Rabu, 18 Februari 2015

[Movie] Rock N Love (2015)


Rock N Love
(2015 - Apollo Pictures)

Directed by Hedy Suryawan
Written by Syamsul Hadi
Produced by Hedy Suryawan, Ayu Indirawanty, Sandy Tanarius
Cast: Tantri "Kotak", Cua "Kotak", Cella "Kotak", Denny Sumargo, Vino G. Bastian, DJ Una, Ganindra Bimo, Erwin Moron, Shae, Dicky Otoy, Spencer Jeremiah


To be honest gw nggak ngerti maksud dan tujuan dibuatnya film ini apa. Biografi (seperti Slank Nggak Ada Matinya) bukan, dokumenter (kayak Noah Awal Semula) bukan, film lucu-lucuan (seperti Purple Love atau film-filmnya Cherrybelle) pun bukan. Well, it depends definisi "lucu-lucuan" seperti apa sih. Oke, dari segi jualan bisalah ini film untuk menggaet penggemar band Kotak ke bioskop menonton idola mereka. Tapi, buat apa juga? Kalau penampilan musik mereka nggak segitu banyak, dan kisah pribadi yang ditawarkan juga cuma re-enactment yang belum tentu sesuai fakta. Entah fanservice macam apa yang hendak ditampilkan film ini. Cuma ada beberapa cerita yang sebenarnya biasa saja, masukin band Kotak, udah nggak diapa-apain lagi.

So, sepenangkapan gw, Rock N Love ingin mengkompres beberapa pengalaman (katanya) nyata band Kotak dan masing-masing personelnya menjadi sebuah tontonan fiksi di bioskop. Secara grup--di sini ceritanya belum dapat label tapi sudah manggung di mana-mana, mereka hendak bertarung untuk mendapat tempat di final rock show bergengsi, tapi dapet intimidasi dari band saingan yang demen bilang anjing, banci, jongos, dan variasi fuck sambil teriak-teriak sok-sok galak. Katanya sih bagian ini ingin menunjukkan bahwa Kotak tidak sama dengan band itu. Meski kadang terprovokasi, mereka tetap cinta damai dan...yah...akan mendapat berkahnya suatu saat nanti.

Lalu, ada persoalan cinta masing-masing personelnya (hence the title). Ada Tantri yang selalu cranky gara-gara tunangannya yang berwujud Vino G. Bastian lebih mementingkan pekerjaan daripada memerhatikan dirinya. I mean like, wow, seriously, vokalis band rock marah-marah sama kekasihnya yang punya a day job, a job with tunjangan dan asuransi? That is unacceptable. Makanya gw langsung nge-judge bahwa Tantri di film ini (entah di dunia nyata seperti apa) egois setengah mati, marah-marahnya juga jadi nggak beralasan. Anyway, ada pula si gitaris dan anak motor Cella yang ditolak lamarannya kepada kekasihnya karena orang tua si cewek risih sama jati diri Cella. Tak berapa lama, Cella mulai menemukan cinta lagi dengan gadis berjilbab fan Kotak. Lalu sebagai comic relief, ada kisah Cua yang di-stalk sama seorang fan culun, tapi kemudian jatuh cinta....sama cowok lain yang ganteng. Yakali sama fan culunnya =p.

On the high note, gw harus mengakui usaha dari para personel Kotak yang baru pertama main film ini oke. Mereka bertiga kelihatan berusaha untuk bisa berakting, baik saat keadaan dramatis maupun santai, sehingga tidak ada kekakuan yang berarti. Well, kalau batas bawahnya adalah Elsa Syarief di film Mursala, Kotak ini masih jauh di atasnya =p. Segi akting di film ini juga dibantu banget sama kehadiran Vino dan *surprisingly* the singer we all didn't know is famous (?) named Shae. Gw akui, dari sisi ini filmnya bisa memberi hiburan tersendiri. Oh, film ini juga nggak segan membiarkan personel Kotaknya saling bercanda dan mengumpat ketika marah. Ada sedikit nilai agak realistislah.

Tetapi sisanya, gw cuma bisa geleng-geleng kepala. Ceritanya sangat uninspiring dan disusun tanpa visi dan niat yang jelas, seperti gw singgung di awal. Tidak ada nilai plus dari menyaksikan film ini, entah itu pengetahuan tentang Kotak atau seluk beluk dunia musik Indonesia. None. Beberapa dialog disusun dan ditempatkan dengan menggelikan walau maksudnya "memberi pesan moral". 

Namun, menurut gw masalah utama film ini kebingungan menggabungkan kisah "lucu-lucuan" dengan image rock yang sangar. Aneh rasanya melihat sebuah film semacam zero to hero dan sports movie yang klise (soal persaingan di sebuah kompetisi dengan happy ending), tapi ditabrakkan dengan kata-kata sok kasar dan adegan-adegan sok keras (semisal kata-kataan dan berantem) yang nggak menambah nilai apa-apa, malah bikin mubazir. Dan gw belum menyebut unsur komedi dari tiga asisten Kotak yang sama sekali tidak lucu tapi diberi ruang yang sangat besar untuk itu, bahkan lebih besar dari sosok additional drummer-nya yang bisa dibilang invisible padahal selalu ada. 

So, no, I don't enjoy this at all. Kotak sudah bagus sebagai band--gw bahkan menganggap Tantri adalah salah satu penyanyi terbaik di Indonesia saat ini. Tak perlu lagi diperlakukan seperti di film ini. Buatlah film yang pantas bagi mereka. Apa kek, film konser 3D kek, dokumenter tur 20 kota kek, sejarah terbentuknya band ini kek. Toh itu pun tetap bisa menunjukkan personality setiap anggotanya. Apa pun asal bukan film tanpa tujuan jelas seperti Rock N Love ini.




My score: 5,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar