Jumat, 19 Juli 2013

[Movie] Upside Down (2012)


Upside Down
(2012 - Upside Down Films/Les Films Upsidedown Inc.)

Written & Directed by Juan Solanas
Adaptation and Dialogue by Juan Solanas, Santiago Amigorena, Pierre Magny
Produced by Aton Soumache, Alexis Vonarb, Dimitri Rassam, Claude Léger, Jonathan Vanger
Cast: Jim Sturgess, Kirsten Dunst, Timothy Spall, Blu Mankuma, Nicholas Rose, James Kidnie


Satu lagi sebuah karya independen yang cukup berani tampil dalam skala Hollywood. Upside Down adalah film produksi patungan Kanada dan Prancis garapan sutradara Juan Solanas asal Argentina, yang mengangkat kisah romansa dalam balutan fiksi ilmiah berlatar sebuah tempat mirip bumi versi kembar dempet yang memiliki hukum gravitasi masing-masing, tapi kedua dunia ini tetap dapat saling berinteraksi meski harus kebolak-balik posisinya. Yah, gambaran kasarnya, kalau di satu ruangan ada dua orang dari dua dunia berbeda, yang satu berdirinya di lantai dan yang satu lagi di langit-langit *tergantung perspektif juga sih mana yang lantai mana yang langit-langit*. Gw rasa ini ide yang sudah cukup lama beredar, termasuk tempo hari ada animasi pendek "Head Over Heels" yang masuk nominasi Oscar yang konsep dasarnya kira-kira sama. Tapi dalam Upside Down, Juan Solanas mencoba memperluas semesta dunia "ajaib" ini dalam film panjang yang tentunya membutuhkan usaha pengadeganan dan efek visual yang lebih serius.

Di awal film dijelaskan panjang lebar tentang hukum fisika yang berlaku di kedua dunia yang berhadapan dan berlawanan ini, yang di sebut dunia Atas (Up-Top) dan Bawah (Down-Below). Yang pertama, benda/orang di mana pun posisinya hanya terkena daya tarik gravitasi dunia asalnya. Jadi kalo misalnya air dari Bawah dibawa ke Atas terus tumpah, tumpahnya bukan ke tanahnya dunia Atas, tapi ke langitnya sampai jatuh di tanah Bawah yang ada di posisi berlawanan, begitu pun sebaliknya. Yang kedua, berat benda dapat di-counter jika ada bersama benda asal dunia lawannya, contohnya kalau ada batu dari Atas ditempel di bawah meja dunia Bawah, tergantung bobotnya, mejanya bisa melayang-layang gitu. Tapi—ini hukum ketiga—benda yang nempel dengan benda dari dunia lawannya lama-lama akan terbakar, karena bukan kodratnya =P. Tahu bahwa penonton mungkin akan kebingungan, maka film ini berulang kali menunjukkan berlakunya ketiga hukum itu, dari gendong-gendongan sambil melayang-layang, terbang dari laut satu dan nyebur di laut lawannya (in very spectacular fashion), sampai kegunaan hairspray =). 

Namun nggak hanya perbedaan hukum alam, ternyata dunia Atas dan dunia Bawah juga berlaku pembedaan taraf hidup. Dunia yang disebut Atas penduduknya maju sejahtera dihiasi pencakar langit, sedangkan di Bawah hidupnya melarat dan terbelakang, belum lagi kekayaan minyak yang dimilikinya diambil oleh dunia Atas hanya dengan imbalan pasokan listrik ke dunia Bawah...yang mesti bayar mahal juga. Sentilan sosial nih ye. Dan kalau dipikir-pikir apa dasarnya menyebut Atas dan Bawah kalau harusnya di mana kaki berpijak itu namanya "bawah" dan kepala itu namanya "atas"? Sama seperti kenapa Eropa itu disebut Barat dan Asia disebut Timur, pake Jauh lagi, kesannya mereka yang paling oke sendiri. Hegemoni? *aih sedaaap istilahnya* Kayaknya sih gitu. Apalagi ada hukum sosial bahwa penduduk kedua dunia tidak boleh saling berinteraksi lebih dari yang diperlukan, bahkan bisa dihukum mati. Pokoknya, dibikin supaya keadaan kedua dunia tidak berubah. Pemiskinan sistematis. Boleh juga nih nyindirnya =p.

Perspektif Bawah (kiri) dan Atas (kanan, iseng gw puter gambarnya).

Kenapa gw panjang banget menceritakan konsep dan latar cerita daripada cerita utamanya, ya karena setelah 100 menit durasi film ini, cuma itu yang menarik perhatian gw. Sisanya, meh. Kisah cinta terlarang antara pemuda Bawah, Adam (Jim Sturgess) dengan gadis Atas, Eden (Kirsten Dunst), yang terpisah kerana adat yang berbeza *dikira lagu "Isabela"*...maksudnya karena dianggap tak pantas (dan buat penonton juga agak ribet sih ngeliatnya). Sepuluh tahun terpisah, Adam ingin mendekatkan diri lagi dengan Eden dengan bekerja di satu-satunya perusahaan yang menghubungkan Atas dan Bawah, TransWorld, yang menguasai segenap bidang hajat hidup orang banyak di kedua dunia itu (tuh 'kan sindiran lagi). Adam pun bela-belain cari cara agar dia bisa "nyamar" jadi orang Atas, tapi eh tapi, Edennya kena amnesia, jadi lupa sama jalinan cinta mereka dulu. Eh tapi...ya udah gitu aja sih, tinggal nunggu waktu aja Edennya inget lagi terus udah.

Bikin inti cerita yang sederhana sih nggak apa-apa ya, malahan bagus, tapi ya mbok dibikin compelling dan—berhubung ini romansa—lebih manis gitu loh. Di tengah potensi kompleksitas sosial dan moral yang sudah di-tease di sana-sini, sayang sekali Upside Down malah agak membuyarkan semua itu demi kisah cinta yang malah kalah istimewa. Padahal bisa lho dua sisi ini disatukan, misalnya Eden gak usah amnesia deh, cukup dibikin ragu aja untuk berhubungan sama Adam lagi karena perbedaan dunia yang dapat juga mengancam pekerjaan dan kehidupannya, atau apa kek. Maksud gw, udah capek-capek amnesia tapi penyelesaiannya "gitu doang", rasanya ya ngambang aja gitu seperti panekuk berbubuk nila buatan tante Becky di film ini. Gw jadi kurang menikmati film ini karena kayak di-PHP-in sama potensinya yang sebenarnya bagus itu, selain juga lompatan antar adegannya yang nggak semuanya mulus. But to be fair, Upside Down sudah cukup menarik hati gw dengan ketelatenan dalam mengeksekusi konsep dunianya, sampai ke detil sikap tubuh Jim Sturgess yang ganjil ketika berada di dunia Atas, plus gambar-gambar yang menarik dengan efek visual yang juga nggak jelek. Tapi ya udah gitu doang.




My score: 5,5/10

2 komentar:

  1. Padahal sya kira ending film nya bkalan tragis kyk Romeo n Juliet gtu..sayang berakhir terlalu mudah! Jim Sturgess sma Timothy Spall maen nya sgt bagus, tpi Kirsten Dunst biasa2 aja. Why must her?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo saya sih nggak masalah sama mbak Kirsten, tampilan fisiknya emang cukup pantas diperjuangkan para lelaki, hehe. Cuman kendalanya peran Eden di film ini memang terlalu pasif, jadi kesannya mbak Kirsten cuma nampang doang dan gitu-gitu aja. sayang memang.

      Hapus