Sabtu, 24 Agustus 2013

[Movie] Elysium (2013)


Elysium
(2013 - TriStar)

Written & Directed by Neill Blomkamp
Produced by Bill Block, Neill Blomkamp, Simon Kinberg
Cast: Matt Damon, Jodie Foster, Sharlto Copley, Alice Braga, Diego Luna, Wagner Moura, William Fitchner, Emma Tremblay


Elysium adalah buah dari kesukesan sutradara asal Afrika Selatan, Neill Blomkamp lewat debut film panjangnya tahun 2009 silam, District 9. Film fiksi-ilmiah bergaya semidokumenter itu sukses besar baik secara komersial maupun secara kritikal, bahkan menerima 4 nominasi Piala Oscar 2010 termasuk Film Terbaik. Jarang-jarang film tentang kedatangan alien di bumi bisa sampe begitu. Tak ayal karya Blomkamp selanjutnya dinanti khalayak dan menarik minat talenta-talenta handal untuk mendukungnya. Blomkamp pun kembali dengan sebuah karya orisinal sebagai film Hollywood perdananya, bahkan melibatkan bintang kelas wahid macam Matt Damon dan Jodie Foster, serta tentu saja kucuran dana produksi sekitar 100 juta dolar yang menjanjikan tontonan yang semestanya lebih luas dan lebih "mahal" dari District 9.

Kalau mau disederhanakan, Elysium berkisah tentang Max Da Costa (Matt Damon), warga kota Los Angeles, Amerika Serikat yang mengalami kecelakaan terpapar radioaktif dosis tinggi ketika bekerja di pabrik, sehingga hidupnya hanya tersisa lima hari saja. Satu-satunya yang dapat menyelamatkan nyawanya, bahkan sembuh sempurna dan cepat, adalah teknologi mesin rekayasa sel. Ini tahun 2154, teknologi itu sudah tersedia, bahkan mesinnya sudah dimiliki di rumah-rumah...tapi hanya berlaku pada rumah-rumah yang ada di Elysium. Elysium adalah nama sebuah "negara" yang ada luar angkasa, sebuah stasiun  antariksa (bukan pesawat ya) mengorbit bumi berukuran besar yang dirancang mirip keadaan bumi yang asri permai indah, namun hanya orang-orang terpilih yang bisa bermukim di sana, atau kasarnya: orang yang punya duit. Yang nggak kaya dan bukan penduduk nggak boleh ke sana. Kalau coba-coba menyusup, maka pihak berwenang, yang berbentuk robot, gak akan segan mendepak. Kenapa gw bilang "kalau mau disederhanakan", itu karena film ini nggak cuma soal itu.

Pertama mari kita kenali konsepnya. Film ini mencoba menggambarkan bumi kita dalam 140 tahun ke depan: kepenuhan orang, polusi, gersang, sempit, pokoknya sudah tak layak huni. Lalu dibuatlah Elysium yang memungkinkan membuat ulang keadaan bumi yang layak tinggal di atas bangunan di luar angkasa. Jauh amat, ya, but you know, alasan yang sama kenapa kompleks perumahan atau kota mandiri dibangun para pengembang di luar kota besar. Tetapi Elysium tak mungkin menampung semua penduduk bumi yang terlalu banyak itu, maka dibuatlah seleksi-seleksi khusus—mengambil konsep "Elysium" dalam mitologi Yunani, sebuah tempat di akhirat di mana para pahlawan atau orang-orang yang dipilih oleh dewa-dewi dapat hidup bahagia selamanya selepas ajalnya *thanks to Wiki*. Atau kasarnya lagi, mahal banget untuk bisa ke sana. Keadaan bumi yang padat membuat perekonomian penduduk bumi jadi sulit, sehingga untuk pindah ke Elysium hanyalah sebatas mimpi, memenuhi kebutuhan sehari-hari aja setengah mati...kecuali kalau ngerampok. Inilah yang dijadikan jalan Max Da Costa, yang memang dulunya perampok, untuk bisa mencapai tujuannya.

Meski secara konsep berbeda jauh dari District 9, melalui Elysium gw dapat membaca pola Blomkamp, yakni kentalnya isu diskriminasi. Mungkin karena Blomkamp datang dari negara yang sempat menjalankan politik diskriminasi, ia jadi akrab dan tergerak memasukkan isu ini dalam karya-karyanya. Tapi canggihnya, Blomkamp dapat dengan mulus mengawinkan isu itu dengan balutan fiksi-ilmiah dan action. District 9 adalah bukti nyata, gw melihat Elysium juga begitu. Dan semakin terlihat bahwa Blomkamp membangun semesta filmnya dengan kalkulasi tak sembarang. Gambaran Los Angeles adalah salah satu contohnya, di film ini ras Hispanik mendominasi (termasuk Max kalau melihat nama belakangnya) dan bahasa Spanyol adalah bahasa pergaulan, ini bukannya tidak mungkin mengingat populasi keturunan Amerika Latin di Los Angeles saat ini memang tinggi *kayaknya sih =P*. Sampe segitunya dipikirin.

Bumi 2154, jarang hujan, dataran warnanya cokelat semua.

Lalu dilengkapi dengan gambaran distopia lain seperti banyaknya kriminalitas, pendidikan tak merata (Max umur belasan nggak bisa baca), tenaga dan teknologi kesehatan terbatas (penduduk banyak, yang sakit juga banyak, boro-boro tertolong), cengkeraman industri yang dikuasai kepentingan warga Elysium, buruh dibayar sekadarnya dan hanyalah faktor yang expendable belaka (Max kecelakaan kerja cuma dikasih obat penahan sakit lalu bye!). Problema yang di dunia nyata sekarang ini hanya terjadi di tempat-tempat padat penduduk akhirnya mengglobal. Sebaliknya, warga Elysium menikmati yang enak-enaknya, nyaman dengan berbagai kemudahan, teknologi tercanggih (orang ditanami gadget di dalam tubuhnya), udara bersih, dan lingkungan yang ditumbuhi tanaman segar kayak di bandara Singapura, dan dilindungi betul supaya tetap demikian. Interaksi dengan warga bumi benar-benar dibatasi, karena dianggap sebagai ancaman. Kontras, padahal kedua peradaban ini ada di lini waktu yang sama. Konsep serupa sebelumnya sudah diangkat film Upside Down tempo hari, tapi bagi gw gambaran di Elysium ini lebih utuh, dan lebih nggak musingin sih =p. Semaju-majunya peradaban manusia, nyatanya kalau mentalnya tetap serakah dan diskriminatif ya dunia nggak akan jadi lebih baik. Mungkin itu maksud yang ingin disampaikan.

Akan tetapi Elysium tidak hanya dapat dipandang satu sisi itu saja, dan di sinilah gw menyadari kecerdasan Blomkamp dalam meramu dan mempresentasikan ceritanya. Mungkin gw agak terlalu serius jika memandang dari segi poleksoshankam =p, tetapi Elysium juga memuat human story bagi yang mencari melankoli (walau buat gw adegan flashback-nya kebanyakan ngulangnya), keseruan dan ketegangan bagi yang mencari aksi dan petualangan, konsep-konsep teknologi bagi yang techie, bahkan ada yang bisa dimaknai sebagai metafora religius (di bagian akhirnya). Atau mungkin sekadar menyaksikan keindahan desain visualnya, atau bisa juga senaif menarik pesan moral "tindakan kecil berpengaruh besar" dan "di dalamnya belum tentu seindah kelihatannya" =D. Kesannya agak begah ya, satu film ini mencakup semua itu, tetapi bagi gw semuanya menyatu secara organik. Elysium memuat lebih dari yang diharapkan untuk film seperti ini. 

Tapi jujur, di saat bersamaan ia juga nggak memuat beberapa hal yang diharapkan untuk film sci-fi action seperti ini. Gw ambil contoh dari karakterisasi yang kurang kuat pada villain utamanya yang diperankan Jodie Foster dengan aksen Prancisnya dan Sharlto Copley yang kelewat bawel. Di atas kertas tindakan dan motivasi mereka masuk akal, tetapi entah kenapa gw tidak terlalu terkesan pada eksekusinya di layar, nggak terasa "mengancam" gitu keberadaan keduanya. Pada bagian menuju klimaks juga mungkin arah plotnya sedikit klise, you know, korbankan diri demi menyelamatkan orang yang dicintai dan sebagainya, sedikit mengurangi keasyikan jalinan cerita yang ditata baik sejak awal, tetapi untungnya tidak sampai merusak keutuhan filmnya. In the end, Elysium menjadi film yang memuaskan buat gw. Gw senang menyaksikan konsep dan susunan cerita yang rapi dan berisi buatan Blomkamp, yang di-deliver dengan baik hanya dalam 1 jam 44 menit saja, juga senang menyaksikan eksekusinya di layar lewat pacing yang lancar dan kerennya tata audio visual, khususnya dari segi efek visual CGI yang begitu luwes dan seamless, hampir sama dengan kekaguman gw pada tangible-nya para alien CGI di District 9. Para aktornya pun nggak ada yang mengecewakan, Matt Damon lagi-lagi sukses bermain simpatik dan menggerakkan film ini. 

Elysium, mungkin tidak se-edgy District 9, jalan ceritanya juga tidak unexpected, tetapi menurut gw sudah cukup memenuhi syarat sebagai tontonan berkesan. Ada isinya, bukan sekadar gambaran masa depan bumi plus tembak-tembakan belaka.




My score: 7,5/10

6 komentar:

  1. Ulas Percy Jackson dong mas..Elysium film bertema berat,saya mah kurang suka!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Elysium nggak berat kok, malahan gampang dimengerti karena mirip dengan keadaan sekeliling kita sekarang *itu tetep berat ya? hehe*

      Percy Jackson saya nggak nonton krn telanjur nggak ngikutin dari pertama. Bila berkenan bisa cek beberapa blog2 sahabat (di daftar link di kanan), sudah banyak di-review kok =)

      Hapus
  2. Kyakny villain utamanya harusnya Helen Mirren atau meryl streep pasti lebih sadis akting mereka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm, menarik juga, bisa jadi. Tetapi buat saya sih karakter Delacourt memang dibuat/ditampilkan kurang kuat, jadi siapa aja yg main nggak berpengaruh banyak.

      Hapus
  3. Mortal Instrument koq gk sebagus yg di beritain sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. OOT nih ye, hehe. Tergantung berita yang mana, kata orang kan belum tentu sesuai dengan masing-masing kita. maka dari itu sebaiknya memang perlu cari info lebih dari satu sumber kalau kita ragu mau menyaksikan sebuah film. Semoga membantu ya.

      Hapus