Rabu, 09 Maret 2016

[Movie] Terjebak Nostalgia (2016)


Terjebak Nostalgia
(2016 - Oreima Films/Kaninga Pictures)

Directed by Rako Prijanto
Written by Anggoro Saronto
Produced by Reza Hidayat
Cast: Raisa Andriana, Chicco Jerikho, Maruli Tampubolon, Khiva Iskak, Dewi Irawan, Robby Sugara


Gw nggak yakin gw nyaman dengan keberadaan film ini. Kayak sekadar ingin nebeng ketenaran Raisa, tapi gw juga tahu Rako Prijanto bukan sineas yang asal-asalan. Akhirnya gw berkesempatan menonton film ini--terlepas berbagai permasalahan yang membuat film ini nggak bisa tayang luas di bioskop jaringan dari jadwal seharusnya, dan gw tetap masih merasa ada perasaan gimana gitu sama keseluruhan film ini. What's the purpose, really? Ini mungkin pertanyaan yang sama gw ajukan buat film yang memasang musisi terkenal macam Rock N Love-nya Kotak tahun lalu. Gw berharap jawaban yang diberikan Terjebak Nostalgia akan lebih memuaskan.

Kisahnya sendiri roman rada fantasi gitu, begitu mellow syahdu sabar sederhana, tapi paling nggak ada ide menarik yang disampaikan. Di sini ceritanya Raisa (Raisa Andriana, obviously) sudah hampir menikah dengan sosok musisi bernama Sora (Maruli Tampubolon), tapi sebelumnya Sora mau mengambil beasiswa di New York. Sayang, Sora tak kunjung pulang karena ia dinyatakan hilang waktu terjadi badai Sandy di sana. Beberapa waktu kemudian Raisa udah dekat dengan Reza (Chicco Jerikho), tapi--sesuai judulnya--ia masih belum melupakan Sora. Diperparah lagi ia menerima sepucuk surat baru (iya, surat, namanya juga film romantis =P) yang pengirimnya mengaku...*jengjeng*...Sora. Bingung, Raisa nekat berangkat ke New York untuk memastikan keadaan Sora, apakah dia nyata atau hanya....err....jebakan nostalgia *denting piano berkumandang*.

Jujur, tanpa Raisa pun ide ceritanya udah cukup menarik. Surat dari orang yang harusnya udah nggak ada, lalu penelusurannya sama sosok yang ngharep banget bisa jadian, very interesting. Apalagi dengan perlakuan visualnya yang agak dreamy-fantasi gitu. Untuk urusan production value, tampaknya Rako itu adalah salah satu sineas yang bisa diandalkan. Semuanya nyaman di mata, melengkapi penampilan Raisa yang emang dari sononya udah enak dilihat secara tampilan fisik. 

Nah, masalahnya apakah Terjebak Nostalgia ini secara penuturan bisa seenak kelihatannya? Well, lumayan. Gw cukup suka di awal film ini nggak buang waktu, tapi makin ke sana gw merasa makin draggy saja, sesuatu yang sebenarnya expected dari film mellow syahdu seperti ini tapi ya mungkin gw nggak sabaran aja kali ya. Berhubung nggak seru kalo spoiler, gw cuma bisa gambarin perasaan gw pas nonton kayak, 'ayo dong ngapain lagi nih? masa gitu-gitu doang perjalanannya,' macam itu. Dan gw belum mention ragam service buat sponsor-sponsornya ya, haha (untungnya nggak semengganggu Mantan Terindah). Sementara kalau dari akting, Raisa debutnya lumayanlah, nggak terlalu malu-maluin, dan nggak trying too hard, which is good. Nggak terlalu kelihatan jomplang juga dengan pemain-pemain lain yang lebih punya pengalaman akting. Nggak spesial, tapi gw rasa sang sutradara done this part right-lah.

Tapi, di situ gw juga mulai bertanya, kenapa harus Raisa? Pada akhirnya, film ini nggak terlalu music-driven, dan ceritanya hampir nggak ada hubungannya sama Raisa sebagai seorang penyanyi dan karya-karyanya di kehidupan nyata. Toh lagu-lagu yang ada di sini baru semua. Maksud gw, kenapa nggak sekalian Raisa namanya diganti? Menurut gw itu akan lebih safe dan nggak terkesan nebeng ketenaran Raisa, dan malah akan menunjukkan bahwa Raisa emang serius mencoba akting sebagai karakter yang not necessarily berdasarkan karakter asli dirinya. So, menurut gw, se-cute dan semenarik apa pun, film ini nggak akan berpengaruh banyak sama karier Raisa, entah di musik atau di akting. Dan sayang juga, kesannya ide cerita yang sebenarnya menarik ketutupan sama label ini film pertama Raisa sebagai Raisa yang bukan Raisa. Which is weird. Ya untung aja filmnya enak dipandang.





My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar