Sabtu, 12 Oktober 2013

[Movie] Gravity (2013)


Gravity
(2013 - Warner Bros.)

Directed by Alfonso Cuarón
Written by Alfonso Cuarón, Jonás Cuarón
Produced by Alfonso Cuarón, David Heyman
Cast: Sandra Bullock, George Clooney, Ed Harris, Amy Warren, Phaldut Sharma, Orto Ignatiussen


Berhubung ngeblog adalah tindakan mandiri berdikari alias suka-suka yang bikin, maka mood untuk menulis pun suka-suka yang bikin. Gw akan senang dan semangat sekali untuk menulis ulasan terhadap film yang gw suka banget atau yang gw benci banget, malah bisa-bisa ulasannya sampe panjang. Sedangkan yang paling males adalah mengulas film yang ada di tengah-tengah alias biasa aja. Karena, kalau terlalu di tengah-tengah gw jadi kehilangan poin menarik yang bisa dibahas. And then came along, Gravity, film thriller antariksa dari sutradara Alfonso Cuarón. Ini adalah film di luar semua kategori itu. Ini adalah film yang saking bikin gw terpukau dan terpesona sampe gw nggak tahu mau ngulas apa selain nyuruh kalian semua "NONTON GIH BURUAN! IMAX 3D KALO BISA!". Yak, itulah ulasan gw buat Gravity, film yang akan dengan mudah menjadi favorit, atau setidaknya di deretan teratas film-film yang bakal paling gw ingat mulai sekarang.

Tapi bisa jadi itu ulasan yang bias, secara gitu gw ngefans buanget sama Alfonso Cuarón. As you know, semua film panjang doski udah gw ulas di blog ini *ceritanya khatam nih*, semua filmnya nggak ada yang gw benci, dan tentu saja film doski sebelumnya, Children of Men adalah film terfavorit gw sepanjang masa. Mungkin gw sedang membuat ilusi psikologis bahwa Cuarón nggak mungkin bikin film biasa aja apalagi jelek, sehingga gw berlaku lebay sampe sok-sokan speechless, terus nyuruh-nyuruh orang nonton filmnya dan memaksa orang lain untuk berpendapat yang sama dengan gw. Kalau ada yang berpendapat sebaliknya gw akan ujarkan kalimat-kalimat merendahkan seperti "Jadi orang nggak ngerti sih ye," atau "Tau deh yang pinterrr banget," sampe "Nggak jelas? Nggak jelas!? Nungguin pesenan di Solaria tuh baru nggak jelas!! Nungguin album internasional Agnes Monica keluar tuh baru nggak jelas!!". Yes, gw mungkin akan jadi bagian garis keras pembela film ini. Masalah buat eloh?

Segitunyakah Gravity itu? Iya, emang segitunya. Gravity ini adalah alasan kenapa teknologi suara dan visual effect itu dibuat canggih-canggih. Film ini adalah alasan kenapa film yang notabene bahasa gambar harus ada latar musik. Film ini adalah alasan kenapa casting aktor itu nggak boleh sembarang asal bisa ngejual. Dan film ini adalah jawaban bahwa film yang menggebrak dan mencengangkan nggak harus bikin bingung dan memercik perdebatan *uhuk 2001: Space Odyssey, uhuk Inception*. Iya, emang segitunya Gravity ini. Mungkin gw kurang jelas dalam menggambarkannya dengan kata-kata. Gw coba tujukkan salah satu alasannya lewat gambar. Saat syuting, keadaannya cuma seperti ini:


Dan, dengan tambahan efek dan animasi CGI, hasilnya di layar bioskop adalah seperti ini:

Iya, kecuali muka dan gerak orangnya, lain-lainnya itu animasi dan visual effect. Yes, se-helm-helmnya pun CGI. Nggak kelihatan kayak hasil visual effect? Lah namanya visual effect emang tujuannya itu, bukan? Terserah orang mau bilang apa, buat gw teknologi dalam pembuatan Gravity hanya akan terlihat cupu ketika (kelak) syuting di luar angkasa betulan sudah semudah syuting FTV di Jogja. Iya, emang segitunya.

I can go on and on and on menceritakan kekaguman gw pada film ini. Tapi kalo mau diikhtisarkan, Gravity adalah pencapaian teknik perfilman yang saat ini mungkin baru bisa dilakukan Alfonso Cuarón. Bagaimana teknik audio visual yang rumit, bisa mendukung gaya penceritaan khas Cuarón yang sederhana tetapi "berbicara", dan tentu saja banyak adegan long-take—disyut terus menerus tanpa terpotong/pindah gambar—yang bikin gw bereaksi "Ah bangke lah loe, Cuarón!" saking gw nggak habis pikir bagaimana bisa dia memikirkan cara meng-adegan-kan kayak itu. In case kamu mau memperhatikan, adegan pembuka Gravity itu 17 menit nonstop (!), adegan selanjutnya juga lebih dari 5 menitan nonstop (jadi nyaris setengah jam film cuma satu kali pindah gambar), belum lagi adegan lain seperti di dalam stasiun ISS, ngebongkar parasut yang nyangkut, "mimpi" di dalam sekoci Soyuz, dan adegan penutupnya, semua single shots lebih dari 5 menit! 

Gravity juga sekali lagi menjadi bukti Cuarón seorang sineas yang teliti. Semua hal yang tampak di layar nyaris akurat dengan keadaan sebenarnya di luar angkasa, mulai dari penampakan bumi sampai hukum-hukum fisika yang berlaku di "atas" sana, termasuk perihal suara—di luar angkasa nggak ada udara jadi nggak ada suara, di film ini suara yang penonton dengar hanyalah suara radio, suara di dalam stasiun/pesawat yang ada oksigen, dan suara yang didengar dari balik helm tokoh-tokohnya, dan efek suara dramatis diganti sama musik latar. Oh, di luar angkasa juga nggak ada ledakan, ingat bahwa kebakaran cuma terjadi kalo ada oksigen. Yang mungkin melanggar akurasi adalah helmnya yang nggak pake lapisan pelindung/kaca film, tapi itu emang sengaja biar muka aktornya bisa kelihatan *yaiyalah*. 

Tapi di luar tetek bengek IPA itu, tetap yang jadi bukti ketelitian dan kepiawaian Cuarón adalah cara menata adegan demi adegannya. Bagaimana ia membangun momen dramatis, dari yang adem ayem aja perlahan jadi momen mencekam dalam aliran waktu real-time. Bagaimana ia memperhitungkan dan mengatur berbagai elemen agar menyatu padu dan tepat posisinya: gambar/benda/orang yang mana harus masuk kapan dan bagaimana, atau kamera harus menyorot apa dan bergeser ke mana dan kapan, atau kapan suara dan musik harus masuk. Seperti sebuah sendratari, dengan aktor, kamera, efek visual, efek suara, dan musik sebagai penarinya. Indah nian.

Don't let go.

Tapi di luar efek-efek canggih cing yang ditata begitu indah, gw juga bilang nonton Gravity itu nggak perlu mikir. Tinggal duduk, saksikan, rasakan. Kenapa? Ya karena ceritanya tentang dua orang astronot yang terkena musibah hingga mengawang-awang tanpa arah di luar angkasa, lalu berusaha mencari cara untuk pulang dengan selamat. Udah. Nggak perlu pihak-pihak antagonis untuk membuat usaha tersebut jadi sulit. Udah sulit dari sononya. Namanya juga di luar angkasa yang nggak ada oksigen, nggak ada suara, dan nggak ada gaya gravitasi. Nggak bisa ngerem! Tanpa alat memadai dan tanpa tekad bertahan hidup yang kuat, ya sekalian selesaikan aja hidup loe.

Itulah kunci dari Gravity yang membuatnya bukan sekadar film pamer efek. Film ini tetap berjejak pada tokoh manusianya. Manusia biasa yang dihadapi krisis mengancam nyawa, lalu mulai berusaha bangkit dan bertahan. Ada titik yang bikin frustrasi, tapi alasan untuk bertahan dan kembali pulang harus ditemukan kembali. Semua hanya dalam durasi ringkas 1,5 jam. Gw pun senang dengan dialog-dialognya membumi—terlepas setting-nya di luar angkasa—dan mengalir alami, humornya pun diselipkan dengan pas. Dan hanya lewat dialog-dialog itu, gw sudah bisa mengenal tokoh Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Lt. Matt Kowalski (George Clooney) dengan mendalam, baik sifat maupun motivasinya, tanpa harus menginterupsi jalan plotnya. Beruntunglah film ini bisa menggaet aktor-aktor mumpuni nan karismatik, Bullock dan Clooney, yang bukan cuma sebagai "bahan jualan", tetapi terbukti sanggup berkomitmen pada tantangan dalam berperan sekaligus menyampaikan emosi yang tepat sasaran, tanpa terhalangi efek-efek yang canggih di sekitarnya.

Buat gw pribadi, Gravity masih kalah dari Children of Men dalam hal memberikan kekaguman yang paripurna. Tetapi, Gravity sudah lebih dari sanggup untuk menimbulkan kekaguman yang sangat besar. Effort dan ketelitian Cuarón terbayar lunas, menghasilkan tontonan yang membuat gw nggak bisa berbuat hal lain selain terdiam menatap layar membiarkan segala keindahan sinematik tersaji di depan mata dan merasuk ke telinga. Ya, Gravity emang segitunya. Film mahal tapi bagus tuh ya kayak gini ini. Jika ada film yang pantas dan layak jadi alasan kita mengeluarkan uang lebih buat beli tiket nonton format 3D atau IMAX atau bentuk premium lainnya sekalipun jaraknya jauh dari rumah, Gravity jawabannya!




My score: 9/10

12 komentar:

  1. Saya juga speechLess, Kakak.. Sepanjang fiLm cuma bisa nganga sambiL sesekaLi ketawa (KowaLski!), nangis (KowaLski!) dan ngos-ngosan..Cuaron edan.

    BalasHapus
  2. akirnya ketemu juga dgn sesama penikmat setia film2nya Cuaron! Setuju lah,Children of Men emang masih punya pesona tersendiri di kalbu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Tetapi Gravity tetap bikin penasaran akan apa sih yang ada di isi kepala Cuaron dan (sinematografer) Emmanuel Lubezki dalam bikin adegan-adegan kayak gitu. Hebat.

      Hapus
  3. kayanya cuma gw nieh yNg oon wkwk..tapi masih bingung..maksud adegan telp dr bumi rusia dan anjing melolong tu apa ya bro? frekuensi nyasar atau gimana gitu? ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Novry,

      Di bagian itu, Ryan Stone coba-coba cari sinyal untuk menyampaikan pesan darurat. Ingat bahwa komunikasi yang biasanya putus karena satelit-satelit komunikasi pada hancur kena puing-puing.

      Ketika nyoba pake gelombang radio AM, ternyata nyambung ke radio amatir si Aningaaq, yang kalo gak salah letaknya di Greenland. Ya bisa dibilang nyasar sih, mungkin Aningaaq emang mengirimkan sinyal secara random sehingga nyambung ke Ryan, dan bisa komunikasi dua arah sama Ryan. Cuma masalahnya ada di kendala bahasa, kendala sinyal lemah, dan kendala geografis sehingga nggak bisa minta tolong langsung.

      Kira-kira begitu =)

      Hapus
  4. tks bro reino..baru ngeh..semua orang pada berharu-haru ria dengar lolongan si ryan..gw sendiri yang bingung haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama. gw juga rada terharu, cuma gak pake air mata *menyangkal*
      ya mungkin terharu aja, ketika harapan untuk hidup sudah hilang di antah berantah, dia masih bisa "menikmati" sedikit dari kehidupan Bumi =')

      Hapus
  5. Secara visual luar biasa bagus, tetapi ane tetap lebih suka super duper Life of PI

    BalasHapus
    Balasan
    1. nice =). Gravity dan Life of Pi itu memang film yang tepat untuk ditonton di layar besar dan atau 3D

      Hapus
  6. ini film emang edan! gw cuma ga abis pikir cuaron gimana bikinnya yak.. tapi gw masih jadi penggemar setia shawshank redemption and the godfather deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, memang kalau mau jadi all time favorite harus diuji oleh waktu dulu. Kita lihat apakah Gravity akan tetap awet bagusnya jika ditonton beberapa tahun ke depan =)

      Hapus