Minggu, 13 Desember 2015

[Movie] The Good Dinosaur (2015)


The Good Dinosaur
(2015 - Disney/Pixar)

Directed by Peter Sohn
Screenplay by Meg LaFauve
Story by Bob Peterson, Peter Sohn, Erik Benson, Meg LeFauve, Kelsey Mann
Produced by Denise Ream
Cast: Raymond Ochoa, Jack Bright, Frances McDormand, Jeffrey Wright, Sam Elliott, Anna Paquin, A.J. Buckley, Steve Zahn, Marcus Scribner, Maleah Padilla, Mandy Freund, Steven Clay


Pixar bukan sekadar studio animasi, melainkan sebuah brand. Konsep menarik, eksekusi menghibur, dan kedalaman cerita, hampir selalu bisa dihadirkan oleh film-film dari studio yang bernaung di bawah Disney ini. Baru setengah tahun lalu, Pixar merilis film Inside Out yang mempersembahkan sebuah konsep yang kompleks tentang psikologi manusia dengan visual warna-warni. Kini, hadir lagi film The Good Dinosaur,yang bisa dibilang agak berkebalikan dari Inside Out. Soalnya, film arahan Peter Sohn ini justru menghadirkan kisah yang sangat sederhana.

The Good Dinosaur dimulai dengan sebuah pengandaian, bagaimana jika dinosaurus tidak jadi punah dan tetap menghuni bumi selama jutaan tahun, sampai bisa hidup satu zaman dengan spesies manusia. Film ini pun melanjutkan pengandaian itu dengan cukup menarik sekaligus jenaka. Bahwa para dinosaurus tersebut berevolusi sampai mampu memproduksi makanan sendiri, baik dalam hal bertani—termasuk membajak tanah dalam garis lurus, beternak, maupun membuat rumah sendiri, tanpa harus mengubah anatominya sebagai dinosaurus.

Tidak punahnya dinosaurus pun membuat bumi menjadi kaya akan spesies menarik. Mulai dari spesies cikal bakal unggas dan mamalia modern, serangga kecil maupun raksasa, dan tentu saja, manusia. Mengingat The Good Dinosaur mengambil sudut pandang dari para dinosaurus yang sudah 'beradab', maka manusia pun dianggap sebagai makhluk liar yang tak bisa bicara—karena memang masih primitif.

The Good Dinosaur sendiri berfokus pada sebuah keluarga dinosaurus herbivora berjenis Apatosaurus. Keluarga ini terdiri dari Henry sang ayah (diisi suara Jeffrey Wright), Ida sang ibu (Frances McDormand), anak tertua Libby (Maleah Padilla), anak tengah Buck (Marcus Scribner), dan si bungsu Arlo (Raymond Ochoa). Bukan hanya dari urutan lahir, Arlo juga paling kecil dalam hal ukuran tubuh dan nyali dalam keluarganya. Alhasil, ia satu-satunya yang belum diperbolehkan mengecap tanda kakinya di lumbung keluarga.

Suatu ketika Arlo mencoba mengetes keberaniannya dalam menjaga persediaan makanan di lumbung keluarga, yang kerap dicuri oleh makhluk liar. Dasar penakut, Arlo panik ketika berhadapan langsung dengan seorang manusia kecil yang mencuri makanannya. Akibat kecerobohannya, Arlo pun terseret di sungai deras, sampai jauh dari rumahnya. Arlo lalu harus mencari cara untuk pulang, yang berarti juga ia mulai harus lebih berani dalam menghadapi segala sesuatu di alam liar. Ia tak sendiri, karena perlahan ia justru menjalin persahabatan dengan sang manusia kecil yang ditemuinya, yang kemudian diberi nama Spot (Jack Bright).

Bisa dilihat sendiri, cerita The Good Dinosaur memang sangat sederhana, jika dibandingkan dengan segala kompleksitas yang pernah ditampilkan di Inside Out, misalnya. Dari sini seperti timbul kesan bahwa kali ini Pixar sedang 'bermain aman' dengan penyusunan kisah pendewasaan dan pencarian jati diri yang sudah sering diangkat dalam film-film Disney, bahkan termasuk film Pixar sendiri, sebut saja Finding Nemo. Tidak ada kejutan dari kisahnya, karena hanya tentang perjalanan Arlo untuk pulang ke rumahnya, tumbuhnya persahabatan dengan spesies berbeda, dan pertemuan dengan pelbagai karakter menarik di perjalanan.

Cerita sederhana itu bukan persoalan besar, tetapi jadi soal bila ini menyangkut brand Pixar yang punya riwayat hebat dalam menampilkan sesuatu yang unik di setiap rilisannya. Pixar pernah menghasilkan kisah cinta antar robot di masa depan di WALL-E, tikus jadi koki di restoran elit di Ratatouille, keluarga superhero di The Incredibles, dan mewujudkan emosi manusia dalam bentuk karakter penuh warna di Inside Out.

Dibandingkan para pendahulunya itu, seperti halnya Arlo, The Good Dinosaur jadi agak kerdil dari segi orisinalitas. Belum lagi sudah banyak sekali kisah fabel dinosaurus dalam bentuk animasi yang pernah diangkat Hollywood, sebut saja The Land Before Time, atau pun Dinosaur milik Disney. Akibatnya, The Good Dinosaur terkesan hanya jadi pengikut dengan teknologi yang lebih maju.

Namun , di sisi lain, The Good Dinosaur justru jadi film yang sangat mudah dinikmati dan dipahami. Kesederhanaan kisahnya membuat penonton tak perlu sibuk mengartikan adanya perenungan atau makna bernada filosofis yang sering diselipkan dalam film-film Pixar. Tinggal duduk, melihat, dan rasakan nilai-nilai petualangan, persahabatan, dan keluarga dari cerita film ini. Penuturannya memang tergolong sendu dan tidak semarak, tetapi masih bisa menarik perhatian lewat karakterisasinya yang cerah dan beberapa humor di sana-sini.

Satu hal lagi yang membuat film ini layak simak adalah audio visual yang kelas tinggi. Teknik animasi dari studio sebesar Pixar memang tak perlu diragukan, namun dalam The Good Dinosaur, Pixar melangkah lebih jauh lagi dengan penataan gambar yang elok dipandang. Desain tokoh-tokohnya memang tetap seperti "kartun" dan berwarna-warni, tetapi mereka ditempatkan dalam sebuah lingkungan alam yang dibuat dengan fotorealistis, mendekati sebuah pemandangan alam asli. Disertai dengan alunan musik megah dari Mychael Danna dan Jeff Danna, film ini pun secara keseluruhan jadi lebih nyaman disaksikan.

Pada dasarnya, The Good Dinosaur adalah sebuah film sederhana dengan kemasan yang mewah, dan membuatnya cukup menyenangkan untuk diikuti. Film ini juga masih bisa memuat nilai-nilai yang berpotensi menyentuh hati penontonnya. Hanya saja, film ini mungkin kurang sanggup memenuhi ekspektasi yang terlampau tinggi terhadap film-film Pixar yang biasanya lebih unik dan mengesankan daripada The Good Dinosaur ini.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar