Kamis, 12 Desember 2013

[Movie] The Hunger Games: Catching Fire (2013)


The Hunger Games: Catching Fire
(2013 - Lionsgate)

Directed by Francis Lawrence
Screenplay by Simon Beaufoy, Michael deBruyn
Based on the novel "Catching Fire" by Suzanne Collins
Produced by Jon Kilik, Nina Jacobson
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Lenny Kravitz, Donald Sutherland, Philip Seymour Hoffman, Elizabeth Banks, Sam Claflin, Lynn Cohen, Jena Malone, Jeffrey Wright, Amanda Plummer, Stanley Tucci, Willow Shields


Kehidupan Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) setelah menjadi juara permainan maut "The Hunger Games" dengan cara pura-pura cinta sama juara lainnya, Peeta Mellark (Josh Hutcherson) ternyata tidak mudah. Benar ia dapat limpahan harta, bahkan ia beserta ibu dan adiknya bisa tinggal di rumah mewah. Namun, tanggung jawabnya sebagai seorang victor "The Hunger Games" mengharuskan dia keliling negeri Panem--semacam promo tour gitu, sekalian terus pura-pura pacaran sama Peeta--yang memang punya perasaan sama Katniss--sedangkan Katniss ada hubungan spesial dengan Gale (Liam Hemsworth), dan ia juga diawasi ketat oleh Presiden Snow (Donald Sutherland), karena Katniss dianggap punya benih-benih pemberontakan sejak menjungkirbalikkan segala peraturan "The Hunger Games" sebelumnya. Dan memang benar, di wilayah-wilayah tertentu Katniss dijadikan perlambang pemberontakan terhadap pemerintahan Panem yang lalim. Untuk mencegah kekacauan ini, Presiden Snow bersama perancang permainan, Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) membuat siasat agar rakyat membenci Katniss. Caranya, undang Katniss untuk ikut "The Hunger Games" edisi all-stars yang mengadu para mantan juara, dan merekayasa sedemikian rupa sehingga Katniss rusak citranya sebelum tewas.

Kecuali kalian ternyata biasa cari info film di majalah cocok tanam, harusnya udah pada tahu bahwa film The Hunger Games adalah salah satu film tersukses di tahun 2012. As in sukses buanget, cuma dari studio skala sedang Lionsgate dan berbiaya produksi "cuma" $75 juta dolar, film fiksi-ilmiah-action-post-apocalyptic-feminis-satir remaja ini berhasil mengumpulkan lebih dari $400 juta dolar (!) di Amerika doang, dan film ini tidak pake 3D yang harga tiketnya lebih mahal. Gw sendiri cukup bisa menerima kesuksesan film yang panjangnya lumayan itu, 2 jam 20-an menit aja gitu, karena gw suka filmnya. Kesan personal dan "indie" dari penuturan ceritanya digabung dengan audio visual yang efektif. 

Dan lagi, selain mengisahkan tentang sebuah permainan maut sampai mati dan bagaimana itu dijadikan acara TV be-rating tinggi, film arahan Gary Ross itu selalu menimbulkan dualisme emosi *aiiih*di adegan-adegan penting, seakan dalam satu gigitan ada lebih dari satu lapisan *wafer kali*. Suasana terlihat mengerikan tapi di tempat lain ada yang menikmatinya sebagai hiburan, atau suasana lagi gegap gempita tetapi kita tahu di baliknya ada kegundahan. Ditambah lagi bagaimana Ross berhasil membuat visualisasi mencolok tentang palsunya kehidupan warga The Capitol, ibukota negeri Panem, yang berbeda jauh dari tempat-tempat lainnya, khususnya tempat asal Katniss yang kampring abis. Kesan itu masih membekas buat gw, sehingga setiap gw denger kata "The Hunger Games" gw akan ingat bahwa "gw suka filmnya".

Nah, di sekuelnya, The Hunger Games: Catching Fire, kesan-kesan itu absen. Mungkin ada pengaruh pergantian sutradara--sekarang Francis Lawrence, sutradara Constantine dan I Am Legend, dan video musik "Whenever Wherever"-nya Shakira =P. Tetapi mungkin karena dari naskahnya juga arah film ini tidak sama dengan film pertamanya. Iya benar efek visual dan tetek bengek produksinya memang lebih wah, wong bujetnya nambah hampir dua kali lipat, tetapi konsekuensinya, Catching Fire jadi kehilangan lapisan-lapisan yang menurut gw bikin The Hunger Games pertama itu berkesan. Catching Fire jadi seperti hanya film laga fiksi ilmiah biasa, konflik lahir maupun batin yang penyampaiannya biasa, dan penggambaran kekejaman pemerintahan Panem pun ya begitu aja, kayak cuma satu lapis doang. Pemilihan musiknya juga sayangnya standar Hollywood sekali, tidak seunik sentuhan folk/country dari T-Bone Burnett seperti di film pertama.

Tetapi, untungnya Catching Fire masih punya senjata andalan: set-up semesta Panem, karakter-karakter yang menarik, dan aktor-aktor handal yang memainkannya. Jennifer Lawrence, the girl with huge...err...talent, membawakan peran Katniss Everdeen lebih baik dari film pertamanya, karena emosinya lebih kompleks. Lalu ada Donald Sutherland, Philip Seymour Hoffman, Jeffrey Wright, dan Jena Malone yang membuat film ini lebih meriah. Film ini pun masih dengan baik mengajak penonton menambah wawasan tentang negeri Panem, dan, well, jadi lebih politis dikit. Dan kalau mau jujur, sebenarnya jalan cerita yang disampaikan film ini cukup enak diikuti dan cukup seru, sehingga durasi hampir 2,5 jam itu tetap terasa memikat. Dunia rekaannya masih tetap menarik, plotnya pun menarik, membuat gw penasaran sama kisah kelanjutannya, yang (entah kenapa harus) dibagi jadi 2 bagian film, Mockingjay. Jadi, sebenarnya, nggak ada masalah berarti dari film Catching Fire ini ditilik dari segi hiburan. Cuma karena gw telanjur suka sama The Hunger Games pertama yang menurut gw lebih "berkarakter", Catching Fire jadi kalah sedikit.



My score: 7/10

6 komentar:

  1. Klo saya liat film nya kesan nya lebih kelam dan suram. Karakter2 nya lebih mendalam dan dewasa,ketimbang film pertamanya yg kayak film utk abg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well, The Hunger Games memang targetnya remaja/young adult, jadi saya rasa "kayak buat abg" bukan berarti jelek =D.

      Hapus
  2. Mnrt saya malah film ke 2 ini membuat emosi menjadi spt teriris iris#pisau kali, diaduk2, naskah yg bagus, karakter lebih kuat dtmbah visual yg aduhai lengkap bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau jujur, saya bilang saya (sedikit) lebih suka yang pertama karena saya baru nonton ulang film yang pertama beberapa hari sebelum nonton Catching Fire, saya jadi langsung bisa membandingkan.

      Saya setuju film kedua ini memang lebih straight to the point, dan teknisnya lebih bagus. Sedangkan film yang pertama emosi dan karakternya lebih ambigu, tapi saya justru suka sama begitu =)

      Hapus
  3. Setuju. Action-nya Lebih seru sih, tapi emosinya cuma gimanaa gitu.. Untung Finnick-nya Lumayan oke.

    BalasHapus