berbagai film bertema perang telah dibuat dengan berbagai sudut pandang, baik dari latar masa lalu atau kontemporer, dari yang menunjukkan proses pertempuran hingga ke dampak-dampaknya. Kemunculan film Eye in the Sky mungkin dianggap sekadar menambah panjang daftar film bertema perang yang sudah ada. Akan tetapi, film ini ternyata mampu menunjukkan diri sebagai film yang relevan, mencakup banyak sisi, memuat cerita yang kaya, dan digarap dengan kuat. Padahal, kisahnya hanya berkutat pada satu peristiwa yang terjadi dalam rentang hitungan jam.

Eye in the Sky menuturkan upaya pemberantasan teroris dari kelompok bernama Al-Shabaab di Afrika bagian Timur. Intelijen Inggris dan Kenya bekerja sama dalam operasi penangkapan dua warga negara Inggris dan satu warga negara AS yang telah bergabung ke kelompok tersebut, saat ketiganya tiba di Nairobi, ibukota Kenya. Operasi ini melibatkan Inggris, Kenya, dan Amerika Serikat (AS), yang sebagian besar dijalankan dari jarak jauh menggunakan teknologi termutakhir.

Operasi ini dipimpin dari Inggris oleh Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren), disaksikan oleh panglima militer Letnan Jenderal Frank Benson (Alan Rickman), Menteri Pertahanan Brian Woodale (Jeremy Northam), Jaksa Agung George Matherson (Richard McCabe), dan staf relasi benua Afrika Angela Northman (Monica Dolan). Sementara operasi di lapangan melibatkan agen asal Somalia, Jama Farah (Barkhad Abdi), dan pesawat kendali jarak jauh atau drone yang dikendalikan dari Las Vegas, Amerika Serikat oleh pilot Steve Watts (Aaron Paul) dan Carrie Gershon (Phoebe Fox).

Misinya cukup sederhana: pesawat drone akan jadi pengintai untuk mendapatkan konfirmasi identitas ketiga target. Setelah itu, militer Kenya akan meringkus saat ketiganya berada di tengah kota. Akan tetapi, misi jadi berantakan ketika ketiga target dibawa pergi ke kampung pinggiran kota yang dikuasai oleh milisi Al-Shabaab. Di sana, para target disiapkan untuk memakai rompi bom bunuh diri.

Situasi ini membuyarkan rencana penangkapan langsung, karena ditakutkan akan menimbulkan baku tembak terbuka dengan milisi di kampung tersebut, yang artinya juga akan menimbulkan korban jiwa dari warga sipil. Satu-satunya cara paling efektif adalah menembakkan peluru kendali dari pesawat drone, yang berarti mengubah misi penangkapan ini menjadi misi pembunuhan. Namun, pilihan ini justru menimbulkan konsekuensi politik dan moral yang lebih besar.

Plot Eye in the Sky bisa dibilang hanya penjabaran sebuah operasi militer dari awal hingga akhir. Namun, kisahnya menjadi dinamis dengan banyaknya pihak yang terlibat dalam operasi ini, mulai dari pihak militer, pemerintah, pelaku lapangan, hingga dari sisi warga sipil—diwakili gadis kecil penjual roti bernama Alia (Aisha Takow), dan masing-masing tidak dalam ruangan yang sama. Sutradara kelahiran Afrika Selatan, Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, Ender's Game) berhasil menata porsi dan ritme dari masing-masing bagian sehingga terlihat menyatu sekaligus intens.

Film ini memang minim peluru dan ledakan, karena ceritanya lebih berkonsentrasi pada proses pengambilan keputusan yang butuh pertimbangan berlapis. Ketegangan dari operasi yang tengah berjalan disajikan apik, berpadu dengan kegemasan akan proses keputusan yang harus melewati banyak prosedur, yang seakan semakin menunda keberhasilan operasi ini. Lewat cara itu, film ini tetap menghadirkan nilai entertainment sekalipun hanya dari pertukaran dialog dan perpindahan lokasi, yang makin menunjukkan keterampilan sutradara serta kecermatan skenario yang disusun Guy Hibbert.

Peristiwa yang diangkat Eye in the Sky memang fiktif. Akan tetapi, apa yang diangkat berhasil mencerminkan keadaan yang masih terjadi saat ini di berbagai belahan dunia. Kelompok Al-Shabaab menjadi cermin berbagai milisi radikal yang tumbuh subur di negara-negara berdaulat seperti Timur Tengah dan Afrika, dan turut menyeret negara-negara Eropa dan AS. Operasi peringkusan teroris yang dilakukan di film ini juga mencerminkan kerja sama pertahanan antarnegara yang kini dipermudah dengan berbagai macam teknologi, bahwa jarak tak lagi jadi penghalang.

Di saat yang sama, film ini juga menunjukkan dampak politik dan sosial dari perang tersebut, sekalipun dilabeli 'melawan terorisme'. Pihak militer tentu ingin para target ini dihabisi saja, demi mencegah aksi teror yang menyebabkan lebih banyak korban. Tetapi, konsekuensi politik menghalangi itu. Sekalipun bisa diloloskan sebagai pengorbanan untuk hal yang lebih besar, pilihan untuk membombardir sebuah rumah berisi teroris di desa yang banyak dihuni penduduk sipil akan dianggap sebuah sebuah kejahatan kemanusiaan. Alhasil, ketika teknologi semakin mempermudah, kebijaksanaan dalam memanfaatkannya justru semakin berat dijalankan.

Dilema yang dimunculkan pun diperkuat dengan pembangunan karakter-karakternya. Kecuali para target yang mutlak dianggap jahat tanpa dibahas motivasinya, tidak ada pihak yang benar-benar absolut di film ini. Tiap karakter melemparkan argumen-argumen yang berdasar kuat, yang dapat membuat penonton ikut setuju, sekalipun beberapa di antaranya bisa saling bertentangan. Argumen-argumen tidak hanya datang dari pemikiran taktis dan politis, tetapi juga dari hati nurani. Hampir tidak ada karakter yang patut dibenci di film ini karena pilihan yang mereka ambil sama-sama masuk akal.

Segala hal tersebut pada akhirnya dikemas dan disajikan secara berkelas dalam film ini, tanpa jadi terlalu keras atau justru terlalu cengeng. Kecermatan dalam penuturan cerita yang mudah diikuti dan dipahami, didukung dengan akting memikat dari para pemain lintas negara dan tata visual yang engaging, membuat film ini jadi tontonan yang komplet dan padat berisi dalam durasinya yang cukup ringkas, hanya 102 menit. Sebuah thriller yang bisa tampil menghibur sekaligus mengusik pikiran dan hati, serta ikut memperluas wawasan dan memberi penyataan bahwa perang tak pernah sederhana, baik bagi yang terlibat langsung maupun yang hanya terkena imbasnya.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar