Minggu, 09 November 2014

[Movie] Mantan Terindah (2014)


Mantan Terindah
(2014 - Berlian Entertainment/Keana Productions)

Directed by Farishad Latjuba
Screenplay by Titien Wattimena
Story by Ilya Sigma, Priesnanda Dwisatria
Produced by Marcella Zalianty, Dino Hamid
Cast: Karina Salim, Edward Akbar, Ray Sahetapy, Salvita Decorte, Tri Yudiman, Hedi Yunus, Angela Nazar, Reza Haryadi, Fauzi Baadila


Mantan Terindah adalah sebuah film penuh titipan. Film ini konon menjadi rangkaian "perayaan" 30 tahun acclaimed musician Yovie Widianto berkarya (yes, he's that old), setelah didahului perilisan album kumpulan lagu terbaik doi, Irreplaceable (yang ada Raisa yang cover lagu "Mantan Terindah"-nya Kahitna) dan konser Irreplaceable pada tahun lalu. Jadi more or less film ini juga harus mengintegrasikan lagu "Mantan Terindah" ke dalam ceritanya, karena pada dasarnya film ini harus respek juga sama karya-karya Yovie. Menyaksikan film ini, gw bisa membayangkan betapa keras usaha para pembuat filmnya untuk merancang titipan itu menjadi sebuah cerita yang menarik secara filmis dan punya nilai plus. Hasilnya, jadilah film ini memasukkan unsur orang indigo di dalamnya. Di sisi lain gw juga bisa membayangkan betapa nerakanya pekerjaan para pembuat film ini untuk memasukkan titipan yang satu lagi, yaitu pihak sponsor yang seolah-olah membiayai 75 persen film ini sampe mendapat benefit yang luar biasa gede di film ini. We'll get to that later.

Gw akui rancangan cerita Mantan Terindah ini cukup kreatif dan menarik. Bagaimana seorang gadis indigo dengan kemampuan melihat masa depan menjalin cinta dengan seseorang, meskipun dia juga mendapat penglihatan bahwa kisah cintanya itu akan berakhir dengan menyakitkan--bahwa mereka bakal jadi mantan, get it? Plot-nya pun punya susunan menarik, mulai dari perkenalan tentang kemampuan indigo si gadis bernama Nada (Karina Salim), terus berlanjut ke pertemuan dengan si cowok struggling musician tapi tinggal di kostan bagus bernama Genta (Edward Akbar), berlanjut ke bagaimana Nada jadi posesif banget sama Genta demi menyangkal penglihatannya itu, sampe-sampe hubungannya jadi nggak enak sama sahabatnya, dan seterusnya. Bolehlah.

Yang gw kurang merasa sreg adalah pembawaan film ini yang terlalu mendayu-dayu, nggak dibawa fun. Entahlah, sepertinya ada kecenderungan di Indonesia bahwa film dengan kisah cinta "menyentuh" dan "romantis" dan bersentuhan dengan "paranormal" itu harus sendu. Padahal di film ini lumayan memasukkan unsur hip banget, mulai dari selera musik masing-masing tokoh, sampai ke tindakan posesif si Nada yang agak konyol juga. Pun film ini sempat memasukkan gag tentang tokohnya Hedi Yunus yang diramal jadi penyanyi *oh, well*, tapi udah sampai situ aja. Film ini lebih memilih mendasarinya dengan tragedi dan si tokoh utamanya terus membawa beban tragedi itu sampai ke sepanjang film. Nah, efeknya, karena dibawa terlalu serius dan melankolis, jadi kerasa datar dan cheesy, padahal harusnya nggak perlu. Can't they just at least laugh at the fact that the names of the main characters are Nada and Genta? Well, itu pilihan sih, kebetulan jalur yang dipilih film ini bukan masuk selera gw.

Tetapi, satu hal yang bikin film ini agak nggak enak dinikmati adalah karena titipan yang terlihat jadi beban. Okelah ada product placement BeeTalk dan Commuter Line (yang secara tidak realistis ditunjukkan tidak pernah penuh) yang menurut gw masih dalam tahap wajar, tetapi gw kok menebak bahwa pihak sampo Mataharisutra begitu banyak nuntut sehingga penempatan logo di poster (di atas judul lho, di atas judul!) dan juga muncul di kredit depan sebelum judul filmnya (sebelum judul lho, sebelum judul!) tidaklah cukup. Akhirnya diberi jalan keluar bahwa setiap kali ada orang mendekati Nada, orang tersebut akan membelai rambutnya. Like everytime. EVVVERYTIME. Eh, belum cukup juga ternyata, takut orang belum benar-benar aware kalau Mataharisutra berjasa besar buat film ini, jadilah ada adegan buka website-nya dan pemakaian pelembab rambut dengan menyorot produknya secara jelas dalam adegan yang bener-bener waste dan harusnya bisa di-cut. Selesai deh, tingkat ke-enjoy-an terhadap film ini makin menukik turun. Bahkan gw melihat film ini kayak lebih sibuk meng-cater pihak sponsor ketimbang mengintegrasikan kisahnya dengan lagu yang jadi judul filmnya.

Again, masih ada sih yang bisa diapresiasi dari Mantan Terindah, mulai dari ide dan penyusunan ceritanya, sinematografinya (but not the color grading, nggak suka deh dengan warna orange-biru-kehijauan itu), juga akting para pemainnya yang nggak jelek. Even Edward Akbar berhasil untuk tidak se-annoying dua film sebelumnya (Street Society dan Runaway). Tapi, ya gitulah. It's an okay film, ya udah gitu aja. Kurang menghibur bisa jadi istilah yang tepat buat gw menggambarkan film ini.




My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar