Senin, 19 Juli 2010

[Movie] Inception (2010)


Inception
(2010 - Warner Bros.)


Written and Directed by Christopher Nolan

Produced by Emma Thomas, Christopher Nolan

Cast: Leonardo DiCaprio, Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Ellen Page, Tom Hardy, Cillian Murphy, Tom Berenger, Dileep Rao, Michael Caine


Gw hampir kehilangan kata-kata soal Inception. Inception adalah salah satu dari sedikit sekali film (Hollywood) di masa-masa sekarang yang antisipasinya terbayar oleh eksekusi. Dan bagusnya, Inception adalah karya orisinil, bukan adaptasi atau lanjutan atau ulang-buat (yang adalah cara instan meraup laba), yang membuatnya cenderung bakal sulit dilupakan. Baiklah, memang dari segi marketing film ini bakal mengundang banyak peminat lebih pada visual2 keren, aktor2 terkenal berkwaliteit terjamin, serta sang sutradara Christopher Nolan yang angkat nama di seluruh dunia lewat 2 film Batman kontemporer (Batman Begins dan The Dark Knight) yang terpuji itu. Namun, Inception menyajikan lebih daripada yang dibayangkan. Percayalah, membaca review dengan spolier pun percuma saja jika tidak menyaksikan sendiri peristiwa demi peristiwa di film ini, yang kalian lihat di trailer itu belum apa-apa.

Inception adalah film fiksi ilmiah berbalut action-thriller, bersetting di dunia entah kapan ketika ada teknologi
dream-sharing, yaitu beberapa orang bisa berpartisipasi dalam alam mimpi yang sama. Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah ahli manipulasi dream-sharing itu, dan ia menggunakannya untuk mencuri ide dari otak seseorang (atas perintah klien dengan imbalan tentu saja) lewat alam mimpi: dia sih bisa masuk mimpi secara sadar, tapi subjek atau “korban”nya dibuat percaya seakan mimpi itu nyata dan tidak sadar idenya sedang dicuri, namun ketika bangun si korban pun akan mengira itu hanya mimpi =). Pencurian ide itu dikenal dengan sebutan “extraction”, dan Cobb mengklaim dirinya extractor terbaik. Pahami ini…udah? Oke lanjut. Benang merah utama film ini sederhana sekali sebenarnya, Cobb yang diminta bukan untuk mencuri ide, tapi menanamkan ide, inception. Saito (Ken Watanabe) ingin Cobb—beserta timnya, jadi mirip Mission Impossible gitu deh—menanamkan ide pada benak pewaris usaha pesaingnya, Robert Fischer Jr (Cillian Murphy) agar terinspirasi untuk menghentikan ekspansi perusahaan ayahnya.

Gw akan stop di situ saja soal plot, dan gw akan lanjut pada kekaguman gw akan resep yang digunakan oleh Christopher Nolan dalam membuat karyanya ini amat sangat
watchable banget sekali. Bahwa film ini soal “mimpi”, pasti kebanyakan orang udah membayangkan keanehan dan kerumitan yang nggak-nggak. Nolan membuat aturan2 sendiri, sehingga Inception pada akhirnya, believe me, bisa ditonton oleh hampir semua kalangan, nggak aneh2 amat. Tokoh mahasiswi arsitek cerdas Ariadne (Ellen Page), yang baru direkrut untuk merancang labirin dunia mimpi yg dapat memperdaya si subjek, digunakan sebagai kendaraan bagi penonton untuk memperkenalkan serba serbi dream-sharing (begitu juga Eames (Tom Hadry) yang nggak suka matematika, =D), jadi (harusnya) penonton nggak terlalu bingung sama apa yang bakal mereka lakukan, it’s not that complicated. Tapi, kalaupun nggak/belum mudeng, Nolan pun punya trik bahwa ketika memulai misi mereka di alam mimpi, alam bawah sadar Fischer ternyata telah terlatih untuk melawan para extractor, dan perlawanan di alam mimpi ini berbentuk orang2 bersenjata yang bertugas menyerang Cobb dkk (mungkin ini disebut “contraception” =P), sehingga selalu ada adegan kejar-kejaran dan tembak-tembakan seru. Everybody loves kejar2an dan tembak2an, ya tho? Masih banyak aturan2 sakarepe dhewe nya Nolan yang sangat menarik, tapi gw akan menahan untuk tidak ditulis di sini, nonton deh, you’ll be impressed bahwa adegan2 absurd nan keren yang ada di trailer ternyata tidak hanya sekadar supaya terlihat keren.


Emosi pun turut masuk dalam racikan ceritanya. Nolan menggunakan Cobb sebagai orang yang punya masa lalu yang kelam. Apa yang dilakukannya sekarang (yang jelas ilegal,
wong nyolong kok) serta imbalan yang Saito tawarkan berkaitan kuat dengan masa lalunya itu. Tak hanya sampe di situ, proyeksi istrinya, Mal (Marion Cotillard) senantiasa eksis di setiap dunia mimpi tempat Cobb menjalankan misi, dan senantiasa berusaha menggagalkan rencana Cobb. Kenapa dan bagaimana tokoh Mal ini demikian, serta pengaruhnya terhadap diri Cobb menjadi pelengkap yang baik sekaligus getir, membuktikan Nolan lewat Inception masih peduli untuk melibatkan “manusia” di dunia fantasinya, tidak terasa hampa. Karakter lainnya meski porsi yang sedikit tidak lantas tidak berkesan. Gw masih bisa kok memperhatikan kekurang-sreg-an Arthur yang rapi dengan Eames yang agak songong, serta “sesuatu” antara Arthur dan Ariadne (well, setelah nonton ulang sih merhatiinnya hehehe). Oh, tak lupa film ini menyelipkan sedikit humor yang cukup menyegarkan =).

Dalam 2,5 jam bergulirnya Inception, yang anehnya tidak terasa selama itu, banyak momen2 yang berkesan,
gimmick2 yang bakal gw ingat terus, kata-kata yang terngiang-ngiang bahkan lama setelah selesai menonton. Selain adegan “kafe meledak” dan “kota bengkok” dalam dream-sharing perdana Ariadne, momen yang saat itu juga langsung jadi favorit gw adalah aksi Arthur (Joseph Gordon-Levitt) melawan agen2 “contraception” (ini sebutan dari gw, jgn dianggap serius) di gravitasi jungkir balik, dan semua adegan zero gravity nya…kerrren mampus! Lalu konsep mimpi yang ditawarkan Inception pun masih lingering di benak gw: tentang “totem” lah, tentang bahwa kita nggak pernah ingat bagaimana mimpi kita dimulai lah, tentang perbedaan waktu dunia sadar dan bawah sadar, tentang mimpi berapa lapis lah, limbo lah. Ibarat lagunya Kylie Minogue, I just can’t get it out of my head *jep ajep ajep ajep ajep*.

Intinya gw sangat terpuaskan oleh film ini. Nolan berhasil bikin gw mantengin terus layar lebar, menata ide cemerlangnya dengan ramuan cerita yang lincah dan lancar, dibungkus dengan visual yang
breath-taking, literally (gw berapa kali narik napas berbunyi “sssspp” waktu adegan2 slow motion). Inception menggunakan kecanggihan teknik film dengan tidak mubazir. Art directionnya sangat juara, sinematografinya keren benget, visual effectnya mantep abis, soundnya maknyuss, musiknya cakep pisan, editingnya gokil…everything’s just wow. Nama tenar para aktornya pun tidaklah memalukan, walaupun belum bisa dibilang luar biasa, tapi penampilan mereka kompak dan tetap berkesan, tidak asal2an. DiCaprio mengemban tugas peran utama dengan baik, Watanabe tetap terlihat cool, Gordon-Levitt tidak terlalu menonjol tapi Hardy dan Page sukses menyita perhatian. Murphy pun tidak menyia-nyiakan screen timenya yang sedikit dan mengisinya dengan akting yang menggugah. Namun rasanya nggak ada yang bisa ngalahin magnet Marion Cotillard yang screen presencenya luar biasa itu.


Apakah ini film yang sempurna? Kalau merujuk pada Dorce, tentu saja tidak—kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan milik kita =]. Tapi, gw sendiri nggak/belum bisa menyebutkan apa kekurangan film ini, setidaknya untuk kekurangan2 yang mengganggu gw. Endingnya? Ah,
whatever lah, gw sudah memilih apa maksud endingnya dan bisa mendebatnya (ih, nantang *tapi takut =P*). Satu hal yang pasti, Inception adalah pengalaman menonton film yang luar biasa, menghibur juga menantang. Terlepas apa gw bener2 ngerti maksud filmnya atau nggak (like I said, nggak ngerti pun, setidaknya terhibur secara visual), toh yang penting Inception sudah membuat uang yang dikeluarkan untuk ke bioskop, bahkan untuk lebih dari 1 kali, tidak sia-sia. Sama sekali tidak.


My score:
9/10

17 komentar:

  1. udah nonton juga ya. mantap nih pelem. jarang2 nonton film mindbogging begini. sayang gak cukup waktu untuk melihat karakter lain seperti si shapeshifter dan sang chemist.

    BalasHapus
  2. @semuareview: betul, saya suka pace-nya, nggak mboseni. Soal kurang "dalem"nya karakter lain, bisa jadi memang soal durasi, bisa juga disengaja...

    tapi apapun itu, minumnya teh botol sosro..oh bukan...yang penting film ini bukan film numpang lewat atau beken sesaat, seperti saya bilang sedikit banyak aspek dari film ini masih bergentayangan di benak saya...jangan2 saya sudah diinsepsi sesuatu...*lebay* ^_^"

    BalasHapus
  3. dintha yuneza22 Juli 2010 10.33

    suka ama reviewnya.
    setuju bangetttt dgn membeirkan rating 9/10
    hahahhaaa :D
    bahkan pengen dan pengen lagi utk nonton !
    ide Nolan bkin film ini sungguh brillian.
    2,5 jam gak kerasaaaaa euyy !
    apalagi pas efek gravitasi en adegan slow motion mreka waktu d mobil.
    haduhhhh saya cinta bgt film ini sepanjang taun 2010.

    eh udah ah komennya. mlh crewet gni. hahahha..
    btw salam kenal :)
    iseng mampir blog Anda.

    BalasHapus
  4. @dintha, halo, trima kasih udah iseng mampir.
    Sering2 yah isengnya ^o^ V

    BalasHapus
  5. gak nyangka ini film yg serius tp tetap gak bosenin, tema yg diangkat bnr2 luarbiasa, unik n tidak sekedar mengumbar visual efek tp sesuai porsi n kontek ceritanya. abis nonton film ini, tidur, bgitu bangun teringat inception coba reka2 mimpi barusan ternyata benar.. saya tidur cm 2 jam tp perasaan kejadian dlm mimpi td sudah hampir seharian.. walau gak tepat 5mnt=1jam tp konsep durasi kejadian di alam mimpi lbh panjang dibanding dunia nyata, terbukti

    BalasHapus
  6. @Generasi, wah sampe udah dites begitu. Kalo saya paling merasa relate adalah kalo saat tidur telinga saya mendengar musik, pasti juga terdengar dalam mimpi, tapi gak tau lagunya apa dan gak nyambung sama mimpinya, hehehe

    BalasHapus
  7. di akhir film, itu sebenernya si cobb masih di alam mimpi atau kenyataan ya? waktu cobb ketemu sama anak2nya..

    BalasHapus
  8. @anonim, taauk deh ^_^;...yg penting kan happy, hehehe *ups*

    BalasHapus
  9. i read your review about great expectations...
    one of my fave movie ...
    and life in mono is one my fave song...
    'but i cant seem to forget
    when you came along...
    ingenue...
    i just dont know what to do...'
    cant never get enough listen to it...
    always makes me sad and depressed

    BalasHapus
  10. ajirenji, ada reviewan dari berbagai blog
    tentang film ini di tulisan terbaru gw..
    termasuk tulisan lo yg diatas jg ada..

    BalasHapus
  11. @Wuri, thanks udah mampir. Inception nya udah ditonton juga? recommended lho ^_^

    @Kreshna, sudah dicek, tengkyu berats ya ^o^ v
    pembaca lain juga boleh lho tilik postingannya bung Kreshna *monggo*

    BalasHapus
  12. Ninja commenter8 September 2010 07.10

    buat yang bilang kalau banyak karakter pemeran pembantu difilm Inception kurang digali, menurutku itu bukan karena terbatasnya waktu, tapi memang disengaja. teori saya, itu karena...

    (Spoiler Alert)

    ...mereka memang bukan orang nyata, tapi 'projections' dari pikiran Cobb. Dengan kata lain, kurang lebih seluruh isi film itu sebenarnya ada didalam mimpi Cobb, termasuk bagian endingnya.

    BalasHapus
  13. @Ninja commenter, ho, bang Ninja penganut yg "itu" ^_^, nice.
    Tapi seperti kata Mal, "what matters is what you believe in"...atau semacam itu =P

    BalasHapus
  14. Awalnya aku nonton filem ini hanya 1o menit pertama, karna bingung ( pikirku ini filem apa an sih kok nggak nyambung ) ... beberapa hari kemudian setelah dpt teks bhs indonesia aku cob untuk nonton lagi dan aku pilih waktu malam hari pkl 9.00 lebih. ( kalo sunyi lebih enak untuk nonton sambil mikir ) .... baru setelah pertengahan filem aku udah ngerti ceritanya. dan gila abis bener bener ide baru dalam filem . mimpi didalam mimpi didalam mimpi. dan untuk ending nya no body knows. BTW review nya mantap. maknyos.

    BalasHapus
  15. @WiJAYA thanks udah mampir, juga pujiannya *ahjadimaluaku* =)
    Menonton ulang bakal sangat bermanfaat lho

    BalasHapus